Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : COME BACK HOME


__ADS_3

.


.


.


Lima tahun kemudian,


"It is time you are departing, Sir!"


(Sudah waktunya anda berangkat, Pak!)


Sebelah alis Said tampak naik saat mengangkat dagunya. Menatap pria berkacamata bulat berusia pertengahan dua puluhan yang telah menjadi sekretarisnya selama kurang lebih enam bulan terakhir ini.


"Is it? Are you really sure this time? ("Benarkah? Apa kau benar-benar yakin kali ini?)


Said menunduk untuk melihat arloji analog yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul enam belas lebih empat puluh lima menit. Sementara jadwal seharusnya adalah pukul enam belas lebih tiga puluh menit waktu Riyadh.


Said mengernyit tanda tak senang dengan jadwal yang berubah-ubah itu, "What happened?" (Apa yang telah terjadi?)


Sang sekretaris tampak sedikit panik. Sebulir keringat dingin muncul dengan samar di pelipisnya yang sedikit kelam. "Excuse me, Sir! Actually, because there are some obstacles on the plane engine, so, we can not avoid the delay." (Maaf, Pak! Telah terjadi masalah pada mesin pesawat hingga mengakibatkan keterlambatan penerbangan.)


Said menatap sekretarisnya tajam. Keningnya mengernyit semakin dalam. Otaknya yang telah terasah sebagai Supervisor salah satu maskapai penerbangan swasta dari Riyadh mulai berpikir, masalah apa yang menyebabkan penundaan jadwal hingga lima belas menit lamanya. Said merasa geram.


Ia berdiri dengan cepat. Hentakan kakinya yang terbalut sepatu kulit berkualitas tinggi membuat si sekretaris bergidik ngeri. Said lalu berjalan menuju gate keberangkatan sembari memberikan beberapa instruksi dengan cepat kepada sekretaris yang mengikutinya dengan tergopoh.


"The hotels representatives will pick you up and escort you to the penthouse you will live in. And your new secretary from Indonesia Branch will make his presence at monday morning," (Perwakilan dari hotel akan menjemput anda sekaligus mengantar anda ke griya tawang yang akan anda tinggali. Dan sekretaris baru anda dari kantor cabang Indonesia akan menghadap pada senin pagi.) jelas sekretaris itu di sela langkahnya.


Said berhenti tepat di batas gate, kemudian berbalik arah untuk menghadap sekretarisnya yang lebih dulu berhenti beberapa langkah sebelumnya. "I understand. Thank you of your hardwork for the last six months. I hope you can work much better with your new supervisor!" (Saya mengerti. Terima kasih atas kerja kerasmu selama enam bulan ini. Saya harap kamu bisa bekerja dengan lebih baik bersama supervisor yang baru.)

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan mantan sekretarisnya, Said bergegas memasuki pesawat dan duduk di tempat yang telah ditunjukkan oleh seorang pramugari berhijab. Said mengucapkan terima kasihnya dengan sopan kepada sang pramugari sebelum wanita itu undur diri dari sisinya.


Said baru saja menduduki salah satu kursi di kabin yang sempit dan berkelas ekonomi itu ketika seseorang yang mengenakan seragam bertopi mendekati kursinya dan berdehem pelan demi menarik perhatiannya. Said mendongak dan melihat seorang pilot yang telah dikenalnya berbicara sembari sedikit menunduk.


"Bapak Najib, di kelas bisnis kami masih ada beberapa seat (kursi) kosong. Mungkin jika anda ingin pindah tempat duduk ...."


Said mengangkat sebelah tangannya untuk memotong ucapan sang pilot, "Terima kasih tawarannya, Kapten Abdul, tapi di tiket saya tertulis kelas ekonomi jadi saya akan tetap duduk di sini sampai saya tiba di tujuan saya."


Sang pilot menampakkan ekspresi canggung tetapi kemudian tersenyum menyerah, "Baiklah, Pak Najib! Saya harap anda menikmati perjalanannya!"


"Terima kasih!" Said mengangguk singkat sebelum akhirnya sang pilot pamit untuk kembali ke cockpit*.


Setelah merasa benar-benar tidak akan terganggu lagi, Said segera menyetel posisi kursinya senyaman mungkin dan sedikit menselonjorkan kaki. Ini bukan peak season jadi banyak kursi yang kosong bahkan di kelas ekonomi yang kini ia tumpangi. Kursi di sebelah tempat duduknya juga kosong, membuat Said bisa duduk dengan lega.


Meski menduduki posisi yang cukup penting di perusahaan penerbangan itu, tetapi Said tidak selalu memilih tempat duduk ternyaman di kelas termahal walaupun dirinya sangat mampu. Terkadang ia memang memilih duduk di kelas ekonomi hanya untuk mengobservasi pelayanan yang diberikan para flight attendants apakah setara dengan pelayanan yang mereka berikan pada kelas terbaik meski berbeda fasilitas.


Ini sebuah kesempatan emas baginya. Dengan mutasinya ke Indonesia ia tak hanya bisa pulang ke rumahnya menemui ummi serta adiknya tapi ia pun bisa berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatnya. Bahkan mungkin, ia bisa lebih sering berkunjung ke Singapura untuk menemui Milla—gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini selalu mengisi sebagian ruang kosong di hatinya.


Hanya dengan memikirkan dapat lebih sering bertemu dengan gadis itu saja Said sudah begitu bersemangat. Saking semangatnya, perjalanan udara selama kurang lebih tujuh belas jam dengan dua kali transit tak membuat Said nampak kelelahan.


Di hari berikutnya, ketika ia baru saja turun dari pesawat transitnya yang terakhir, Said bergegas menuju tempat pengambilan bagasi lalu mengantri keluar dari gate kedatangan. Said celingukan mencari orang yang bertugas menjemputnya. Kalau wakil dari hotel yang jemput harusnya orang itu bawa papan bertuliskan nama gue kan?—pikirnya.


Tatapan Said yang kini semakin tajam akibat terasah oleh tuntutan profesinya sebagai supervisor handal dan penuh perhitungan mulai menyusuri setiap sudut ruang tunggu kedatangan di bandara itu. Sorot matanya melintasi setiap orang yang berdiri berjajar di balik batas penjemputan dengan cepat, hingga melewati sosok yang sepertinya ia kenal selama sedetik, tapi kemudian sorot matanya langsung kembali lagi ke arah sosok itu.


Kedua bola mata Said terbelalak lebar ketika hati dan pikirannya mengkonfirmasi siapa sosok yang tengah dilihatnya itu. Milla!—panggilnya dalam hati. Perempuan yang kini tampak dewasa itu jelas-jelas membalas tatapannya, dan juga tersenyum padanya. Seolah wanita itu berada di sana memang untuknya.


Senyum lebar mengangkat sudut-sudut bibir Said. Mulutnya yang perlahan membentuk huruf O, memisahkan bibir atas dari bibir bawahnya dengan jarak yang tidak berlebihan. Said tercengang melihat sosok Milla yang tengah berdiri beberapa langkah di hadapannya itu. Sungguh berbeda dengan sosok gadis manis yang polos yang dikenalnya lima tahun lalu.


Said berjalan dengan langkah-langkah lebar, berusaha menutup jarak yang terbentang di antara dirinya dan Milla. Matanya mengamati gadis itu lekat. Dilihatnya Milla menyunggingkan senyum dari bibirnya yang dipoles lipstick nude yang sangat cocok dengan warna kulitnya eksotis.

__ADS_1


Make up minimalis namun sesuai dan tak berlebihan membuat penampilan Milla kini tampak lebih matang. Ditambah lagi gaya berpakaian gadis itu yang juga terkesan lebih dewasa namun sopan. Dengan celana panjang hitam, blouse knit polos berwarna pink muda dipadu dengan blazer putih gading yang bergaya kasual. Membuat lekuk tubuh wanita dewasa Milla memancar dengan bebas dan begitu indah.


Meski berpenampilan sopan, namun semua itu justru semakin menggoda iman Said. Naluri lelakinya yang semakin bertumbuh dewasa sangat tergoda dengan perubahan Milla yang jauh lebih cantik dan tampak berkelas ketimbang terakhir kali mereka bertemu, yaitu saat dirinya melepas Milla untuk melanjutkan studi di Singapura dibawah sponsorship dari Takhta Grup.


Tubuh Milla mungkin tertutup, tapi pakaian yang dikenakannya justru menonjolkan lekuk tubuh menarik yang baru saja dipikirkan Said. Jantung Said berdebar lebih cepat. Membuat darahnya langsung menggelegak. Sebuah tantangan samar bangkit secara perlahan di dalam kepala Said yang menginginkan untuk melihat lebih banyak lagi bagian dalam dari tubuh Milla yang tertutup itu.


Astaghfirullah! Syaiton nirojiim ... Dasar mesum! Durjana!—Said memaki pikirannya sendiri. Susah payah ia menelan salivanya demi membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.


Said mengamati hidung mancung Milla sebelum berpindah ke bibir yang tampak ranum. Bibir itu membuat Said penasaran bagaimana rasanya jika bersentuhan dengan bibirnya sendiri. Akankah selembut dan sekenyal seperti yang terlihat?—pikirnya menerawang. YA ALLAH! Apa-apaan otakku ini? Segitu desperatenya aku sampe-sampe baru ketemu lagi sama Milla isi kepalaku langsung dipenuhi adegan mesum.


Said sampai harus berkali-kali beristighfar dalam hati demi mengusir setan mesum yang bersemayam di otaknya. Lelaki itu masih bergulat dengan pikiran kotor di kepalanya ketika Milla mulai membuka suara.


"Bapak Said Najib dari Tahanina Airlines, perkenalkan ... saya Millana Risty, perwakilan hotel yang akan anda tinggali selama satu bulan pertama masa jabatan anda di Indonesia." Milla menutup perkenalannya dengan anggukan kepala dan badan yang sedikit membungkuk tanda hormat.


Mendengar perkenalan Milla yang begitu resmi, Said pun terbengong dan melupakan kesan cool yang selama ini telah tertanam dalam dirinya. Ia mengulang-ulang kalimat perkenalan Milla dalam kepalanya hingga tercerna sepenuhnya.


Kalau Milla perwakilan dari hotel tempat tinggalku nanti, berarti dia sudah balik ke Tanah Air dong? Berarti aku bisa ketemu Milla lagi setiap saat dong? Kesimpulan yang ia rangkum dalam kepalanya seketika membuat hati Said berbunga-bunga.


Layaknya seseorang yang baru memenangkan hadiah utama, Said langsung berseru sembari menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, "ALHAMDULILLAH!"


.


.


.


To Be Continue...


*Cockpit (Kokpit) atau Flight Deck adalah sebuah ruangan khusus yang biasanya terdapat di bagian depan pesawat yang dari dalamnya pilot bisa mengendalikan pesawat terbang. Kokpit terdiri dari Flight Instrument (Instrumen Penerbangan) dan Flight Control (Kontrol Penerbangan) yang memungkinkan pilot untuk mengendalikan pesawat.

__ADS_1


__ADS_2