Replacement Lover

Replacement Lover
MEMPERBAIKI KEADAAN (I)


__ADS_3

Tok. Tok. Tok


Dalam perbincangan serius antara Tyo dan Rizzi mengenai kasus Danny Wan, tiba-tiba terdengar suara pintu kantor Rizzi itu diketuk dari luar.


Dua orang pria yang berada di dalamnya pun kompak menoleh ke arah daun pintu yang masih tertutup itu secara bersamaan. Namun hanya Rizzi yang akhirnya membuka suaranya untuk menjawab ketukan itu.


"Masuk!" jawab Rizzi dari dalam ruangan.


Tak lama nampak Keira melongokkan kepalanya dari balik pintu, "Tyo!" panggil Keira lirih.


Tyo langsung berdiri mengetahui ternyata Keira yang mencarinya, "Ada apa, Kei?" Tyo membuka pintu itu lebih lebar.


"Sorry kalo aku ganggu kalian, tapi ini udah larut. Said dan Beth udah sama-sama mau balik. Said bilang dia ada kuliah besok pagi, Beth juga harus magang. Dan kita juga belum belikan titipan ibu." jelas Keira.


"Ya Ampun, aku lupa!" seru Tyo sambil menepuk dahinya. "Oke kita pulang sekarang sekalian mampir ke toko kue balok ngelumer pesanan ibu." ujar Tyo lalu meraih tangan Keira untuk digenggamnya.


"Kalian tuh yaa...kemesraan kalian boleh bikin baper, tapi masa manggil satu sama lain nggak ada mesra-mesranya gitu??!! Bikin dong panggilan sayang yang nggak kalah bikin baper! Udah mau nikah juga, masa masih biasa aja gitu manggilnya." celoteh Rizzi dari kursinya.


Keira dan Tyo jadi sama-sama merona mendengar celotehan Rizzi, pasalnya mereka berdua memang belum terpikirkan untuk itu mengingat hubungan mereka dimulai dari sebuah kesalahan meski sejak awal Tyo sudah memendam rasa yang istimewa pada Keira.


Namun dirinya yang sama sekali tidak mengira akan bisa mendapatkan hati gadis itu, jadi sama sekali tidak terpikirkan untuk memanggil Keira dengan panggilan khusus layaknya sepasang kekasih yang hampir melangsungkan pernikahan.


Begitu pula dengan Keira, gadis itu yang sejak masih menjalin hubungan pacaran dengan Argha pun sama sekali belum pernah menggunakan panggilan khusus terhadap kekasihnya. Itu karena Keira tidak terbiasa menggunakan panggilan sayang terhadap siapapun sepanjang hidupnya.


Tyo lalu menoleh pada Rizzi yang masih duduk di kursinya semula. "Kita nggak pake nama panggilan aja lo dah baper ngliatnya, gimana kalo kita makin sayang-sayangan. Ntar lo tambah ngenes lagi...kita tuh cuman kesian sama lho, Riz!" balas Tyo sambil pura-pura prihatin.


Keira yang mendengar ucapan kocak Tyo langsung menutup mulutnya menahan tawa. Dilihatnya ekspresi Rizzi yang berubah manyun.


"Sialan!!! Gue emang jomblo tapi bukan berarti nggak laku njiirr!!!" Rizzi nampak berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati tempat Tyo dan Keira berdiri. "Nih gue juga mau nganterin Beth pulang." pamer Rizzi sambil ikut keluar dari ruangan itu bersama Tyo dan Keira.


"Nganterin pulang mah sepele, Bro! Coba nembak, berani kagak lo?!" tantang Tyo pada sahabatnya itu sambil melangkah pelan menuju ke arah meja tempat Said dan Beth menunggu mereka.


"Tembak..tembak...lo kata cewek tuh burung maen ditembak gitu aja! Pendekatan aja gue belom sempet!" gerutu Rizzi.


"Jiyaahhh, lha elo ngapain aja selama ini???" ledek Tyo sambil tertawa mengejek. Kali ini Keira sampai harus memukul lengan Tyo karena merasa kasian pada Rizzi.


"Laahh, gue sibuk bantuin elo njiirrr. Sialan lo pake ngeledek gue lagi!" Rizzi makin bersungut-sungut.


"Sorry deehh sorryyy! Sebagai gantinya, sekarang giliran kita yang bantuin lo! Kamu mau bantuin Rizzi juga kan, Kei?" Tyo menghentikan langkahnya di tengah-tengah sambil bertanya pada Keira yang sedari tadi berjalan di sampingnya.


"Boleh aja!" jawab Keira sambil tersenyum pada Tyo dan Rizzi.


Rizzi pun terharu oleh tawaran pasangan itu. "Thank you banget guys, kalian emang sahabat akuuu!" ujarnya senang sambil merentangkan kedua tangannya dan bersiap memeluk Keira.


Namun secepat kilat Tyo menangkupkan sebelah telapak tangannya ke wajah Rizzi dan mendorongnya menjauh dari Keira. "Nggak usah macem-macem sama calon istri gue kalo lo nggak pengen jadi jomblo seumur hidup!" ancam Tyo dengan memasang wajah garang.


"Iya-iya, ampuunn! Hehehee." Rizzi nampak ketakutan dengan ancaman Tyo barusan karena dirinya tahu, Tyo tidak akan pernah bercanda untuk urusan Keira.


Mereka bertiga pun melanjutkan langkah yang sempat tertunda itu. "Tapi kita bisa bantu apa nih?" tanya Keira tiba-tiba.


"Ntar aja, Kei. Kalo aku dah kepikiran minta bantuan apa, aku pasti bakalan ngomong kok!" balas Rizzi cepat sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Oke!" jawab Keira cepat.


"Kalian ngomongin apa? Lama banget nyampe kesininya!" tanya Beth kepo setibanya ketiga orang itu di meja mereka.


"Pulang sekarang?" tanya Rizzi pada Beth untuk mengalihkan perhatian.


Beth mengangguk sekali lalu bangkit berdiri disusul oleh Said yang juga berdiri dari duduknya. Mereka berlima akhirnya keluar dari Cafe menuju parkiran.


"Gue duluan gaes, next time kalo ngumpul-ngumpul lagi jangan lupain gue yaa!" Said berpamitan sambil melambaikan kedua tangannya lebar-lebar dan berjalan mundur karena masih ingin melihat sosok teman-temannya.


"Iyaa, kamu hati-hati di jalan, Id! Semangat kuliahnya biar bisa magang bareng aku!" balas Keira sedikit berteriak karena posisi Said yang sudah mulai menjauh.


Dari kejauhan, tampak Said mengacungkan jempolnya pada Keira sebelum masuk ke mobilnya. Sementara Beth hanya melambaikan tangannya pada Said sebagai tanda perpisahan mereka malam itu.

__ADS_1


"Ya udah, aku anterin Beth pulang dulu ya!" kini giliran Rizzi yang berpamitan. Dibukanya pintu penumpang depan untuk Beth lalu mempersilahkan gadis itu masuk lebih dulu ke dalam mobilnya sebelum kemudian Rizzi berlari kecil melewati bagian depan mobil itu untuk duduk di kursi kemudi.


"By the way, thanks infonya, Riz! Bilang sama Joe, kita akhiri penyelidikan tentang Danny sampe disini!" ujar Tyo sesaat setelah Rizzi membuka pintu mobil di sisi kemudi.


"Oke! As you wish, Bro!" balas Rizzi tak lama sebelum dirinya akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin lalu mulai melaju.


Sesaat Keira masih dapat melihat Beth melambaikan tangan dari jendela mobil ketika mobil Rizzi itu melewatinya. Keira pun membalas lambaian itu sambil lalu.


"Jadi??? Kita juga pulang???" Tyo meraih pundak Keira untuk membimbing gadis itu menuju mobil mereka.


"Lhoo, belikan titipan ibu dulu kan?" lagi-lagi Keira mengingatkan.


"Oia!" dan Tyo yang lagi-lagi lupa. Dilihatnya jam tangan mewah buatan Swiss yang melingkar di pergelangan tangannya itu sambil mengernyitkan kening. "Tapi jam segini apa masih buka?" tanya Tyo ragu.


"Entahlah!" sahut Keira pun tak yakin. "Tapi nggak ada salahnya kita kesana dulu, nanti kalau ternyata memang sudah tutup ya kita bilang aja apa adanya ke ibu. Beres kan?!" ujar Keira santai.


"Baiklah, Ratu-ku!!!" balas Tyo lalu membukakan pintu mobil untuk Keira dan mempersilahkan Keira masuk dengan sedikit membungkuk layaknya seorang Pangeran yang sedang mempersilahkan Tuan Putrinya untuk naik ke kereta kuda.


Keira melongo dua detik melihat perlakuan Tyo serta mendengar panggilan Tyo padanya barusan, namun kemudian kekagetan Keira berganti menjadi derai tawa kegelian. Tyo bingung melihat Keira yang terkikik geli ketika dirinya sudah duduk di kursi kemudi.


"Kok ketawa?" tanyanya sambil memasang seatbelt di tubuhnya sendiri.


"Hihihii...jangan manggil gitu ah! Geli dengernya!" Keira terkikik lalu ikut memakai sabuk pengaman setelah melihat Tyo memakainya.


"Loh kenapa??? Kamu kan emang Ratu di hatiku!" jawab Tyo terus terang sambil menyalakan mesin mobil.


"Tapi itu berlebihan, sayaaannngg!" balas Keira.


Tyo seketika terpaku mendengar panggilan Keira untuknya. Pria itu lalu menoleh dengan cepat ke arah gadis yang duduk di sampingnya. "Apa??? Kamu manggil aku apa???" tanyanya tak percaya.


"Apa???" Keira pura-pura lupa dengan apa yang diucapkannya barusan.


"Barusan!!! Kamu manggil aku 'SAYANG' kan???" Tyo menekankan kata yang menurutnya sangat indah di telinganya itu.


"Ah, masa??!! Kamu salah denger kali!!" Keira mencoba ngeles sambil mengalihkan pandangannya dari Tyo.


Keira yang kaget karena merasakan hembusan nafas Tyo yang teramat dekat di telinganya jadi refleks menoleh menghadap pria itu.


"Ka-kalo emang iya, kenapa?" Keira terbata karena terkejut tatkala melihat wajah Tyo yang teramat dekat dengan wajahnya.


"Coba ulangi! Aku pengen denger lagi! Atau kita akan tetap di sini sampai pagi!" titah Tyo tanpa memalingkan wajahnya dari hadapan Keira, bahkan ketika pria itu kembali mematikan mesin mobilnya.


Keira menelan salivanya susah payah. GLEG!!! Harus dia akui, kali ini dia terjebak dalam permainannya sendiri. Niatnya untuk menggoda Tyo kini berbalik menjadi tuntutan sekaligus ancaman dari pria itu.


Merasa sudah sangat terpojok dan tak mungkin mengelak lagi, Keira mau tidak mau terpaksa menuruti permintaan calon suaminya itu.


"Iya deh iya, Tyo SAYANG!!! Aku ngaku, aku emang manggil kamu SAYANG tadi. Udah puas belom, SAYAANNGG???" ujar Keira tepat di hadapan Tyo.


Setelah mendengar ucapan Keira barusan, Tyo langsung menyembunyikan wajahnya ke dalam kedua lengannya yang terlipat di atas roda kemudi. Keira kembali melongo sekaligus terdiam menyaksikan reaksi Tyo yang menurutnya tidak bisa ditebak itu.


Keira mencoba menyentuh rambut Tyo dengan ragu, "T-Tyo kamu kenapa?" tanya gadis itu yang mendadak merasa khawatir.


Belum sempat tangan Keira hinggap di atas kepala Tyo, pria itu sudah menoleh sambil tersenyum lebar ke arah Keira dengan kepala yang masih ia sandarkan di atas kemudi.


"Aku nggak apa-apa. Seneng aja denger kamu manggil aku gitu, sampe speechless aku. Mukaku pasti nggak banget yaa sekarang?" tanya Tyo masih dengan cengiran bahagianya.


Keira yang melihat wajah Tyo yang memerah hingga ke kedua telinganya langsung ikut tersenyum lebar mendengar alasan Tyo itu. Dalam hatinya Keira tak menyangka bahwa hanya dengan panggilan sesederhana itu saja, Tyo sudah sebegitu bahagianya.


Keira jadi makin merasakan kesungguhan cinta Tyo padanya dan Keira juga merasakan cintanya yang semakin tumbuh terhadap pria yang juga ayah dari janin di perutnya itu.


"Okeeeh, Stop teasing! Kita musti jalan sekarang sebelum semakin larut. Aku nggak mau kamu kelihatan kurang istirahat waktu ketemu Papamu besok!" Tyo mulai menyalakan kembali mesin mobilnya.


"HAAAHH???" kali ini giliran Keira yang menoleh cepat ke arah Tyo dengan ekspresi tak percaya. Namun Tyo bergeming. Pandangannya tetap lurus ke depan meski nampak senyum tipis tersungging di ujung bibirnya.


***

__ADS_1


Setelah mengantarkan Keira masuk ke dalam kamarnya serta berjanji pada gadis itu untuk mengantarkan Keira ke rumah Papanya, Tyo langsung masuk ke kamar tamu yang ditempatinya, semenjak kamarnya sendiri ditempati oleh Keira selama gadis itu tinggal di rumahnya.


Tyo duduk di tepi ranjang lalu membuka sepatunya satu per satu. Ia lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang sambil memikirkan informasi yang didapatkannya dari Joe melalui Rizzi.


Tyo menimbang-nimbang tindakan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Pria itu juga mencoba memprediksi segala resiko yang mungkin akan terjadi atas sebuah gagasan yang telah terpikirkan olehnya sekaligus mencari solusinya.


Hingga akhirnya pemikiran panjang Tyo berakhir pada suatu keputusan. Dan Tyo berniat untuk menyampaikan keputusan yang telah diambilnya itu kepada sang ayah keesokan paginya.


Setelah sarapan, sesuai rencananya semalam, Tyo mengajak ayahnya bicara empat mata di ruang kerja ayahnya. Pak Ruslan nampak termangu sejenak mendengar ajakan Tyo. Namun akhirnya ia mengangguk juga.


Tak lupa Tyo mengingatkan Keira untuk bersiap menemui Papanya. Tyo berencana mengantar Keira ke rumah Papanya itu demi kebaikan hubungan mereka berdua. Tyo berpikir sudah saatnya ia memperbaiki keadaan antara dirinya dan calon mertuanya itu.


Tetapi sebelumnya, Tyo pun harus memperbaiki keadaan yang sedang terjadi pada Danny Wan---yang memiliki nasib serupa dengan Keira, calon istrinya itu. Seorang lagi anak yang menjadi korban keegoisan ayahnya sendiri.


Mendengar Tyo yang menyuruh Keira untuk bersiap diri sebelum ke rumah Papanya, jiwa kepo Ny. Naina seketika muncul. Ibunda Tyo itu tergelitik ingin tahu alasan apakah yang mampu mengubah keputusan Tyo hingga akhirnya mengizinkan Keira menemui Papanya.


"Keeiii, semalam kamu jadi belikan ibu apa? Ibu sampe ketiduran lho nunggu kalian nggak pulang-pulang. Sini-sini sekalian ibu mau tunjukin beberapa konsep wedding party dari Party Planner kenalan ibu!"


Diraihnya lengan Keira lalu dibimbingnya calon menantunya itu keluar dari ruang makan menuju dapur yang dirasanya sebagai tempat yang cocok untuk menggelar 'girls talk' antara dirinya dengan Keira.


Keira yang kebingungan dengan tingkah Ny.Naina hanya bisa menurut saja saat digiring oleh calon ibu mertuanya itu menuju dapur.


Sementara itu, di ruang kerja Pak Ruslan, Tyo mulai menyampaikan keputusan yang telah dibuatnya semalam.


"Ayah, aku berencana meminta pengacara kita yang mengurus kasus Danny Wan untuk meminta keringanan hukuman kepada jaksa penuntut atas tindak pidana yang dilakukan Danny!" Tyo menatap ayahnya dengan wajah serius.


"Apa maksudmu, Nak?" Pak Ruslan terpekik tak percaya mendengar penuturan Tyo itu. Matanya melebar dengan kening yang nampak semakin berkerut.


"Aku sudah menyuruh Rizzi menginvestigasi kehidupan Danny Wan secara diam-diam, Ayah! Kami akhirnya menemukan beberapa bukti terkait motif dan alasan yang mendorong Danny hingga melakukan tindakan kriminalnya itu. Dan penemuan kami itu menuju pada satu kesimpulan, Yah!" Tyo memberi jeda pada penjelasannya.


Pak Ruslan bergeming. Benak pria paruh baya itu sedang menalar setiap ucapan Tyo, hal itu nampak pada tatapannya yang tetap fokus ke arah Tyo.


"Lanjutkan!" perintah Pak Ruslan akhirnya.


"Danny ternyata memiliki nasib serupa seperti Keira, Ayah! Dia adalah korban dari keegoisan dan keculasan ayahnya---Mr.Wan. Sayangnya, Danny lebih tidak beruntung karena ayahnya telah dengan sengaja menjerumuskan Danny untuk melakukan tindakan kriminal demi membalaskan dendamnya." beber Tyo.


Pak Ruslan nampak mengernyitkan keningnya lebih dalam, "Tapi bagaimana?" Pak Ruslan tak percaya.


"Rizzi berhasil mendapatkan salinan beberapa rekaman percakapan telpon antara Mr.Wan dan Danny yang berisi tentang hasutan Mr.Wan terhadap anaknya itu bahwa kita telah memfitnahnya hingga kehilangan hartanya, Ayah. Dalam rekaman itu, Mr.Wan mendoktrin Danny beberapa kali untuk membalas dendam kepada keluarga kita, khususnya kepada Tyo." jelas Tyo.


Pak Ruslan menegakkan duduknya sambil geleng-geleng kepala. "Ayah nggak habis pikir, Tyo! Kamu serius punya bukti tentang ini?" Pak Ruslan nampak belum percaya sepenuhnya.


"Iya, Ayah! Rizzi masih menyimpan bukti-buktinya. Tapi Kita tidak bisa menuntut Mr.Wan sebagai otak di balik tindakan kriminal Danny menggunakan bukti itu. Karena Tyo dan Rizzi mendapatkannya secara ilegal, Yah!" Tyo mengedikkan bahunya tanda pasrah.


Pak Ruslan berdiri dari kursinya. Ia lalu berjalan ke arah jendela besar di ruang kerja itu, yang menghadap langsung ke pantai. Di lipatnya kedua tangan di depan dadanya.


"Ayah tidak mau kamu terlalu lunak pada musuh-musuh kita, Tyo! Tapi ayah akan dukung kamu melakukan semua yang menurutmu baik." ujar Pak Ruslan tanpa menoleh.


"Tyo paham, Ayah! Tyo mengerti! Kali ini Tyo hanya ingin bersikap adil. Hukuman berat dan sepihak tidak adil untuk Danny. Kita harus meyakinkan Jaksa Penuntut untuk menyelidiki Mr.Wan sebagai otak dari tindakan kriminal yang dilakukan Danny. Dan membuat Mr.Wan turut menanggung hukuman yang setimpal atas perbuatannya itu." tegas Tyo.


"Segera konfirmasi masalah ini ke Pak Agus Choir agar segera diproses oleh tim pengacara kita! Ayah tidak mau, orang itu masih menghirup udara kebebasan, sementara anaknya sendiri harus menanggung akibat dari otak jahatnya!" perintah Pak Ruslan dengan geram.


"Baik, Yah!" Tyo menjawab dengan tegas.


Hatinya Tyo merasa lega setelah mengungkapkan niatnya kepada sang Ayah. Kini tinggal mengantar Keira untuk menemui Pak Zein Imran di rumahnya sekaligus mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang ayah mertua itu.


To Be Continue....


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2