
Keira terbangun dalam sebuah kamar yang teramat luas dan terang benderang.
Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Keira menolehkan kepalanya ke kanan dan langsung menyipitkan matanya karena silau.
Dilihatnya jendela kaca yang berukuran satu sisi dinding penuh dan hanya ditutupi satu lapis korden tipis tembus pandang yang membuat sinar matahari tetap bisa masuk menembus ke dalam kamar.
Cat dinding dan perabotan yang mayoritas berwarna putih seolah menambah kesan terang dalam kamar tersebut. Keira merasa sama sekali tidak mengenali kamar itu.
"Aku dimana ini?" gumam Keira sambil mencoba untuk duduk.
"Sudah bangun?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Keira hingga gadis itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
Namun Keira lebih kaget lagi tatkala melihat siapa sosok yang sedang berdiri dengan bersandar pada sebuah daun pintu yang bercat putih di sisi kiri ranjang yang sedang ditempatinya itu.
"ARGHA???!!!" panggil Keira tak percaya. Mata Keira terbelalak dibuatnya.
Pria yang dipanggil namanya itu nampak tersenyum simpul lalu berjalan mendekati Keira. Ditariknya sebuah bangku kecil di samping ranjang yang kemudian didudukinya.
"Terima kasih karena masih ingat aku. Keira!" ucap Argha tanpa melepas senyum di bibirnya.
Keira tak bisa percaya, sungguh-sungguh tak percaya dirinya bisa bertemu kembali dengan Argha. Mata Keira mengembun seiring menumpuknya perasaan rindu yang membuncah terhadap pria itu. Tenggorokannya tercekat. Keira hampir menangis namun sekuat tenaga ditahannya.
"Argha?! Kamu...beneran? Disini? Didepanku???" Keira bertanya seakan tak percaya. Ingin rasanya mencoba menyentuh pria itu, tapi tangan Keira seolah tertahan oleh sesuatu.
Argha tidak menjawab pertanyaan Keira itu namun hanya tertawa lirih. Tawanya yang khas yang akan selalu diingat oleh Keira sampai kapan pun.
Pandangan mata Argha lalu tertuju pada perut Keira yang meski masih rata namun telah ada kehidupan di dalamnya. Senyum Argha mengembang lebih lebar saat menatap perut Keira itu dengan penuh arti.
"Selamat atas kehamilanmu, Kei. Anak itu akan jadi anak yang kuat." ujar Argha sambil menunjuk perut Keira. "Karena ayah dan ibunya sama-sama orang yang kuat." tambahnya.
Diingatkan oleh Argha akan kehamilannya, seketika Keira disergap rasa bersalah. Rasa bersalah karena merasa telah mengkhianati Argha. Membuatnya merasa amat malu berhadapan dengan Argha saat ini.
"Maafin aku, Gha!" ucap Keira lirih sambil menundukkan pandangannya. Kini air matanya mengalir sudah. Tak mampu lagi dibendungnya.
Dan Argha yang seolah mengerti isi hati Keira lalu menggeleng perlahan.
"Kamu nggak perlu minta maaf sama aku atas itu Keira. Kamu dan Tyo adalah dua orang yang paling aku sayangi. Tetaplah bersama, karena bahagia kalian adalah bahagiaku juga." Argha berkata dengan tulus.
Keira merasakan hatinya menghangat seiring pengertian yang Argha berikan padanya. Sekaligus perih menerima dukungan dari pria yang pernah dicintainya itu.
Air mata Keira semakin deras mendengar ucapan Argha. Keira makin menundukkan kepalanya karena malu. Keira ingat bahwa Argha selalu sebaik ini padanya sejak dulu.
"Keira dengar aku!" pinta Argha tegas membuat pandangan mata Keira langsung mengarah pada pria itu. "Aku mencintaimu hingga akhir hayatku. Tapi sekarang kamu harus mencintai Tyo, karena cinta Tyo jauh lebih besar dari pada aku." Argha meyakinkan Keira.
Mendengar semua penuturan Argha itu, Keira makin sesenggukan dibuatnya. Dadanya terasa sesak oleh tangis yang tak dapat lagi dikontrolnya.
"Percayalah, Kei. Percayalah pada Tyo! Aku mohon, bersatulah dengan kakakku!" pinta Argha sambil menyentuh perut Keira dengan lembut. Menyalurkan kehangatan yang terasa nyata ke dalam perutnya.
Keira hanya bisa menganggukkan kepalanya kuat-kuat untuk mengiyakan permintaan Argha itu. Suaranya tak mampu lagi mengeluarkan jawaban, hanya suara tangis yang tercipta dari tenggorokan Keira yang tercekat.
"Terima kasih, Keira!" Argha lalu memberikan senyum terbaiknya sesaat sebelum sosok Argha menguap dalam pandangan Keira secara perlahan.
Keira yang masih tak rela Argha menghilang berusaha menangkap sisa bayangan Argha namun gagal. Keira celingukan tapi tak dapat menemukan sosok Argha di sudut manapun di kamar itu.
Diliputi rasa kecewa yang mendalam, Keira pun menangis sejadi-jadinya sambil menyatukan kedua tangan di depan dadanya. Kedua bahunya berguncang seiring isak tangisnya yang kian menjadi.
Dan di waktu yang bersamaan, Keira merasakan tubuhnya terguncang semakin kencang. Seolah seseorang sedang berusaha untuk membangunkannya dari alam bawah sadarnya.
"Kei, Keira. Sadarlah, Kei. Kumohon sadarlah!" pinta orang itu mengiba sambil mengguncang bahu Keira.
Sekali lagi Keira kembali tersadar, namun kini ia tak lagi berada dalam kamar serba putih seperti sebelumnya, melainkan berada di salah satu kamar inap di sebuah Rumah Sakit Umum kota Jogja.
Saat Keira membuka matanya perlahan. Kali ini hal pertama yang dilihat Keira saat membuka mata adalah wajah khawatir Tyo. Keira pun langsung sadar, bahwa pertemuannya dengan Argha tadi tidaklah nyata.
Sementara kekhawatiran Tyo yang terlihat dimatanya saat ini sangatlah nyata. Pria itu pasti tengah menunggunya terbangun entah untuk berapa lama.
Keira langsung teringat ucapan dan permintaan Argha di mimpinya tadi.
Semakin kesini, Keira memang semakin menyadari kesungguhan Tyo padanya. Seolah matanya kini terbuka lebar akan segala pengorbanan dan kebaikan Tyo.
Dan Keira jadi semakin menyadari kebodohannya selama ini yang dengan egois telah begitu saja meninggalkan pria yang begitu tulus padanya itu.
"Tyo." panggil Keira lirih.
__ADS_1
"Iya, Kei. Aku disini. Kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan?" Tyo bertanya dengan nada khawatir.
Bukannya menjawab pertanyaan Tyo, Keira malah langsung menangis sesenggukan. "Maafin aku!" pinta Keira dengan tersedu.
Tyo langsung memeluk tubuh Keira yang masih terbaring lemah saat dilihatnya Keira langsung menangis begitu tersadar dari pingsannya yang cukup lama.
"Minta maaf untuk apa? Kamu nggak salah, Kei. Aku yang nggak becus jagain kamu. Aku yang harusnya minta maaf!" balas Tyo dengan terus memeluk Keira erat.
Tangis Keira makin pecah saat mendengar Tyo malah menyalahkan dirinya sendiri bahkan setelah semua keegoisan yang telah dilakukannya terhadap pria itu.
Ya Tuhaannn, Maafkan aku yang tak pernah bersyukur telah kau kirimkan lelaki seluar biasa ini untukku, rintih Keira dalam hati.
"Maafin aku karena sudah pergi dari kamu! Maafin aku karena nggak ngasih kamu kesempatan. Aku...Aku cinta kamu, Tyo!" Keira akhirnya mengungkapkan segala isi hatinya dalam pelukan Tyo.
Tyo terpaku mendengar ungkapan cinta dari Keira. Hatinya trenyuh sekaligus bahagia. Tak disangka Keira akan membalas perasaanya. Membalas cintanya. Tyo merasa hatinya penuh bahkan meluap oleh rasa yang tak mampu ia jabarkan.
"Terima kasih. Terima kasih atas perasaanmu, Keira." balas Tyo lalu mengecup kedua mata Keira yang basah untuk menghapus air matanya. "Sudah dong nangisnya. Nanti kepalamu tambah sakit." Tyo mengingatkan sambil melepaskan pelukannya.
Keira berusaha mengontrol emosinya, meredakan tangisnya. Mulai sekarang ia akan menuruti semua yang diminta Tyo. Ia akan menjadi yang terbaik untuk Tyo.
Dan saat Keira menyentuh keningnya yang masih terasa sangat sakit. Tangannya meraba perban yang ternyata terlilit di kepalanya.
"Aku kenapa, Tyo?" tanya Keira lemah setelah tangisnya mulai mereda.
"Kamu dipukul orang jahat sampai jatuh dan kepalamu terbentur batu. Makanya kamu pingsan." jawab Tyo sambil menggenggam tangan Keira. "Tapi syukurlah kamu sekarang sudah sadar." Tyo mengecup tangan Keira yang digenggamnya itu. Ada rasa lega terpancar dalam suaranya.
"Aku pingsan berapa lama?" tanya Keira lagi.
"Kamu tak sadarkan diri selama sehari semalam. Kata dokter, benturan di kepalamu cukup keras dan luka robeknya juga lumayan lebar sampai kamu harus dapat empat jahitan. Tapi yang bikin pingsanmu cukup lama, karena kamu banyak kehilangan darah dari kepala." Tyo menjelaskan panjang lebar.
Seketika Keira teringat akan kehamilannya. "Anakku? Bayiku? Bagaimana keadaannya?" tanya Keira panik sambil mencengkeram lengan Tyo.
"Huuusshh...tenang, Kei. Tenang!" Tyo menggosok-gosok pipi Keira untuk menenangkan gadis itu. "Bayinya nggak apa-apa, kata dokter dia kuat kok. Aku bahkan sudah bisa mendengar detak jantungnya satu kali." jelas Tyo lagi.
Mata Keira membulat seakan tak percaya, "Sungguh?!" pekiknya lirih.
Tyo mengangguk mantap, "Dokternya bilang, usia kehamilanmu sudah masuk minggu ke enam, jadi wajar kalau detak jantung bayinya sudah terdengar meski masih sangat pelan dan jarang-jarang karena sulit terdeteksi oleh sonogram." beber Tyo mengcopy apa yang didengarnya kemarin dari seorang dokter spesialis kandungan yang memeriksa Keira.
"Aku juga pengen denger." Keira merajuk.
Mendengar ucapan Tyo itu, Keira sedikit kecewa tapi mengetahui jika bayinya baik-baik saja sudah membuat dirinya lega dan sangat bersyukur. Karena itulah, Keira akan menurut untuk bersabar menunggu hingga pemeriksaan kehamilannya yang berikutnya.
***
@Rumah Keluarga PRATAMA
Di balkon kamar yang ada di lantai dua rumahnya, Ny. Naina nampak gusar di hadapan suaminya. Terlihat wanita paruh baya itu mondar mandir dengan gelisah.
"Gimana ini, Ayah? Belum ada kabar juga dari Tyo!" tanyanya pada suaminya yang malah terlihat santai duduk di kursi goyang antiknya sambil membaca koran.
Menurut laporan yang mereka terima dari Pak Agus Choir kemarin malam, Tyo dan yang lainnya sudah menemukan Keira tapi mendadak terjadi penculikan dan penyerangan yang dilakukan oleh Danny Wan---anak dari Mr.Wan, bersama beberapa orang suruhannya.
Masih menurut Pak Agus Choir yang mendapat laporan langsung dari Enka, Tyo memang sudah bisa menyelamatkan Keira kembali. Namun karena sempat diserang oleh Danny, Keira jadi terluka dan sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit.
Hal inilah yang membuat Ny.Naina gelisah. Ia khawatir akan keselamatan Keira maupun kondisi kehamilan Keira. Namun Pak Ruslan merasa yakin, selama belum ada kabar buruk apapun dari Pak Agus Choir, kemungkinan kondisi Keira tidaklah terlalu mengkhawatirkan.
"Daripada mondar mandir nggak jelas gitu, mendingan ibu telpon Tyo sana. Tanya langsung gimana keadaan mereka." Pak Ruslan menyarankan.
"Oh, oke-oke. Ibu telpon sekarang ya." Ny. Naina setuju.
Wanita paruh baya itu lalu mengambil ponselnya dari nakas lalu buru-buru memencet speed dial ke kontak Tyo.
📱TYO PRATAMA
Halo, Ibu
📱NAINA PRATAMA
Halo, Tyo. Gimana kabar Keira disana?
📱TYO PRATAMA
Ibu tenang aja, Keira sudah sadar kok. Ini sudah pulang ke Guest House. Bayinya juga nggak apa-apa. Dia kuat kaya papanya
__ADS_1
📱NAINA PRATAMA
Isshhh, dasar kamu. Belum apa-apa mantu ibu dah kenapa-napa. Awas aja nanti kalau ada apa-apa lagi! Kata Pak Agus, kepala Keira luka?
📱TYO PRATAMA
Iya Bu, Maaf. Kepala Keira luka karena terbentur batu, tapi udah dijahit
📱NAINA PRATAMA
Ya ampun, Tyo. Ibu bilang kan jangan diseret-seret Keiranya. Ini malah kamu ajakin main ke pantai sampai jatoh gitu, gimana sih kamu???!!! Mana sampe kepala Keira dijahit pula...diobras sekalian nggak tuh biar rapih?
Tyo mengernyit bingung mendengar omelan sang ibu. Ini yang salah sebenarnya siapa sih? pikir Tyo. Pak Agus yang keliru ngasih info ke Ibunya atau Ibunya yang sedang kumat halu-nya.
📱TYO PRATAMA
Nggak gitu, Bu. Keira luka itu karena...
📱NAINA PRATAMA
Udah buruan dibawa pulang itu Keiranya! Jangan lama-lama di Jogja. Ibu dah pengen banget ketemu dia, pengen elus-elus perutnya
📱TYO PRATAMA
(Exhale..inhale...exhale...inhale...)
Baiiiikk, Ibu
Ny.Naina menutup sambungan telponnya sambil cengar cengir di depan suaminya.
"Ibu ngerjain Tyo lagi?" tanya Pak Ruslan santai.
"Pasti sekarang lagi sewot dia, xixixixi." Ny.Naina menjawab sambil terkikik geli membayangkan Tyo yang menahan emosi karena omongannya yang sedikit ngaco di telpon tadi.
"Orang anak lagi kena musibah kok malah dikerjain gitu." balas Pak Ruslan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang dipegangnya.
"Biarin ah, habisnya Tyo anaknya dari dulu nggak asik. Terlalu serius. Ibu jadi agak kasian sama Keira kalau nanti menikah sama Tyo. GARING!" Ny.Naina berujar dengan mimik wajah yang khawatir.
"Jangan langsung menjudge masa depan anak sendiri kaya gitu. Sapa tahu Keira bisa membawa perubahan positif buat Tyo." Pak Ruslan melipat korannya, merasa tak fokus lagi membaca setelah mendengar celoteh istrinya yang kadang absurd.
"Aamiin, semoga aja ya, Yah!" Ny.Naina langsung sumringah hanya dengan membayangkannya saja.
***
@Singgasana Guest House
Meski hanya menerima telpon dari Ibunya, tapi Tyo seakan baru saja menerima telpon dari sales kartu kredit yang suka nyerocos seenaknya tanpa jeda apalagi iklan.
"Siapa? Ibumu?" tanya Keira setelah Tyo mengakhiri telponnya dengan sang Ibu.
Tyo hanya mengangguk mengiyakan. "Yang sebentar lagi jadi ibumu juga." tambah Tyo lalu meraih kembali tangan Keira yang ada di pangkuan gadis itu. Membuat Keira otomatis tersipu.
"Ibu nyuruh kita cepet-cepet pulang. Pengen buru-buru ketemu kamu katanya." ujar Tyo.
"Tapi kerjaanku gimana? Kost-anku? Barang-barangku?" tanya Keira polos.
Tyo mengambil nafas dalam lalu membuangnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Keira itu.
"Kalau kamu jangan kerja dulu sampe anak kita lahir gimana? Mau?" tanya Tyo tegas namun hati-hati.
Keira nampak termenung memikirkan jawabannya. Dan sebelum Keira menjawab, Tyo langsung menambahkan, "Kita kan mau nikah, mau tidak mau kamu harus balik ke kota asal. Soal kos dan barang-barangmu disini, biar aku yang urus. Oke?!"
Keira akhirnya mengangguk. Memang untuk saat ini, pulang ke kota asal adalah pilihan terbaik untuknya dan untuk bayinya. Setelah apa yang terjadi kemarin, Keira jadi berpikir. Berada di dalam lindungan Tyo dan keluarganya adalah hal yang paling tepat untuk dilakukannya kini.
To Be Continue.....
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaafff, kmren lagi holiday di Batu, Malang. Sinyalnya kurang kenceng di villa jadi susah upload. 😥🙏🙏🙏