
@Cafe Teluse
"Pak Yusam tunggu di dalam saja, makan siang disini sekalian kalo bapak belum makan. Mungkin saya juga agak lama." perintah Tyo pada sopirnya.
"Baik mas Tyo." jawab Pak Yusam menurut. Detik berikutnya Pak Yusam pun ikut turun dari mobil setelah Tyo yang sudah turun lebih dulu.
Sebenarnya Tyo bisa saja menyuruh Pak Yusam pulang ke rumah orang tuanya lebih dulu karena pasti urusannya dengan Rizzi dan Vynt akan berlangsung cukup lama.
Tapi dia ingat tadi Pak Yusam sudah stand by untuk menjemputnya di Bandara bahkan sebelum waktunya makan siang, itu artinya pria tua itu sudah melewatkan jam makan siangnya demi menjemput Tyo dari Bandara.
Sedangkan perjalanan ke rumah orang tuanya masih cukup jauh. Itulah sebabnya Tyo menyuruh Pak Yusam untuk menunggu di dalam cafe sembari menyuruhnya makan siang terlebih dahulu.
"Selamat siang Mas Tyo." sapa seorang waiter saat Tyo baru saja masuk ke Cafe.
Tyo mengangguk pelan sambil tersenyum tipis membalas sapaan waiter tersebut. "Bosmu mana?" tanya Tyo to the point.
"Bos Rizzi ada di kantornya dari tadi." jawab waiter itu.
Tyo melirik sesaat ke arah pintu dengan tulisan 'CHIEF' itu lalu kembali berbicara pada si waiter. "Tolong layani bapak ini, berikan apapun yang dia pesan lalu masukkan tagihannya ke saya." titah Tyo sambil menunjuk pada Pak Yusam yang masih berdiri di belakangnya dengan gerakan kepala.
"Anda sendiri? mau pesan apa?" tanya si waiter pada Tyo.
"Bawakan Lemon Squash non alkohol saja ke kantor." jawab Tyo singkat.
"Siap." jawab waiter cepat lalu mulai mempersilahkan Pak Yusam untuk duduk di salah satu meja yang diperuntukkan hanya untuk dua orang saja. Tak lama terlihat waiter itu memberikan buku menu pada Pak Yusam.
Sementara Tyo, langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan khusus untuk Bos Cafe itu.
"Jadi dimana Keira sekarang?" tanya Tyo tiba-tiba, sesaat setelah dirinya membuka pintu kantor Rizzi dengan intonasi yang tajam dan penuh amarah.
Rizzi dan Vynt yang sedang duduk di dalam ruangan itupun kompak menoleh ke arah Tyo.
"My Brother...Selamat datang kembali!" sambut Rizzi berpura-pura tenang, berusaha mengabaikan amarah Tyo dengan mencoba memeluk pria itu.
Namun bukan balasan pelukan yang ia dapatkan malah cengkeraman kuat dari telapak tangan Tyo tepat di wajahnya. "Nggak usah sok akrab ama gue kalo lo belom bisa nemuin Keira!" ucap Tyo kesal dengan mendorong wajah Rizzi menjauh darinya.
"Yaelah, Bro. Segitunya lo ama gue." Rizzi meringis. "Waktu itu gue langsung suruh si Reja buat ngejar Keira, bahkan gue suruh dia nyebar anak buahnya ke stasiun, terminal, bahkan sampe pelabuhan. Tapi emang Keira-nya yang selangkah lebih cepet daripada kita. Tanya aja Vynt kalo nggak percaya." Rizzi mencoba membela diri dan mencari pembelaan dari Vynt.
Tyo mendengus kesal mendengarnya. "Berarti sudah berapa lama dia kabur?" tanya Tyo kemudian setelah mendudukkan dirinya ke salah satu sofa tunggal di ruangan itu.
"Dua setengah hari terhitung sejak saat Keira menghilang dari klinik." kali ini Vynt yang menjawab.
"Udah ada kepastian kalo Keira berhasil keluar kota?" tanya Tyo lagi.
"Belum, cuman kita udah nyebar anak buah Reja ke beberapa lokasi yang mungkin didatengin Keira di kota ini." kali ini Rizzi yang menjawab.
"Lo punya kenalan hacker profesional nggak?" Tyo bertanya lebih kepada Rizzi.
Rizzi nampak mengingat-ingat, "Kayanya ada sih temen gue dari LA yang join Black Hat*, walopun masih rumor tapi bisa gue make sure kalo bayarannya cocok." jawabnya kemudian.
"Gue nggak peduli berapa biayanya asalkan dia bisa retas data penumpang kereta, pesawat, dan kapal laut selama tiga hari ke belakang ini." balas Tyo tidak main-main.
"Tapi kalo Keira naik Bus buat keluar kota gimana?" tanya Vynt.
"Retas sistem monitoring CCTV di terminal-terminal antar kota juga." jawab Tyo santai.
"Tapi ini ilegal, Bro." Rizzi khawatir.
"Makanya gue minta hacker yang profesional biar gak ketahuan, jangan yang abal-abal." Tyo menegaskan.
"Yaudah, iyaa. Lo butuh kapan?" tanya Rizzi lagi sambil mengutak atik ponselnya mencari nomor kontak beberapa kenalan yang dimaksud.
"Make it as quick as possible. Gue nggak mau kecolongan lagi, takutnya Keira kenapa-kenapa tanpa ada yang nolongin." Tyo berujar cemas.
"Oia, Tyo. Besok lusa gue dah harus terbang ke Thailand buat magang, sorry nggak bisa gue cancel karena dah terlanjur acc. Sebelum itu apa yang bisa gue bantu?" tanya Vynt pada Tyo dengan tulus.
Tyo diam sesaat seperti berpikir. "Gimana sama jadwal magangnya Keira?" tanyanya kemudian.
"Kayanya Keira belum kepikiran tentang magang. Mungkin malah belum kepikiran soal kuliahnya juga. Nyatanya belum ada tanda-tanda Keira menghubungi pihak kampus untuk melakukan penundaan magang atau bahkan ngurus Terminal Kuliah." beber Vynt.
"Kalo gitu tolong lo urusin administrasinya Keira buat Terminal Kuliah langsung aja, biar otomatis jadwal magangnya juga ditunda. Dan bayar orang dari tata usaha, suruh mereka langsung ngontak kita kalau-kalau suatu saat Keira menghubungi pihak kampus." jelas Tyo.
"Oke, siap." Vynt mengangguk mengerti.
"Lo nggak ada pikiran buat lapor polisi?" tanya Rizzi kemudian.
__ADS_1
"Jelas lah, buat nambah bala bantuan. Tapi sebelum itu gue harus kasih tau dulu tentang Keira dan kehamilannya ke orang tua gue." jawab Tyo dengan ekspresi yang sangat serius.
Rizzi dan Vynt nampak kompak tersenyum penuh arti. Mereka tidak menyangka Tyo akan seserius itu mencari Keira bahkan bisa mengesampingkan ego dan emosinya terlebih dahulu. Tampaknya perasaan Tyo pada Keira lebih dalam daripada yang mereka bayangkan.
Tok.Tok.Tok
Seketika keheningan menyapa di dalam ruangan itu ketika terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Masuk!" Rizzi yang merespon.
Lalu muncullah waiter yang melayani Pak Yusam tadi mengantarkan Lemon Squash pesanan Tyo.
"Btw, lo belum bilang ke gue kalo Keira hamil, Bro." ucap Rizzi setelah si waiter sudah keluar dari ruangan. Kalimatnya lebih pada sebuah pernyataan ketimbang pertanyaan.
Tyo menyesap Lemon Squash-nya sesaat lalu dengan terpaksa Tyo memberitahu Rizzi tentang kronologi bagaimana Keira bisa hamil, tentunya dengan sensor di beberapa bagian yang menurut Tyo tak perlu diketahui oleh siapa pun.
Vynt yang turut mendengarnya hanya mengangguk-angguk karena cerita yang disampaikan Tyo memang mirip dengan cerita yang dia dengar dari Keira. Itu artinya Tyo dan Keira sama-sama jujur.
Tyo juga memberitahu Rizzi tentang rekaman perdebatan Keira dan Vynt sehari sebelum Vynt mendatangi Rizzi untuk meminta nomor kontak Tyo.
"Wuiihhh, seriusan lo mau punya anak, Bro? Asyiikkkk gue bakalan punya ponakan." di luar dugaan reaksi Rizzi ternyata malah kegirangan karena memikirkan bahwa dirinya akan menjadi seorang paman dan memiliki ponakan dari Tyo dan Keira.
"Kalo gabungan elo sama Keira yang cantiknya kalem begitu kira-kira tampang anaknya kaya gimana yak?" Rizzi bahkan sudah membayangkan bagaimana wajah anak mereka nanti.
"Kampret lo! Situasi gue genting gini malah lo mikirnya kejauhan." Tyo memaki Rizzi sambil melempar sedotan yang tadinya nangkring di gelas Lemon Squash milik Tyo.
"Anjiirr, muncrat bray minuman lo." umpat Rizzi tatkala dirinya sedikit terciprat Lemon Squash dari dalam sedotan.
Vynt yang melihat tingkah keduanya hanya terkikik geli, namun dia tak menyangka jika owner sebuah Cafe terpopuler se-kota bisa juga bertingkah se-gesrek itu.
***
@Sewu Guesthouse, Jogja
Ini hari ketiga Keira hijrah ke kota Gudeg, Jogja. Sudah dua malam pula Keira menginap di guesthouse yang dekat dengan Stasiun Lempuyangan ini.
Sebagai mahasiswa Pariwisata, ini bukan kali pertama bagi Keira singgah di kota yang berbasis Kerajaan ini.
Di awal-awal masa perkuliahannya, Keira dan teman-temannya pernah melakukan riset tentang Jogja in General yang mengharuskan mereka untuk datang langsung ke kota ini.
Di masa-masa tenang ini, Keira mulai memikirkan tentang magangnya yang tertunda, tentang kuliahnya yang pastinya harus cuti terlebih dulu sampai anaknya lahir, tentang pekerjaan yang harus mulai dicarinya untuk menyambung hidup dan yang terpenting adalah tempat tinggalnya selama di Jogja.
Setelah menimbang-nimbang, Keira memutuskan untuk mendahulukan mencari pekerjaan dan tempat tinggal.
Keira khawatir Tyo dan Vynt terlanjur menyuap orang tata usaha untuk melaporkan pada mereka jika dirinya menelpon dan hal itu pasti akan memudahkan mereka untuk mencarinya. Mulai sekarang Keira harus lebih berhati-hati.
Biarlah dia mengorbankan kuliahnya demi hidup tenang dan damai berdua bersama anaknya. Keira meyakini, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kehidupan yang ia inginkan.
Saat sedang searching lowongan pekerjaan di internet, Keira tiba-tiba ingat ucapan terakhir mbak Silvi---Owner Silvia and Joe Chocolate yang katanya akan buka cabang di Jogja.
Ya ampuunn, kenapa kebetulan sekali kemarin ia memilih tiket jurusan Jogja daripada jurusan Jakarta? pekik Keira dalam hati. Padahal saat membeli tiket itu dirinya sama sekali lupa tentang ucapan mbak Silvi yang mau buka cabang di Jogja.
Merasa telah ditakdirkan oleh semesta, Keira pun langsung mengontak nomor mbak Silvi yang masih tersimpan di memori internal ponselnya.
📱SILVI INDRY
"Halo, Toko Silvia and Joe Chocolate!"
📱KEIRA PERMATA
"Halo, mbak. Ini Keira."
📱SILVI INDRY
"Lho, Keira? Keira Permata?"
📱KEIRA PERMATA
"Iya mbak."
📱SILVI INDRY
"Haiii, cantik. Belum berangkat ke Thailand kah? Kok masih sempet nelpon aku?"
📱KEIRA PERMATA
__ADS_1
"Aku...nggak jadi ke Thailand mbak."
📱SILVI INDRY
"Lho kenapaaa?"
📱KEIRA PERMATA
"Mendadak ada urusan pribadi yang urgent, jadi ke Thailandnya aku batalin."
📱SILVI INDRY
"Oh gituuu."
📱KEIRA PERMATA
"Trus sekarang aku stay di Jogja mbak."
📱SILVI INDRY
"Oh ya? Bagus donk. Kalo kamu butuh kerjaan, kamu bisa kerja lagi di toko coklat."
📱KEIRA PERMATA
"Nah, itu juga maksudku nelpon mbak Silvi sekarang, mungkin aku bisa kerja lagi di toko coklatnya mbak Silvi yang cabang Jogja, mbak."
📱SILVI INDRY
"Waaahhh boleh bangeettt tuh say. Mmm, kalo gitu minggu depan kita ketemuan di Jogja ya! Kemungkinan minggu depan aku mau finishing touch buat Grand Opening."
📱KEIRA PERMATA
"Okey mbak, aku tunggu kabarnya ya. Btw, ini nomer aku yang baru, yang lama dah ilang."
📱SILVI INDRY
"Ya ampuunn, kamu nih hobi banget ganti nomer. Oke deh, yang ini aku save yaa nomernya."
📱KEIRA PERMATA
"Iya mbak, boleh."
📱SILVI INDRY
"See you soon, cantiikk."
Setelah telepon dengan mbak Silvi terputus, Keira jadi sedikit lega karena merasa sudah menemukan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup barunya.
Kini tinggal mencari tempat tinggal yang layak untuk ditinggalinya bersama calon buah hatinya. Keira memang memiliki deposito pemberian terakhir dari Papanya.
Dan ia berencana membeli satu unit apartemen yang terjangkau budgetnya, mengingat hunian itu menjanjikan keamanan sekaligus privasi yang dibutuhkannya.
Namun mungkin hal itu bisa dilakukannya nanti mendekati waktu melahirkan. Dengan kondisi tubuhnya kini yang masih belum menampakkan perubahan, ia masih bisa tinggal di rumah kos ekonomis demi menghemat tabungannya.
To Be Continue...
.
.
.
.
*Black Hat
Adalah kelompok hacker paling ganas di Indonesia. Mereka sering menjadi incaran polisi sehingga tidak bebas melakukan aktifitasnya.
Sebagai negara yang berpenduduk paling banyak ke 4 di dunia ini, membuat negara kita ini memiliki banyak hacker terkuat yang gak kalah dengan Amerika Serikat.
Hal ini dibuktikan ketika negara ini berselisih dengan Malaysia dan hacker Indonesia mampu menutup 500 website resmi milik Malaysia yang membuatnya rugi hingga Rp7,5 Triliun.
***
***
__ADS_1