Replacement Lover

Replacement Lover
Vynt Story : MAKAN MALAM


__ADS_3

"Asyeekkkk, kita enggak usah lembur hari ini! Aku jadi bisa lanjoutin PUBG-ku, dah gatel banget nih tangan pengen maen," teriak Enno bersemangat.


Ketika office hour telah berakhir, seluruh Tim berkemas untuk siap-siap pulang. Untungnya hari ini Tim Dua tidak harus lembur mengerjakan revisi rute maupun revisi jadwal perjalanan untuk City Tour minggu depan karena telah mereka selesaikan hari ini juga.


Agar para tamu tetap bisa menginap di Novotel Bangkok meski akses menuju kesana diperkirakan akan ditutup total, dalam rapat tadi siang mereka memutuskan adanya pemotongan rute dan pergantian armada.


Namun semua itu tidak terlalu berpengaruh besar terhadap jadwal yang sudah dibuat sebelumnya. Mereka bahkan sudah mengkonfirmasi adanya perubahan tersebut ke pihak tamu hari ini juga.


Tugas untuk besok hanya tinggal booking tiket Sky Train (kereta layang) untuk mengangkut tamu dari halte Sky Train di dekat Bangkok Square ke halte Sky Train lain yang tak jauh dari Novotel.


Untungnya Norma dan Revi mengusulkan ide ini karena mereka pernah menggunakan alat transportasi itu menuju Novotel saat melakukan survey hotel berdua saja tanpa diantar oleh sopir kantor.


"Ayo buruan pulang, terus kita sambung lagi perang yang kemarin," ajak Qiqi pada Enno.


Vynt yang memperhatikan mereka sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat duduk di depan komputer terlalu lama pun ikutan nyeletuk.


"Kalian, tinggal bareng?" tanya Vynt kepo.


Enno dan Qiqi menoleh bersamaan ke arah si anak magang. "Iya, kita bertiga patungan ngontrak satu penthouse murah di daerah Sathon. Biar iriiitt!" jelas Enno dengan bangga.


Vynt nampak manggut-manggut mendengar informasi itu. Ia lalu berdiri untuk mengemasi barangnya sendiri dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.


"Kamu sendiri, tinggal di mana selama di Thailand ini?" tanya Helmy pada Vynt.


"Di Somerset, " jawab Vynt singkat tanpa berpikir ataupun menoleh ke arah yang bertanya. "Maaf, aku duluan ya, ada janji," pamit Vynt pada seluruh anggota Tim Dua yang mendadak bengong setelah mendengar pengakuan Vynt tentang tempat tinggalnya.


"Huwaaa, tuh anak bukan orang biasa. Dia bukan orang biasaaa. PASTI! Yakin deehh!" teriak Maurice tiba-tiba ketika sosok Vynt sudah menghilang dari balik pintu lift.


"Gilaaa, Somerset itu per malamnya seribu tujuh ratus bath guys. Berarti biaya tinggalnya dia setara gaji kita sehari dong! SIALAN bener tuh Vynt!" rutuk Enno tak mampu menyembunyikan ke iri-annya pada si anak magang.


"Pantesan dia enteng aja ngeluarin tiga ribu bath cuman buat makan siang. Merinding aku guys," pekik Qiqi sambil memperhatikan bulu kuduknya yang berdiri.


"Sudah, sudah, enggak usah banding-bandingin hidup kita sama hidup orang lain. Syukuri aja perjalanan kita sampai detik ini. Toh kita masih bisa makan, masih sehat dan bernafas. Soal Vynt orang biasa atau anaknya alien, itu urusan dia, bukan kita. Yuk, pulang ah," Fady menginterupsi ghibah receh di antara teman-teman se-Timnya itu dengan bijak.


Dan yang lainnya pun tampak manggut-manggut setelah mendengar ucapan Fady yang sangat mengena di benak mereka.


Vynt yang masih menunggu kedatangan taksi online yang dipesannya tanpa sengaja bertemu lagi dengan Fady di lobi gedung ASTRO Tours.


"Belum pulang?" tanya Fady sambil menepuk pundak Vynt pelan.


"Masih nungguin taksi," jawab Vynt sambil melirik wanita yang kini tengah berdiri di sebelahnya itu tanpa menoleh ke arah Fady.


"Makasi ya, buat traktirannya tadi siang. Tapi next time kamu jangan terlalu boros lagi!" ujar Fady tulus sambil tersenyum.


Vynt tersentak diam-diam melihat ekspresi di wajah Fady yang seharian ini lebih terkesan tegas dan jutek.


"Kamu sendiri pulang sama siapa?" tanyanya kemudian pada wanita itu.


"Pacar aku," jawab Fady sambil memperlihatkan wajahnya yang malu-malu campur berseri-seri.


Mendengar ucapan wanita itu, akhirnya Vynt pun menolehkan kepalanya menatap Fady. Ia jadi benar-benar penasaran, entah kenapa wanita ini, bisa menunjukkan begitu banyak emosi dan ekspresi bahkan hanya dalam waktu sehari saja. Membuat Vynt benar-benar tidak dapat menebak karakter wanita itu yang sesungguhnya.


Bisa juga ini cewek pasang tampang model begitu. Merinding gue jadinya kalo inget seharian ini tampangnya kaya apa dan sekarang bisa kaya apa. Vynt bergumam sendiri dalam pikirannya.


Tak lama sebuah mobil berhenti tepat di depan keduanya berdiri dan langsung membunyikan klakson satu kali.


"Yuk, aku duluan ya, Vynt," pamit Fady sumringah sambil kembali menepuk bahunya pelan.


Wanita itu lalu bergegas masuk ke dalam mobil yang barusan tiba dan menghilang bersama laju mobil itu. Tak lama taksi online yang ditunggu Vynt juga tiba dan pemuda itu tampak langsung masuk ke dalamnya.


Sesuai janjinya kemarin kepada sang paman, sepulang magang hari ini, ia akan berkunjung ke rumah keluarga Mr. Dong Dae-Ho untuk makan malam bersama istri dan anak-anak perempuannya.


Berbekal alamat rumah yang dikirimkan pamannya via roomchat, Vynt berangkat ke sana menggunakan taksi online.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan Vynt berpikir untuk membeli sebuah motor sebagai kendaraannya selama di Thailand. Hingga kemudian entah kenapa ia tiba-tiba teringat pada Keira.


Ia pun segera mengirimkan pesan ke roomchat Tyo untuk menanyakan perkembangan pencarian Keira di Jogja. Sayangnya, setelah beberapa menit berlalu setelah pesannya terkirim, Tyo tak kunjung membalas ataupun membaca pesannya itu.


Vynt menghelas nafasnya dengan berat. Lagi-lagi ia hanya bisa berdo'a akan keselamatan Keira dimanapun sahabatnya itu berada.


Setibanya di depan pagar rumah besar keluarga Dong Dae-Ho, Vynt memencet bel yang ada di dekat pintu pagar. Setelah beberapa kali ia menekan bel itu, terdengar sebuah suara dari interkom yang tersambung dengan bel.


"Geogi nuguya? (Siapa di sana)" tanya sebuah suara dari seberang interkom.


"Sillyehabnida, jo Vynt Dae-Ho ibnida! (Permisi, saya Vynt Dae-Ho)" jawab Vynt ragu-ragu. Ia tidak yakin pemilihan kata yang diucapkannya barusan itu sudah benar atau tidak.


"Aa, Vynt-ssi. Come on in!" balas suara dari interkom itu menyuruhnya masuk.


Tak lama terdengar bunyi alarm dari pintu pagar yang menandakan bahwa kunci pagar telah terbuka dari dalam secara otomatis. Vynt mendorong handle pada pagar untuk membukanya.


Dari kejauhan, sebuah sosok tak asing nampak keluar dari pintu utama rumah tersebut.


"Mr. Seo?" pekik Vynt tak percaya. "Anda, kok bisa ada di sini?" tanya Vynt kembali menggunakan bahasa Inggris setelah tahu yang ia hadapi adalah Mr. Seo.


"Selamat datang dan silahkan masuk dulu, nanti akan saya jelaskan di dalam," ajak Mr. Seo juga kembali menggunakan bahasa Inggris sesuai permintaan Vynt kemarin.


Di dalam rumah keluarga Dong Dae-Ho itu, paman dan bibinya menyambut Vynt dengan hangat. Khususnya sang bibi yang teramat tidak percaya melihat sosok Vynt kini.


"Aigoo, lihatlah penampilanmu sekarang! Tante tidak menyangka mempunyai keponakan seperti ini. Jalsaeng gyeoneyo! (Kamu tampan sekali)" pekik Ny.Jisun—istri Mr. Dong, bibi Vynt.


Wanita paruh baya itu nampak sangat senang hingga memeluk Vynt dengan eratnya.


"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kamu sehat? Apa kamu baik-baik saja tinggal di Indonesia seorang diri?" Ny. Jisun mencecar Vynt dengan pertanyaannya.


Vynt yang masih kikuk bertemu lagi dengan istri pamannya itu setelah sekian lama hanya bisa mengangguk.


"Sieomeoni, lebih baik kita segera ke ruang makan. Nanti makanannya keburu dingin," Mr. Seo mengingatkan wanita itu dengan bahasa Korea yang lancar dan cepat.


Kemudian mereka semua menuju ruang makan di rumah itu. Sebelum duduk, Vynt melepaskan ranselnya lalu meletakkannya di bawah kursi agar tidak menganggu.


"Kamu pasti bingung kenapa ada Mr. Seo di acara makan malam keluarga kita?" tanya Mr. Dong ketika mereka berempat sudah duduk di kursi masing-masing.


"Jogeum (Sedikit)," jawab Vynt mengangguk singkat.


"Kalau begitu akan kuperkenalkan sekali lagi pria yang duduk di sampingmu itu adalah Mr. Seo Kang Jun. Manajer HRD di ASTRO Tours sekaligus calon suami dari Mirim. Jadi dia adalah calon kakak iparmu," jelas Mr.Dong dengan bangga.


Vynt terkejut sekaligus antusias, "Ah, Jeongmal? (benarkah?)" balasnya cepat.


"Ne, jadi mulai sekarang saat tidak di kantor tolong panggil aku, Hyung* Jun saja. Geurae!" pinta Mr. Seo pada Vynt dalam bahasa campuran Korea dan Inggris.


"Geuraeyo, Hyung Jun," jawab Vynt mengiyakan. "Tapi di mana Mirim-noona dan Mirae-noona?" tanya Vynt pada paman dan bibinya.


"Sayangnya Mirae ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan, jadi malam ini dia tidak bisa ikut makan malam. Mianhaeyo. Tapi kalau Mirim, ia masih ada di atas," jawab Mr. Dong dengan sedikit menyesal.


"Ah, itu Mirim," kata Mr. Seo ketika melihat calon istrinya itu sudah menuruni tangga, yang terlihat dari ruang makan, yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka.


"Annyeong, Vynt-ah! Dasi mannaseo bangawo! (Senang bertemu lagi denganmu!)" seru Mirim sambil memeluk Vynt.


"Annyeong, noona! Jaljinaesyeoyo? (Apa kabar?)" balas Vynt sopan.


"Kabarku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatianmu," ucap Mirim dengan bahasa Korea yang super cepat sehingga cukup sulit dinalar oleh Vynt.


Pemuda itu lalu menoleh ke arah Mr. Seo yang duduk di sampingnya dengan ekspresi yang menyiratkan permintaan tolong untuk diterjemahkan.


Melihat raut wajah Vynt yang nampak kesulitan, Mr. Seo pun langsung terkikik geli.


"Mirim bilang kabarnya baik dan dia berterima kasih atas perhatianmu itu," jelas Mr.Seo pada Vynt dalam bahasa Inggris.

__ADS_1


Mirim heran melihat interaksi kedua lelaki itu, ia pun kemudian berjalan ke arah kursi makannya sendiri sambil bertanya pada Mr. Seo kenapa ia harus menjelaskan maksud dari ucapannya kepada Vynt.


Mr. Seo pun menjelaskan kepada Mirim bahwa Vynt yang sudah sangat jarang menggunakan bahasa Korea menjadi sulit memahami percakapan dalam bahasa itu.


Setelah mendengar penjelasan dari Mr.Seo, Mirim pun manggut-manggut lalu meminta maaf kepada Vynt atas ketidak tahuannya.


"Mianhe, Vynt-ah," ujar wanita itu tulus.


"Gwenchana, Noona! (Tidak apa-apa, kak!)" balas Vynt cepat.


Dan akhirnya keluarga itu memulai makan malam mereka diselingi obrolan-obrolan ringan seputar kegiatan masing-masing.


Setelah makan malam, Vynt yang berbincang dengan Mr. Seo di balkon lantai dua rumah itupun menanyakan kenapa ia merekrut orang-orang gesrek seperti member Tim Dua.


Dengan terkikik, Mr. Seo menjawab. "Karena menurut pengalamanku, orang-orang seperti mereka itu tidak akan pernah saling menjatuhkan, tapi justru akan saling mendukung satu sama lain," jelasnya.


"Berarti apa tim lainnya juga seperti itu?" Vynt penasaran.


"Kau pikir semua manusia di dunia ini pelawak?" balas Mr. Seo cepat.


Dan Vynt langsung tertawa mendengarnya. Ia jadi sadar bahwa pertanyaannya barusan memang sangat absurd.


"Orang-orang bersolidaritas tinggi seperti mereka itu sangat sulit ditemukan kau tahu," terang Mr.Seo.


Vynt hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Mr. Seo barusan. Ia lalu bertanya lagi apakah Mr. Seo-lah yang akan menjadi penerus ASTRO Tours setelah ia dan Mirim menikah nanti?


Kini giliran Mr. Seo yang mengangguk mengiyakan pertanyaan Vynt barusan. "Mirim dan Mirae tidak berminat dengan bisnis wisata seperti kita. Jadi salah satu syarat dari Mr. Dong ketika aku melamar Mirim adalah agar aku bersedia menjadi penerusnya menggantikan kedua putrinya itu." Mr. Seo menjelaskan panjang lebar.


Vynt tersenyum, ia bersyukur pamannya itu tidak meniru keputusan sadis Pak Zein Imran—ayah Keira yang tega membuang anak dan istri pertamanya demi keturunan lelaki semata-mata karena ambisi pribadi serta perusahaannya.


Vynt lalu bertanya lagi, sedekat apa hubungan Mr.Seo dengan Fady. Kenapa Fady dengan mudah memanggilnya Oppa**?


"Fady itu juniorku di Tourism University Singapura, dan aku juga yang membawanya ke ASTRO Tours. Kami sudah berteman selama tujuh tahun," terang Mr.Seo dengan mata menerawang seakan sedang mengenang sesuatu.


"Wow, persahabatan yang cukup lama ya?" Vynt takjub.


"Apakah kau tahu kata pepatah ini? 'Persahabatan yang sudah berlangsung selama tujuh tahun, maka persahabatan itu akan berlangsung selamanya'. Pernah dengar?" tanya Mr.Seo.


Vynt menggeleng. Namun ia kemudian tepekur sendiri. Akankah ia mampu menjaga hubungan dengan sahabat-sahabatnya kini hingga selamanya? Tiba-tiba saja Vynt jadi sedikit iri pada Hyung-nya itu.


Tak terasa waktu telah menunjukkan masa yang telah larut. Vynt yang keluar dari rumah keluarga Dong Dae-Ho dengan diantar oleh seluruh keluarga, terheran-heran saat diberi hadiah mobil oleh Pamannya itu sebagai alat transportasi pribadi untuk Vynt.


Vynt yang sempat bengong lalu menyatakan keberatannya karena dirinya sudah berencana untuk membeli motor sendiri sebagai kendaraannya selama di Thailand.


Mendengar niat Vynt itu, sang Paman dan Tantenya bukannya merasa kecewa atas penolakan Vynt malah dengan semangat menyatakan akan memberinya motor juga dan memaksa Vynt untuk menerima kedua kendaraan itu.


"Kang Jun-ah, tolong bantu Vynt mencari motor yang sesuai untuknya besok!" pinta Mr. Dong kepada Mr. Seo.


"Algeseumnida, abeoji," jawab Mr. Seo dengan lugas.


"Dan Vynt-ah. Terimalah hadiah-hadiah kami untukmu. Kamu anakku juga. Dan malam ini pakailah mobilnya untuk pulang! Jika kau menolak, akan kusuruh orang untuk menderek mobil itu bersama denganmu di dalamnya," ancam sang Paman.


Mereka pun tertawa bersama mendengar ancaman konyol dari Mr. Dong barusan. Akhirnya meski terpaksa karena sungkan, Vynt pun menerima mobil itu dan membawanya pulang ke Somerset.


To Be Continue....


.


.


.


*Hyung/Hyeong adalah penyebutan untuk kakak laki-laki oleh adik laki-laki secara akrab. Sedangkan dalam bentuk sopannya menjadi Hyungnim.

__ADS_1


**Oppa adalah sebutan kepada kakak laki-laki dari adik perempuan. Kadang juga diucapkan oleh seorang perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan pria itu. Seperti hubungan kekasih/calon suami/kakak angkat.


__ADS_2