Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : KEPIKIRAN


__ADS_3

.


.


.


Jiwa heroik Said mendadak muncul ke permukaan saat melihat Milla ketakutan dihadang beberapa pemuda yang tak dikenal. Padahal biasanya, rasa solidaritas semacam itu lebih sering ia tunjukkan untuk mendukung para sahabatnya. Bahkan ia jarang menunjukkannya untuk membela keluarganya sendiri.


Namun alasan terakhir itu terjadi karena Said memang sangat jarang bertemu dengan keluarganya. Jujur saja, sejak memasuki masa kuliah dan ia ngekos sendiri bersama Vynt, Said lebih sering berinteraksi dengan para sahabatnya itu ketimbang bertemu dengan kakak, adik, serta Umminya.


Namun, anehnya...kali ini ia malah langsung ikut campur saat menyaksikan Milla terlibat masalah. Entah mengapa, ia merasa gadis manis itu bukan lagi orang asing dalam hidupnya.


"Milla!" panggil Said dengan lantang setelah jaraknya dengan posisi Milla mulai dekat.


"Kak Said!" balas Milla lirih. Gadis itu menoleh ke arah Said dengan wajah yang nyaris menangis.


"Kamu kok masih disini sih? Katanya mau pulang?" Said langsung merangkul pundak Milla, bersikap seolah-olah hubungan mereka sangat dekat satu sama lain untuk saling membantu dan melindungi. Berharap para pemuda yang menghadang Milla menyerah dan menjauh setelah kedatangan Said.


Begitu tangannya menyentuh pundak Milla, ia langsung menyadari getaran yang cukup kuat dari tubuh gadis itu. Seketika Said merasa lega telah berani mengambil resiko untuk ikut campur dan melindungi Milla.


"WEEIII, LO SIAPA? DATENG-DATENG MAEN NGERANGKUL CEWEK GEBETAN GUE!" bentak salah seorang pemuda dengan wajah paling garang. Dengan tubuh yang paling gempal. Menatap Said dengan ekspresi tidak suka.


"Gue temennya dia, Bang! Abang sendiri siapa?" Said balik bertanya dengan tenang namun tegas.


Jujur, ia agak keder menghadapi mereka. Ia tak yakin bisa mengalahkan mereka semua jika pada akhirnya para pemuda itu menantangnya berkelahi. Namun, dirinya juga tak mungkin diam saja melihat Milla kesulitan begini.


Kepalang basah deh ahh...biarin aja lah!—batin Said pasrah.


Untungnya, karena sedang menunggu hasil pengajuan trainingnya lolos review, Said tak punya kewajiban jam kuliah yang padat seperti mahasiswa lain. Jadi ia pun tak perlu terlalu sering pergi ke kampus dan tidak akan masalah seandainya nanti ia memiliki beberapa memar di wajahnya setelah perkelahian yang mungkin akan terjadi.


"Bukan urusan lo, gue siapa! Tapi gue mau kenalan sama cewek ini? Mendingan lo nggak usah ikut campur deh! PERGI SONO!" usir pemuda itu nyolot.


"Tapi kaya'nya temen saya ini nggak minat tuh kenalan sama situ! Harusnya situ dong yg pergi!" balas Said tak mau kalah.


"Waahh, ngelawan gue lo ya!" pemuda gempal itu mulai murka dan mencoba melayangkan tinjunya ke arah Said.


Said dengan cepat menggeser tubuh Milla ke belakang punggungnya sekaligus menangkis tinju pemuda itu secara bersamaan. Milla terlindungi, tapi Said langsung merasakan linu pada lengannya yang barusan menangkis pukulan dari lawannya itu.


"Berantem itu nggak baik, Bang! Nggak keren juga di depan cewek!" jawab Said masih mencoba untuk bersikap santai.

__ADS_1


Namun, pemuda itu malah makin emosi. "Hallaahh, BANYAK BACOT LO!!!" ketika sekali lagi tinju pemuda kampung itu hampir mengenai Said, tiba-tiba saja sebuah tangan lain menahannya dan langsung menghempaskan tinju itu bersama dengan pemiliknya.


"Gue kan udah pernah bilang ke elo, JANGAN SOK JAGOAN di sini! Kecuali lo mau gue gebukin lagi!" bentak sebuah suara dengan tak kalah lantangnya.


Said merasa lega karena seseorang nampaknya muncul untuk menghentikan ulah para pemuda kampung itu. Ia menoleh ke arah si penyelamat dan langsung kaget begitu melihat Alvin dan juga Nurdin—teman sekelasnya—sekonyong-konyong muncul entah dari mana.


"Kalian???" Said terpekik.


"Iya kita. Lo ngapain di sini, Id? Tumben-tumbenan ngeliat batang hidung lo di lingkungan ini." tanya Nurdin sambil merangkul pundak Said dengan akrab.


Said refleks melirik ke arah para pemuda kampung tadi dan merasa beruntung ketika menyadari gestur mereka yang langsung mundur alon-alon melihat kedatangan Alvin dan Nurdin. Salah satu sudut bibir Said otomatis terangkat, nampaknya kedua teman sekelasnya ini disegani oleh mereka. Untuk itu, Said langsung membalas rangkulan Nurdin dengan tak kalah akrabnya.


"Gue nganterin temen pulang tapi mendadak ada yang gangguin nih." jawab Said sambil menatap tajam ke arah pemuda gempal yang tadi terhempaskan dan kini sudah kembali berdiri. Ia nyaris terkikik geli ketika menyadari raut wajah yang tadinya garang kini perlahan memucat dengan pasti.


"Ooo... jadi kalian berani gangguin temen-temen gue?" Alvin maju satu langkah ke depan untuk menghadapi para pemuda itu sambil menggemeretakkan jari-jari tangannya dengan sikap menantang.


"Ma-maaf, Bang Alvin...kita nggak tahu kalo mereka ini temennya Bang Alvin sama Bang Nurdin." jawab salah satu dari mereka yang sedari tadi diam saja.


Said mendengus keras. Si bongsor yang sejak awal nyolot kini bahkan tak mampu bersuara di hadapan Alvin. Entah trauma apa yang pernah diberikan kedua temannya itu kepada Si Bongsor hingga Said yakin ia bisa melihat kedua kaki pemuda itu gemetaran.


"Tapi sekarang lo semua udah pada tahu kan?" tanya Nurdin santai. Sebelah lengannya masih bertengger di pundak Said.


"BURUAN CABUT!!! Jangan pernah bikin rusuh di kampung ini lagi! NGERTI???" bentak Alvin geram.


Merasa tak mampu lagi menahan geli di perutnya, Said pun langsung melepaskan tawanya. "Gila!!! Gue bener-bener nggak nyangka bakalan punya temen bos preman macam kaliar ini." Said berkelakar.


Alvin refleks menjitak kepala Said mendengar ocehan pemuda keturunan Arab itu. "Bos preman dari India??? Ngawur aja lo kalo ngomong! Mereka cuman pernah gue gebukin karena coba-coba mau malak gue." sungut Alvin yang langsung disambut tawa menggelegar dari Said.


"Btw, ni cewek siapanya elo, Id?" Nurdin bertanya sambil melirik ke arah Milla yang masih berdiri di belakang punggung Said.


"Ooh, dia Milla. Anak angkatan baru di kampus kita. Semester pertama." jawab Said. "Mil, kenalin...ini Alvin dan Nurdin. Temen sekelas aku dan juga Keira." Said langsung mengenalkan kedua temannya itu pada Milla yang kini sudah berdiri di sisi Said.


Setelah diperkenalkan, Milla langsung menjabat tangan Alvin dan Nurdin secara bergantian. "Terima kasih banyak, Kak, atas bantuannya." ucapnya tulus pada mereka berdua. "Aku juga terima kasih ke Kak Said. Kalo kakak tadi nggak dateng aku nggak tau deh gimana nasibku sekarang." imbuh gadis itu nampak lega meski wajahnya masih sedikit pucat.


Said dan kedua temannya saling pandang. Mereka jadi tidak tega untuk meninggalkan gadis itu begitu saja. "Kosan kamu di mana, Mil?" tanya Said akhirnya.


Milla lantas menunjuk jauh ke dalam gang sambil menjawab, "Ma-masih di dalam sana, Kak!" jawabnya malu-malu.


Said tercengang. Ia ingat tadi saat baru turun dari mobil gadis itu mengatakan jika rumah kosnya cukup dekat dan hanya berjarak beberapa rumah saja dari pintu gang. Said jadi berpikir, mungkinkah Milla berbohong agar dirinya tidak merasa khawatir pada gadis itu. Namun, akhirnya Said memilih mempercayai analisisnya barusan karena ia tidak ingin berpikiran negatif tentang Milla.

__ADS_1


"Kalau gitu aku temani kamu sampai sana!" ucapnya kemudian.


"Oia, Id...mobil yang parkir di depan gang itu punya lo kan?" Alvin menunjuk dengan gerakan kepala.


Said mengangguk, "Iya. Boleh nggak gue parkir di situ?" tanyanya.


"Boleh aja kok, tapi mobil lo nutupin warung kopinya bokap gue." jawab Nurdin dengan nada santai.


"Waduh, sorry-sorry...biar gue pindahin sekarang!" Said merasa tidak enak.


"Kalo lo nggak keberatan biar gue aja yang mindahin tuh mobil. Elo anterin Milla sono gih ke kosannya biar aman!" Alvin menyarankan.


"Nggak ngerepotin nih, Vin?" tanya Said tulus. Namun ia tetap menyodorkan kunci mobilnya pada pemuda itu.


"Nggaaakk...nyantai aja, gue emang mau wifian di warung kopi bokapnya Nurdin kok. Kita kan udah kelar training, tinggal ngerjain skripsi doang." balas Alvin sambil menerima kunci mobil Said.


"Kalo gitu tolong ya, guys! Habis ini gue susulin ke sana!" janji Said sebelum akhirnya mereka berpisah untuk sementara. Said kemudian masuk lebih jauh ke dalam gang mendampingi Milla, sementara Alvin dan Nurdin berjalan ke arah sebaliknya keluar dari gang.


Milla berhenti di depan sebuah rumah bercat kuning yang sudah memudar dengan pagar besi yang tampak kusam. Said celingukan untuk memindai sekitar rumah tersebut. "Di sini?" tanyanya pada gadis itu.


Milla mengangguk perlahan dengan sedikit menunduk. Nampaknya rasa malu dan minder masih kental bercampur dalam diri Milla. "Sekali lagi, terima kasih atas bantuanya, Kak." ucap gadis itu lirih.


Said mendesah. Ia lalu mengusap puncak kepala Milla dengan lembut. "Aku kan udah bilang, jangan sungkan! Kita teman kan? Teman harus saling membantu dan melindungi, Mill!"


Milla merasa terharu sampai-sampai bibir bawahnya gemetar begitu saja. Selain Mbak Devy dan orang-orang di Panti Asuhan, ia tidak ingat pernah diperlakukan dengan begitu tulus oleh orang lain. Ini pertama kalinya Milla merasa diistimewakan oleh seorang pemuda.


Setelah memastikan Milla masuk ke dalam rumah kosnya dengan selamat, Said tak langsung pergi begitu saja. Untuk sesaat ia berdiri terpaku di depan rumah itu dengan mata menerawang. Hatinya begitu miris mengetahui seorang gadis muda seperti Milla harus tinggal di lingkungan semacam ini. Di rumah kos yang nampak kumuh baginya.


Belum lagi kenyataan bahwa gadis itu mencari uang untuk biaya hidup dan biaya kuliahnya sendiri. Said sadar, Milla pasti harus begitu berhemat untuk biaya hidupnya demi memenuhi biaya kuliahnya. Makanya gadis itu merelakan diri tinggal di tempat seperti ini.


Tiba-tiba ada rasa nyeri di dalam hati Said yang tak mampu ia tepis. Apa ini? Kok gue nyesek ya liat Milla harus tinggal di sini? Hidup di lingkungan seperti ini?—batin Said.


Ia menghela nafas panjang sambil melirik rumah kos Milla untuk terakhir kali sebelum mulai beranjak pergi, keluar dari gang menuju ke warung kopi milik orang tua Nurdin. Rasanya Said ingin sekali membakar rumah kos Milla agar gadis itu tak lagi punya alasan untuk tinggal di sana. Namun, sedetik kemudian Said menertawakan pemikiran bodohnya sendiri.


Baru kali ini ia begitu kepikiran tentang seseorang selain daripada keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Tanpa ia sadari, sosok Millana Risty sudah terpatri begitu dalam di hatinya.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue...


__ADS_2