
Esok harinya, saat posisi Matahari sudah berada tepat di atas kepala, Keira yang baru bangun dan baru saja membuka jendela kamar lamanya dikejutkan oleh penampakan Tyo yang baru saja turun dari mobilnya yang sudah terparkir di depan pagar rumah Beth itu.
"Ya Ampun!" pekik Keira.
Gadis itu lalu berlari ke arah kamar sebelah guna mencari sahabatnya, Beth.
"Beth, tolongin gue!" pinta Keira langsung begitu dirinya membuka pintu kamar Beth.
Si pemilik kamar yang masih tiduran santai dengan posisi tengkurap menatap majalah di depan wajahnya hanya mendongakkan kepala sambil melongo pada Keira.
"Apaan?" jawabnya singkat.
"Tyo ada di depan. Buruan!"
"Buruan apaan?" Beth mengernyitkan keningnya tanpa beranjak sedikit pun dari posisinya semula.
Keira yang gemas dengan kecuekan Beth langsung mendekati gadis itu lalu mengguncang-guncang tubuh Beth.
"Buruan bukaiiinnnn!" Keira jadi sedikit kesal.
"Lah napa harus gue? napa gak lo aja? Kan lo dah melek, lagian tuh cowo pasti mo nyamperin elo. Gak mungkin banget nyamperin gue kaliiik." Beth nyerocos.
"Tapi gue belom mandi!" Keira merengek.
"Lo belom mandi aja udah cakep, Keira. Gak bakal ketauan deh kalo lo baru melek."
"Isshhh, tapi gue malu, Beetthh. Buruan tolongiiinnn, pleeaaseee!" Keira akhirnya sampai memohon pada sahabatnya yang satu itu.
"Lagian tuh cowo udah kaya jelangkung aja, Kei. Dateng tak diundang, pulang tak dianter!" canda Beth.
"Hush, apaan sih? Siang-siang udah ngomongin yang serem-serem amat!"
"Tapi klo jelangkungnya model begitu mah gue gak bakal takut, Kei. Sumpah!" cengir Beth.
"Udah sono buruan bukain pintunya!"
Beth memutar bola matanya dengan sebal, "Ya udah, ya udah, gue bukain. Buruan cuci muka sono. Awas lo kalo lama-lama!" ancam Beth.
"SIAP, Ndan!" goda Keira sambil melakukan pose hormat dihadapan Beth.
Beth pun segera berjalan menuju pintu utama, sementara Keira langsung berlari sambil menggelung rambutnya ke atas menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi secepat yang dia bisa.
Tyo yang baru akan memencet bel mengurungkan niatnya ketika dilihatnya Beth keluar dari pintu masuk dan berlari kecil ke arah pintu pagar.
"Dari tadi?" tanya Beth basa basi.
"Baru mau pencet bel." Tyo menggeleng.
"Masuk yuk!" ajak Beth setelah membuka pintu pagar.
"Keiranya ada?" tanya Tyo sambil melangkah melewati pagar.
"Adalaahhh, kagak bakal ilang kalo nginepnya disini mah, kan ada pawangnya." canda Beth sambil menepuk dadanya sendiri.
Tyo melangkah menuju pintu utama rumah Beth sambil tertawa mendengar candaan si pemilik rumah.
"Bentar aku panggilin Keiranya dulu ya!" pamit Beth pada Tyo yang sudah duduk di ruang tamu.
Di dalam kamar Keira,
"Ckckck, Adek kakak bisa sama-sama ganteng maksimal gitu emaknya ngidam apaan ya?" Beth merebahkan dirinya di kasur sambil menunggu Keira berganti baju.
"Don't ask me!" Keira cuek.
__ADS_1
"Tapi kok gue ngerasa doi ada rasa deh Kei ama lo."
"Hush, jangan ngomong aneh-aneh deh. Tyo itu kakaknya cowo gue, so wajar klo doi baik ama gue. Elo tuh harusnya ikutan seneng karena gue gak malah dibully ama kakaknya Argha." Keira berucap sambil melenggang pergi keluar dari kamar.
Beth yang ditinggal di kamar masih ngedumel, "Tapi kenapa feeling gue si Tyo emang ada rasa sendiri ya ama Keira." Beth mengedikkan bahu.
Tak mau lagi ambil pusing, dia pun bergegas ke dapur untuk membuatkan tamu itu minuman.
"Dua hari yang sibuk ya, Kei?" Tyo tersenyum.
Keira membalas pertanyaan Tyo dengan anggukan kepala dan juga senyuman yang tersungging manis dibibirnya.
"Namanya juga hidup, kita gak akan pernah tau apa yang terjadi hari ini, besok, dan seterusnya." Keira berujar dengan bijak.
Giliran Tyo mengangguk-anggukan kepalanya tanda dirinya setuju dengan ucapan gadis itu. Dalam hati Tyo semakin takjub akan pola pikir Keira yang dewasa.
"Ini." kemudian Tyo menyodorkan sebuah goodie bag kepada Keira.
"Apa ini?" Keira menatap heran pada goodie bag yang baru saja diterimanya dari Tyo.
"Ponsel baru dari Argha."
"Loh kok?" Keira merasa makin heran.
"Kemarin setelah nganter kamu pulang kesini, si Argha nelponin aku terus nanyain kamu yang gak bisa dihubungi. Trus aku jawab aja kalo ponselmu hilang, makanya dia nyuruh aku buat beliin kamu yang baru." jelas Tyo panjang lebar.
"Kamu cerita ke Argha soal kebakaran kemarin?" tanya Keira pelan.
"Belum, aku cuma bilang ponselmu hilang di tempat kerja tapi aku belum cerita bagaimana kejadian yang sebenarnya."
"Jangan cerita!" pinta Keira. "Jangan cerita apa-apa soal kejadian kemarin sama Argha. Aku takut dia makin khawatir." Keira menekankan.
Tyo terdiam sejenak lalu mengangguk kemudian. Dirinya akan menuruti apapun permintaan gadis itu. Karena Keira pasti memiliki alasannya sendiri untuk merahasiakan beberapa hal dari Argha---kekasihnya.
Keira tersenyum simpul. Selama ini, meski sekian hari berlalu setelah dirinya mengenal Tyo sebagai kakak dari kekasihnya, namun belum pernah sekalipun dirinya dan Tyo bertukar nomor ponsel layaknya dua orang yang saling mengenal dan mempunyai hubungan yang cukup baik dan dekat.
Walaupun demikian, semesta seakan tidak mempermasalahkan hal itu dan seolah-olah selalu berusaha mempertemukan mereka berdua entah secara sengaja maupun tidak.
***
@Ruang Kelas
Jam mata kuliah Tour Planning tinggal sepuluh menit lagi. Keira yang sedang mencatat rincian tugas yang dituliskan dosen di atas whiteboard tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar.
Gadis itu memilih untuk mengabaikan notifikasi yang masuk di ponselnya terlebih dahulu dan meneruskan kegiatan mencatatnya.
"Kerjakan tugas ini dalam bentuk kelompok. Karena tujuan kita kali ini hanya City Tour, usahakan kalian cari spot dalam kota yang sedang booming sebanyak-banyaknya. Spot yang dipilih boleh sama dengan kelompok lain karena tamu yang akan dihandle oleh setiap kelompok nantinya berbeda-beda, jadi bisa bekerja sama juga dengan kelompok lain dalam mencari topik untuk guiding." jelas sang dosen.
Vynt yang duduk dibelakang Keira mengangkat tangannya untuk bertanya.
"Konsepnya sightseeing aja atau pake drop off tamu, Bu?" Vynt bertanya.
"Karena keterbatasan waktu, jadi sightseeing saja. Untuk itu saya harap setiap anggota kelompok punya giliran untuk guiding on board, terserah mau manyampaikan informasi atau sekedar entertain. Dosen Guiding juga akan ikut on board untuk memberikan penilaian personal."
"Satu kelompok berapa orang, Bu?" tanya mahasiswa lain.
"Saya sarankan satu kelas dibagi menjadi empat wilayah kota, bagian utara, timur, selatan, dan barat. Jadi satu kelompok boleh terdiri dari tiga sampai empat orang." jelas dosen.
Tak lama, akhirnya terdengar bunyi bel berakhirnya mata perkuliahan.
"Sekian untuk hari ini, pertanyaan lebih lanjut boleh langsung japri saya. Terima kasih dan sampai ketemu minggu depan saat eksekusi tugas. Have a nice Day!" tutup sang dosen sambil tersenyum lalu keluar dari kelas.
Suasana kelas mendadak riuh, para mahasiswa langsung heboh mencari anggota kelompok mereka masing-masing.
__ADS_1
BRAK!
Tiba-tiba Vynt sudah ada di depan kelas dan menggebrak papan tulis. Seketika seisi kelas menjadi hening. Seluruh mahasiswa di kelas menatap ke satu arah yang sama, ke arah Vynt.
"Sebagai perwakilan kelas ini, gue milih Keira, Said, dan Beth untuk masuk kelompok gue! Sisanya, TERSERAH!" ujarnya lantang yang langsung membuat seluruh kelas kompak ber-Huuuuuuu ria.
"Tapi habis kuliah, gue traktir kalian semua ke Cafe Teluse sekalian kita pake wifi disana buat hunting bahan tugas kita kali ini." tambahnya lagi yang kali ini disambut tepuk tangan kompak dari seisi kelas sambil ber-Horeee ria.
"Sekarang kita bagi jatah wilayah per kelompok. Sistem kocokan aja ya biar cepet. Masing-masing ketua tim, buruan maju!" titah Vynt.
Ketika yang lain masih ramai membahas pembagian kelompok dan pembagian wilayah untuk tugas mereka, Keira terlihat membereskan binder dan alat tulisnya.
Setelah beres barulah dia memeriksa ponselnya.
"Ternyata Argha." gumam Keira pelan sambil tersenyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya.
๐ฉARGHA PRATAMA
Aq lg nunggu boarding. Gk sbr pgen ktmu kmu. Miss U so much
๐ฎKEIRA PERMATA
๐๐๐Miss U too๐๐๐
๐ฉARGHA PRATAMA
Indonesia, im coming ๐ซ
๐ฎKEIRA PERMATA
Safe flight yaa ๐
Tanpa menunggu balasan dari Argha, Keira segera memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas masih dengan senyum terukir dibibirnya.
"Baru dapet chat dari pacar gitu doang udah kaya orang kesambet lo, Kei. Senyum-senyum sendiri." Beth menyindir.
"Bodo amat, yang penting gue bahagia mau ketemuan ama cowo gue." sahut Keira dengan memonyongkan bibir.
"Gak kerasa ya udah dua bulan aja lo LDRan ama Argha." Beth meraih tasnya dari kursi lalu memakainya di pundak.
Keira hanya manggut-manggut mendengar ucapan Beth. Kedua gadis itu lalu beranjak menuju pintu untuk keluar dari kelas.
Masih dengan suasana hati yang berbunga-bunga, Keira memikirkan kembali beberapa peristiwa yang terjadi selama dirinya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya.
Keira merasa waktu berjalan begitu lambat selama melewati dua purnama itu, namun besok segalanya akan terbayar lunas ketika dirinya bisa bertemu muka kembali dengan sang kekasih yang rencananya akan berlibur selama seminggu di tanah air sekaligus merayakan anniversary jadian mereka yang ke satu tahun.
Langkah Keira seakan melayang hanya dengan memikirkannya saja. Senyum diwajahnya pun makin merekah mengiringi asa indah yang dinantinya esok hari.
*To Be Continue...
.
.
.
.
.
Makasiii banyaakkk buat yang sudah komen, jadi semangat lagi nulisnya niihh aQ. ๐๐๐
.
__ADS_1
Semoga makin sukaaa sama kisahnya Keira yaa ๐โ๏ธ*