
.
.
.
Vynt kembali ke ruang Tim Dua seorang diri setelah Fady menyuruhnya demikian, sementara wanita itu sendiri langsung melenggang begitu saja menghilang entah kemana.
"Cewek aneh!" decak Vynt sebal.
Yang tanpa Vynt ketahui bahwa ternyata Fady menuju ke ruang administrasi guna memeriksa kembali berkas pengajuan magang yang dikirimkan oleh Universitas tempat Vynt menimba ilmu.
Sesampainya Vynt di ruangan Tim Dua, tiba-tiba beberapa confetti popper atau petasan tarik berbahan kertas disemprotkan tepat ke hadapan Vynt sesaat setelah pemuda itu memasuki pintu ruangan Tim Dua.
"WELCOME TO THE JUNGLE!!!" teriak para anggota Tim Dua secara serempak dan meriah. Tentunya minus Fady karena wanita itu belum kembali setelah meninggalkan Vynt di tengah jalan tadi.
Vynt yang kaget bukan main sampai hanya diam mematung di tempatnya. Beberapa kertas confetti yang berwarna-warni serta berkelip-kelip tampak menempel di atas kepala dan pundaknya.
"Wahahahaha, liat tampang kagetnya, cute bangeetttt! Poto aahhh, buat update Instastory. Mau aku kasih hastag 'si brondong terkejoedh'!" pekik Maurice girang.
"Yang sabar, Bray! Masih mending kamu cuman disemprot confetti. Dulu aku pertama dateng langsung dilempar telur tuh ama si Upin-Ipin," bisik Enno sambil menunjuk pada si kembar Helmy dan Qiqi.
Sementara dua orang yang ditunjuk malah sedang berpose layaknya Pahlawan Bertopeng dari animasi Jepang Sinchan, sambil ketawak ngakak.
"Haah? Yang bener?" Vynt langsung menoleh pada pria berkulit sawo matang di sebelahnya itu dengan mulut terngaga.
"Suweeerrr! Mana telur burung unta pula yang dilemparin ke muka aku. Udah amiissnya na'udzubillah, kram juga nih muka kena lempar cangkang segede batu kali gitu. WHAT THE HELL!" makinya sambil menepuk-nepuk bahu Vynt sekaligus menggelengkan kepalanya.
"Emangnya kalian bisa dapet telur burung unta dari mana sih? Niat banget yang mau ngerjain junior," celetuk Vynt sambil melompat-lompat kecil agar confetti yang menempel di badannya luruh dengan sendirinya.
"Dapat dari anak Tim Empat yang habis handle tamu dari Turki. Mereka kata, itu telur buah tangan dari tamu mereka," jawab Helmy sambil terkikik geli membayangkan betapa melongonya Tim Empat saat menerima oleh-oleh telur segede gaban.
"Eehh, kalian tuh masih mending bangeettt! Kita berdua malah lebih parah!" sahut Qiqi geleng-geleng kepala.
"Iyaa, dateng-dateng hari pertama kerja tau-tau dilempar petasan cina. Untung aja kita berdua enggak jantungan. Emang dasar gila tuh senior," kini giliran Helmy yang memaki-maki.
"Emang kalian ini umur berapa sih sebenernya? Sempet-sempetnya bikin perpeloncoan turun temurun gini?" Vynt mengomel sambil membersihkan kertas-kertas dari pundaknya.
"Yang jelas lebih tuwir dari awak laahhh!" sahut Qiqi sambil bersandar pada kursi putarnya dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala.
"Heeeehh, apaan sih ini?" pekik Fady yang datang tiba-tiba.
Fady yang baru datang belakangan juga tak kalah kaget melihat bagian depan ruang Tim Dua jadi penuh dengan potongan kertas warna warni.
Tapi diluar dugaan Vynt, Fady malah ketawa renyah saat melihat tampang Vynt yang kacau karena penuh potongan kertas Confetti di kepala serta pundaknya.
"Ahahahahhhaa...bisa aneh gitu juga ya tampang kamu? Kirain bakalan jutek melulu," seru Fady. "Sini coba nunduk dikit, Vynt!"
Mendengar wanita yang tadi tampak menyebalkan baginya itu memanggil namanya dengan begitu ringan, entah kenapa Vynt jadi terhipnotis untuk menuruti perintah Fady agar menundukkan badannya.
Fady pun membantu membersihkan kertas dari kepala Vynt dengan sedikit berjinjit mengingat proporsi tubuh wanita itu cukup tinggi hingga tak begitu sulit untuknya meraih puncak kepala Vynt. Apalagi sebelumnya Fady sudah menyuruh Vynt untuk sedikit membungkuk.
Vynt pun cukup heran dengan perlakuan Fady yang lebih ramah ketimbang saat pertama kali ia ditugaskan untuk membimbing Vynt. Dan hal itu membuat Vynt penasaran. Sebenarnya karakter wanita itu seperti apa sih?
Setelah perayaan welcome party kecil-kecilan—yang menurut Vynt lebih pantas disebut momen untuk membuatnya jantungan—itu di lakukan, Fady segera menyuruh Piet si Office Boy yang asli orang Thailand untuk membersihkan seluruh confetti yang bertebaran di lantai sebelum seseorang datang.
Dan ternyata benar dugaan Fady karena tak lama setelah Piet kelar membereskan sampah confetti, Miss Marida dari divisi Humas turun dari lift di lantai dua itu dan langsung merangsek masuk ke ruang kerja mereka.
"Ada apa dengan sambungan telepon kalian? Aku sudah mencoba menghubungi Tim Dua berkali-kali dari ruang Humas tapi selalu saja nada sibuk yang terdengar," cecarnya dalam bahasa Inggris dengan logat yang terasa aneh di telinga Vynt.
"Wow...wow...wooww, chill out, sexy lady! Segitu kangennya ya sama aku sampai kamu kelabakan begini karena tidak bisa menghubungi kami?" timpal Enno kepedean.
"Cut that crap, OK! Aku cuman mau menyampaikan informasi yang sangat penting untuk kalian. And this is urgent!" balas Miss Marida dengan serius.
Seketika Fady pun mengubah ekspresinya menjadi lebih serius setelah mendengar nada bicara Miss Marida yang tampak sungguh-sungguh.
"Informasi apa itu, Miss?" tanya Fady langsung.
"Aku mendapat kabar bahwa minggu depan, bertepatan dengan jadwal city tour kalian untuk tamu dari perusahaan di Timor Leste itu, akan ada demo besar-besaran di Bangkok Square," ujarnya dengan penuh penekanan.
"APPAAHHH?" teriak Tim Dua dengan kompak.
"Keep your shocking guys, karena ada info yang lebih mengejutkan lagi," potong Miss Marida. "Aku sudah mengkroscek ke beberapa wartawan kenalanku terkait kabar itu dan hasilnya benar sekali. Parahnya, ada dugaan pemerintah kota akan menutup jalan dari Bangkok Square hingga On Siam Square selama dua kali dua puluh empat jam," beber Miss Marida dengan jelas.
__ADS_1
"Terus gimana cara kita nganter mereka check-in ke Novotel Bangkok kalo gitu? Hotel itu kan lokasinya tepat di belakang On Siam Square," tanya Norma sambil menggigiti kuku jarinya karena cemas.
"Kita juga udah enggak bisa cancel bookingan room di sana karena statusnya udah reserved, kecuali kita bayar pinalty lima puluh persen dari tarif per kamar. Ya ampuunnn, tekor dong kita—!" pekik Maurice sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sorry guys, i wish i knew it sooner. It wouldn't be to difficult for you (Maaf teman-teman, aku harap aku tahu lebih awal, pasti tidak akan jadi sesulit ini untuk kalian)," ucap Miss Marida dengan penuh penyesalan.
"It's ok, Marida. Terima kasih atas informasinya. Kami akan cari solusi untuk itu," jawab Fady diplomatis dengan menepuk punggung wanita bermata hijau muda itu.
Setelah Miss Marida pamit untuk kembali ke ruang Humas di lantai delapan. Seketika suasana hening menyergap ruang kerja Tim Dua.
Vynt langsung dapat mendeteksi wajah-wajah panik campur putus asa di sana. Kecuali satu orang, yaitu Fady.
Setelah kepergian Miss Marida, Fady langsung bergegas menuju kubikelnya untuk mengambil beberapa barang lalu membawa barang-barang yang diambilnya itu menuju ke meja panjang di bagian paling ujung ruang kerja yang berdekatan dengan tembok.
"Ayo, kita rapat teman-teman. Kita harus segera cari solusi dari masalah ini," panggil Fady pada anggota timnya.
"Tapi ini sudah waktunya makan siang, kita tidak akan bisa memikirkan solusi dengan perut kosong," timpal Enno sambil menunjuk ke arah jam dinding di ruangan itu.
Fady dan Vynt kompak menoleh ke arah jam. Begitu pula dengan anggota Tim Dua lainnya.
Dan memang benar, ini sudah masuk waktunya makan siang, tapi jika mereka tidak segera mencari solusi entah kapan mereka akan punya penyelesaian atas masalah ini sementara eksekusi turnya sendiri sudah tinggal beberapa hari lagi.
"Gimana kalau kita makan siang sambil rapat? Akan kupesankan Go-Food untuk makan siang kita hari ini. Aku yang traktir, itung-itung sebagai tanda terima kasih karena kalian sudah menerimaku disini," tiba-tiba Vynt membuka suara.
Seketika seluruh staff Tim Dua menoleh ke arahnya dengan mata dan mulut terbuka lebar.
"Serius?" tanya si kembar tak percaya.
"Sure! Why not!" balas Vynt santai sambil mengeluarkan ponselnya. "Kalian mau makan apa?" tantangnya kemudian.
Seluruh Tim Dua kontan saling pandang satu sama lain. Seumur-umur mereka bekerja di ASTRO Tours, belum pernah ada anak magang yang dengan pedenya mentraktir mereka makan siang untuk seluruh anggota Tim.
"Pizza mungkin lebih cocok untuk makan siang sambil rapat," Revi yang menjawab.
"Boleh tuh, enggak berantakan tapi bikin kenyang," tambah Maurice. "Gimana guys? Deal?" tanyanya pada seluruh Tim.
"Ngikuuutttt!" jawab yang lainnya.
Vynt tidak menjawab, hanya tersenyum menyanggupi permintaan anggota Tim untuk memesan pizza via aplikasi online. Tak lama kemudian, ia nampak serius memainkan ponsel di tangannya untuk membuat pesanan.
Hanya Fady yang masih diam dengan mengernyitkan dahinya. Ia tampak sedang serius berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Namun, sejurus kemudian ia seolah kembali tersadar bahwa ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.
"Vynt, kau juga mendekatlah setelah pesananmu selesai, ini akan jadi pengalaman yang sangat berguna untukmu," Fady tampak kembali fokus pada barang-barang yang tengah digelarnya di atas meja panjang.
Vynt mengangguk sambil menyunggingkan kembali senyumnya, lalu tanpa ragu ia pun melangkah mendekati meja panjang itu setelah menyelesaikan pesanan online via yang ia janjikan.
TING!
Sekitar empat puluh lima menit kemudian terdengar bunyi lift berdenting. Seorang pria berseragam kuning abu-abu khas seragam salah satu perusahaan ojek online di Bangkok tampak keluar dari pintu lift.
Piet yang pertama kali melihat kedatangan pengantar makanan itu pun segera mendekatinya. Rpanya tak hanya Piet yang melihat kedatangan kurir itu, Maurice pun nampak langsung berlari ke arah mas ojol dengan riang sambil berteriak.
"Pizzaku daaaataang!" pekiknya dengan nada seriosa yang dibuat-buat.
Tak lama ia kembali masuk setelah mengetahui bahwa yang datang dua orang ojol, dan bukan hanya satu. Ia pun lalu berteriak dari perbatasan antara ruang tamu dan ruang kerja guna memanggil Vynt.
"Vyynnttt, buruan kesini!" panggilnya.
Vynt yang mendengar teriakan Maurice cuman tersenyum tipis sambil berjalan menuju ruang tamu tempat para ojol meletakkan pesanannya. Fady terlihat mengikuti langkah Vynt melalui ekor matanya.
"Woi... Upin Ipin, bantuin bawa niihh!" pinta Maurice pada si kembar tak lama setelah ia masuk kembali ke ruang kerja.
Yang dipanggil pun langsung menoleh dan mendelik sekaligus saat melihat Maurice yang susah payah membawa tumpukan dus berisi tiga jenis pizza dan empat cup kentang goreng yang semuanya berukuran jumbo dari Pizza Mania, sebuah kedai pizza bergaya New York dengan kualitas terbaik di Bangkok.
Sementara Piet membawa dua dus es kopi karena Vynt juga memesan selusin es kopi cup dari Caffe Undici yang sedang booming, untuk seluruh Tim termasuk untuk Piet si Office Boy.
"Gileeee, tuh anak mesen apa aja banyak banget? Diminta pesen cuman satu box malah ini yang dateng berbox-box," Enno terheran-heran sambil melongo saat melihat tumpukan makanan yang diletakkan si kembar di ujung meja.
"Lihat aja sendiri, aku mau balik ke depan dulu, mau moto mas-mas ojol yang ganteng, hihihi."
Maurice terkikik sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja rapat, dan langsung melesat kembali ke ruang tamu sebelum mas-mas ojol itu pergi.
Vynt yang berpapasan dengan Maurice di depan ruang kerja pun kembali tersenyum geli melihat tingkah seniornya yang satu itu.
__ADS_1
"Kamu enggak apa-apa pesen makanan sama minuman segini banyak? Ini jadi kamu yang traktir atau kita patungan?" tanya Fady tampak bingung.
"Kan aku tadi udah bilang kalo aku yang traktir. Ya semua ini aku yang bayarlah," jawab Vynt santai. "Silahkan dimakan guys! Piet, kamu juga silahkan ambil ya!" imbuhnya pada pemuda office boy khusus di lantai dua itu.
"Habis berapa Bath ini semua?" Fady masih tampak kepo dan bertanya penuh selidik.
"RA-HA-SI-A!" goda Vynt sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir.
Fady yang tidak puas menerima jawaban itu hanya bisa memicingkan matanya dengan curiga.
"Asyeekkk, aku dapet fotonya mas-mas ojol rasa idol. Upload aahhhh! Ternyata kalo yang pesen cowok ganteng, bang ojol yang dateng juga ikutan ganteng loh! Baru tahu aku," ujar Maurice ngaco saat gadis itu sudah kembali ke ruang kerja dengan riang gembira. "Oia Vynt, nih struk pesenannya tadi ketinggalan di bang ojolnya."
Iiissshhh, orang disuruh buangin malah dikasihin ke Maurice. Abang ojolnya pasti enggak ngerti bahasa Inggris deh. Gerutu Vynt dalam hati.
Ketika Maurice menyodorkan dua lembar struk pemesanan makanan via online yang telah dilakukan Vynt tadi, bukannya Vynt yang dengan cepat meraihnya melainkan Fady.
Dan seketika mata lebar wanita itu nampak mendelik kala melihat angka yang tertera di total pemesanan. Sementara Vynt langsung memegang keningnya sambil geleng-geleng saat ia kalah cepat dengan Fady untuk meraih struk itu dari tangan Maurice.
"Vynt! Apa-apaan ini? Semua ini habis dua ribu lima ratus bath?" pekiknya histeris.
Mendengar Fady yang meneriakkan jumlah uang yang dihabiskan Vynt untuk makan siang mereka sontak saja membuat seluruh anggota Tim Dua terpaku seketika.
Bahkan Enno yang sudah memegang sepotong pizza keju ditangannya langsung batal menggigit pizza itu dan malah membeku sambil menatap heran pada Vynt.
Sedangkan Norma, Revi dan si kembar langsung terbatuk-batuk akibat tersedak es kopi yang sudah mereka sruput lebih dulu.
"Eh, serius?" tanya mereka bebarengan.
Fady langsung meletakkan kedua struk tadi di atas meja agar teman-temannya juga dapat melihat nominal itu. Dan mereka kembali melongo dibuatnya saat mereka melihat sendiri berapa angka yang tertera di sana.
"Tapi tadi Vynt malah ngasih mas-mas ojolnya tiga ribu bath tanpa minta kembalian!" sahut Maurice dengan lebih santai.
Itu karena ia sudah lebih dulu melongo saat melihat sendiri ketika Vynt dengan santainya memberikan uang sebanyak itu kepada kedua ojol tadi. Lagi-lagi Fady mendelik setelah mendengar pengakuan Maurice.
"Tolong deh! Enggak usah pikirkan nominalnya, yang penting kan niatnya. Oke!" ujar Vynt sambil meraih struk-struk tadi dari atas meja, meremasnya hingga menjadi gumpalan kertas kecil, lalu membuangnya begitu saja pada tempat sampah yang kebetulan ada di bawah kakinya.
"Tapi jumlah itu senilai satu juta lebih kalo dirupiahkan! Apa kamu enggak pernah dengar istilah berhemat dalam perantauan hah?" teriak Fady.
"Aku tahu, aku tahu, tapi aku tidak masalah sama sekali. Lagipula aku kan enggak setiap hari mengeluarkan uang segitu hanya untuk makan." Vynt berusaha membela diri.
"Tetep aja kamu tuh berlebihaaannn?" pekik Fady.
"Udah-udah, sekarang lebih penting mana? Membahas uangku yang aku sendiri enggak terlalu memikirkannya atau membahas solusi dari masalah tur minggu depan?" Vynt berupaya mengingatkan Fady untuk kembali ke jalurnya.
Dan memang berhasil, Fady langsung terdiam lalu kembali menatap pada map kota Bangkok yang sudah terbuka lebar di atas meja rapat. Mereka pun mulai membahas masalah yang ada sambil memakan aneka pizza dan kentang goreng yang telah Vynt pesankan.
Hampir dua jam berlalu saat Tim Dua akhirnya menemukan solusi yang dirasa paling minim kerugian untuk masalah yang mereka hadapi.
"Yeeeaayyy kelaarrr! Yuk makan lagi, masih banyak nih... masih lapar juga aku," teriak Helmy girang.
"Heeeii, situ enggak malu apa makan segitu banyak saat yang nraktir malah anak magang?" sahut Qiqi pada saudara kembarnya itu.
"Masa bodo! Jiwa miskinku menolak untuk jaim," balas Helmy cepat sambil meletakkan beberapa potong pizza sekaligus ke atas piringnya. "Toh, Vynt aja yang udah bayarin enggak masalah kok. Ngomong-ngomong makasi banyak ya Vynt atas traktirannya," ucap Helmy dengan mulut penuh pizza.
Vynt hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan terima kasih dari Helmy yang juga disusul oleh anggota Tim Dua lainnya.
"Apa semua mahasiswa dari kampusmu seroyal ini?" tanya Fady setelah ia mulai bisa menerima sikap Vynt hari ini.
"Entahlah, mungkin cuma aku," jawab Vynt singkat.
Mereka pun bersuka cita menerima traktiran dari Vynt itu. Tapi hanya satu orang yang kembali merasa curiga. Yaitu Fady.
Untuk ukuran anak magang, Vynt terlalu royal terhadap senior-seniornya. Dan lagi, Fady tidak mengira bahwa Vynt akan semurah hati itu di hari pertamanya magang meskipun dengan alasan membalas penyambutan dari anggota Tim Dua.
Nih anak sebenernya siapa sih? Fady bertanya-tanya dalam hati.
To Be Continue...
.
.
.
__ADS_1