Replacement Lover

Replacement Lover
BED REST


__ADS_3

Malam itu, untungnya Keira langsung boleh pulang. Karena perutnya sudah tidak kaku lagi dan rasa nyerinya juga sudah mereda jadi dokter memutuskan Keira tidak perlu di rawat inap di Rumah Sakit.


Para orang tua merasa sangat lega mendengarnya. Mereka sekeluarga pun pulang ke rumah keluarga Pratama dengan perasaan tenang setelah mengetahui bahwa Keira dan bayinya baik-baik saja.


Tyo, Keira dan Ny.Mustika pulang dengan menumpang mobil yang sama yang dikendarai Pak Yusam. Sementara Ny.Naina memilih menemani suaminya menumpang mobil yang dikendarai Pak Agus Choir.


Dalam perjalanan pulang, Tyo mengirim hasil video di dalam ruang pemeriksaan tadi ke roomchat Ny.Naina. Tak lama, Ny.Naina tampak membalas kiriman video itu dengan icon lucu yang menunjukkan ekspresi sangat bahagia.


Tyo tersenyum simpul dibuatnya. Ia lalu menoleh ke kursi penumpang di belakang tempat Keira dan ibunya duduk untuk bertanya pada Keira.


"Ponselmu di rumah, Kei?" tanyanya.


"Iya, kenapa?" balas Keira.


"Bu Mustika bawa ponsel?" Tyo malah ganti bertanya pada Ny.Mustika tanpa menjawab pertanyaan Keira.


"Bawa, ini!" jawab Ny.Mustika sambil menyodorkan ponselnya pada Tyo.


Tyo lalu meraih ponsel itu dan mulai menambahkan kontak Ny.Mustika ke dalam daftar kontak di aplikasi chatnya. Kemudian ia juga mengirim video yang sama yang ia kirimkan ke Ny.Naina tadi via bluetooth ke dalam ponsel Ny.Mustika.


"Aku dah kirimin video di ruang pemeriksaan tadi ke ponsel Ibu!" ujar Tyo sambil mengembalikan ponsel itu kepada Ny.Mustika.


"Oia???" sahut Ny.Mustika langsung sumringah. Ia pun segera melihat video itu bersama Keira dengan antusias.


"Aku juga mau, Tyo. Kirimkan juga ke ponselku!" pinta Keira.


"Sudah kok. Nanti sampai di rumah kamu lihat aja." jawabnya.


Sesampainya di rumah, Tyo bermaksud membopong Keira menuju ke kamarnya. Namun Pak Ruslan dan Ny.Naina hanya mengantar mereka sampai di bawah tangga.


"Kita semua belum makan malam. Sebaiknya Keira makan di kamar dulu ya, Nak! Biar Ibu suruh asisten rumah tangga mengantar makanan untuk Keira ke atas." ujar Ny.Naina.


Masih dalam gendongan Tyo, Keira mengangguk menuruti anjuran calon ibu mertuanya.


"Anu, Bu Naina...Pak Ruslan...kalau boleh, saya juga makan di atas saja bersama Keira untuk menemaninya makan." pinta Ny.Mustika pada kedua calon besannya itu dengan hati-hati.


"Oh, boleh, Bu. Silahkan saja. Jangan sungkan, lakukan apapun yang ingin Ibu lakukan di rumah ini! Ini rumahnya Keira juga, Bu!" jawab Ny.Naina cepat sambil merangkul pundak Ny.Mustika dengan erat.


"Terima kasih, Bu!" balas Ny.Mustika lega.


Di dalam kamar Keira, Tyo meletakkan tubuh gadis itu pelan-pelan di atas ranjangnya. Sementara Ny.Mustika, setelah membukakan pintu untuk mereka dan menggantung tasnya kembali ke tempat semula, langsung pamit ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman untuk Keira serta dirinya sendiri.


Tyo mengusap lembut kepala Keira. Matanya menyiratkan kasih sayang yang membuncah untuk ibu dari calon anaknya itu.


"Kamu beneran udah nggak apa-apa?" tanyanya sambil duduk di tepian ranjang Keira. Menghadapkan tubuhnya lurus di depan Keira dengan kedua tangan yang ia letakkan di sisi kanan dan kiri tubuh gadis itu.


Keira membalas pertanyaan Tyo itu dengan satu kali anggukan kepala. Tyo memajukan keningnya hingga menempel pada kening Keira.


"Syukurlah kamu dan bayinya baik-baik saja. Mulai sekarang nggak usah ngapa-ngapain dulu ya!" pintanya lembut sambil memejamkan matanya. "Aku nggak mau lihat kamu seperti itu lagi. Jantungku rasanya hampir copot tadi." ungkapnya.


Keira menakup wajah Tyo dengan kedua tangannya lalu melepaskan kening mereka dan menatap pantulan wajahnya sendiri di dalam kedua bola mata Tyo sambil berkata, "Maaf ya." ucap Keira lirih.


"Kamu denger kan apa kata dokter tadi? Tolong kamu patuhi ya, demi si kecil yang tadi ngambek di dalem perut tuh!" ujar Tyo sambil menunjuk ke perut Keira dengan dagunya.


Keira terkikik geli mengingat ucapan dokter tentang bayinya yang ngambek tadi. "Baik, Papa Tyo!" Keira menggoda pria di depannya itu.


Tyo tersenyum gemas mendengar jawaban Keira. Ia lalu mencium kening Keira dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Berusaha menyalurkan cinta yang berkembang begitu pesat di dalam hatinya melalui ciumannya itu.


Keira turut memejamkan matanya kala bibir Tyo menempel lekat di keningnya. Hatinya yang sudah terpaut sepenuhnya dengan Tyo mulai bisa merasakan cinta pria itu melalui ciuman di keningnya.


Tak lama Ny.Mustika kembali ke kamar dengan membawa nampan yang lagi-lagi penuh dengan makanan. Melihat hal itu Tyo segera membantu wanita paruh baya itu sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kenapa nggak minta bantuan asisten rumah tangga lagi sih, Bu?" tanyanya.


"Ooh, ibu nggak kepikiran. Maaf, Nak Tyo. Ibu nggak biasa nyuruh-nyuruh." ujarnya sambil meringis.


"Tapi jangan sungkan nyuruh Tyo apapun ya, Bu!" Tyo ikut meringis.


"Kalau gitu Ibu suruh kamu sekarang makan di bawah, orang tuamu sudah siap di ruang makan tuh! Sana-sana, buruan!" paksa Ny.Mustika pada Tyo sambil mendorong-dorong tubuh tinggi lelaki itu keluar dari kamar.


"Iya, Iyaa. Aku turun sekarang! Tolong jagain calon istriku ya, Bu!" pintanya dengan tersenyum lebar. Memamerkan deretan giginya yang putih sempurna.


Detik berikutnya Tyo nampak melambaikan tangan pada Keira sebelum menghilang di balik pintu.


"Ayo makan dulu, Kei!" ajak Ny.Mustika pada putrinya itu sambil menyodorkan piring berisi makanan pada Keira.


***


Di ruang makan...


Tyo yang baru tiba langsung mengambil duduk di kursi di sebelah ibunya---Ny.Naina.


"Persiapan pernikahannya kurang apa lagi, Bu?" tanyanya sambil membalik piring yang awalnya tengkurap lalu mulai mengisi piring itu dengan nasi dan lauk.


"Hmmm...apa ya?!" Ny.Naina nampak berpikir sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya. "Pilih desain undangan, cetak undangan, sebar undangan, belanja seserahan, sama beli cincin pernikahan. Tinggal itu aja sih kayanya." ujar Ny.Naina tidak yakin.


"Yang nggak dibantu sama Party Planner yang mana aja?" Tyo bertanya lagi sebelum memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Belanja seserahan sama beli cincin pernikahan." jawab Ny.Naina cepat.


"Kalau gitu aku minta tolong ibu sama Bu Mustika aja yang belanja seserahannya. Dan cincin pernikahannya biar aku beli sendiri. Terus soal pengambilan keputusan yang lain-lain, ibu aja yang mutusin. Keira udah aku minta nggak usah ngapa-ngapain dulu termasuk ngurusin pernikahan." Tyo bicara panjang lebar.


"Ibu sih oke aja kalau itu mau kamu dan Keira udah setuju." jawab Ny.Naina dengan santai. "Nanti biar ibu diskusikan dulu sama Bu Mustika aja soal barang-barang seserahannya." tambahnya.


Pak Ruslan setuju-setuju saja dengan rencana Tyo itu, dan Ny.Naina pun seolah bisa memahami kenapa Tyo sampai memutuskan demikian setelah apa yang terjadi hari ini.


Dalam benak Ny.Naina, ia bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi kalut putranya itu saat kondisi Keira tiba-tiba memburuk. Ny.Naina jadi bisa merasakan betapa beaar cinta Tyo pada Keira. Dan ia pun bersyukur karenanya.


***


Sejak saat itu, setiap harinya, Ny.Naina jadi lebih sering berdiskusi tentang pilihan barang-barang seserahan dengan Ny.Mustika ketimbang dengan Keira.


Sesuai permintaan Tyo, Ny.Naina tidak lagi mengganggu istirahat Keira tentang hal-hal seputar pernikahan agar gadis itu tidak stres karenanya. Karena sulitnya mengatur waktu untuk keluar rumah, akhirnya sebagian besar barang mereka beli secara online.


Sementara itu, kabar tentang Keira yang dibawa ke Rumah Sakit merebak cepat ke teman-teman Keira. Said dapat kabar dari Vynt, Vynt dapat kabar dari Beth, Beth dapat kabar dari Rizzi, dan Rizzi tentu saja dapat kabar dari Tyo pastinya.


Maka hari itu, Rizzi, Beth dan Said memutuskan untuk menjenguk Keira di rumah keluarga Pratama. Mereka ke sana bersama-sama menggunakan mobil Rizzi setelah sebelumnya berkumpul terlebih dahulu di Cafe Teluse.


Said yang kebetulan membawakan dua box kurma dari tanah kelahirannya langsung disambut dengan sangat antusias oleh Ny.Naina.


"Ya Ampuuunn, kok tahu kamu Mas kalo Keira memang disuruh makan kurma sama dokternya." seloroh Ny.Naina sambil menepuk-nepuk punggung pemuda ceking itu.


"Soalnya saya bilang ke ummi saya kalau mau jenguk sahabat baik saya yang sedang hamil, kebetulan ummi saya baru pulang dari Arab, terus sama ummi disuruh bawakan ini." jawab Said apa adanya.


"Waahh, baiknya ummi-mu itu. Bilangin terima kasih banyak-banyak ya, dari Ibu mertuanya Keira. By the way, karena namamu Said dan hidungmu mancung kaya Shah Rukh Khan, kamu pasti temennya Keira yang keturunan Korea itu kan?" tebak Ny.Naina mulai ngaco.


"Ya elah, Tan. Kebanyakan nama Said itu seringnya keturunan Arab. Dan masa bocah kriting, ceking, item gini dibilang dari Korea. Orang Korea tuh putih-putih, Tan!" cerocos Rizzi mencoba mengklarifikasi kekeliruan Ny.Naina.


"Nggak usah kamu bilangin Tante udah tau, cuman ngetes aja tadi." ujar Ny.Naina mencoba ngeles.


"Kalo Mas Said keturunan Arab, berarti pasti sukanya makan Sushi, Takoyaki, gitu-gitu ya?" tanya Ny.Naina makin ngaco.


Rizzi yang gemas akhirnya kembali berceloteh, "Dimana-mana orang Arab itu makanannya Nasi Kebuli, Roti Maryam dan sejenisnya, Tan!" lagi-lagi Rizzi mencoba meluruskan kebengkokan Ny.Naina.

__ADS_1


"Iisshhh, kamu nih kecilnya pendiem, makin gedhe makin cerewet aja deh, Riz. Orang Tante cuman becanda kok." Ny.Naina bersungut-sungut.


"Tapi kalau Said sih apa aja doyan, Tante. Dia kan Omnivora*." sahut Beth menimpali pertanyaan Ny.Naina. Membuat Said salah tingkah lalu menyikut pinggang Beth.


"Ooh gitu, oke-oke. Kalau gitu kita makan Jejepangan aja ya siang ini! Nanti tante suruh orang untuk siapin tempatnya di pinggir kolam renang gimana? Biar Keira juga bisa keluar kamar." ujarnya riang.


"Jejepangan apaan itu, Tan???" tanya Rizzi sambil menggaruk kepalanya yang sedikit gatal.


"Ya elah, masak gitu aja nggak tahu kamu, Riz?! Anak muda kok nggak gaul! Itu lhooo...Steamboat ala Jepang, makanan yang direbus dengan bermacam-macam sayur dan daging." jelas Ny.Naina sambil kedua tangannya sibuk memperagakan jenis makanan yang dijelaskannya barusan.


Dan ketiga tamu Keira itu hanya bisa ber-oooo panjang melihat cara bicara Ibunda Tyo yang selalu heboh setiap saat.


"Yeee, bilang aja Tante tuh yang lagi pengen makan makanan Jepang!" goda Rizzi.


"Berisik kamu ah." timpal Ny.Naina.


"Emang siapa yang sih Tan yang ganti kosakata baru dari steamboat jadi 'jejepangan'?" tanya Rizzi lagi.


"Siapa lagi...??? Ya tante laahh!" jawab Ny.Naina santai sambil ngeloyor mendahului ketiganya menuju ke kamar Keira di lantai atas.


Beth dan Said yang baru kali ini ketemu sama Ibunda Tyo itu jadi speechless melihat tingkah Ny.Naina yang unik. Sementara Rizzi hanya terkikik geli mendengar jawaban pede Ny.Naina atas pertanyaan terakhirnya tadi. Pasalnya ia sudah terbiasa dengan karakter Ny.Naina yang nyentrik karena ia telah mengenal wanita itu sejak kecil.


Sesampainya di kamar Keira, Ny.Naina langsung mengajak Ny.Mustika untuk turun dengan alasan ingin menunjukkan barang bagus di online shop yang ingin ia tambahkan ke dalam daftar barang seserahan untuk Keira.


Di dalam kamar Keira, Beth dan Said langsung memeluk Keira secara bergantian. Keira yang duduk di atas ranjangnya dan bersandar pada kepala ranjang nampak sangat senang mendapat kunjungan dari para sahabatnya.


Sedangkan Rizzi hanya menyapa Keira dengan santai lalu menepuk bahu Tyo yang berdiri di dekat ranjang Keira sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Beth lalu duduk di tepian ranjang yang dekat dengan Keira. Sementara Said menduduki bangku kecil yang satu set dengan nakas. Rizzi tak tampak ingin duduk, ia tahu jika sebentar lagi Ny.Naina akan memanggil mereka untuk turun, karena itulah ia memilih berdiri tepat di sebelah Tyo.


Mereka bercengkerama di dalam kamar itu, namun hanya Beth dan Said yang nampak heboh membicarakan perihal pernikahan. Keira lalu memperlihatkan video rekaman pemeriksaan kehamilannya kepada teman-temannya. Dan Beth semakin heboh dibuatnya. Ia merasa tak sabar melihat rupa anak Keira dan Tyo nantinya.


"Udah mikirin namanya belum?" tanya Said tiba-tiba.


"Boro-boro. Kan cewek atau cowoknya belum ketauan." jawab Keira.


"Nanti aja kalo mendekati persalinan baru dipikirin. Sekarang ini pokoknya Keira nggak boleh mikir apa-apa dulu! Nanti stres. Tolong kalian berdua bantu bikin dia happy aja!" Tyo menegaskan.


"Ashiaappp!!!" jawab Beth dan Said kompak.


Tiba-tiba Mbok Sri muncul di depan pintu kamar Keira yang terbuka lebar untuk memberitahukan bahwa acara 'jejepangan' sudah siap di pinggir kolam. Mereka semua diminta Ny.Naina untuk segera turun.


To Be Continue.....


.


.


.


*OMNIVORA


Maksud dari ucapan Beth diatas adalah menggoda Said dengan menyebutnya sebagai makhluk pemakan segala.


Namun arti sebenarnya dari kata OMNIVORA adalah....


Omnivora atau sarwaboga merupakan golongan hewan yang memakan tumbuh tumbuhan dan daging atau hewan lain.


Omnivora merupakan kombinasi antara hewan herbivora dan karnivora. Hewan omnivora ada yang berasal dari darat maupun dari air.


Pada umumnya hewan omnivora tidak buas seperti hewan karnivora meskipun sama sama memakan daging. Hewan omnivora memakan daging dari binatang yang lebih kecil darinya dan bukan merupakan makanan utama.

__ADS_1


__ADS_2