Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : CALON BESAN


__ADS_3

.


.


.


"Makasih banget lho, Jeng Naina! Njenengan sudah mau nemenin aku menemui Bu Maria, calon besanku itu." ucap Ny.Rukmini tulus pada Ny.Naina di dalam mobilnya yang sedang dalam perjalanan menuju ke salon Maribeth.


Keduanya akan menemui Ny.Maria siang itu untuk membantu Rizzi mendapatkan restu dari mamanya si Bethsa Putry.


"Yakiiinnn, bakalan jadi calon besan???" goda Ny.Naina dengan menaik-naikkan kedua alisnya.


"Tsk, ya harus bisa diyakinin dong, Jeng! Orang anak bontotku itu udah kadung bucin sama anaknya Bu Maria, si Bethsa Putry itu. Kemaren aja sampe mau nangis dia pas denger dijodohin sama papinya." ungkap Ny.Rukmini dengan lebaynya.


"Maaasak sih, Jeng??? Ciyuusss???" Ny.Naina menempelkan kedua telapak tangannya di pipi seolah tak percaya. "Sampek segitunya si Rizzi??? Ckckckck, anak muda jaman sekarang emang gampang banget dibikin bucin. Apa karena mereka kebanyakan nyemilin micin ya?" gumam Ny.Naina mulai ngelantur.


"Huusshh, ngawur!!!"


Ny.Rukmini mengibaskan tangannya di depan wajah Ny.Naina demi melempengkan kembali pikiran sobat gesreknya itu setelah sempat keluar dari jalurnya sesaat.


"Jadii, tugas Jeng Naina nanti, tolong jadilah penengah antara aku dan Bu Maria kalau omonganku udah mulai ngelantur kayak njenengan barusan ya, Jeng! Jeng Naina tahu sendiri tho gimana aku kalau lagi khilaf!" tambahnya dengan malu-malu.


Ny.Naina terbahak mendengar pengakuan ibunda Rizzi itu.


"Tenang aja, Jeng Mini! Aku pasti bantuin njenengan! Karena aku udah ngeship hubungan Rizzi sama Beth dari awal mereka ketemuan di episode dua belas di novel ini. Chemistry mereka itu udah dapet banget menurut aku, jadi kalo sampe mereka enggak berjodoh, tak bantuin neror mbak authornya biar kapok!" ancam Ny.Naina.


((Author: Hadeeuuhhh...!!! Kok jadi sayah dibawa-bawa yaa Bu Nainaaa??? πŸ˜ŒπŸ˜“πŸ˜‘))


Ny.Rukmini pun mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju dan puas dengan tekad Ny.Naina barusan. "Betul!!! Kalo perlu kita samperin rumahnya, kita demo di sana biar mbak authornya nggak berani bikin cerita yang alurnya nyiksa anakku lagi!" imbuhnya.


((Author: Ya Alloohh...the power of emak-emak niihh, sampe author kena bully juga. Emang cuman di depan mereka, author nggak ada wibawanya. #ngenesbinnyesek πŸ˜₯πŸ˜–πŸ˜’))


"SETUJUUUU!!! Tenang aja, aku tahu kok di mana rumahnya!" seru Ny.Naina dengan semangat empat lima.


.


.


.


Ekspresi kaget jelas kentara dari raut wajah Ny Maria. Pasalnya tak ada hujan, tak ada angin, dan tanpa ada janji terlebih dahulu, tiba-tiba saja Bu Mini dan Bu Naina yang ia kenal sebagai nyonya besar dari keluarga berada menyatakan ingin berbicara empat mata dengannya tanpa peringatan.


Ny.Maria jadi bertanya-tanya, mungkinkah kemarin saat terakhir kali mereka mengunjungi salonnya, ia telah melakukan kesalahan yang fatal tanpa sengaja??? Sebab mimik wajah Bu Mini sejak kedatangannya tadi tampak serius dan sedikit ketus. Dan ia ingat dengan jelas jika tempo hari dirinyalah yang melayani wanita itu.


"Selamat siang Bu Naina, Bu Mini! Ada yang bisa saya bantu?" sapa Ny Maria ketika pertama kali menemui kedua wanita itu di ruang tunggu salon setelah dirinya dipanggil oleh salah satu staffnya.


Ny.Rukmini dan Ny.Naina tampak saling lirik lebih dulu lalu kemudian Ny.Rukmini yang akhirnya menjawab,


"Saya ingin membicarakan hal serius dengan Bu Maria, apa anda bisa sekarang juga?" tanya Ny.Rukmini dengan intonasi yang datar.


Ny.Maria langsung dibuat takut oleh cara bicara Ny.Rukmini. Ia khawatir wanita kaya itu akan komplain atau bahkan menuntutnya untuk sesuatu yang sama sekali tidak ia sengaja.


Padahal, cara bicara Ny.Rukmini yang seperti itu hanyalah efek dari ketegangan yang dirasakannya. Sayangnya, Ny.Maria malah menangkapnya dengan sudut pandang yang berbeda.


Untungnya Ny.Naina yang mencium aroma kesalah pahaman segera menambahi ucapan Ny.Rukmini untuk mencairkan suasana sekaligus mengurai kesalah pahaman yang hampir terjadi.


"Maaf, kalau kami datang tanpa janji terlebih dulu, Bu Maria! Tapi kami sama sekali tidak akan melakukan hal buruk terhadap anda. Bu Maria tenang saja ya, tidak usah kuatir!" Ny.Naina berusaha menenangkan ibunda Beth itu.


Mendengar penuturan Bu Naina yang tampak tulus serta melihat perubahan ekspresi wajah Bu Mini yang menjadi lebih lembut setelahnya, membuat Ny.Maria akhirnya merasa sedikit lega.


"Tapi lebih baik kita ngobrol di Kafe seberang aja yuk! Lebih enak dan lebih santai kayanya daripada di sini." Ny.Naina menunjuk ke arah Kafe yang berada di seberang ruko salon Maribeth. "Maaf lho, Bu Maria. Saya tidak ada maksud untuk menghina salon Maribeth, cuman kalau kita ngobrol di sini takutnya nanti menganggu tamu-tamu salon lainnya." jelasnya lebih lanjut.

__ADS_1


Ny.Rukmini tampak manggut-manggut menyetujui saran dari Ny.Naina. Sedangkan Ny.Maria langsung mengecek jam yang ada di pergelangan tangannya.


Ternyata kurang tiga puluh menit lagi menjelang waktu makan siang. Ia berpikir untuk istirahat lebih awal saja sekalian menerima ajakan para nyonya besar itu untuk ngafe sambil ngobrol serius sesuai penuturan Bu Mini.


"Baiklah, tapi saya permisi pamit pada staff lainnya dulu ya, Bu!" ujarnya seraya kembali masuk ke dalam ruang perawatan.


Beberapa saat kemudian, ketiga wanita yang rata-rata berusia sekitaran empat hingga lima dasawarsa itu, terlihat duduk saling berhadap-hadapan di sebuah meja kotak di dalam Kafe yang berada tepat di seberang Salon Maribeth.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Ny.Rukmini yang tak ingin lagi menunda-nunda kesempatan untuk menunjukkan niatnya kepada Ny.Maria segera berinisiatif untuk memulai percakapan.


"Eheem...!" Ny Rukmini mencoba menarik perhatian wanita yang duduk di depannya itu. "Maaf ya, Bu Maria, tapi karena saya tidak punya banyak waktu tersisa, jadi saya langsung aja!" ucapnya dengan tegas.


Ny.Maria yang tiba-tiba merasakan ketegangan dari lawan bicaranya langsung menegakkan punggung dan memasang ekspresi tak kalah serius. Mencoba memberikan gestur yang menunjukkan bahwa ia benar-benar menyimak arah pembicaraan itu.


"Jadi, kenapa saya ingin bicara serius dengan Bu Maria adalah karena saya mau menanam modal di salon anda, Bu." ungkapnya to the point.


Ny.Rukmini berusaha menyunggingkan senyumnya yang paling tulus demi melancarkan rencananya.


"Saya tahu, Bu Maria sedang butuh suntikan dana tho? Maaf sebelumnya, tapi sejak saya tertarik dengan salon Bu Maria, saya sudah melakukan survey kecil-kecilan. Dan hasilnya, salon Maribeth akan berkembang lebih baik jika Bu Maria memiliki sejumlah modal lagi untuk melakukan restorasi pada salon Maribeth."


Ny.Rukmini berceloteh layaknya marketing kartu kredit yang profesional. Opening speechnya barusan begitu tepat mengena di otak bisnis Ny.Maria. Membuat wanita itu, otomatis menalar sekaligus mempertimbangkan tawarannya yang terdengar begitu menggiurkan.


"Tapi saya tidak punya jaminan apa-apa, Bu. Sertifikat rumah sudah saya pakai untuk jaminan pinjaman dana pengobatan almarhum suami saya. Saya sudah tidak punya jaminan yang bisa saya tawarkan lagi." Ny. Maria menunduk lesu.


Ny.Rukmini tersenyum sumringah melihat reaksi yang diberikan Ny.Maria padanya. Mendengar dari jawabannya, wanita itu tampak tertarik dengan apa yang ia tawarkan. Di luar dugaannya, ternyata misi yang diberikan padanya ini cukup gampang.


Ny.Rukmini menoleh ke arah Ny.Naina dengan tatapan penuh percaya diri. Ia memberikan kode dengan gerakan alisnya serta anggukan kepala bahwa ia yakin misi mereka akan berhasil.


Ny.Naina membalas tatapan Ny.Rukmini dengan senyum cerah. Hatinya girang bisa diikut sertakan dalam misi yang menurutnya sangat seru ini.


"Sebenarnya saya tidak butuh jaminan, Bu Maria. Saya cukup mempercayai kredibilitas serta nama baik anda saja." Ny.Rukmini mulai menebar umpannya.


"Jangan begitu, Bu Mini! Kalau begitu nanti saya yang tidak enak! Dan kita kan baru saja saling kenal, saya sungguh tidak akan merasa nyaman jika menerima bantuan begitu saja dari anda." ujar Ny.Maria terus terang.


"Tidak, Bu Mini. Tidak! Tidak bisa begini. Ini tidak baik. Andai saja saya punya jaminan yang bisa saya titipkan pada anda. Jujur, saya sangat tertarik pada tawaran anda itu! Tapi sayangnya saya tidak punya apa-apa. Saya minta maaf!"


Ny.Maria memainkan jari-jarinya dengan gelisah. Dalam penglihatan Ny.Rukmini dan Ny.Naina, wanita itu tampak sangat jujur dan tulus. Mereka langsung merasa iba melihat air mukanya yang tampak begitu kecewa.


Seorang pelayan Kafe datang untuk mengantarkan pesanan mereka. Begitu minumannya dihidangkan, Ny.Maria langsung menyeruputnya hingga tersisa setengahnya.


Perasaan kecewa yang kini bersemayam di dadanya membuatnya kegerahan. Dan minuman dingin yang diteguknya barusan cukup ampuh untuk mendinginkan hatinya kembali.


Dengan gerakan yang luwes, Ny.Rukmini menyesap coffe lattenya sesaat sebelum kembali membuka suara.


"Jika anda memaksa ingin memberikan saya jaminan, sebenarnya ada, Bu Maria. Jaminan itu masih ada! Bu Maria masih punya satu jaminan lagi yang bisa anda titipkan pada saya." balas Ny.Rukmini dengan santai.


Ny.Maria tampak heran. Keningnya berkerut dan matanya menyipit secara otomatis. Ia mengingat dengan jelas semua aset harta bendanya dan ia merasa tidak ada lagi yang bisa ia jadikan sebagai jaminan.


Karena alasan itulah ia juga tidak berani mengambil pinjaman dari Bank konvensional untuk mengembangkan salonnya.


"Jaminan apa yang anda maksud itu, Bu Mini?" tanya Ny.Maria kebingungan.


Ny.Rukmini tersenyum sebelum menjawab, "Anak gadis Bu Maria yang bernama Betsha Putry. Saya minta, Beth sebagai jaminan atas investasi yang saya berikan." todongnya terus terang. "Apakah Bu Maria bisa memberikan Beth sebagai jaminan kepada saya?" Ny Rukmini balas bertanya pada Ny.Maria.


Kedua mata Ny Maria tampak membulat dan melebar. Punggungnya semakin tegak. "Maksud Bu Mini apa?" ia masih tak mengerti arah pembicaraan wanita di depannya itu.


Ny Rukmini turut menegakkan punggungnya. Ekspresinya kini nampak lebih serius ketimbang sebelumnya. Dan dengan suara yang lebih tegas ia lalu membeberkan fakta yang akan mencengangkan Ny.Maria.


"Saya adalah Maminya Rizzi Riyant, pria yang sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan anak ibu, Bethsa Putry." Ny Rukmini memberikan senyum lembutnya sebelum meneruskan.


Ny.Maria langsung kaget mendengarnya. Nafasnya seakan tercekat. Dadanya bergemuruh dilingkupi rasa takut sekaligus khawatir kepada wanita di hadapannya itu.

__ADS_1


"Jangan takut dulu, Bu Maria. Karena saya tidak akan menyakiti putri anda!" ucap Ny.Rukmini sambil meraih sebelah tangan Ny.Maria yang bertengger di atas meja lalu mengusapnya dengan lembut.


Ny.Maria masih terdiam. Meski untuk sesaat tadi ia sempat merasa kaget saat Ny Rukmini meraih tangannya. Ia merasa begitu gugup.


"Jika mereka berdua menikah, secara otomatis, anak ibu akan menjadi anak saya juga. Jadi saya akan menjadikan hubungan kekeluargaan itu sebagai jaminannya. Apa sekarang anda masih tidak mengerti maksud saya?" senyum di wajah Ny.Rukmini masih bertahan dengan baik. Bahkan lebih cerah daripada sebelumnya.


Ny.Maria masih shock mengetahui hal itu. Ia tak menjawab pun tak merespon. Wanita itu masih tak percaya dengan apa yg dikatakan Ny.Rukmini padanya.


Ny.Rukmini mendesah pelan-pelan. Sedikit kekhawatiran kembali merasukinya, takut jika ada kesalahan dalam ucapannya yang bisa membuat Ny.Maria malah jadi menolak tawarannya.


Untuk saat ini seharusnya ia sama sekali tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. Demi Rizzi. Demi putra bungsunya yang kadung bucin pada putri Ny.Maria, ia harus tetap meyakinkan diri bahwa ia akan memenangkan misi ini.


"Intinya, saya merestui hubungan Rizzi dengan Beth dan saya juga ingin mereka segera menikah. Saya juga menjamin, bahwa putra saya---Rizzi---akan melakukan yang terbaik sebagai suami maupun menantu. Jika tidak, saya sendiri yang akan menghukumnya! Bu Maria tidak usah kuatir! Jadi, Ayo...secepatnya kita nikahkan anak-anak kita!" Ny.Rukmini berbicara dengan begitu meyakinkan.


Setelah diberondong kalimat-kalimat yang penuh kejutan oleh Ny.Rukmini, Ny.Maria langsung shock bertubi-tubi dalam sekali waktu. Tapi tiba-tiba ia teringat akan pengakuan Rizzi semalam saat mengantar Beth pulang seperti biasa.


"Tapi Nak Rizzi bilang bahwa ia sedang dijodohkan oleh Papinya, Bu Mini!" Ny.Maria akhirnya berani merespon ucapan Ny.Rukmini tentang hubungan anak-anak mereka.


Mendengar penuturan Ny.Maria, tidak hanya Ny.Rukmini yang kaget tapi Ny.Naina juga.


"Lho, Rizzi bilang ke Bu Maria kalau dia di jodohkan?" tanya Ny.Rukmini pada Ny.Maria dengan heran.


"Lho, Rizzi dijodohkan Papinya? Sama siapa?" dan malah itulah yang ditanyakan Ny.Naina pada kedua wanita yang duduk semeja dengannya.


Ibunda Tyo itu sampai memajukan duduknya ke arah Ny.Rukmini dan Ny.Maria agar dapat lebih jelas mendengarkan penjelasan mereka atas pertanyaannya. Sayangnya, Ny Rukmini malah memberikan lirikan tajam ke arah Ny.Naina.


"Soal itu nanti saya beberin dengan gamblang ke Jeng Naina pas kita pulang dari sini! OKE!" ucapnya dengan tegas.


"Oh, OKE!" jawab Ny.Naina tak kalah tegas. Wanita itu lalu kembali mundur untuk duduk dengan lebih santai sambil menyeruput avocado floatnya dengan nikmat.


"Anda dengar kabar itu langsung dari anak saya atau Rizzi hanya bilang ke Nak Bethsa lalu anda mendengarnya dari putri anda, Bu Maria?" tanya Ny.Rukmini mencoba memastikan.


"Saya dengar langsung dari Nak Rizzi, Bu Mini." jawab Ny.Maria dengan tegas.


Ia lalu menceritakan saat dan bagaimana Rizzi membeberkan masalah dalam keluarganya itu serta kesungguhan Rizzi untuk membatalkan perjodohan sepihak dari Papinya itu.


Ny.Rukmini tampak tersenyum puas mendengar penuturan Ny.Maria. Pasalnya ia merasa bangga pada Rizzi yang dengan berani mengakui tentang perjodohannya bahkan di depan ibunda kekasihnya.


"Lalu bagaimana reaksi anda, Bu Maria?" tanya Ny.Rukmini lagi.


"Saya berterima kasih atas keberanian dan kejujuran Nak Rizzi serta niat tulusnya untuk mempertahankan putri saya sebagai pasangannya. Saya yang awalnya tidak ingin berharap banyak dari Nak Rizzi, kini benar-benar telah menganggap Rizzi sebagai bagian dari keluarga saya." jawab Ny.Maria terus terang.


Ny.Rukmini mendesah dengan penuh kelegaan mendengar jawaban Ny.Maria yang telah menerima Rizzi. Bisa dibilang, misinya sudah tercapai karena tugasnya adalah membantu Rizzi meraih restu Ny.Maria. Dan ternyata Rizzi sudah mendapatkan restu itu.


Ny Rukmini sangat bersyukur karenanya. Namun niatnya untuk membantu bisnis mamanya Beth masih sangat tinggi. Tekadnya sudah bulat untuk memberikan suntikan dana kepada Ny.Maria agar dapat lebih mengembangkan salon Maribeth.


"Kalau begitu tidak ada alasan lagi bagi anda untuk tidak menerima bantuan saya kan?" Ny.Rukmini tersenyum penuh arti di hadapan Ny.Maria. "Betul tidak, Jeng Naina?" ditolehnya Ny.Naina untuk mendapat dukungan.


Dan tentu saja, Ny.Naina pun mengangguk mengiyakan dengan antusias. Hal baik mana lagi yang tidak akan dilewatkannya setelah mendukung kerjasama antara dua wanita yang akan menjadi besan itu.


Sedangkan Ny.Maria pun hanya bisa pasrah, ia merasa keyakinan Bu Mini untuk membantunya adalah takdir Tuhan. Dan bila Tuhan sudah berkehendak, apalah yang bisa ia lakukan sebagai manusia biasa selain menerimanya.


Ia juga bersyukur, bahwa Maminya Rizzi nampak seperti ibu mertua yang akan menyayangi putrinya kelak. Semoga saja penilaiannya terhadap calon besannya itu benar hingga ia dapat dengan tenang melepas putrinya masuk ke dalam keluarga Digdaya.


Apalagi ia dapat dengan jelas melihat, bahwa Beth dan Rizzi memang sama-sama saling bucin. Meski ia tidak tahu sejak kapan, tapi ia yakin rasa suka diantara keduanya tidak tumbuh tiba-tiba secara instan begitu saja. Dan bagi Ny.Maria, perasaan semacam itu sudah cukup sebagai langkah awal dari hubungan yang lebih serius.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2