Replacement Lover

Replacement Lover
DEG-DEGAN TERUS


__ADS_3

@Bandara Internasional


"Harusnya kamu gak usah nganterin aku sampe kesini, kan hari ini kamu juga mau pindahan ke apartemen." Argha mengusap-usap kepala Keira dengan lembut.


"Nggak mungkin lah aku gak nganterin kamu, kita kan mau LDR-an enam bulan. Aku pengen liat kamu untuk terakhir kali sebelum berangkat." jawab Keira sedikit merajuk.


"Tapi nanti kamu kecapekan, musti harus bolak balik kos ke apartemen buat ambil barang-barang." ujar Argha lagi.


"Pulang dari sini aku tinggal beres-beres kos sedikit kok. Karena sebenernya semalem barang-barangku udah dipindahin sama Vynt ke apartemen. Makanya semalem Vynt sama Said gak bisa ikut farewell party kamu." terang Keira.


"Wah baik banget mereka udah mau bantu kamu sampe segitunya. Aku bersyukur kamu punya temen-temen yang baik." ujar Argha tulus.


"Mmm...Sebenernya Vynt juga pindah ke kamar unit sebelah aku. Makanya dia juga butuh pindahin barang, jadi barangku diangkut sekalian sama dia" timpal Keira ragu-ragu sebab dirinya baru kali ini memberi tahu Argha soal kepindahan Vynt.


"Oia???" Argha mengangkat alisnya tinggi. "Bagus dong jadi aku gak khawatir lagi kamu pindah ke apartemen sendirian karena ada Vynt yang bisa jagain kamu." terang Argha atas apa yang dirasakannya kini.


Memang sejak semalam Keira menceritakan tentang apa yang terjadi antara Keira dengan papanya, pemuda itu terus merasa khawatir mengenai psikologi Keira.


Apalagi dirinya akan jauh dari kekasihnya itu untuk waktu yang cukup lama. Ditambah kabar kepindahan Keira ke apartemen seorang diri membuatnya semakin tidak tenang.


Hampir saja Argha berencana untuk meminta tolong Tyo mengawasi gadis itu, untungnya Keira keburu memberi tahunya bahwa Vynt juga akan pindah ke gedung apartemen yang sama bahkan bersebelahan dengan Keira.


Membuat Argha merasa sedikit lega karena ia yakin Vynt yang merupakan sahabat Keira sejak tahun pertama kuliah mereka pasti akan mampu menjaga Keira apapun kondisinya. Argha sangat mempercayai Vynt dalam hal itu.


"Orang tua kamu gak ikutan nganter?" tanya Keira hati-hati.


"Aku udah pamitan kok tadi di rumah, lagian bentrok sama jadwalnya Ayah check up jadi Bunda nemeni Ayah ke RS." terang Argha.


Keira manggut-manggut saja mendengar penjelasan pemuda itu. Selama hampir setahun berpacaran, Keira belum pernah bertemu orang tua Argha maupun berkunjung ke rumahnya. Keira juga tidak tahu apa-apa tentang keluarga besar kekasihnya itu.


Argha memang tidak pernah bercerita apapun tentang keluarganya kecuali tentang kakaknya---Tyo dan tentang Ayah Argha yang menderita sakit ginjal yang mengharuskan Ayahnya untuk rutin check up ke RS.


Keira pun tidak ingin mengorek-ngorek informasi keluarga Argha. Biarlah waktu yang akan menjawabnya, pikir Keira.


"Ck...Tyo mana sih, katanya mau datang tapi kok belum kelihatan?" Argha celingukan mencari sosok kakaknya.


DEG! Jantung Keira mendadak berdebar.


"Eh, kenapa gue jadi deg-degan gini denger nama Tyo?" bisik Keira dalam hati.


"Naahh itu Tyo!" Argha melambaikan tangan pada sosok yang sedang berlari ke arah mereka berdua.


Keira menoleh ke arah yang dituju Argha, seketika jantung Keira berdebar lebih cepat ketika dilihatnya Tyo yang semakin mendekat.


DEG


DEG


Keira mengencangkan genggamannya pada tali tas selempang yang dikenakannya. Berharap tidak ada seorang pun yang mendengar debaran hatinya.


"Sory..sory...tadi ada perbaikan jalan di daerah deket tempat kerjaku, jadi muter-muter dulu deh nyari jalan tikus." jelas Tyo sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa toh lo tetep nyampe sini sebelum gue berangkat." ujar Argha memaklumi alasan kakaknya. "Tapi ntar pulang dari sini tolong anterin Keira dulu ya, dia sendirian soalnya." pinta Argha kemudian.


"Ohh..gue sih oke aja asal Keira-nya gak masalah." jawab Tyo setenang mungkin.


"Eeh...gak usah gak apa-apa kok. Aku bisa naik bus kota aja." tolak Keira.


"Kalo kamu naik bus kota yang muter-muter bisa kesorean nyampe kosnya, capek dijalan, Kei. Katanya tadi mau beres-beres kos dulu sebelum pindah." Argha mengingatkan.


"Pindah? Keira mau pindah?" Tyo membatin. Namun dirinya tak merasa mempunyai hak untuk bertanya lebih lanjut urusan pribadi gadis itu jadi Tyo diam saja meski penasaran.


"Mau ya dianter pulang sama Tyo." bujuk Argha pada Keira.


Sebenarnya Keira enggan pulang berdua saja dengan Tyo mengingat reaksi jantungnya yang menurutnya aneh ketika dirinya berhadapan dengan lelaki itu. Namun Keira tak kuasa pula menolak permintaan Argha yang dianggapnya demi kebaikan dirinya pula.


Keira menghela nafasnya panjang sebelum menjawab, "Baiklah."


Tyo hanya melirik sekilas pada gadis itu, namun entah kenapa dia bisa menangkap keengganan Keira.


"Tyo, tolong fotoin aku sama Keira donk." pinta Argha sambil mengulurkan ponselnya pada kakaknya itu.


Keira yang cukup terkejut pada permintaan Argha yang tiba-tiba hanya tersenyum kikuk saat Argha menarik pundaknya untuk lebih mendekat.


Tyo meraih ponsel Argha lalu mulai berjalan sedikit mundur untuk menyesuaikan posisi gambar dari layar ponsel. Dan dengan jari tangannya Tyo memberi aba-aba kapan dirinya akan menekan tombol capture pada sistem kamera ponsel Argha.


Argha pun tersenyum puas melihat hasil foto yang diambil Tyo. Lalu dengan meminta bantuan dari seseorang yang ternyata teman satu perjalanannya ke Singapura, Argha berinisiatif untuk mengambil foto bertiganya dengan Keira dan Tyo.


"Buat kenang-kenangan." jelasnya singkat sambil tersenyum pada dua orang yang menatapnya heran.


Argha kembali tersenyum puas melihat foto keduanya hari itu seolah lengkap sudah apa diinginkannya sebelum berangkat menuju negeri tetangga untuk belajar sekaligus praktek kerja.


Setelah berpamitan sekali lagi pada Keira dan Tyo, Argha segera menarik troli kopernya dan berjalan memasuki Garbarata* lalu menghilang diantara kerumunan penumpang lainnya.


Lagi-lagi Keira hanya bisa menarik nafas panjangnya setelah sosok Argha sudah tidak terlihat lagi dalam pandangannya. Dalam hati Keira cukup kehilangan dan sedikit tidak rela harus menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya itu.


Meskipun tentu saja dirinya masih bisa menghubungi Argha melalui telpon atau video call namun pastinya tidak akan sama ketika mereka bisa bertatap muka langsung.


Dengan lesu Keira memutar badannya untuk beranjak pergi hingga kedua matanya menangkap senyum manis seseorang yang sedari tadi menunggunya untuk pulang bersama.


DEG


DEG


DEG


" Aahh...Sial, jantung gue kenapa sih dari semalem? apa gue salah makan kali ya?" Keira bertanya-tanya dalam hati.


"Pulang sekarang?" tanya Tyo pada Keira sambil memiringkan kepalanya mengejar arah pandangan mata gadis cantik yang malah terlihat asyik melamun dihadapannya itu.


"Apa? Pulang? Oh..iya iya boleh?" jawab Keira terbata merasa terpergok Tyo bahwa dirinya sedang tidak fokus pada lelaki itu.


Sesampainya di parkiran keduanya nampak canggung karena suatu alasan. Ternyata Tyo saat itu tidak membawa mobil melainkan motor.

__ADS_1


"Sory, Kei. Aku lupa bilang kalo aku bawa motor bukan mobil. Gimana nih?" tanya Tyo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mampus gue." rutuk Keira dalam hati.


Gadis itu tampak bingung dan salah tingkah. Tyo yang merasa kasihan melihat tingkah Keira lalu mengusulkan sesuatu.


"Atau gini aja, Kei. Kamu tetep aku anterin pulang tapi naik taksi aja, gimana?" Tyo mencoba memberi solusi.


"Lah trus motor kamu gimana?" Keira merasa heran.


"Mmm..nanti balik dari nganter kamu aku bisa kesini lagi ambil motor." jawab Tyo enteng. Diperlihatkannya senyum setenang mungkin agar Keira tak merasa terbebani.


Sayangnya solusi yang Tyo berikan dirasa kurang tepat oleh gadis itu.


"Aku gak mau ngerepotin kamu, Tyo. Kalo gitu caranya kamu jadi bolak balik." Keira nampak keberatan. "Kita naik motor aja. Aku gak apa-apa kok, untung pas pake celana jeans." Keira memutuskan.


"Tapi kamu..." belum sempat Tyo menuntaskan kalimatnya, buru-buru Keira menyodorkan tangan pada lelaki itu.


"Udah, siniin helmnya. Kamu bawa helm cadangan kan?" tanya Keira tegas berusaha menepis keraguan Tyo.


Sedikit ragu Tyo membuka bagasi motor NC 750X-nya lalu mengambil helm cadangan yang selalu ia simpan didalam sana.


"Kamu bisa lihat motorku boncengannya sempit, kamu harus pegangan ke aku kalo gak mau jatuh nanti." Tyo memberikan alasan lain untuk Keira mempertimbangkan kembali keputusannya sebelum Tyo menyerahkan helm itu.


"Aku tau, Tyo. Aku tau." jawab Keira meyakinkan.


Diraihnya helm yang masih berada di tangan Tyo lalu mulai memakainya sendiri tanpa ragu. Sekuat tenaga Keira berpura-pura menunjukkan sikap biasa saja. Padahal sebenarnya, hatinya kebat kebit.


Tyo naik ke motornya lebih dulu dengan helm teropong yang sudah terpasang dikepalanya. Tanpa aba-aba, Tyo menarik tangan Keira dengan lembut untuk membantu gadis itu menaiki motornya.


Dan setelah dirasa Keira sudah berada di atas motornya dengan nyaman, Tyo kembali mencari-cari kedua lengan Keira untuk dilingkarkan kepinggangnya sendiri.


"Pegangan, Kei." titahnya pada Keira yang justru melongo menerima semua perlakuan Tyo barusan.


Perlakuan yang membuat debaran jantung Keira semakin berisik.


"Lo dah gila, Kei." makinya pada diri sendiri. "Ya Tuhaaannn, semoga Tyo gak dengar bunyi jantungku." mohonnya sedikit menyesali keputusannya kali ini.


Tak lama, Tyo mulai melajukan motornya keluar dari area parkir Bandara menuju rumah kos Keira sesuai amanah sang adik.


To Be Continue...


.


.


.


.


*GARBARATA

__ADS_1


Garbarata (kadang juga disebut tangga belalai) adalah jembatan yang berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang untuk memudahkan penumpang masuk ke dalam dan keluar dari pesawat. Tergantung pada desain bangunan, ketinggian, memicu posisi, dan persyaratan operasional, mungkin dibuat menetap atau bergerak, berayun radial atau memperpanjang panjang. Garbarata diciptakan oleh Frank Der Yuen.


(sumber: wikipedia.org)


__ADS_2