
.
.
.
Tak lama kemudian, Vynt muncul kembali setelah menyapa dan berbincang dengan wanita cantik yang katanya sepupu Tyo tadi untuk beberapa saat.
"Ooh haaiii, siapa lagi nih? Hmm...what a handsome young man!" Andrea langsung berbinar melihat sosok Vynt yang baru dilihatnya itu.
Dan kali ini Keira yang berinisiatif memperkenalkan Vynt ke Andrew dan juga Andrea. "Ini Vynt Dae-Ho, temen kuliah gue. Dan Vynt, kenalin juga nih, mereka adalah asisten dan ketua tim humas di perusahaannya Tyo." ujar Keira.
"Gue Andrew." kata pria bermata biru itu saat menjabat tangan Vynt.
"Gue Vynt, salam kenal." jawab Vynt ramah.
"Dan gue Andrea. Nama kamu siapa tadi? Vynt Dae-Ho? Kok mirip sama Dae-Ho Trip ya?" tanya Andrea sambil menjabat tangan Vynt dengan genitnya.
Vynt hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Andrea itu. Saat menjabat tangan Andrea, Vynt juga memindai penampilan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan entah kenapa, perasaan aneh mendadak muncul di benak Vynt saat tangannya bersentuhan dengan tangan Andrea.
Vynt pun cepat-cepat menarik tangannya lagi dari Andrea, feelingnya tidak enak tentang wanita berpenampilan cantik di hadapannya itu. There's something wrong with her!(Cewek ini aneh!), pikir Vynt dalam hati.
"Dae-Ho Trip itu emang punya keluarganya Vynt." jawab Keira menanggapi pertanyaan Andrea tadi.
"Ooh, really?!" pekik wanita itu tampak kaget sekali. "Itu travel agent langganan aku loh saat harus dinas ke luar kota, tapi untuk urusan pribadi juga waktu holiday pun aku selalu pake jasa mereka. Juara banget deh arrange paket wisatanya. Menarik dan harganya juga masuk akal, nggak lebay. Klop pokoknya!" ujar Andrea membeberkan segala testimoninya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Thank you. Gue pastiin lo nanti dapet VIP Card dari Dae-Ho Trip!" balas Vynt kalem dengan menyunggingkan senyum coolnya.
"Huwaaa, Thanks bangeett. Kalo gue bisa dapetin VIP Card yang langka itu, gue bakalan bisa dapet pelayanan premium dari Dae-Ho Trip dong. Asyiikkk!!!" seru Andrea tampak girang.
Tiba-tiba, wanita yang tadi diakui Vynt sebagai kenalannya yang tak lain adalah sepupu Tyo mendekati meja mereka.
"Permisi, Tyo...Keira...aku pamit dulu ya! Makasi lho Tyo, udah undang aku walaupun kita jarang banget ketemu!" ujarnya sopan.
Tyo dan Keira kompak berdiri untuk menyalami sepupu Tyo itu, namun tanpa mereka duga, Vynt tiba-tiba sudah berdiri di samping wanita itu untuk berpamitan juga.
"Sorry gaes, kayanya gue juga pamit duluan nih, nggak apa-apa kan?" katanya tiba-tiba.
"Haahh??? Mau ngapain sih lo?" Said kaget melihat tingkah Vynt yang aneh.
"Gue mo nganterin Fady pulang!" jawab Vynt enteng.
"Tapi aku bisa pulang sendiri kok, Vynt. Kamu nggak usah repot-repot!" sahut wanita bernama Fady itu merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, Fa. Kamu dateng sendirian kan ke pesta ini karena orang tuamu sedang Umroh? Jadi lebih baik Vynt nganter kamu pulang. Dijamin aman kalo sama dia. Vynt itu temen baikku dan Keira." jelas Tyo pada sepupunya.
"Oh, gitu." Fady masih tampak ragu namun tak lagi membantah.
"Ya udah yuk, keburu malem." ajak Vynt sebelum Fady berubah pikiran. Disentuhnya punggung wanita itu sambil membimbingnya ke arah pintu keluar.
Ada tiga pasang mata yang nampak menatap punggung pasangan yang baru pamit pulang tadi dengan iri.
Andrea yang iri pada Fady karena mendapat perlakuan gentle dari pria muda sekeren Vynt. Dan Rizzi serta Said yang iri pada Vynt karena dengan begitu mudahnya mengajak pulang wanita secantik Fady dan masih tampak tenang.
Setelah kepergian Vynt dan Fady, mereka pun menghabiskan sisa waktu acara resepsi untuk saling ngobrol satu sama lain. Said nampak khusyuk berbincang dengan Andrea yang tak hanya cantik tapi juga asik orangnya.
Keira berbisik pada suaminya untuk meminta saran apakah ia harus mengungkap siapa Andrea sebenarnya di hadapan Said? Namun Tyo yang tersenyum jahil malah memberikan jawabannya dengan menggeleng.
Keira pun membalas jawaban Tyo itu dengan ekspresi iba terhadap Said. Hingga akhirnya Tyo mengubah jawabannya dengan mengangguk.
Dan tanpa terasa waktu pun berlalu dengan cepat. Selepas berakhirnya acara resepsi, teman-teman kedua mempelai segera pamit undur diri.
__ADS_1
Saat dirinya bersalaman dengan Said, Keira membisikkan perihal aslinya Andrea pada sahabatnya itu agar Said tidak kecewa terlalu dalam.
Dan ternyata benar, Said langsung mendelik begitu mendengar bisikan Keira yang menohok jantungnya. Sedetik kemudian pemuda itu nampak berteriak sambil menjambak rambutnya, "KENAPAAAAA, YA ALLOOHH?????!!!!!"
Merasa tak ada lagi yang harus mereka lakukan di ballrom itu, Tyo dan Keira pun langsung menuju ke Bridal Suites yang telah disiapkan pihak hotel atas perintah Pak Ruslan.
"Kalian langsung istirahat aja di kamar kalian. Semua kebutuhan kalian sudah disiapkan disana termasuk baju ganti dan makanan. Ibu dan Ayah masih mau ngurusin sisa tamu yang belum pulang nih." begitu kata Ny.Naina tadi saat acara resepsi sudah selesai.
"Capek?" tanya Tyo pada Keira saat memergoki istrinya itu menguap sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Keira mengangguk pelan. Mereka sedang di dalam lift untuk menunggu kotak itu membawa keduanya ke lantai tempat kamar pengantin mereka berada.
Ting!
Bunyi lift berdenting tanda mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Tyo menggandeng tangan Keira untuk membimbingnya ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka malam ini.
Setelah menemukan kamar tersebut. Tyo segera membukanya dengan memasukkan kartu kunci yang telah diberikan oleh Ny.Naina padanya tadi. Dan saat Tyo pertama kali melihat isi ruangan itu, seketika ia melongo.
Mampus gue! pikir Tyo dalam hati.
Berbeda dengan Tyo yang nampak gugup saat memasuki kamar pengantin mereka itu. Keira malah santai-santai saja dan langsung nyelonong masuk ke dalam kamar begitu melihat Tyo membukanya.
Keira nampak acuh dengan dekorasi kamar pengantin yang ditata sedemikian indah. Rasa lelah yang dirasakannya kini membuatnya tak menyadari nuansa romantis yang tercipta di dalam kamar itu.
Bahkan potongan kelopak bunga mawar merah yang dibentuk tanda hati besar di tengah-tengah ranjang pun tak mampu menarik perhatian Keira yang sudah begitu lelahnya.
Wanita yang kini bersuami itu hanya berpikir untuk cepat-cepat membersihkan dirinya agar dapat segera tidur untuk melepaskan lelahnya. Keira bahkan tak dapat melihat rasa gugup yang mulai menjalar dalam diri Tyo.
Dan dengan polosnya ia malah memanggil suaminya itu ke dalam ruang lemari untuk membantunya melepas gaunnya. "Tyo, boleh minta tolong?" panggil Keira dari dalam ruang lemari.
Tyo yang tadinya sempat terpaku di depan pintu lalu beranjak mencari istrinya saat mendengar Keira memanggilnya.
"Ada apa, Kei?" tanyanya saat sudah berhadapan dengan sang istri.
"Tolong bukain! Aku nggak bisa sendiri." pinta Keira tanpa ragu.
GLEG! Tyo susah payah menelan salivanya. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan kancing. Padahal seingatnya, terakhir kali ia berhadapan dengan kancing baju Keira adalah pengalaman yang begitu membuatnya tersiksa.
"Tyo!!! Heii...! Buruan dong, aku belum beresin make up juga nih!" rengek Keira membuyarkan lamunan Tyo akan kancing-kancing itu.
"Eh, Oh, Iya. Aku bukain." jawab Tyo akhirnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar pria itu akhirnya pasrah membuka satu persatu kancing gaun yang ada di punggung Keira. Dan ia nampak mulai kesal ketika menyadari begitu banyak kancing yang ada di gaun itu.
Ketika hampir semua kancing telah terbuka, gaun itu sedikit tersikap hingga tanpa sengaja membuat Tyo melihat kembali pakaian dalam Keira dari belakang.
Seketika flashback tentang malam pertamanya yang panas dengan Keira di hotel dulu begitu jelas tergambar di benaknya.
Dan kini, setelah wanita yang dulu dicumbunya itu telah sah menjadi istrinya. Ia malah dilarang menyentuhnya karena faktor kehamilan Keira yang masih di tahap awal.
DAMN! Makinya dalam hati saat dirinya merasakan darah panas mulai menjalar hingga ke ubun-ubun kepalanya.
Ya Tuhaaannn, tega banget sih sama gue! batin Tyo frustasi.
"Udah semua?" tanya Keira santai tanpa menyadari apapun tentang apa yang dirasakan suaminya itu.
Tyo hanya mengangguk singkat menjawab pertanyaan Keira. Ia lalu keluar dari ruang lemari itu dengan cepat dan memilih duduk di tepian ranjang dengan menghembuskan nafas panjangnya.
Ternyata acara membuka kancingnya kali ini jauuhhh lebih menyiksanya ketimbang dulu. Tyo memperhatikan sekeliling. Lampu kamar yang remang-remang turut menambah suasana romantis di dalam kamar itu.
Belum lagi lilin aroma therapy yang sengaja di nyalakan agar penghuni kamar semakin merasakan nuansa yang menenangkan. Namun justru memberikan efek yang sebaliknya terhadap Tyo.
__ADS_1
Jantungnya semakin kencang berdegup kala ia mendengar suara shower telah dinyalakan oleh Keira yang nampaknya sudah mulai membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dalam ruang lemari.
Tyo berdiri lalu mulai membuka jas pengantin beserta aksesorisnya. Ia juga membuka dua buah kancing kemeja teratasnya serta mengeluarkan kemeja itu dari sela celana dipinggangnya untuk menghilangkan gerah.
Sejurus kemudian, ia membersihkan kelopak mawar berbentuk hati tadi dari atas ranjang. Tyo berusaha menepis bayangan untuk mencumbu istrinya sendiri dengan menyibukkan diri.
Dan saat Tyo sedang asyik makan kudapan yang tersedia di salah satu meja di dalam kamar sambil bermain ponselnya, tiba-tiba Keira keluar dari dalam ruang lemari yang tak berpintu itu.
Istrinya itu muncul dengan bathrobe yang terpasang asal-asalan di tubuhnya hingga membuat belahan dada Keira sedikit mengintip dari balik jubah mandi itu.
Dan handuk kering yang melilit ke seluruh rambut dan kepala Keira membuat lehernya yang masih sedikit basah terpampang jelas di sana.
Tyo sampai menjatuhkan cemilan dari tangannya yang menggantung di udara saat ia terperangah dengan pemadangan menggiurkan yang diperlihatkan istrinya.
"Kamu nggak mandi?" tanya Keira polos saat dilihatnya Tyo yang malah nyemil sambil duduk dan kini menatap bengong ke arahnya.
Tyo yang menyadari ketidak pekaan istrinya itu hanya bisa mengerang pelan sambil mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar. Kedua tangannya tampak terkulai di samping tubuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Keira yang malah mendekati kursi suaminya itu dengan penampilan yang masih begitu menggoda di mata Tyo.
"Nasibku gimana ini, sayang?" tanya Tyo memelas. Ia melingkarkan kedua tangan ke pinggang Keira lalu membenamkan wajahnya di perut wanita itu.
"Emang nasibmu kenapa?" Keira menatap kebawah, ke puncak kepala Tyo dengan bingung.
"Kamu beneran nggak kesian sama aku?" Tyo makin frustasi.
"Kesian kenapa sih?" Keira makin bingung.
"Karena aku belom boleh nyentuh kamu tapi aku nggak mungkin bisa nggak ngapa-ngapain. Kamar ini dan tingkahmu, semuanya memprovokasi aku banget." Tyo berkata lirih sambil menunduk saking malunya mengakui hasratnya itu pada Keira.
Disaat itulah Keira baru menyadari siksaan yang di alami oleh Tyo. Dan seketika wajah Keira jadi memerah dibuatnya. Seolah baru saja tersadar dari ketidak pekaannya, Keira baru teringat jika inilah malam pertamanya sebagai suami istri dengan Tyo.
Di tengah rasa malunya, Keira memberanikan diri mengangkat wajah Tyo agar mengarah padanya.
"Mungkin malam ini kamu belum bisa melakukan yang lebih, tapi setidaknya kamu sudah bisa mencium dan memelukku sepuasmu. Karena Aku sudah jadi milikmu." ucap Keira lalu mengecup bibir suaminya itu dengan lembut.
Tyo nampak tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan dan diucapkan Keira. Pria itu bengong sejenak lalu kemudian tersenyum tipis. Ia pun bangkit dari duduknya lalu menggendong Keira dan membawanya ke ranjang.
Keira dengan natural melingkarkan lengannya ke leher Tyo untuk berpegangan. Dan saat ia sudah berada dalam gendongan suaminya, posisi kepala Keira yang miring kesamping membuat handuk yang tadinya terlilit di kepalanya itu pun terlepas jatuh.
Dengan perlahan Tyo merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Diselipkannya beberapa rambut Keira yang menjuntai menutupi wajah wanita itu ke belakang telinganya.
Tyo tidak ingin ada sehelai rambut pun yang menutupi wajah Keira. Wajah yang selalu ingin Tyo lihat bahkan dalam mimpi. Tyo mengusap lembut bibir Keira dengan ibu jarinya. Bibir yang selalu diinginkannya. Bibir yang selalu dirindukannya.
Tyo mendekatkan wajahnya dan mulai menguasai bibir Keira. Menikmati setiap detik sentuhan lembut bibirnya pada bibir istrinya itu. Tyo benar-benar ingin menyatu kembali dengan Keira. Menyatu seutuhnya karena dirinya yakin bahwa Keira memanglah takdirnya.
Keira yang sudah mampu menerima perasaan Tyo padanya. Dan mampu mengakui perasaannya pada Tyo pun tanpa ragu membalas semua sentuhan pria yang teramat mencintainya itu.
Keira mengalungkan kedua lengannya pada leher Tyo. Tyo yang menyadari sikap Keira yang kini menerimanya pun tersenyum disela ciumannya. Tyo percaya, Keira tidak akan mengecewakannya lagi. Tidak akan meninggalkannya lagi.
Berdua mereka memadu kasih yang telah lama terpisahkan oleh prasangka melalui ciuman yang dalam, hangat dan panjang. Meski tanpa penyatuan dua tubuh dengan cara yang lebih intim. Tapi bersama, kini mereka melangkah menuju puncak kebahagiaan. Lahir dan Batin.
"Maaf, jika dulu aku tidak sempat berterima kasih padamu saat kamu dengan rela menyerahkan pengalaman pertamamu." bisik Tyo saat melepas ciumannya untuk memberi mereka jeda bernafas.
"Dan terima kasih karena sudah menerimaku sebagai suamimu sepenuhnya sejak malam ini." imbuhnya dengan menatap wajah Keira yang tersipu dengan penuh cinta.
.
.
.
__ADS_1
*To Be Continue.....
Hayoooo, BAPER yaaaa ππππππ*