Replacement Lover

Replacement Lover
BERSIMPUH


__ADS_3

@Rumah Keluarga Pratama


"Kita sudah sampai, Mas Tyo." lapor Pak Yusam sambil menoleh ke arah Tyo yang duduk di kursi penumpang disampingnya.


"Tolong bawakan koper saya ke kamar ya, Pak." pinta Tyo dengan suara yang lemah.


Fisik dan Pikiran Tyo malam ini terasa amat lelah sekali. Dia ingin segera mandi lalu tidur untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya.


"Baik, Mas Tyo." dengan sigap Pak Yusam membuka bagasi lalu mengeluarkan koper Tyo yang sedari tadi tersimpan di dalam sana.


Tyo kembali ke rumah orang tuanya setelah sekian lama. Dulu saat Argha masih hidup, meski dia sudah hidup sendiri di apartemen, biasanya minimal satu minggu sekali dia akan mengunjungi orang tuanya dan adiknya---Argha yang masih tinggal di rumah utama.


Namun sejak kematian Argha dan kesibukannya bertambah, Tyo jadi lebih jarang pulang ke rumah orang tuanya itu.


Mungkin bisa dibilang hari inilah pertama kalinya dia pulang lagi setelah beberapa bulan. Dan kali ini dia berencana untuk menginap selama beberapa hari.


Dia ingin membicarakan perihal tentang Keira kepada orang tuanya secara perlahan dan hati-hati. Mengingat kondisi kesehatan ayahnya yang masih riskan, Tyo khawatir jika kabar yang dibawanya ini akan memperburuk kondisi kesehatan ayahnya.


Di dalam hatinya Tyo pun merasa ragu akan reaksi orang tuanya nanti ketika mendengar bahwa dirinya telah menghamili seorang perempuan apalagi perempuan itu tadinya adalah kekasih dari Argha---adiknya.


Mungkinkah orang tuanya akan langsung berpikiran buruk tentang Keira seperti yang Keira takutkan?


Tapi di mata Tyo, orang tuanya adalah orang tua yang berpikiran terbuka. Meski tegas tapi mereka tidak pernah berpikiran kolot terhadap anak-anaknya.


Tetap saja, menurut Tyo kemungkinannya masih fifty-fifty untuk langsung mendapat restu dari kedua orang tuanya. Jadi dia berencana untuk mencari waktu yang tepat terlebih dahulu sebelum mengungkapkan masalahnya saat ini.


Mbok Sri---si asisten rumah tangga seolah sudah mengetahui kedatangan Tyo. Dia langsung membukakan pintu depan untuk Tuan Mudanya itu.


"Malam, Mas Tyo. Lama nggak kesini." sapa Mbok Sri.


"Iya Mbok, baru sempet." jawab Tyo datar. "Ayah sama Ibu sudah tidur, Mbok?" tanya Tyo pada wanita tua yang sudah berpuluh tahun mengabdi pada orang tuanya itu.


"Belum, Mas. Bapak masih di ruang keluarga. Ibu ada di dapur sedang bikin minuman hangat untuk bapak." jawab Mbok Sri apa adanya.


Tyo akhirnya tidak jadi langsung ke kamarnya untuk mandi. Dia berbelok ke arah ruang keluarga di mana di lihatnya sang Ayah yang sedang duduk di kursi utama di ruang utama di rumah keluarga itu.


Tyo berniat hanya ingin menyapa Ayahnya saja sebelum langsung untuk mengistirahatkan diri.


Pak Ruslan menoleh saat mendengar suara langkah kaki sang anak memasuki ruang keluarga itu.


"Baru pulang, Tyo." sapa Pak Ruslan.


"Iya, Yah. Maaf kalau Tyo kemalaman." ucap Tyo lembut membalas sapaan sang Ayah. "Kondisi Ayah gimana? Baikan?" tanya Tyo lagi mengkhawatirkan Ayahnya. Diciumnya sebelah tangan sang Ayah dengan khidmat.


"Ayah sudah jauh lebih sehat sekarang, kamu tidak perlu khawatir. Ayah masih kuat ngurus Takhta Grup kalau kamu mulai merasa keteteran." jawab Pak Ruslan panjang lebar.


Tyo hanya tersenyum menanggapi jawaban Ayahnya. Dilihatnya kondisi sang Ayah memang terlihat jauh lebih baik sejak terakhir mereka berjumpa sebelum Tyo berangkat ke luar negeri. Dan Tyo sangat bersyukur atas itu.


"Kamu sendiri kelihatan lelah, Nak. Ada masalah apa tadi di tempat Rizzi?" dengan gamblang Pak Ruslan menanyakan tentang apa yang dilakukan Tyo di tempat Rizzi sebelum pulang rumah.


Tyo kaget sesaat namun kemudian dia mengerti, mungkin Pak Agus Choir yang sudah melaporkan kegiatannya seharian ini pada Ayahnya.


"Sepenting apa urusan yang kamu lakukan di sana sampai kamu tidak melaporkan langsung hasil persidangan di Singapura pada Ayah?" Pak Ruslan terdengar sedikit kecewa karena malah mendengar laporan tentang hasil persidangan tersebut dari Pak Agus Choir seolah menekan Tio untuk menjawab pertanyaannya barusan.


Tio menghela nafasnya panjang. Bukan ini yang direncanakannya tadi. Tapi lagi-lagi manusia memang hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan.


Meski awalnya ia berencana untuk menemukan waktu yang tepat terlebih dahulu untuk membicarakan masalah Keira kepada orang tuanya, nyatanya Tuhan malah menakdirkan Tyo untuk langsung diinterogasi oleh sang Ayah sesaat setelah dirinya tiba di rumah.


Tyo memperhatikan ekspresi Ayahnya sejenak, sepertinya bukan ekspresi yang bisa diajak berkompromi. Jadi demi menghormati pertanyaan Ayahnya, mau tidak mau ia terpaksa akan menceritakan tentang Keira dan kehamilannya saat ini juga.


"Aku ke tempat Rizzi karena ada perlu penting dengan dia." Tyo memulai.


"Lebih penting daripada melapor ke ayah tentang hasil persidangan di Singapura?" tanya Pak Ruslan tegas dan tajam.

__ADS_1


Tyo tidak terintimidasi oleh pertanyaan Ayahnya itu, namun demi menghormati Ayahnya dia pun menjawab dengan nada yang lebih lembut.


"Maaf Ayah, tapi aku merasa karena kasus di Singapura sudah selesai dan hanya tinggal melaporkan hasilnya saja pada Ayah, jadi aku berpikir untuk langsung kembali fokus pada masalahku sendiri, dan menunda pelaporan tentang kasus di Singapura itu kepada ayah. Tapi jika itu membuat Ayah tidak berkenan, aku mohon maaf. Aku juga tidak tahu kalau Pak Agus Choir akan lebih dulu melaporkan hal itu kepada Ayah." terang Tyo jujur.


"Memang masalah apa yang membuatmu berfikir kalau itu lebih penting daripada melaporkan hasil kasus di Singapura langsung kepada Ayah? Apa itu tentang perusahaan kontraktormu? Apa ada yang bisa Ayah bantu?" Pak Ruslan kembali bertanya.


"Terima kasih atas tawaran Ayah, tapi bukan. Ini bukan masalah perusahaan kontraktorku. Tapi ini masalah pribadiku." balas Tyo.


Kening Pak Ruslan mengerut karena heran. "Apa Ayah juga tidak boleh tahu tentang masalah pribadimu, Nak?"


"Sebenarnya aku berencana menginap di sini beberapa hari untuk bisa membicarakan ini pelan-pelan dengan Ayah dan Ibu, tapi mengingat kondisi kesehatan Ayah aku hanya ingin membicarakannya di waktu yang tepat." Tyo mengungkapkan niatnya.


"Kenapa harus menundanya lagi jika Ayah bisa mendengarnya sekarang. Jangan khawatirkan Ayah, Ayah merasa sudah cukup sehat sejak mendengar bahwa gugatan kita di menangkan oleh pengadilan Singapura. Hal itu membuat Ayah sangat bahagia mengingat pengorbanan Argha kini terbayar lunas. Dan Ayah pun juga bangga pada hasil kerja kerasmu, Nak." Pak Ruslan menatap Tyo dengan sungguh-sungguh.


Tyo merasakan hatinya menghangat mendengar penuturan tulus dari sang Ayah.


"Asal kamu tahu, Tyo. Kamu tidak pernah mengecewakan Ayah, sekalipun kamu menolak untuk menjadi pewaris Ayah. Jadi tolong bicarakan masalahmu kepada orang tua ini, siapa tahu Ayah dan Ibu bisa turut membantumu." ujar sang Ayah lagi.


Tyo sungguh-sungguh tersentuh mendengar ucapan Ayahnya, seketika hatinya luluh, dan perlahan Tyo pun bersimpuh dihadapan Ayahnya itu.


Ayah Tyo yang kaget pun bertanya, "Apa yang kau lakukan, Nak. Berdiri lalu duduklah!" pinta Pak Ruslan pada putra sulungnya.


Tyo tidak mengindahkan perintah sang Ayah itu namun malah meraih sebelah tangan Ayahnya lalu meletakkannya di atas kepalanya sendiri. "Maafkan Tyo, Yah. Tapi mungkin kali ini Tyo akan mengecewakan Ayah!" ucap Tyo hati-hati.


Ayah Tyo yang merasa heran hanya termangu mendengar anak sulungnya berkata demikian. "Tyo...sudah menghamili seorang perempuan, Ayah!" Tyo melanjutkan kata-katanya.


PRAAANNGG!!!


Suara benda jatuh dan pecah membuyarkan percakapan serius Ayah dan anak itu. Keduanya lalu kompak menoleh ke arah suara. Terlihat Ibunda Tyo---Ny. Naina tampak mematung dengan serpihan beling yang berserakan di bawah kakinya.


"Ibu." panggil Tyo cepat sambil berdiri dari posisinya semua.


Tyo bergegas menghampiri Ibunya yang shock setelah mendengar anak sulungnya, yang kini telah menjadi anak satu-satunya itu mengaku telah menghamili seorang perempuan.


"Ya Ampun, Ibu." pekik Mbok Sri tak kalah shock melihat kondisi lantai di bawah kaki Ny. Naina.


"Mbok, tolong bersihkan ini. Cepat ya!" pinta Tyo pada asisten rumah tangga itu.


Perlahan Tyo membimbing Ny. Naina keluar dari zona berbahaya itu, dipilihnya lantai yang bebas pecahan gelas dan piring untuk dipijak oleh sang Ibu lalu mengantar Ny. Naina untuk duduk di salah satu kursi ruang tamu dekat dengan tempat duduk Ayahnya.


Ny. Naina sama sekali tak menyangka. Anak sulungnya yang baru pulang setelah sekian lama malah datang dengan membawa kabar mengejutkan ini.


Padahal dirinya tadi sangat bersemangat membawakan minuman dan makanan untuk Tyo saat Mbok Sri melapor padanya di dapur tadi bahwa Tyo sudah pulang ke rumah.


Namun kini, makanan dan minuman itu justru hancur berserakan karena Ny. Naina mendadak melepas pegangan nampan yang dibawanya saat telinganya mendengar Tyo mengakui kesalahan fatalnya itu.


"Perempuan mana yang kamu hamili, Nak? Apa perempuan sembarangan? Jangan-jangan perempuan mura-...." Ny. Naina buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak sanggup meneruskan ucapannya sendiri.


Hatinya terlalu takut untuk mengetahui fakta jika Tyo memang telah menghamili perempuan yang tidak baik. Dadanya naik turun menahan emosi.


"Ibu, tenang dulu. Biarkan Tyo bicara. Kasih kesempatan Tyo menjelaskan." kata Pak Ruslan pada istrinya sambil mengusap-usap punggung istrinya itu.


Setelah tadi Tyo bersimpuh di hadapan sang ayah, kini Tyo kembali bersimpuh namun di hadapan sang Ibu. Dikecupnya punggung tangan sang Ibu dalam-dalam lalu digenggamnya erat-erat.


"Ibu, Tyo minta maaf jika sudah mengecewakan Ibu. Tyo minta maaf atas kesalahan Tyo. Tapi Tyo mencintai perempuan itu, Tyo mencintai Keira, Bu." aku Tyo sambil menatap lurus ke arah ibunya.


"Keira? Nama perempuan itu Keira? Sepertinya ibu pernah dengar tapi dimana?" ibu Tyo nampak mengingat-ingat.


"Keira itu dulu kekasih almarhum Argha, Bu." Tyo langsung membantu menjawab kealpaan sang Ibu.


"Oh iya benar, Argha pernah cerita tentang gadis bernama Keira yang dipacarinya namun belum sempat dia kenalkan pada kita, Yah." Ny. Naina akhirnya ingat lalu memberitahu sang suami yang sama sekali tidak pernah mendengar apapun tentang kekasih Argha itu.


"Jadi selama ini perempuan itu selingkuh sama kamu sampai hamil?" tanya Pak Ruslan sedikit emosi mengingat masalah ini turut menyeret nama mendiang Argha.

__ADS_1


"Bukan, bukan seperti itu ceritanya, Ayah." Tyo berusaha meluruskan.


Akhirnya Tyo pun menceritakan versi kisahnya dengan Keira. Bagaimana takdir mempertemukan mereka beberapa kali saat mereka nelum berkenalan.


Dimana dirinya yang sudah tertarik pada gadia itu bahkan sebelum Tyo mengetahui bahwa Keira adalah kekasih Argha.


Dan bahkan ketika Tyo menyadari perasaan tulus Keira pada Argha yang membuatnya ingin menghapus perasaannya sendiri namun justru malah membuatnya jatuh lebih dalam ke dalam perasaan cinta yang terpupuk secara diam-diam untuk Keira.


"Jika gadis itu benar tulus pada Argha, bagaimana bisa sekarang dia hamil karenamu, Tyo?" tanya sang ayah.


"Apa kamu yakin dia bukan gadis bertopeng yang hanya ingin mengincar aset keluarga Pratama saja. Saat tahu kesempatannya gugur sejak Argha meninggal lalu dia berusaha menggodamu hingga membuatmu menghamilinya. Bisa saja begitu, iya kan Ayah?" Ny. Naina berusaha mencari dukungan dari suaminya atas pikiran negatifnya terhadap Keira.


Tyo menghela nafasnya panjang. Mungkin inilah yang membuat Keira takut berhadapan dengan keluarganya. Kenyataan bahwa gadis itu akan tetap dipojokkan, dituduh, dihina, bahkan mungkin dipermalukan meski masalah ini bukan sepenuhnya salah Keira.


Pantas saja Keira lebih memilih pergi darinya daripada menghadapi semua ini. Jika Tyo saja merasa sesak mendengar Keira di cap buruk oleh Ibundanya sendiri bagaimana dengan perasaan Keira ketika mendengarnya langsung.


"Jika Keira memang mempunyai niat seburuk itu terhadap Argha dan Tyo, terhadap keluarga kita. Mungkin sekarang Keira tidak akan pergi dari Tyo seperti ini." suara Tyo melemah seiring hatinya yang nyeri mengingat kini Keira yang tega meninggalkannya dengan calon bayi mereka bersamanya.


"Apa maksudmu? Dia kabur?" tanya Ibunya penuh rasa heran.


"Lebih tepatnya dia mencoba sembunyi dari kita." jawab Tyo.


"Tapi kenapa, nak?" kini ayahnya yang bertanya.


Tyo lalu menyalakan rekaman perdebatan Keira dan Vynt. Biar orang tuanya mendengar langsung apa yang Keira pikirkan, apa yang gadis itu takutkan. Biar orang tuanya menilai sendiri, gadis yang seperti apa Keira itu, pikir Tyo.


To Be Continue....


.


.


.


.


❤️Sekali lagi makasii banyaakkk buat yang udah VOTE :


~ Melisya


~ Riana Nasir


~ awoel official


~ vivi erviana


~ Dwi Ratnasari


~ Siti Nurjanah


~ Irma Nurfadillah


~ KFii


~ Yenny Fitri


~ cutez zee


~ N A


~ vynte punk


VOTE dan Like kalian adalah doktrin semangat buatku 😘✌️

__ADS_1


__ADS_2