Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : CEMEN LO!!!


__ADS_3

.


.


.


"Kalau gitu saya permisi dulu, tante!" pamit Rizzi pada mamanya Beth.


"Sekali lagi terima kasih sudah mengantar Beth pulang. Dan hati-hati di jalan, Nak Rizzi!" balas Ny.Maria dengan lembut.


Rizzi bergeming. Ia sedikit menundukkan pandangannya, seakan sedang beradu argumen dengan pikirannya sendiri saat itu.


Ny.Maria dan Beth yang mengantar Rizzi hingga ke depan pintu pagar merasa seakan pria itu hendak mengatakan sesuatu lagi. Dan ternyata benar, Rizzi akhirnya kembali mendongakkan kepala dan menatap lurus ke arah manik mata Ny.Maria.


"Tante, boleh saya minta tolong?" tanyanya hati-hati.


Ny.Maria mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab, "Minta tolong apa, Nak Rizzi?"


"Boleh saya minta tante untuk tidak terus-menerus berterima kasih pada saya karena saya mengantar jemput Beth setiap hari?" suara Rizzi begitu lembut dan lirih.


Meskipun Rizzi mengucapkannya tanpa ada nada penekanan sama sekali, tetapi Beth dan mamanya masih saja cukup terkesiap mendengarnya. Beth menoleh pada ibunya di sampingnya yang masih terpaku karena permintaan Rizzi barusan.


"Tante...!" panggil Rizzi. Air mukanya menyiratkan penantian akan jawaban Ny.Maria atas permintaannya barusan.


"Ah, Iya! Bi-bisa, Nak Rizzi! Maafkan tante kalau begitu!" jawab Ny.Maria dengan sedikit gugup. Ekspresi lembutnya seketika berubah muram dengan tatapan mata yang nyaris kosong.


Rizzi menyadari perubahan pada raut wajah wanita itu, dan sebenarnya masih banyak yang ingin ia tanyakan. Ingin ia perjelas kembali. Tapi entah kenapa hati kecilnya menyatakan bahwa belum saatnya membahas semua tanda tanya yang terpikirkan olehnya.


Mungkin juga, karena di lubuk hatinya yang terdalam pun, Rizzi merasa belum siap menerima jawaban yang diluar harapannya.


Rizzi kembali tersenyum dengan lembut sebelum akhirnya mengucapkan terima kasihnya dan mengangguk satu kali. Tak lama, pria itu sudah masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumah Beth yang kini hampir setiap hari dikunjunginya.


Dalam perjalanannya pulang dari rumah Beth, Rizzi merasa hatinya tertimbun gundukan batu. Begitu berat dan menyesakkan. Ia sedikit kesulitan mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja menjadi sedikit tersenggal.


Rizzi mencengkeram roda kemudi yang dipegangnya itu kuat-kuat, berusaha mengendalikan emosinya yang menyeruak. Dengan pandangan lurus ke depan, Rizzi memasang sebuah Bluetooth Earpiece dengan cepat ke telinganya untuk menelepon sahabatnya, Tyo Pratama.


***


Di dalam kamar tidurnya, Tyo yang baru saja menyelesaikan pergulatan rutin dengan sang istri hampir saja terlelap ketika ia merasakan getaran dari ponselnya. Tanda bahwa ada panggilan yang masuk ke dalam telepon pintarnya.


Gerakan tangan Tyo yang meraih ponsel dari atas nakas membuat tubuh Keira yang sudah tertidur lebih dulu sambil memeluk dada suaminya jadi sedikit melorot.


Keira menggeliat perlahan sebelum akhirnya terbangun ketika Tyo sudah berhasil menggenggam ponselnya dan melihat siapa gerangan yang meneleponnya di jam segini.


"Ngg...telepon dari siapa, Yang?" tanya Keira dengan suara serak. Wanita itu memicingkan matanya yang masih terasa berat.


"Eeh, maaf sayang, kamu jadi kebangun ya?" Tyo mencium ubun-ubun Keira dengan mesra lalu mengelus-elus pipi sang istri dengan ibu jarinya.


"Siapa yang nelepon?" Keira bertanya sekali lagi meski kali ini dengan mata yang kembali terpejam.


"Rizzi yang nelepon, Kei!"


"Oohh..kenapa nggak diangkat, Yang, siapa tahu penting!"


Tyo tidak menjawab saran dari istrinya itu melainkan langsung melakukannya...


📱TYO PRATAMA


Yo, Riz! Whats Up?


📱RIZZI RIYANT


Lo dah tidur blom, bro? Bisa ketemuan sekarang enggak? Gue butuh banget curhat nih!


📱TYO PRATAMA


Harus sekarang juga ya?


📱RIZZI RIYANT


Emang lo enggak bisa ya kalo malam ini?


Suara Rizzi yang memelas jujur membuat Tyo tidak tega. Tapi meninggalkan istrinya tidur sendirian malam-malam begini pun juga membuatnya enggan. Tyo bimbang. Namun setelah perdebatan singkat yang terjadi di dalam pikirannya, Tyo memutuskan untuk mengiyakan ajakan sahabatnya itu.


📱TYO PRATAMA

__ADS_1


Oke, ketemuan dimana?


📱RIZZI RIYANT


Gue lagi on the way Teluse, Bro. Kita ketemuan di sana aja!


📱TYO PRATAMA


Kalau gitu gue siap-siap sekarang.


📱RIZZI RIYANT


Oke, Bro! Thanks ya, gue tunggu!


Klik!


Tyo menunduk untuk menciumi bibir sang istri sembari memanggil-manggil nama Keira guna membangunkan wanitanya itu, "Kei, Sayang...Keira!" panggil Tyo berulang-ulang.


Keira kembali bangun dan membuka matanya pelan-pelan, "Mmmhh...Ada apa, Tyo?" Keira menggeliat lagi.


"Aku mau ketemuan sama Rizzi di Kafe Teluse, Sayang! Enggak apa-apa ya? Dia lagi butuh curhat katanya!" Tyo meminta izin istrinya untuk pergi.


Keira mendongak sambil memicingkan mata, "Sekarang?"


Tyo mengangguk pelan.


"Emang ini jam berapa, Yang?"


"Jam delapan lebih sedikit, Kei!" jawab Tyo dengan lembut. Tangannya tak berhenti mengelus-elus pipi sang istri.


"Ooh, ya udah, kamu temui Rizzi sana! Tapi inget janji kamu untuk nggak minum-minum lagi dan jangan pulang lebih dari jam satu ya!" ujar ibu dari anaknya itu mengajukan syaratnya.


"Iya, aku ngerti. Makasi ya, Sayang! Kamu tidur lagi aja gih!" Tyo mengecup kening istrinya dalam-dalam.


"Hheemm, iyaahh!" gumam Keira. Tak butuh waktu lama bagi wanita itu hingga nafasnya kembali teratur tanda ia sudah terlelap lagi.


Setelah memastikan tubuh setengah polos istrinya terselimuti dengan benar, Tyo segera bangkit dari sisi Keira dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Sekitar hampir satu jam kemudian, Tyo akhirnya tiba di Kafe milik sahabatnya itu. Ia pun cukup terkejut kala melihat sosok lain yang sudah lebih dulu menemani Rizzi.


"Lo dipanggil juga ma nih bocah tengik, Vynt?" tanya Tyo sambil tersenyum tipis. Ditepuknya punggung lelaki yang kini telah menjadi saudara iparnya itu dengan akrab.


Vynt menggeleng seraya tertawa, "Hehee, enggak kok! Gue yang telepon Rizzi duluan buat nanyain kabarnya dia sama Beth. Trus dia bilang mau ketemuan sama lo di sini, ya udah gue susulin kalian." jawabnya.


"Dah lama?" Tyo menarik kursi tepat di sebelah Vynt Dae-Ho yang saat itu tampak santai dengan sweater hitam dan celana jeans biru terang.


"Nggak juga kok!" balas Vynt cepat.


"Fady lo tinggalin di rumah sendirian nih ceritanya?" Tyo kepo.


"Dia gue titipin di rumah orang tuanya, ntar juga gue pulang dan nginep di sana kalo sesi curhat ini kelar!" Vynt melipat bibir untuk menahan tawanya sambil melirik ke arah Rizzi.


Tapi Tyo malah melepaskan tawanya begitu saja tanpa segan terhadap ekspresi Rizzi yang langsung manyun.


Setelah kedua orang tamunya hadir, Rizzi segera memberi kode pada waiternya untuk mendekat.


"Kalian mau minum apa?" Rizzi menawari tamu-tamunya.


"Gue es kopi aja, biar melek pas dengerin curhat lo!" jawab Tyo.


"Gue teh jahe anget deh!" sahut Vynt.


Rizzi menatap waiter yang dengan cekatan menuliskan pesanan dari dua orang sebelumnya lalu ikut berujar, "Tolong ambilkan saya yang seperti tadi satu gelas lagi!" pintanya.


"Baik, Bos!" jawab waiter itu sebelum melenggang pergi.


"Lo kok seger bener malem-malem gini, Tyo? Kaya orang habis mandi aja!" Rizzi memiringkan kepalanya dengan heran.


"Emang gue habis mandi? Napa? Nggak boleh?" Tyo menyandarkan punggungnya secara bersamaan menyilangkan kakinya dengan santai.


"Emangnya lo habis olah raga kok mandi jam segini?" Rizzi semakin kepo.


"Iyee, gue habis olah raga malem ama Keira?" Tyo menaikkan sebelah ujung bibirnya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Rizzi melongo dengan polosnya, sementara Vynt senyam senyum sendiri mendengar jawaban Tyo yang terlalu jujur itu.


"Olah raga sambil ibadah!" kini dengan terang-terangan Tyo menyeringai sambil mengangkat-angkat alisnya.


"Hiiisshhhh, bahasa lo, Tyo!!!" Rizzi yang akhirnya mulai mengerti kemana arah pembicaraan Tyo seketika kesal sendiri mendengarnya. "Enak yaa yang udah nikah, santuy banget ngomongin begituan."


"Makanya bang, buruan...nyusul!!!" Vynt jadi tidak tahan untuk ikutan mengompori pria yang tengah galau itu.


Tak lama, waiter yang melayani Tyo tadi datang lagi dengan membawa tiga jenis minuman untuk bosnya dan kedua teman bosnya.


"Lho, yang minta red wine ini siapa?" Vynt mengernyitkan kedua alisnya.


"Gue." jawab Rizzi singkat.


Tyo dan Vynt kompak menoleh ke arah Rizzi dengan pandangan tak percaya.


"Emang lo mau tidur sini? Emang lo enggak pulang?" tanya Tyo.


"Apaan sih, gue pulang kok!"


"Kalo lo pulang kenapa minum beginian? Emang ada yang bakalan nyupirin elo?" kini giliran Vynt yang bertanya.


Rizzi menggeleng.


"Maksud lo apa? Lo mau bunuh diri gitu dengan nyetir sambil mabok?" Tyo mulai kesal dengan tingkah Rizzi.


"Gue enggak mabok kok!" bantah Rizzi.


"Tetep aja minum wine sebelum nyetir itu bahaya! Emangnya lo ponakannya malaikat Izrail, yang kalo mau kecabut nyawa lo bisa minta dispensasi perpanjangan waktu gitu???" omel Vynt pada sang sahabat.


"Lo udah minum berapa gelas tadi sebelum kita berdua kesini?" tanya Tyo lagi.


"Baru satu gelas kok!" jawab Rizzi cemberut.


"Nggak usah macem-macem! Siniin!" Vynt merebut gelas berisi cairan merah pekat itu menjauh dari tangan Rizzi dan membawanya pergi dari meja itu menuju bar. Vynt mengembalikan minuman itu kepada Rudy si Bartender.


"Ya Ampun, Rizzi!" Tyo mengerang frustasi. Ia menyibak rambutnya ke belakang dengan geram. "Emangnya lo ada masalah apa lagi sih ama Beth sampe labil kaya gini? Kalian berantem?" serang Tyo.


"Masa baru beberapa hari jadian udah berantem aja?" tanya Vynt yang baru kembali dari bar. "Nih, lo minum teh jahe gue aja biar efek red winenya berkurang. Gue udah pesen lagi kok!" Vynt menambahkan.


Rizzi tersenyum getir sambil mendesah pelan. Ia meminum teh jahe yang disodorkan Vynt padanya seteguk sebelum akhirnya mulai menceritakan kegalauan yang dirasakannya ketika mengetahui reaksi mamanya Beth setelah ia menjelaskan siapa dirinya.


"Jadi sampe hari ini, gue ngerasa kalo mamanya Beth belum bisa nerima gue sepenuhnya, guys! Sikapnya emang baik dan ramah seperti biasanya tapi entah kenapa gue ngerasa Bu Maria masih ragu tentang hubungan gue sama Beth!" Rizzi mencurahkan isi hatinya.


"Lo kok cemen banget sih jadi cowok!!! Masa baru begitu doang udah goyah?! Lo enggak tahu sih, gimana deg-degannya gue ngadepin nyokapnya Keira pas awal gue ketemu beliau!" tampaknya Tyo sudah benar-benar kesal pada sahabatnya yang satu itu. Pasalnya ia merasa sikap Rizzi kali ini terlalu lebay.


"Emang lo gimana waktu pertama ketemu nyokapnya Keira?" tanya Rizzi penasaran.


Vynt yang tak kalah penasarannya ikut memajukan tubuhnya mendekat ke meja. Kedua pria itu memasang tampang serius di hadapan Tyo yang mereka ingat sudah lebih dulu menghamili Keira. Pastinya perjuangan Tyo menghadapi ibunda Keira jauh lebih dramatis ketimbang pengalaman mereka berdua.


"Lo tau??? Gue langsung berlutut di depan nyokapnya Keira buat mohon ampun atas kekhilafan gue. Gue ngakuin semuanya ke beliau dengan jujur. Tentang kehamilan Keira yang terjadi sebelum pernikahan. Tentang perasaan gue ke anak perempuannya..." Tyo memberi jeda, "Gue sampe gemeteran guys, hati gue nyesek begitu ngeliat ibunya Keira dan nyokap gue nangis-nangis di depan gue. Gue ngerasa bersalah setengah mati. Gue sampe enggak berani ngangkat kepala gue sendiri!" pandangan Tyo menerawang mengingat pengalaman mengharukannya itu.


Rizzi dan Vynt terdiam. Meski mereka tak bisa mengerti bagaimana tepatnya perasaan Tyo saat itu tapi mereka berdua cukup bisa membayangkan betapa mengharukan dan mendebarkannya situasi itu.


Rizzi jadi malu pada Tyo dan Vynt. Masalah yang dihadapinya ternyata tak ada apa-apanya dibanding yang ditanggung Tyo dulu, tapi kini, ia bahkan sudah goyah dibuatnya.


Meski masalah yang dialami Tyo dulu sepenuhnya hasil kesalahan Tyo sendiri tapi Tyo menghadapinya dengan gagah berani. Dan berhasil melaluinya.


Rizzi berpikir seharusnya saat ini ia lebih berani ketimbang Tyo, lebih pede. Karena ia tidak ada salah apa-apa yang harus membuatnya keder duluan menghadapi sikap ibunda Beth yang seolah masih membentengi keluarganya dari kehadiran seorang Rizzi Riyant.


"Riz, gue kenal baik sama Tante Maria. Orangnya tulus dan ramah. Kalau sekarang ini beliau masih ngerasa belum bisa sreg nerima kehadiran elo, mungkin karena beliau punya alasannya sendiri. Tapi gue yakin banget, selama elo terus nunjukin ketulusan lo sama Beth dengan jadi diri lo sendiri apa adanya, lambat laun Tante Maria pasti bisa nerima elo kok! Percaya sama gue!" Vynt menepuk-nepuk pundak Rizzi.


Tyo melipat kedua tangannya di depan dada sambil manggut-manggut. Meski ia tidak mengenal ibunda Beth, tapi ia setuju dengan saran yang diberikan Vynt kepada Rizzi.


Rizzi melipat bibirnya rapat-rapat sambil diam-diam mengumpulkan kembali kepercayaan dirinya yang sempat surut kala menghadapi sikap ibu dari kekasihnya itu.


Malam itu, Tyo dan Vynt tak henti-hentinya memberikan support dan nasehat terbaik mereka untuk Rizzi yang di luar dugaan ternyata begitu baperan akan hubungan asmaranya.


.


.


.


To Be Continue....

__ADS_1


__ADS_2