
.
.
.
@Aparthotel SOMERSET
"Jadi setelah siangnya pria itu memutuskanmu karena dia ketahuan selingkuh, malamnya dia ke flatmu untuk mengambil kembali semua hadiah pemberiannya untukmu selama ini?" tanya Mr. Seo pada Fady dengan ekspresi penuh emosi.
Pria itu nampak berdiri bersandar pada dinding yang menghadap Fady sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Fady yang habis menangis semalaman jadi gemetaran mendengar nada bicara Mr. Seo yang tak pernah semarah itu padanya sebelumnya. Ia hanya bisa duduk menunduk di atas sofa di apartemen milik Vynt tanpa sanggup menyuarakan kata-kata.
Sementara Vynt yang sedang di dapur kecilnya untuk membuatkan kedua tamunya minuman hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Yang benar saja, Fa! Dan selama ini kau begitu mencintai pria rendahan macam begitu? Waahh, aku kagum pada seleramu memilih pria." Mr. Seo kemudian tertawa sinis sambil bertepuk tangan.
"Hentikan, Hyung! Ucapanmu hanya akan membuat Fady semakin terluka," pinta Vynt sambil berjalan mendekati keduanya dengan membawa baki berisi tiga gelas minuman hangat di atasnya.
"Biar saja, Vyn.t Biar dia sadar betapa bodohnya dia, hingga dia tidak akan pernah melupakan kejadian ini," tunjuk Mr. Seo pada Fady yang makin menunduk karena malu campur sedih.
Tapi menurut Fady sendiri, apa yang diucapkan seniornya itu memang benar. Dia memang bodoh, sangat-sangat bodoh hingga tidak bisa melihat kebusukan dalam diri Adent. Cinta benar-benar telah membutakannya selama ini.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Mr. Seo pada Vynt.
"Aku memikirkan keselamatannya, Hyung. Kau tidak tahu betapa marahnya si brengsek itu pada Fady kemarin. Meski aku tidak paham kata-kata apa yang terlontar dari mulutnya tapi aku bisa melihat sorot mata penuh dendam dari tatapan b*jingan itu."
Vynt menghela nafas panjangnya. Sementara Mr. Seo akhirnya menarik kursi besi yang ada di bawah meja makan lalu mendudukinya. Kepalanya yang mulai pening memikirkan insiden yang tengah dialami Fady membuatnya membutuhkan tempat duduk.
"Aku takut pria itu akan bebas bersyarat atau dibebaskan dengan jaminan dan langsung mencari Fady untuk membalas dendam. Makanya aku membawanya kemari karena tempat ini adalah salah satu tempat yang tidak akan didatangi pria itu untuk mencari Fady. Menurutku Fady akan sangat aman di sini dulu untuk sementara," jelas Vynt dengan percaya diri.
"Aku setuju denganmu," dukung Mr. Seo tegas.
"Tapi aku tidak!" bantah Fady. Akhirnya mulai berani mengungkapkan argumennya. "Bagaimana dengan Vynt kalau aku berlama-lama di sini?" tanyanya.
Mr. Seo tersenyum simpul mendengar pertanyaan Fady, "Kau tidak perlu khawatir soal itu. Vynt sangat mampu tinggal di mana pun yang dia suka. Dia bisa menyewa studio lain, bisa juga tinggal denganku atau dengan keluarga pamannya untuk sementara waktu, iya kan Vynt?" tanya Mr. Seo pada pria muda itu.
Dan Vynt hanya meresponnya dengan mengangkat kedua alisnya dan kedua bahunya secara bersamaan.
Seketika kening Fady mengerut, "Memangnya Vynt punya keluarga di Thailand ini? Dan memangnya hubungan kalian sedekat itu hingga ia bisa tinggal denganmu?" tanyanya bingung.
Lagi-lagi Mr. Seo hanya tersenyum simpul sambil menatap Fady lalu ganti menatap Vynt, "Kau belum bilang apapun padanya, Vynt?" tanya Mr. Seo sambil menahan tawa melihat ekspresi bingung Fady.
Kali ini Vynt meresponnya dengan menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis.
"Apa sih yang kalian sembunyikan?" tanya Fady makin penasaran melihat tingkah dua pria yang saling kode-kodean di hadapannya itu.
"Memangnya kau tidak bisa menebaknya dari melihat nama keluarganya saja?" tanya Mr. Seo.
"Memangnya nama keluarganya Vynt apa?" Fady malah balik bertanya.
"Lhoo, kau belum tahu?" Mr. Seo melongo.
"Aku memang tidak mencantumkan nama keluargaku di berkas pengajuan magang, Hyung," jelas Vynt mengklarifikasi ketidaktahuan Fady.
Dan Mr. Seo langsung terbahak begitu mendengar penjelasan Vynt barusan. Pantas saja Fady belum tahu siapa Vynt sebenarnya, ternyata itu alasannya. Pikir Mr. Seo.
"Niat sekali kau ingin menyembunyikan identitasmu sampai berbuat begitu," timpalnya masih dengan tawa yang berderai.
"Aku kan hanya ingin diperlakukan apa adanya," jawab Vynt santai.
"Memangnya siapa Vynt sebenarnya? Mengapa sampai dia takut kami perlakukan berbeda?" Fady masih penasaran.
"Ya Ampun, Vynt! Sudah katakan saja padanya, setidaknya cuma pada Fady. Aku yakin Fady tidak akan membocorkannya pada yang lain jika itu yang kau takutkan," paksa Mr. Seo.
Vynt hanya mengedikkan bahunya lalu berkata, "Jika kau benar-benar ingin tahu, nama lengkapku adalah Vynt Dae-Ho," jawab Vynt singkat.
__ADS_1
"Dan dia adalah ahli waris tunggal Dae-Ho Trip Indonesia sekaligus keponakan satu-satunya dari Mr. Dong Dae-Ho, owner perusahaan kita," tambah Mr. Seo. Pria itu tampak tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi kaget Fady.
Fady ternganga. Namun, penjelasan itu membuat semua hal yang berlaku pada seorang Vynt selama ini menjadi masuk akal. Tentang tempat tinggalnya, mobilnya, caranya menggunakan uangnya.
Semuanya menjadi jelas. Bagai sebuah potongan puzzle terakhir yang telah ditambahkan hingga menjadikan sebuah gambar tersusun dengan sempurna.
"Itu artinya kalian akan resmi menjadi saudara sepupu saat Oppa menikah dengan Mirim eonni nanti? Makanya kalian sekarang jadi sangat dekat? Begitu?" tebak Fady.
"Tepat sekali! Kami makan malam sekeluarga di hari pertamanya magang di ASTRO Tours," beber Mr. Seo.
Ekspresi kaget Fady kini telah berubah menjadi lebih tenang, iapun nampak mengerti dengan penjelasan Mr. Seo barusan.
Lalu kemudian dia ingat akan pernyataan cinta Vynt padanya tadi. Yang artinya dia baru saja mendapat pernyataan cinta dari calon pemimpin Dae-Ho Trip. Ya Ampuunnnn! pekik Fady dalam hati.
***
Tiga hari berlalu...
Fady terpaksa menurut pada saran Vynt untuk sementara dirinya stay di apartemen pemuda itu. Sedangkan Vynt sendiri akhirnya memilih untuk menumpang di apartemen Hyung-nya daripada tinggal di rumah pamannya demi menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan menguak privasi Fady.
Dan siang ini, saat Fady yang baru pulang makan siang dari kedai mie di seberang gedung ASTRO Tours bersama Revi dan Norma, tiba-tiba dihadang oleh Adent yang mendadak muncul entah dari mana.
Pria itu tiba-tiba saja menarik lengan Fady yang hendak menyeberang untuk mencegahnya kembali ke gedung ASTRO Tours. Fady yang tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu pun berteriak.
"Lepaskan aku!" pekiknya.
"Tidak akan! Kau sudah membuatku diinterogasi di kantor polisi selama sehari semalam. Beruntung Evelyn mau menjadi penjaminku hingga akhirnya aku bisa bebas. Dan sekarang aku akan membalaskan dendamku padamu, dasar kau wanita sialan!" maki Adent pada Fady.
"Sudah sepantasnya kau di penjara, dasar pencuri!" balas Fady tak mau kalah.
Habis sudah kesabarannya pada pria brengsek ini. Hilang sudah perasaannya pada pria tak berguna ini. Fady jadi sangat menyesal pernah begitu mencintai pria di hadapannya ini. Memuakkan! batin Fady.
"Apa katamu, kau wanita j*lang! Cepat ikut aku!" Adent tak henti-hentinya memaki dan menarik Fady.
Revi dan Norma yang ketakutan melihat Fady disakiti oleh pria gila langsung berusaha memvideo call salah satu pria di Tim Dua untuk meminta pertolongan.
"Eh, Revi video call aku nih! Kenapa ya?" tanya Enno heran.
"Lho ini Norma juga video call aku. Bukannya mereka berdua tadi makan siang bareng Fady di kedai mie depan?" Helmy pun tak kalah heran.
"Coba kalian angkat!" pinta Vynt yang merasa aneh. Mendadak, sebuah firasar tidak enak merayapi punggungnya.
Enno dan Helmy menerima video call itu secara serempak. Dan mereka langsung terkejut saat kedua video call itu sama-sama memperlihatkan adegan tarik menarik antara Fady dengan seorang pria. Pria itu tampak ingin membawa Fady dengan menarik lengannya, tetapi Fady berusaha sekuat tenaga melawan.
"Kurang ajar, pria itu lagi!" Seketika Vynt murka melihat adegan itu.
Iapun langsung berlari ke bawah. Tanpa menunggu lift, Vynt berlari menuju ke tempat Fady berada melewati tangga darurat yang ada di gedung ASTRO Tours.
Sedangkan Enno dan juga si kembar, meski bingung dengan situasi yang ada, tetapi mereka dengan sigap mengikuti Vynt berlari menuju ke bawah. Tujuan mereka sama, yaitu untuk menolong Fady dari pria yang tak mereka kenal itu.
"Ayo ikut denganku! Kau harus membayar perbuatanmu padaku!" bentak Adent.
"Tidak! Tidak akan! Kita sudah selesai. Aku tidak ada urusan lagi denganmu. Brengsek!" maki Fady.
"Beraninya kau mengatai aku brengsek, dasar sialan!" Adent semakin menggila.
Merasa sia-sia usahanya untuk membawa Fady karena perlawanan wanita itu, Adent akhirnya mencengkeram leher Fady dan berusaha mencekiknya.
Fady meronta, tapi ia kalah tenaga kali ini sebab aliran nafasnya menjadi tidak lancar. Perlahan tubuhnya semakin lemas. Ia bahkan susah untuk berteriak meminta tolong. Hanya air mata yang mulai mengambang di kedua sudut matanya.
Norma dan Revi yang ketakutan langsung menjerit histeris meminta tolong. Hingga mereka akhirnya melihat Vynt yang berlari menerobos jalan raya demi segera menolong Fady.
Pemuda itu dengan cepat sudah berada di antara mereka. Ia lalu sekuat tenaga menjauhkan tangan Adent dari leher Fady dan langsung memukul Adent tepat di wajahnya sampai pria itu jatuh terjerembab.
Fady yang langsung ambruk kemudian mencoba mengambil nafas meski tersenggal-senggal. Norma dan Revi langsung mendekati Fady yang nyaris terkulai.
Fady sendiri melihat Vynt yang berniat mendekati Adent untuk menangkapnya namun diluar dugaan Adent malah mengeluarkan sebilah pisau lipat dari dalam kantong jaketnya dan langsung menyabetkan benda tajam itu ke arah Vynt.
__ADS_1
Beruntung Vynt menyadari tindakan Adent saat pria itu mengeluarkan senjata tajam. Ia jadi sempat mencoba menghindar meski kurang cepat sehingga pisau Adent masih berhasil melukai Vynt di bagian pinggangnya.
Vynt mengeluarkan darah. Bajunya terkoyak. Namun lukanya tidak dalam, jadi ia masih bisa berdiri untuk terus mengejar Adent yang berusaha kabur. Adent kembali tertangkap oleh Vynt dan kembali berusaha melukai Vynt dengan pisau.
Namun kali ini Vynt lebih tangkas, ia segera memberikan pukulan keras pada tangan Adent yang bersenjata hingga senjata itu pun terlepas dari genggamannya.
Kemudian Enno dan si kembar yang datang belakangan langsung membantu Vynt untuk meringkus Adent. Karena dikeroyok empat orang pria dewasa membuat Adent akhirnya tak berdaya.
Tenaganya sudah banyak terkuras saat adegan tarik-tarikan dengan Fady, dan kini harus melawan empat pria sekaligus membuat Adent jadi kewalahan. Ia akhirnya tumbang dan menyerah.
Enno dan Helmy memeganginya dan menggiringnya menuju gedung ASTRO Tours untuk diamankan sementara. Dan Qiqi memungut senjata tajam milik Adent yang tergeletak di atas trotoar dengan sebuah kertas koran agar sidik jarinya tidak ikut menempel di benda yang akan dijadikan barang bukti kepada polisi itu.
Meski dirinya terluka tapi Vynt langsung menghampiri Fady untuk memastikan bahwa wanita itu masih baik-baik saja. Fady yang masih terduduk di atas trotoar dengan ditemani Norma dan Revi tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Vynt terluka demi membelanya.
"Kau tidak apa-apa? Apanya yang sakit?" Vynt masih bisa menanyakan keadaan Fady bahkan saat pemuda itu sendiri meringis sambil memegangi pinggangnya yang mengeluarkan darah.
"Aku sudah tidak apa-apa. Tapi kau sendiri terluka," jawab Fady sambil sesenggukan.
"Ini tidak apa-apa, aku rasa tidak dalam," Vynt mencoba membuat Fady agar tidak merasa khawatir.
"Ayo, Vynt! Pegangan di pundakku, kita kembali ke kantor. Norma, Revi, tolong kalian papah Fady," pinta Qiqi.
Norma dan Revi mengangguk dengan kompak, mereka lalu masing-masing meraih salah satu lengan Fady yang masih lemas dan memapahnya hingga kembali ke kantor mereka.
Di dalam gedung ASTRO Tours, keadaan menjadi heboh. Kabar tentang diserangnya Fady oleh orang asing serta Vynt yang terluka akibat menolongnya dengan cepat tersebar bahkan hingga ke kantor eksekutif dan kantor pimpinan.
Mr. Dong Dae-Ho dan Mr. Seo yang langsung panik mendengar kabar Vynt terkena sabetan senjata tajam hingga berdarah pun langsung turun menuju ke ruang kesehatan di lantai bawah tempat Vynt dan Fady diberikan perawatan darurat.
Para karyawan ASTRO Tours yang kepo dan berkerumun di lantai bawah di depan ruang kesehatan demi melihat para korban, langsung terkaget-kaget ketika pimpinan tertinggi mereka sampai datang untuk melihat keadaan si anak magang di Tim Dua.
Seketika mereka membuka jalan saat Mr. Dong Dae-Ho dan Mr. Seo melintas untuk memasuki ruang rawat itu. Di dalam sana, para anggota Tim Dua lainnya juga tak kalah kagetnya melihat kemunculan Mr. Dong Dae-Ho—bos besar mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya owner ASTRO Tours itu dengan suara yang berat.
"Maaf ini semua kesalahan saya, saya yang tidak hati-hati," Vynt mencoba memikul semua tanggung jawab. Ia tak ingin pamannya marah pada teman-temannya khususnya pada Fady.
"Kamu diamlah, Vynt! Aku bertanya pada para seniormu," balas Mr.Dong tegas. "Saya ulangi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mr. Dong pada staff Tim Dua lainnya.
"Tadi kami baru pulang dari makan siang di kedai mie seberang sana, saat kami akan kembali ke kantor tiba-tiba Fady di serang seorang pria. Vynt tiba-tiba datang langsung menolong Fady dan terkena sabetan pisau yang di bawa pria asing itu." Akhirnya Norma berusaha memberikan penjelasan.
"Lalu di mana pria pelaku itu sekarang?" tanya Mr. Seo.
"Dia diamankan di kantor security, Pak," jawab Qiqi. "Dan saya juga sudah mengamankan pisau yang ia gunakan untuk melukai Vynt," sambungnya.
Mendengar hal itu, Mr. Dong langsung menoleh ke arah Mr. Seo. "Panggil polisi secepatnya, pastikan pelakunya dihukum setimpal! Dan bawa Vynt ke Rumah Sakit untuk mengobati lukanya. Minta mereka berikan fasilitas terbaik untuk Vynt!" perintahnya pada Mr. Seo.
"Baik, Pak!" jawab Mr. Seo dengan lugas.
Mr. Dong lalu mendekat kepada Vynt yang masih terbaring di ranjang tunggal di ruangan itu, "Sampai lukamu sembuh, kau jangan ke kantor dulu! Kalau perlu tinggallah dengan kami sementara waktu, biar tantemu yang akan merawatmu," pinta Mr. Dong dengan lembut.
"Baiklah, Paman. Aku akan lakukan semua katamu asal jangan beri tahu ayahku soal ini. Aku tidak ingin orang tuaku khawatir," pinta Vynt.
Mr. Dong mengangguk pelan lalu menepuk pundak Vynt dua kali sebelum akhirnya beliau meninggalkan ruangan itu untuk kembali melanjutkan meetingnya yang tertunda karena dirinya mendengar kabar terlukanya sang ponakan.
Setelah Mr. Dong dan Mr. Seo berlalu pergi, seketika ruangan itu menjadi senyap. Tidak ada yang berani bicara pun tidak ada yang berani menatap ke arah Vynt. Mereka hanya saling pandang satu sama lain dengan canggung.
Mereka terlalu shock saat mengetahui bahwa anak magang di Tim mereka adalah keponakan dari bos besar mereka—Mr. Dong Dae-Ho. Dan itu membuat Vynt menjadi tak enak hati.
To Be Continue...
.
.
.
.
__ADS_1