Replacement Lover

Replacement Lover
MISI RAHASIA (II)


__ADS_3

Tyo terdiam setelah dirinya mendengarkan kiriman audio dari Vynt yang berisikan perdebatan antara Keira dan Vynt semalam.


Kini Tyo jadi tahu kenapa semalam gadis itu tidak mengangkat telponnya. Dan ternyata firasat buruknya terbukti dengan adanya rekaman ini.


Keira mempunyai rencana untuk meninggalkannya, bahkan tanpa memberitahunya tentang kehamilan gadis itu. Rencana yang menurut Tyo sangat naif dan tidak dewasa mengingat hal ini menyangkut masa depan bayi yang dikandung Keira.


Bagaimana bisa dia berpikir untuk pergi dari hidupku? batin Tyo. Otaknya langsung menalar, apakah gerangan yang telah terjadi pada Keira hingga gadis itu seolah ketakutan hingga menolak mentah-mentah kemungkinan untuk menjadi bagian dari keluarga Pratama.


Tyo mengingat ucapan gadis itu di audio tadi yang sempat menyinggung tentang sebatang kara. Benarkah? tanya Tyo dalam hati. Benarkah gadis itu telah dibuang ayah kandungnya sendiri hingga jadi setakut itu untuk berhadapan dengan kalangan atas lainnya? batin Tyo bertanya lagi.


Tyo yang baru saja tiba di kamar hotel tempatnya menginap selama di Hongkong langsung melepas jas yang sedari tadi dikenakannya. Dilemparnya jas itu ke atas tempat tidur dengan asal.


Tyo pun segera menelpon Vynt kembali untuk mendapatkan penjelasan yang telah dijanjikan pemuda itu.


📱TYO PRATAMA


"Halo, Vynt. Gue udah denger semuanya. Sekarang tolong jelasin kenapa Keira bersikap begitu?


📱VYNT DAEHO


"Menurut gue, Keira trauma karena perlakuan ayahnya."


Akhirnya Vynt pun menjelaskan secara detail kehidupan Keira yang selama ini dirinya ketahui, baik yang berasal dari cerita Keira maupun yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


📱VYNT DAEHO


"Jujur Tyo, kalo Keira udah ngancem gitu gue bisa apa? Ini aja gue ngasih tau elo diem-diem dari dia. Tapi gue kesian sama nasibnya. Gue juga kepikiran anaknya, anak kalian.


Tyo menghela nafas panjang mendengar apa yang dikatakan Vynt. Dapat dirasakannya ketulusan di dalam ucapan Vynt itu, ketulusan pada Keira, dan pada masa depan calon anak mereka.


📱TYO PRATAMA


"Sebelumnya gue makasi banget elo udah bantuin gue sampe segini."


Untuk selanjutnya Tyo berjanji pada Vynt akan tetap bertanggung jawab terhadap Keira dan kehamilannya.


Namun karena tinggal selangkah lagi urusan Tyo dengan Mr. Wan selesai. Tyo pun menyuruh Vynt untuk tetap menuruti dulu semua keinginan Keira selama dirinya menyelesaikan urusan di Singapura.


Tyo juga berjanji, minggu depan dirinya akan segera pulang ke tanah air dan langsung menjemput Keira apapun yang terjadi dan membawa gadis keras kepala itu ke hadapan orang tuanya.


Tyo akan sekuat tenaga meyakinkan orang tuanya bahwa Keira bukan gadis sembarangan yang tidak sengaja dihamilinya. Melainkan gadis yang benar-benar Tyo cintai.


📱VYNT DAEHO


"Tapi lo denger sendiri kan di rekaman itu dia maunya gimana, Keira minta minggu depan gue udah harus bawa dia ke Thailand untuk magang. Dia pengen cepet kabur dari sini biar nggak ketemu elo."


Tyo memutar otaknya cepat. Lalu sebersit ide muncul di otaknya. Tyo menyuruh Vynt untuk memaksa Keira memeriksakan kembali kehamilannya dan meminta ijin dari sang dokter yang secara tertulis menyatakan bahwa kehamilan Keira baik-baik saja untuk melakukan perjalanan panjang keluar negeri.


📱TYO PRATAMA


"Nanti lo langsung info gue siapa nama dokter yang dituju Keira dan dimana tempat prakteknya. Biar gue yang ngomong langsung ke dokternya supaya Keira nggak diijinin kemana-mana."


📱VYNT DAEHO


"Oke, gue ikutin rencana lo ini. Biar besok gue coba paksa si Keiranya dulu supaya mau minta surat ijin dokternya."


📱TYO PRATAMA


"Please, Vynt. Dalam hal ini, cuman elo yang bisa gue andelin."


📱VYNT DAEHO


"Gue ngerti, gue akan coba semaksimal mungkin."


📱TYO PRATAMA

__ADS_1


"Thanks anyway. Tolong kabarin gue terus perkembangannya."


📱VYNT DAEHO


"Gue nggak bisa janji, tapi gue akan coba kabarin elo diem-diem."


📱TYO PRATAMA


"Nggak apa-apa. Gue tunggu."


Setelah menutup sambungan telpon jarak jauhnya dengan Vynt, Tyo segera menelpon salah satu sekretarisnya dari Takhta Grup untuk segera menyiapkan tiket pesawat untuknya bertolak ke Singapura hari itu juga.


***


Esoknya Vynt memaksa untuk mengantarkan Keira ke toko coklat tempatnya bekerja paruh waktu untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.


"Gue berangkat sendiri juga nggak apa-apa kok Vynt." Keira masih ngeyel meskipun dirinya sudah duduk di dalam mobil milik Vynt dan dikemudikan sendiri oleh pemuda itu.


"Ntar kalo lo kenapa-kenapa di jalan nggak ada yang nolongin, gimana?" Vynt mencoba menakut-nakuti Keira.


"Iihhh, serem amat lo kalo nyumpahin gue." Keira merengut.


"Bukan nyumpahin, Kei. Cuman antisipasi." Vynt mencoba mengelak.


"Bodo' ah!" Hormon ibu hamilnya yang bikin emosi naik turun pun mendadak timbul.


Vynt yang tak tahu menahu soal itu hanya bisa mengedikkan bahunya sambil kembali fokus menyetir.


Setibanya mereka di toko coklat, Keira langsung menghadap mbak Silvi selaku owner Silvia and Joe Chocolate untuk menyerahkan secara langsung surat pengunduran diri itu sekaligus berpamitan bahwa dirinya akan magang di Thailand selama enam bulan.


"Ya ampun, Keira. Aku bakal kehilangan banget kalo staff kompeten kaya kamu ngundurin diri. Padahal bulan depan aku mau buka cabang di Jogja lho." celoteh mbak Silvi sambil memeluk erat tubuh Keira.


"Selamat ya mbak atas cabang barunya, moga se-lancar toko yang disini." doa Keira tulus.


"Makasi banyak lho Kei atas bantuanmu selama ini. Oia, ini ada sedikit pesangon sama uang ganti rugi buat barang-barang kamu yang hilang waktu kebakaran kemaren." mbak Silvi membuka laci meja kerjanya lalu mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Maaf ya aku baru bisa kasih sekarang karena finansial toko kita kan baru stabil lagi setelah kejadian itu." jelas mbak Silvi sambil menyelipkan sebuah amplop yang nampak tebal digenggaman tangan Keira.


"Tapi mbak..." belum sempat Keira bicara mbak Silvi sudah memotong ucapannya dengan kembali memeluknya erat.


"Udah, udah, tolong kamu terima. Ini nggak ada apa-apanya dibandingkan loyalitas dan kejujuran kamu selama part time disini, Keira. Aku sangat-sangat berterima kasih sama kamu." ucap mbak Silvi nampak begitu tulus.


Akhirnya Keira pun menerima bentuk ucapan terima kasih dari mantan bosnya itu. Dan sesaat sebelum dirinya pamit, mbak Silvi malah lagi-lagi mencoba untuk merekrutnya.


"Langsung telpon aku ya kalo kamu berubah pikiran dan pingin kerja lagi disini, okeeyy!" ujar mbak Silvi sambil melambaikan tangan pada Keira yang akan naik ke dalam mobil Vynt yang sudah stand by di pintu masuk toko.


Keira pun hanya bisa balas melambai sebelum akhirnya mobil Vynt benar-benar melesat pergi dari area parkir Silvia and Joe Chocolate.


Vynt yang sedang mengemudi sesekali melirik ke arah Keira untuk mengecek keadaan. Tampaknya saat ini adalah waktu yang tepat untuknya membujuk Keira pergi ke dokter.


Dieratkannya genggaman pada stir kemudi untuk melepaskan kegugupannya sebelum Vynt mulai berkata-kata.


"Habis ini kita langsung ke dokter kandungan lagi ya, Kei!" Vynt memulai aksinya.


"Hah, kenapa?" Keira spontan menoleh ke arah Vynt yang mengemudi.


"Kata Pak Anton dari Dae-Ho Trip katanya ada regulasi baru di PT. PELNI terkait ibu hamil yang akan ikut berlayar." ucap Vynt yang nyatanya bohong belaka.


"Oia? regulasi apaan?" Keira yang sedikit curiga pun mengernyitkan keningnya.


"Jadi kalo ibu hamil di atas enam bulan kan sudah pasti dilarang naik, naahh kalo yang dibawah enam bulan harus menyertakan surat ijin dari dokter." Vynt kembali menyelipkan dusta di antara ucapannya.


"Surat ijin apaan?" Keira terus penasaran.


"Surat tertulis yang menyatakan kalo kandungan si ibu hamil itu baik-baik saja untuk melakukan perjalanan via kapal laut. Gituu, Kei." terang Vynt yang kali semuanya hanyalah bualan belaka.

__ADS_1


"Gitu ya?" Keira tampak berpikir. "Tapi aku nggak bawa buku pink yang dikasih dokter kemarin." Keira baru ingat.


"Nggak apa-apa kali ya, bukunya nggak dibawa. Orang cuman minta surat pernyataan aja. Lagian kan tuh dokter pasti punya salinan hasil pemeriksaan elo kemaren." Vynt pura-pura mengedikkan bahu.


"Ya udah terserah elo aja deh. Gue ngikut." Keira pun akhirnya pasrah.


***


@Klinik Spesialis ObGyn


Setelah mendaftarkan diri di loket dan mendapat nomor antrian, Keira segera menghampiri Vynt yang duduk tenang di ruang tunggu.


"Gimana udah dapet nomor?" tanya Vynt antusias.


"Udah nih, nomor enam dapetnya. Masih dua pasien lagi sih kata perawatnya." jelas Keira tanpa curiga.


"Dokternya sama kaya kemaren?" Vynt kembali bertanya demi bahan laporannya pada Tyo.


Sejenak Keira memeriksa nomor antrian di tangannya. Disana tertulis nama dokter yang sama yang melakukan USG padanya beberapa hari yang lalu.


"Iya nich, kayanya sama deh sama yang kemarin pas USG." Keira menunjukkan nama dokter yang tertulis di nomor antriannya pada Vynt.


Vynt membaca sekilas tertera nama Endah Sp.OG pada kertas nomor antrian Keira. Dia pun kemudian tersenyum penuh arti.


"Ya udah, Kei. Kalo masih lama gue ke toilet dulu ya." pamit Vynt pada Keira yang langsung dijawab anggukan oleh gadis itu.


Tak berapa lama setelah kepergian Vynt ke toilet, Keira pun juga mulai merasakan hasratnya untuk buang air kecil.


Setelah mengkonfirmasi sekali lagi pada bagian pendaftaran tentang urutan pasien, Keira pun bergegas menuju toilet wanita yang bersebelahan dengan toilet pria.


Saat melintasi toilet pria, Keira tanpa sengaja mendengar percakapan suara yang di kenalnya dari dalam toilet itu.


📱VYNT DAEHO


"Halo Tyo, gue udah di Klinik Spesialis ObGyn sekarang sama Keira. Dia setuju untuk minta surat pernyataan dokter. Trus nama dokternya Endah Sp.OG tolong lo buruan konfirmasi ke dokternya sesuai rencana kita kemaren. Jangan lama-lama, Tyo. Giliran Keira sebentar lagi. Takutnya blablabla....."


Hati Keira seketika bergemuruh mendengar konspirasi dari sahabat yang sangat dipercayainya itu. Keira terjebak antara percaya dan tidak percaya mengetahui Vynt telah berkomplot dengan Tyo kali ini.


Keira tak jadi melangkah masuk ke toilet wanita tapi malah memutar balik langkahnya menuju pintu keluar darurat yang berseberangan arah dengan ruang tunggu.


Entah apa yang mereka rencanakan sebenarnya namun Keira bisa menebak semua itu ada hubungannya dengan surat pernyataan dokter yang akan dimintanya hari ini.


Sambil terus berjalan keluar dari Klinik dengan langkah pasti, otak Keira seketika berpikir, jangan-jangan mereka berencana membuatnya tidak dapat ijin untuk pergi kemana-mana dan terjebak di kota ini sampai Tyo datang dan menemuinya.


Tidak, batin Keira tidak terima. Hal itu tidak boleh terjadi, gumam Keira lirih dengan dada yang naik turun menahan emosi. Mulai sekarang, kalian semua tidak akan pernah melihatku lagi, ikrar Keira dalam hatinya.


Setelah berhasil keluar dari Klinik, tanpa ragu Keira naik ke salah satu taksi yang berjejer menunggu penumpang di luar area parkir Klinik tersebut.


"Siang, mau diantar kemana mbak?" tanya si sopir taksi dengan ramah.


"Jalan dulu aja, Pak. Nanti saya kasih tau rutenya." jawab Keira tegas.


To Be Continue...


.


.


.


.


Buat para Readers,,,bukan kalian aja yg gemes ama sikap Keira, AKU JUGA!!! 😖


.

__ADS_1


Jangan minta cepet2 nikahin Keira sama Tyo yaa gaeess, belom nemu wedding organizer yang cucok soalnya 😂😋


__ADS_2