Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : PANTI ASUHAN


__ADS_3

.


.


.


Merasa tangannya tak kunjung dilepaskan oleh pemuda di hadapannya itu, Milla menarik tangannya dengan perlahan dan hati-hati. Berharap tak membuat lawan jabat tangannya itu tersinggung dengan tindakannya.


Said yang merasakan jemari Milla menggeliat saat berusaha melepaskan tangan dari genggamannya langsung sadar diri, "Sorry-sorry, suka otomatis ngehalu kalo salaman sama cewek. Apalagi yang manis kaya' kamu." Said malah ngegombal.


Milla sekuat tenaga menahan tawa gelinya mendengar ucapan Said yang terdengar receh itu. Tangannya yang kini telah bebas ia gunakan untuk menguatkan pegangannya pada ransel yang menutupi roknya.


Untungnya Said cukup peka terhadap tindakan gadis itu. Dan tanpa diminta ia pun langsung melepaskan jas pesta yang dikenakannya lalu ia lingkarkan pada pinggang Milla.


"Permisi ya, Mil. Tapi aku rasa ini lebih efektif buat nutupin rok kamu ketimbang ransel itu." ucap Said sambil membuat simpul sederhana dengan lengan jasnya pada bagian perut Milla. "Naahh, sudah!" Said tersenyum puas melihat penampilan Milla sekarang.


Sedangkan Milla sendiri sempat bengong sesaat sebelum akhirnya ia khawatir akan mengotori jas yang terlihat mahal itu bila memakainya. "Loohh, jangan! Nanti kotor!" ucap Milla panik sambil mencoba melepas simpul yang dibuat Said.


Namun, gerakan tangan Said lebih gesit untuk menahan tangan Milla saat akan melepaskan jas itu. "Enggak apa-apa! Udah...nggak apa-apa! Biarin kotor, toh sudah aku pake untuk acara malam ini jadi biar sekalian dicuci nanti. Tenang aja ya!" sergah Said cepat.


"Beneran enggak apa-apa?" tanya Milla masih ragu. Pasalnya kalau sampai pemuda itu meminta ganti ongkos laundry untuk jas itu pasti nilainya mahal sekali mengingat jas itu sendiri tampak mahal.


Seolah mampu membaca pikiran Milla, Said kembali meyakinkan gadis itu. "Iya, beneran! Aku nggak akan minta ganti uang laundry ke kamu kok kalo itu yang kamu takutin!" Said terkekeh.


Kontan saja Milla merasa malu karena Said berhasil menepis kekhawatirannya dengan jitu. Ia pun hanya bisa membalas kebaikan Said dengan ucapan terima kasih. "Kalau gitu, makasih banyak!" balas Milla sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang malu.


"Kalau gitu, aku antar kamu pulang sekarang?" tanya Said kemudian.


Milla langsung mengangguk mengingat hari sudah larut malam. Kini kekhawatiran lainnya muncul di benak gadis itu tanpa sepengetahuan Said tentunya.


Said membimbing Milla menuju tempat parkir mobilnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat mereka bertabrakan. "Kamu mau duduk di mana, Mil? Di depan sebelahan sama aku, atau duduk di belakang?" tanyanya sebelum membukakan pintu untuk Milla.


"Di depan aja, kak! Aku nggak enak kalo duduk di belakang, padahal cuman numpang!" jawabnya malu-malu.


Said tersenyum mendengar jawaban gadis itu lalu dibukanya pintu di sisi kursi penumpang bagian depan. "Silahkan, Nona Manis!" ia mempersilahkan Milla masuk sambil membungkuk, berpura-pura menjadi pelayan yang sedang membukakan pintu untuk nona besarnya.


Milla tertawa renyah sekaligus tersipu. Pemuda yang lucu—pikirnya. Ia lalu melompat masuk ke dalam mobil Said yang cukup besar mengingat jenisnya yang termasuk dalam mobil adventure.


Setelah menutup pintu mobilnya dengan seksama, Said berlari memutari bagian depan mobilnya dan masuk lewat pintu kemudi. "Jadi, kamu tinggal di daerah mana?" tanya Said sambil memasang sabuk pengamannya.


"Kak Said jalan aja dulu nanti aku tunjukin arahnya!" jawab Milla.


"Ooh, oke. Berarti keluar dari sini ikutin alur dulu ke arah kiri ya?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Iya." sahut Milla sambil mengangguk.


Said pun mulai melajukan mobilnya dengan hati-hati mengingat dirinya tidak berkendara sendirian kali ini, melainkan membawa seorang gadis bersamanya yang harus ia jaga keselamatannya.


"By the way, kamu kok manggil kak sih ke aku? Emang umurmu berapa?" tanya Said heran.


"Mungkin aku kelihatan lebih dewasa karena pake makeup tapi sebenernya aku masih kelas sebelas, Kak. Aku masih murid Sekolah Menengah Atas." jawab Milla dengan polos.


"Serius???" Said terkejut mendengar fakta itu. Dalam hati ia kembali kecewa, pasalnya ia berniat melakukan pendekatan pada Milla yang dikiranya seumuran dengannya.


"Iya, Kak. Serius! Aku bahkan belum punya KTP. Udah ngurus sih, tapi belum jadi. Hehehe." Milla menyeringai lucu. Membuat Said gemas bercampur miris melihatnya.


Ya Allah, Ummiiii... Apes bener dah anakmu ini! Gagal terus dapet gebetan. Baru mau nyepik Andrea eehhh ternyata jadi-jadian. Sekarang dapet kenalan cewek manis, nggak tahunya masih bocah. Bisa disangka pedofil gue kalo nekat pacaran ama anak SMA. Ampuunn....


"Lho kamu belum punya KTP kok bisa kerja part time sama Mbak Devy? Emang bisa?" Said bertanya lagi sambil terus mengemudi.


"Itu karena Mbak Devy dan aku sudah kenal sejak lama. Hubungan kami cukup dekat. Makanya Mbak Devy nawarin kerja part time ke aku tanpa jaminan apapun." ungkap Milla.


Said hanya manggut-manggut mendengarkan penuturan Milla. Ia mengira mungkin Mbak Devy dan Milla adalah tetangga atau semacamnya yang memungkinkan mereka menjadi dekat.


"Berarti kamu sering ikutan Mbak Devy ngerjain event-event semacam ini?" tanya Said mulai kepo. Entah kenapa ia begitu oenasaran dengan kehidupan pribadi gadia itu.


"Enggak juga sih. Sejujurnya, ini yang pertama kali. Karena Mbak Devy tahu aku butuh uang untuk modal mandiri saat aku kuliah nanti. Makanya beliau bantu ngasih kerjaan ke aku." lagi-lagi Milla memberikan penjelasannya.


"Waahh, hebat ya kamu. Masih SMA udah ada niat untuk mandiri sendiri." Said langsung merasa tertohok dan malu pada dirinya sendiri yang sampai detik ini pun masih hidup dengan beasiswa penuh dari orang tuanya.


Bahkan jika sang Ummi tidak menekuni bisnis fashionnya pun, mereka masih sangat mampu untuk menikmati hidup yang berkecukupan. Apalagi sekarang, setelah sang Abi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, sang Ummi yang tidak ingin berdiam diri mulai membangun bisnis fashionnya yang dulu hanya dilakoninya sebagai hobi.


Berbekal basic ilmu di bidang fashion yang tidak main-main, yakni gelar BA Honours Fashion Design yang diraihnya di Middlesex University Dubai, ibunda Said itu memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengembangkan bisnis fashionnya.


Terbukti, kini ibunda Said itu sudah mempunyai beberapa cabang dari butik eksklusifnya baik di dalam negeri maupun di beberapa negara lainnya, seperti: Riyadh, Dubai, Malaysia, dan Singapura.


"Nanti di perempatan depan itu, belok kanan sedikit, Kak! Ada bangunan berpagar hijau muda, tolong berhenti aja di situ!" Milla memberikan arahan.


"Oke, siap!"


Sesuai arahan dari Milla, Said menghentikan mobilnya di depan pagar sebuah bangunan yang mirip pesantren namun lebih sederhana dan cukup kecil untuk bisa disebut pesantren.


Said segera mematikan mesin mobilnya, dan dengan cepat turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Milla dari luar. Setelah sama-sama turun dari mobil, Said baru melihat papan besar yang bertuliskan—Panti Asuhan Al Hafizh—yang ternyata merupakan identitas bangunan tersebut yang terpampang di bagian depan pintu pagarnya.


Ia pun kaget dan refleks bertanya pada Milla, "Kamu tinggal disini?" tanyanya heran.


Milla tampak malu namun berusaha untuk tetap tenang dan mengangguk. "Mbak Devy itu salah satu donatur tetap di tempat ini. Beliau rutin kesini dua minggu sekali, makanya kami sangat dekat." jelas Milla.

__ADS_1


"Kalau kamu tinggal di sini? Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Said lagi. Nampaknya pemuda itu belum mengerti situasi apa yang tengah di jalani Milla selama ini.


Untungnya Milla tidak tersinggung ataupun marah dengan pertanyaan Said yang blak-blakan itu. Entah karena terbiasa atau apa, tapi Milla nyatanya sanggup menjawab pertanyaan Said yang sangat pribadi itu.


"Aku tidak tahu siapa dan di mana orang tua maupun keluarga kandungku, Kak! Salah satu petugas dinas menemukan aku terlunta-lunta di pinggir jalan saat aku masih empat tahun. Lalu mereka membawaku kesini dan sejak saat itu aku tinggal di sini hingga sekarang." ungkapnya terus terang.


Seketika Said merasa bersalah telah menanyakan hal itu. Ia pun minta maaf dengan tulus. "Sorry, Mil. Aku nanya-nanya yang nggak penting ya?" sesalnya.


Milla tersenyum miris namun ia tak bisa menyalahkan pemuda itu. Gadis itupun menggeleng lemah, "Enggak kok, Kak! Enggak apa-apa." jawabnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing kunci yang bersinggungan dengan pintu pagar. Nampaknya seseorang sedang membuka pagar besi tersebut dari dalam, dan tak lama muncul seorang pria lanjut usia dengan rambut yang sepenuhnya sudah memutih dan tampak ramah.


"Baru pulang, Mil?" tanya pria itu pada Milla yang sudah menoleh ke arah pintu pagar sejak sosok si bapak belum muncul dari balik pagar.


"Iya, Pak Kholis! Baru nyampe saya." jawab Milla sopan.


"Mbak Devy mana?" tanya bapak itu.


"Mbak Devy masih di hotel itu, Pak. Belum pulang. Tadinya saya di suruh pulang sendiri karena takut Mbak Devy masih lama tapi trus ada insiden kecil jadi saya diantar pulang sama Kak Said." lapornya.


"Kak Said?" si bapak menggemakan panggilan Milla terhadap Said sambil menoleh ke arah pemuda itu.


Dengan sigap Said langsung mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk untuk memperkenalkan diri. "Assalamu'alaikum, Pak! Selamat malam. Saya Said Najib, teman dari pengantin yang acaranya dihandle sama Mbak Devy. Tadi Milla sama saya tidak sengaja tabrakan di depan hotel sampai roknya sobek, jadi Mbak Devy minta saya mengantar Milla pulang, Pak." jelasnya.


"Oh, begitu!" ucapnya. "Dan saya Kholis, pengawas di Panti Asuhan ini." balas Pak Kholis memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Said.


Said mengangguk-angguk dengan canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kamu? Sedekat apa kenal Nak Devy?" tanya Pak Kholis dengan tatapan curiga pada Said.


"Oh, saya tidak terlalu dekat juga dengan Mbak Devy, Pak. Baru kenal beliau saat Mbak Devy mulai membantu persiapan pernikahan teman saya. Saya sendiri masih mahasiswa tingkat tiga di Universitas Pariwisata, Pak!" jawab Said tegas.


Pak Kholis nampak mempercayai ucapan Said yang memang jujur apa adanya itu. "Kalau begitu terima kasih telah mengantar Milla pulang, Nak Said." ucap Pak Kholis dengan tulus kepada Said. Setelah itu beliau lalu menyuruh Milla untuk segera msuk karena hari sudah malam.


Milla mengangguk pada Pak Kholis lalu kembali menatap ke arah Said untuk berucap, "Terima kasih, Kak! Atas tumpangannya dan atas pinjaman jasnya." ucap Milla tulus sambil mengembalikan jas milik Said yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dan setelah melihat Said menganggukkan kepalanya, Milla langsung masuk ke dalam pintu pagar Panti Asuhan tersebut bersama pengawas Panti.


Said terdiam di tempat setelah melihat Milla dan Pak Kholis menghilang dari balik pintu pagar bangunan itu. Entah kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak mengetahui gadis seperti Milla ternyata memiliki kehidupan seperti itu.


Dan lagi-lagi, Said hanya bisa mendesah karena tak mampu melakukan apapun untuk membantu gadis itu. Dengan lesu Said akhirnya meninggalkan Panti Asuhan dalam keheningan malam.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue...


__ADS_2