
"Menurut dugaanku, Hyung, jika memang benar luka memar di pinggang Fady itu adalah bekas tendangan. Pelakunya tidak lain adalah kekasihnya sendiri."
Vynt menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil mengambil nafas berat.
"Bagaimana kau bisa yakin soal itu?" Mr. Seo menoleh pada pemuda di sampingnya itu.
"Karena aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri, Fady dibuang dipinggir jalan oleh pria itu," tambah Vynt dengan mata menerawang.
"Apa maksudmu Fady dibuang?" Mr. Seo membalikkan badannya menghadap ke arah Vynt.
"Pria itu menarik Fady keluar dari dalam mobilnya lalu mendorong tubuh Fady hingga jatuh di atas trotoar," ujar Vynt lagi, kali ini dengan suara berat karena menahan emosinya.
"Dia apa?" mata Mr.Seo mendelik sesaat lalu kemudian berkedip dengan menggertakkan giginya. "Laki-laki kurang ajar!" tangan Mr. Seo mengepal keras-keras. "Dimana kau melihat itu? dan kapan?" cecarnya pada Vynt.
"Dimananya aku tidak tahu karena aku spontanitas saja mengikuti mobil mereka, tapi kapannya itu sehari setelah kami menggantikan Helmy meeting di hotel Sathorn," jelas Vynt masih dengan suara yang rendah.
Mr. Seo tampak memutar bola matanya, mengingat-ingat waktu yang disebutkan Vynt itu.
"Sebelumnya di hotel itu, Fady memergoki kekasihnya saat check in dengan seorang wanita lain di bagian resepsionis. Fady bahkan melihat mereka berciuman di depan lift sebelum mereka naik ke kamar. Aku tahu pasti karena aku melihat Fady yang sedang mengintai mereka, karena aku mengikutinya," Vynt mengisahkan kembali kejadian saat itu.
Mr. Seo memijit-mijit keningnya yang pening. Jujur saja ia tidak percaya, Fady bisa mengalami hal semacam ini.
"Bagaimana bisa dia terjebak dengan pria sebrengsek itu?" tanya Mr. Seo marah.
Vynt diam saja. Andai ia juga tahu jawabannya. Dan Andai ia dapat menolong Fady dari situasi ini.
***
Fady terbangun di kamarnya masih dengan perasaan yang sama seperti saat ia tertidur. Kecewa. Diliriknya sebuah jam bulat yang tergantung di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit.
Meski merasa sudah sangat terlambat bagi Fady untuk pergi bekerja, namun ia tenang-tenang saja dan tidak panik seperti biasanya. Moodnya hari ini memang sedang tidak ingin bekerja. Pikirannya terlalu kusut untuk diajak bekerja. Jadi Fady pasrah saja.
Biarlah nanti aku akan minta izin ambil cuti dadakan, toh jatah cutiku masih banyak. Pikir Fady.
Lalu ingatan akan kedatangan Mr. Seo ke flatnya semalam tiba-tiba muncul lagi di otaknya. Ia pun segera bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya.
Fady memeriksa sekeliling, "Oppa?" panggilnya. Tapi tak ada respon dari siapapun di sana. Termasuk Mr. Seo.
Fady lalu kembali ke kamarnya untuk mencari ponselnya yang akhirnya ia temukan di sudut tempat tidurnya. Ada notifikasi pesan pada layar ponsel itu. Fady membukanya dan ternyata ada dua pesan yang sama-sama berasal dari Mr. Seo, satu terkirim semalam dan satu lagi terkirim pagi ini.
Fady membuka pesan itu satu persatu. Pesan pertama berisi pamitnya Mr. Seo yang pulang setelah Fady tertidur semalam serta tentang kunci rumahnya yang pria itu masukkan kembali dari bawah celah pintu.
Sedangkan pesan yang kedua, tentang informasi bahwa dirinya sudah diizinkan untuk istirahat di rumah selama dua hari karena sakit.
Namun Mr. Seo tetap meminta Fady melakukan visum di Rumah Sakit dengan alasan sebagai lampiran dari surat ijinnya.
Setelah membaca kedua pesan-pesan itu, Fady menghela nafas panjangnya. Syukurlah jika memang hari ini ia sudah diizinkan untuk tidak bekerja. Matanya menelusuri sekeliling ruang kamarnya. Dan pikirannya lagi-lagi tertuju pada Adent.
Sampai kapan hubungannya dengan pria itu akan begini terus? Sampai kapan dirinya akan digantung seperti ini? Sampai kapan Adent akan terus menghindarinya begini?
Pertanyaan-pertanyaan tentang hubungannya dengan Adent terus berputar dalam kepala Fady. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Tapi ia tak tahu harus apa dan bagaimana.
Akhirnya Fady menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya tanpa melakukan apapun. Ia hanya terus berpikir dan berpikir. Merenungi nasib hubungannya dengan sang kekasih yang tak kunjung memberikan sikap positif mengenai kelanjutan hubungannya mereka.
Hingga akhirnya Fady bertekad untuk menemui Adent lagi hari ini. Ia harus bisa bertemu dan bicara empat mata dengan Adent hari ini juga. Fady bertekad.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang saat Fady keluar dari kepompongnya lalu bangkit untuk mandi dan bersiap-siap pergi menemui Adent lagi.
Ketika Fady hendak keluar dari flatnya, ia ingat pesan dari Mr. Seo yang mengatakan bahwa kunci rumahnya diselipkan dari bawah celah pintu. Fady mencari-cari kunci itu tapi tak ketemu.
__ADS_1
Fady terus mencari hingga ke kolong lemari sepatu yang ada di dekat pintu masuk. Dan sepertinya Fady memang melihat sesuatu di dalam sana. Fady menyalakan senter dari ponselnya.
Dan ternyata benar. Kunci rumahnya ada di sana. Di ujung sudut terjauh. Perlu memindahkan lemari sepatu itu dulu untuk mengambil kuncinya. Tapi itu jelas akan memakan waktu lama untuk dilakukan mengingat besar dan beratnya lemari sepatu milik Fady ini.
Fady melihat pada arloji di pergelangan tangannya. Kalau tidak segera berangkat sekarang bisa-bisa Adent keburu pergi ke klub mengingat pria itu adalah Disk Jockey yang jam kerjanya dari sore hingga dini hari.
Akhirnya demi mengejar waktu untuk bisa menemui Adent. Fady nekat pergi meski tidak mengunci pintu flatnya dengan benar. Toh tidak akan ada yang tahu jika pintunya tidak terkunci, begitu pikir Fady yang bisa dikatakan sangat ceroboh.
***
Di tempat lain, dalam waktu yang hampir bersamaan, Vynt yang khawatir pada Fady bermaksud menjenguk Fady sepulang dari handle City Tour.
Karena jadwal City Tour hari ini hanya sampai jam satu siang. Vynt meminta izin pulang cepat demi bermaksud untuk menjenguk Fady.
Dan karena Mr. Seo juga masih sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu, ia pun langsung mengizinkan Vynt untuk keluar kantor lebih cepat untuk melihat keadaan Fady.
"Segera kabari aku jika terjadi sesuatu pada, Fady!" ujar Mr. Seo saat Vynt mengunjungi kantornya untuk meminta izin pulang cepat.
"Baik, Hyung!" jawab Vynt lugas.
Namun saat motor yang ditungganginya hampir mendekati flat Fady, tanpa sengaja Vynt melihat Fady lebih dulu keluar dari rumahnya. Vynt dengan sigap berhenti agak jauh dari tempat Fady untuk melihat situasinya dulu.
Sedangkan Fady yang tidak mengenali Vynt yang sedang menaiki motor barunya dan mengenakan helm fullface tanpa ragu menghadang taksi yang lewat untuk pergi ke rumah Adent.
Lagi-lagi Vynt langsung mengikuti Fady tanpa berpikir. Ia ingin tahu, apa sebenarnya yang akan dilakukan Fady. Entah kenapa firasatnya sangat buruk kali ini. Tetapi ia tidak ingin bertindak gegabah karena tidak ingin membuat Fady lebih terluka lagi.
Fady tiba di sebuah rumah berlantai satu di sebuah perkampungan. Vynt berhenti tak jauh dari rumah yang disambangi Fady. Namun ia tetap diam di atas motornya untuk melihat situasinya lebih dulu.
Fady yang baru masuk ke dalam pintu pagar rumah Adent merasa heran karena ada sepasang sepatu wanita berserakan di depan pintu itu. Hati Fady seketika kalang kabut dibuatnya.
Pikirannya menerka-nerka, sepatu siapa itu? Apakah itu sepatu perempuan yang waktu itu bersama Adent di hotel? Pikirnya.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati sekali, Fady mendorong pintu depan rumah itu hingga terbuka separuhnya. Dari sana Fady dapat mendengar suara-suara aneh dari arah ruang tamu.
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Fady saat ini selain melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kekasih yang sangat dicintainya sedang bercumbu dengan perempuan lain.
"Adent...!" panggil Fady pelan.
Adent dan wanitanya yang tadinya sama sekali tidak menyadari kedatangan Fady langsung menoleh begitu mendengar suara Fady memanggil nama Adent.
Seketika Adent marah melihat Fady tiba-tiba berada di sana, di dalam rumahnya, dan sedang melihatnya melakukan itu dengan wanita lainnya.
"FADY, APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?" tanya Adent marah.
Ia buru-buru mengancingkan kembali celananya yang sempat terbuka lalu mengambil kaos yang berserakan di lantai.
Tak jauh berbeda dengan wanita yang tadi dicumbu Adent, wanita itu juga sama paniknya dengan Adent. Wanita itu meraih apa saja yang terjangkau oleh tangannya untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.
Fady diam saja. Ia hanya menatap Adent dengan pandangan pilu yang membuat Adent jadi salah tingkah. Dada Fady begitu sesak tapi anehnya entah kenapa ia malah tidak menangis.
"Apa ini, Dent?" tanya Fady lirih.
"Apa maksudmu?" Adent malah balik bertanya dengan suara yang tinggi.
"Kau bilang aku yang harus introspeksi diri? Tapi yang membuat kesalahan adalah kau? Apakah ini adil?" tanya Fady masih dengan suara lirih.
Adent salah tingkah, tapi ia justru semakin marah dibuatnya saat melihat Fady yang mulai menyudutkannya.
"Tapi semua ini berawal dari salahmu!" teriak Adent. "Seandainya saja kau tidak sok suci dengan mengatakan untuk tidak bercinta sebelum menikah. Aku pun tidak akan melakukannya dengan wanita lain," ujar pria itu memberikan alasan.
__ADS_1
"Apa?" Fady mengernyitkan kedua alisnya.
"Harusnya kau mengerti bahwa aku punya kebutuhan!" bentak Adent di hadapan Fady.
"Jadi karena aku tidak mengizinkanmu menyentuhku sebelum kita menikah lantas kau merasa wajar saja bagimu untuk bercumbu dengan wanita lain, begitu? Mencari pelampiasan dengan wanita lain?" balas Fady dengan suara bergetar.
"Aahhh, sudahlah! Aku muak denganmu. Aku muak dengan cara bicaramu yang selalu sok pintar itu. Lagipula aku sudah merasa nyaman dengan Evelyn. Dia bisa memberiku segalanya termasuk memenuhi kebutuhan biologisku sebagai pria," beber Adent tanpa mempedulikan perasaan Fady sama sekali.
"Apa maksudmu bicara begitu?" Fady tidak mengerti.
"Maksudku kita PUTUS!" balas Adent tanpa tedeng aling-aling.
Fady merasa bagai didorong terjun dari pinggir tebing oleh Adent. Dengan mudahnya pria itu memutuskan hubungan saat perasaan Fady justru masih begitu dalam padanya. Fady terdiam seketika. Ia mematung dengan pikiran yang kosong. Hampa.
"Dent, keluarkan wanita itu dari sini!" pinta wanita bernama Evelyn dari belakang Adent.
Dan tanpa ragu, Adent langsung menuruti ucapan Evelyn. Ia menarik lengan Fady yang masih diam mematung hingga ke luar dari rumahnya. Pikirannya yang masih belum genap membuat Fady pasrah saja diperlakukan begitu oleh Adent.
"Dengar ya! Aku tegaskan sekali lagi, mulai hari ini kita putus! Kau dan aku, sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Ingat itu!" tunjuk Adent tepat di depan wajah Fady yang tanpa ekspresi.
Dan, BAM!!! Adent menutup pintunya keras-keras di hadapan Fady yang masih diam mematung di depan pintu itu.
Untuk beberapa saat, Fady masih berdiri disana. Pikirannya benar-benar kosong. Fady belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Hanya satu kalimat yang terus terngiang-ngiang di telinganya, yaitu saat Adent mengatakan bahwa mereka putus.
Fady yang masih shock akhirnya mulai berjalan dengan gontai keluar dari pagar rumah Adent.
Vynt yang terus menungguinya di luar sana akhirnya melihat Fady sudah berdiri di depan pagar rumah itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Vynt heran melihat Fady yang nampak seperti zombie setelah keluar dari rumah itu. Ia pun penasaran, apa yang terjadi pada Fady di dalam sana. Vynt melihat Fady berjalan kaki ke sebuah arah. Vynt mengikuti kemana langkah Fady diam-diam dengan jarak yang aman.
Fady terus berjalan dan berjalan. Ia tidak peduli ke arah mana kakinya melangkah. Ia tidak bisa memikirkan arah tujuannya. Ia tidak bisa memikirkan apa-apa. Kepalanya kosong. Sekali lagi ia dibuang oleh Adent. Pria yang dicintainya.
Hingga mendung pun datang secepat angin. Vynt yang menyadari akan turun hujan segera mendekati Fady. Ia menghadang langkah Fady dengan motornya.
Fady tersentak ketika tiba-tiba sebuah motor menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di depannya. Fady melihat seorang pria turun dari motor itu dan membuka helmnya.
"Apa yang kau lakukan berjalan kaki sampai sejauh ini?" tanya Vynt sedikit kesal.
Fady melongo melihat wajah Vynt yang tiba-tiba muncul di depannya. Seketika air mata yang sedari tadi serasa beku kini mulai mencair. Fady menangis dengan sendirinya.
Vynt langsung kaget melihat Fady yang tiba-tiba bercucuran air mata. "Kamu kenapa, Fa?" tanyanya dengan panik.
Tapi Fady tidak menjawab. Ia hanya terus menangis dengan mata yang menatap Vynt dengan lekat. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Vynt karena ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa sampai seperti ini.
Vynt yang tidak tega melihat ekspresi pilu Fady akhirnya melepas jaket tebalnya lalu memakaikannya pada Fady karena angin dingin sudah bertiup kencang pertanda hujan akan segera turun.
"Ayo pergi dari sini. Sebentar lagi hujan," ajak Vynt sambil menghapus air mata wanita yang berdiri mematung di depannya.
Fady masih membisu. Tapi ia menurut saja saat Vynt menyuruhnya naik ke atas motor pemuda itu.
"Pengangan padaku, Fa! Nanti kau jatuh!" pinta pemuda itu setelah memakaikan helmnya pada Fady sementara dia sendiri tidak memakai helm karena hanya satu helm yang di bawanya.
Lagi-lagi Fady menurut. Tapi saat dirasa pegangan tangan Fady kurang kencang, Vynt langsung menarik kedua tangan Fady dan melingkarkan ke pinggangnya sendiri.
Tak lama kemudian, keduanya pun melaju berboncengan di atas sepeda motor Vynt. Meski tak tahu kemana Vynt akan membawanya, tapi Fady seolah tak peduli. Ia bersyukur Vynt menemukannya. Karena ia butuh seseorang untuk melepaskan kepenatannya.
To Be Continue...
.
__ADS_1
.
.