
@Rumah Sakit Husada
Di salah satu lorong Rumah Sakit yang sepi dan jarang dilalui pasien. Terlihat Rizzi dan Tyo duduk berdampingan dalam diam di kursi-kursi yang berderet memanjang pada satu sisi dindingnya saja. Entah sudah berapa lama keduanya bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Tragedi yang terjadi tiba-tiba ini sungguh sangat mengguncang kehidupan banyak orang, banyak keluarga. Tak hanya Tyo dan kedua orang tuanya yang merasa kehilangan tapi juga Rizzi dan keluarganya serta keluarga dan kerabat dari para korban lainnya pun pasti merasakan kehilangan yang sama seperti yang mereka rasakan kini.
"Tolong sampein ucapan terima kasih gue ke keluarga lo. Tanpa kiriman helikopter kalian gue gak tau berapa lama gue bisa sampe ke daerah pelosok itu dan gue gak mungkin bisa bawa Argha keluar dari tempat itu secepat ini."
Tyo menyampaikan terima kasihnya dengan suara yang teramat serak. Bukti bahwa pria itu mengalami kelelahan ekstrim secara mental dan fisik selama beberapa hari ini.
Bagaimana tidak, Tyo langsung terbang menuju lokasi jatuhnya pesawat yang terpencil itu dengan menggunakan helikopter yang dikirim khusus oleh keluarga Rizzi.
Antara percaya dan tidak, selama perjalanan menuju lokasi, perasaan Tyo campur aduk. Suara berat sang ayah yang menyampaikan berita duka itu terus menerus terngiang di telinganya. Dan raut wajah sendu sang ibu terus terbayang di pelupuk matanya.
Hingga selama beberapa hari pria itu terus memikirkan nasib jasad adiknya, memikirkan perasaan orang tuanya, dan juga perasaan Keira pun tak luput dari benak Tyo.
Tak hanya sekali dua kali, tapi Tyo selalu meneteskan air matanya setiap ia melihat Tim Sar menemukan satu persatu jasad korban. Seakan-akan seluruh korban-korban yang telah ditemukan itu adalah keluarganya.
Tak jarang Tyo saling menguatkan antar keluarga korban lainnya yang turut mendatangi lokasi demi menjalani proses identifikasi.
Hatinya hancur memikirkan bahwa tubuh Argha---adiknya, juga akan turut terbungkus kantong berwarna jingga itu.
Belum lagi ketika dirinya harus menerima kenyataan bahwa tubuh Argha tak lagi utuh akibat dari kecelakaan yang dialaminya. Tyo bahkan menangis sesenggukan kala itu.
Diusapnya lembut kantong jingga yang menurut tim medis---yang bertugas untuk proses identifikasi---bahwa tubuh itu cocok dengan ciri-ciri tubuh Argha dan bahkan sample DNA yang dikirim oleh Tyo pun cocok dengan sample DNA yang diambil dari tubuh itu.
Maka, ketika akhirnya Tyo merasa telah menemukan Argha kembali, dia pun bergegas membawa jasad adiknya itu pulang ke kota mereka untuk dikebumikan dengan layak.
Rizzi menepuk-nepuk punggung Tyo sebelum membalas ucapan terima kasih Tyo tadi, "Nevermind, Bro. Kapan pun lo butuh gue, gue akan selalu ada buat lo." janji Rizzi yang dibalas Tyo hanya dengan senyuman tipis tanpa tenaga.
Rizzi kembali melihat Tyo dengan seksama. Penampilan sahabatnya itu sangat mengenaskan. Di mata Rizzi Tyo tidak hanya terlihat kelelahan tapi juga hancur.
Rizzi sangat khawatir melihat perubahan warna kulit wajah Tyo yang merupakan gejala cyanosis. Entah apakah aliran darah Tyo yang terganggu atau saluran oksigen dalam tubuh Tyo yang terganggu.
Rizzi yang bukanlah pakar medis tak bisa memperkirakannya. Tapi Rizzi yakin jika Tyo tidak segera mengistirahatkan dirinya lebih dulu, dia khawatir dalam waktu dekat Tyo akan tumbang karena kelelahan bercampur stress yang dialaminya.
"Lo butuh istirahat, Bro!" Rizzi mengingatkan.
"Hn." Tyo yang sepertinya masih enggan untuk beranjak dari kursinya hanya merespon sekenanya.
"Urusan disini dah beres belum?" tanya Rizzi lagi.
"Udah." lagi-lagi Tyo hanya menjawab singkat.
Pandangan mata Tyo masih mengarah lurus ke lantai Rumah Sakit, entah apa yang dilihatnya dibawah sana namun tatapannya nampak lesu tak bergairah. Sesekali diusapnya bagian belakang kepalanya dengan kedua tangan bersamaan yang menandakan bahwa pikiran pria itu masih kacau balau.
Rizzi yang baru akan berdiri dari kursinya di kejutkan oleh notifikasi chat masuk dari Beth.
__ADS_1
📩BETHSA PUTRY
URGENT!!! Keira otw RS. Ngotot mo ktmu Argha😭😭😭😭😭
Rizzi sedikit terbelalak membaca chat dari Beth. "Gawat!" Rizzi menoleh pada Tyo.
Pandangan Tyo pun jadi teralihkan mendengar kata 'Gawat' meluncur dari bibir Rizzi. "Ada apa?" Tyo turut penasaran.
Rizzi tak menjawab dengan kata-kata namun hanya langsung memperlihatkan isi chat dari Beth itu kepada Tyo.
Tyo membacanya singkat lalu memejamkan matanya kuat-kuat sambil bersandar dengan kepala mendonggak ke atas. Diambilnya nafas panjang lalu dihembuskannya nafas itu pelan-pelan sebelum kembali menoleh ke arah Rizzi.
"Riz, gue mau minta tolong lagi ke elo!" ucapnya kemudian dengan tegas.
***
Keira datang ke Rumah Sakit ditemani teman-temannya. Beth yang khawatir akan kondisi Keira sudah lebih dulu melaporkan kedatangan gadis itu via chat kepada Rizzi. Jaga-jaga kalau-kalau situasi di Rumah Sakit masih belum kondusif untuk kedatangan seorang Keira Permata yang sedang rapuh hati dan mentalnya.
Namun ketika dilihatnya balasan chat dari Rizzi yang menyatakan bahwa dirinya dan Tyo sudah siap dengan kedatangan Keira, Beth pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega.
Di dalam hatinya, Beth masih khusyuk berdo'a semoga Keira akan baik-baik saja menerima apapun yang mungkin akan dihadapi gadis itu di Rumah Sakit ini.
Keira berjalan dengan tergesa begitu gadis itu turun dari mobil Said yang berhenti tepat di depan pintu masuk utama Rumah Sakit terbaik di kota itu. Tentu saja dengan Vynt dan Beth yang selalu sigap mengikuti langkahnya.
Rizzi yang sudah menunggu Keira di lobi utama Rumah Sakit segera menyambut gadis itu beserta teman-temannya dan langsung menuntun mereka ke salah satu lorong sepi Rumah Sakit sesuai instruksi dari Tyo sebelumnya.
Pria itu berdiri tegap ditengah-tengah lorong dan menghadap ke arah datangnya Keira bersama yang lainnya. Cahaya lampu yang hanya tersebar di tengah langit-langit terhalang oleh tubuh pria itu, menjadikan wajahnya sedikit tersamarkan oleh bayang-bayang.
Namun Keira mengenali wajah itu. Keira bisa tahu walau wajah pria itu hanya terlihat samar-samar, namun dimata Keira wajah pria itu sangatlah jelas bahwa yang sedang berdiri disana adalah Argha---kekasihnya.
Air mata Keira pun tumpah melihat sosok Argha berdiri tegap dihadapannya tanpa kekurangan suatu apapun. Keira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hatinya lega dan bersyukur sedalam-dalamnya mengetahui Argha masih hidup dan pulang dengan selamat.
"Argha." panggil Keira disela isak tangisnya.
Dilihatnya tubuh pria itu sedikit tersentak memberikan responnya. Tanpa mampu menunggu lagi Keira langsung berlari memeluk pria itu. Dia tumpahkan segala kerinduan yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Keira menangis sedalam-dalamnya di pelukan pria itu.
"Argha." panggil Keira sekali lagi.
Pria itu melonggarkan pelukannya dan menjawab, "Ini aku, Keira. Aku Tyo." ucapnya tegas yang langsung membuyarkan segala imajinasi Keira tentang wajah Argha yang melekat pada sosok Tyo.
Keira tersentak seketika mendengar suara itu. Dirinya lalu mendongak sambil mundur dengan perlahan. Keira tak percaya dirinya telah salah mengenali Tyo sebagai Argha.
"Tyo?" panggil Keira masih tidak percaya bahwa dirinya telah salah lihat. Disentuhnya salah satu sisi wajah pria itu dengan tangannya sendiri untuk memastikan.
"Iya, Kei. Aku Tyo. Bukan Argha." jawab Tyo lagi dengan balas menyentuh tangan Keira yang masih terpaku di pipinya.
Hati Keira kembali kalut. Tangannya yang tadi menyentuh wajah Tyo terjatuh, dan pegangannya di lengan Tyo pun melemah seiring melemahnya kekuatan dalam dirinya yang tadi sempat meluap-luap.
__ADS_1
Keira menatap Tyo lekat seolah masih tidak percaya bahwa pria dihadapannya itu bukan Argha. Namun akhirnya dirinya pun yakin jika pria itu benar Tyo---kakak Argha, dan bukannya Argha yang selama ini dicarinya, dirindukannya.
"Argha mana, Tyo?" tanya Keira pelan dengan menahan sesak didadanya.
Tyo hanya diam. Tak tahu harus menjawab apa.
"Argha dimana? Aku pengen ketemu dia." Keira memelas pada Tyo.
Tyo yang tak tega melihat kondisi Keira hanya bisa menggeleng lemah.
"Jangan Kei! Kamu jangan lihat Argha lagi!" tolak Tyo.
"Kenapa?" Keira mulai tak mampu lagi menahan air matanya. "Argha dimana?" tanya gadis itu lagi dengan suara yang makin parau.
Tyo yang awalnya diam sesaat lalu menunjuk pada sebuah pintu yang ada di sisi kiri mereka. Keira pun refleks menoleh ke arah telunjuk Tyo tertuju. Dilihatnya sebuah pintu berwarna abu-abu yang bertuliskan 'Kamar Mayat'. Seketika tubuh Keira kembali limbung.
Beruntung Tyo cepat menopang tubuh ringkih gadis itu. Tyo menjelaskan dirinya memang pulang bersama Argha namun lebih tepatnya bersama jasad Argha.
Informasi yang disampaikan Rizzi tempo hari itu benar adanya. Seluruh awak pesawat dan penumpang dipastikan tewas mengingat pesawat yang celaka itu hancur lebur dan hanya menyisakan puing-puingnya saja.
Hingga butuh waktu berhari-hari untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi seluruh korban. Makanya selama berhari-hari itu pula, Tyo yang berada dilokasi tidak bisa leluasa berkomunikasi karena keterbatasan sinyal disana.
Dan begitu jasad Argha telah teridentifikasi berkat data-data dan sampel DNA yang dibawa Tyo ke TKP, Tyo segera membawa pulang Argha dengan helikopter pinjaman dari keluarga Rizzi.
Jasad Argha yang rusak rencananya memang dititipkannya lebih dulu di Rumah Sakit ini untuk kemudian dikebumikan esok harinya. Saat itulah Tyo akan menjemput Keira untuk ikut dalam proses pemakaman Argha.
Tubuh Keira melorot dari pelukan Tyo setelah mendengar penjelasan pria itu.
"Aku mau kamu tetap mengingat dia dengan sosoknya yang sempurna. Ingatlah dia dengan sosoknya yang rupawan. Jangan hancurkan ingatan kamu tentang Argha dengan melihat jasadnya sekarang, Kei!" pinta Tyo dengan suara yang tak kalah memelas dengan Keira.
Keira menjerit histeris mendengar ucapan terakhir Tyo yang teramat memilukan ditelinganya. Tyo pun tak kuasa menahan air matanya pula. Dipeluknya tubuh lemah Keira dan mereka pun menangis bersama. Merasakan kehilangan yang sama. Derita yang sama.
Di ujung lorong, beberapa pasang mata yang sedari tadi menyaksikan pemandangan memilukan itu pun turut merasakan sesaknya.
Beth yang pertama ikut menangis sejak melihat Keira salah mengenali Tyo sebagai Argha. Vynt dan Rizzi yang tak lagi sanggup melihatnya, sama-sama memalingkan pandangan mata mereka ke arah lain.
"Segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan. Semua terjadi karena sebuah alasan meski terkadang kita tak mengetahui alasannya."
"Tidak semua orang yang datang pada kita adalah orang yang akan menetap dihidup kita. Terkadang mereka hanya datang lalu pergi untuk memberi arti. Memang hidup seringkali sepahit itu."
To Be Continue....
.
.
.
__ADS_1
.