Replacement Lover

Replacement Lover
Vynt Story : SUARA HATI


__ADS_3

Vynt berjalan ke arah lift dengan wajah serius karena sedang membaca pesan dari Hyung Jun-nya perihal motor yang akan dibelikan oleh Mr. Dong Dae-Ho.


Mr. Seo telah mengiriminya beberapa gambar serta spesifikasi motor yang menurutnya cocok untuk Vynt.


Ia sengaja mengirim semua pesan itu kepada Vynt pagi-pagi agar Vynt dapat segera menentukan pilihannya sebelum jam makan siang karena Mr. Seo ingin segera menyelesaikan pembelian motor itu hari ini juga.


Kemarin di balkon ruang HRD, selain curhat tentang pertengkarannya dengan Fady, Vynt juga mengeluh jika mobil yang dipakainya saat ini terlalu mewah. Hal itu jelas saja membuat Mr. Seo tertawa terbahak.


Bagaimana tidak, disaat banyak orang dari kalangan menengah yang begitu ingin menggunakan mobil mewah untuk keseharian mereka, malah Vynt yang justru orang dari kalangan atas merasa enggan mengendarai mobil mewah.


Mr. Seo Kang Jun sungguh tak habis pikir dibuatnya, benar-benar tak habis pikir. Tapi terkadang memang dunia ini sekonyol itu sih kenyataannya.


Saking fokusnya memilih spesifikasi motor yang telah dikirimkan oleh Mr. Seo, Vynt sampai tidak sadar bahwa dirinya hampir menabrak pintu lift yang masih tertutup.


Beruntung seseorang dengan cepat menarik lengannya hingga tubuhnya mundur beberapa langkah. "Hei, kalau jalan lihat depan, jangan lihat ponsel. Bahaya tau," omel Fady.


Vynt spontan teralihkan dari ponselnya, "Eh, iya, maaf. Makasih juga," jawabnya gugup.


Mereka berdua lalu berdiri di depan pintu lift untuk menunggu liftnya kembali turun setelah mengantar orang lain ke lantai atas. Karena Vynt kembali fokus pada ponselnya, mereka jadi berdiri di sana dalam keheningan.


Fady hanya melirik sekilas ke arah pemuda itu, visual Vynt yang tampak luar biasa dari samping membuatnya segera menghentikan lirikannya terhadap si anak magang.


"Morniing! Serius amat lihat ponselnya," sapa Enno yang langsung merangkul pundak Vynt dengan akrab.


Vynt tak menanggapi sapaan Enno dengan ucapan, namun hanya senyuman ringan yang tersungging di bibirnya.


Enno yang tanpa sengaja melihat ke layar ponsel Vynt yang menampakkan gambar-gamar motor beserta spesifikasinya langsung nyeletuk, "Kamu lagi nyari motor?"


Vynt menggangguk sekali tanpa menoleh ke arah si penanya.


"Bukannya kamu punya mobil?" tanya Enno lagi.


Lagi-lagi Vynt hanya menggangguk tanpa menoleh. Namun sedetik kemudian ia menyodorkan ponselnya ke depan wajah Enno.


"Menurutmu lebih baik mana, pilihan pertama atau kedua?" tanya Vynt pada Enno.


Enno sempat tercengang tiba-tiba disodori pertanyaan semenarik itu oleh Vynt, namun ia lalu meraih ponsel Vynt dari tangan pemiliknya dan fokus menatap layar ponsel pemuda itu sambil memainkan jarinya untuk scroll ke bawah dan ke atas.


TIING!


"Guys, liftnya dah kebuka ini, ayo naik!" ajak Fady pada dua orang pria seTim-nya.


"Oh, okey! Ayo, No!" Vynt tampak mendorong punggung Enno yang masih fokus memperhatikan jenis motor dari layar ponsel Vynt.


Fady yang melihat interaksi keduanya hanya geleng-gelang kepala.


"Menurut aku sih, malah yang nomor tiga yang cocok buatmu, Vynt!" akhirnya Enno memberikan suaranya.


"Why?" kali ini Vynt mencondongkan kepalanya ke depan layar ponsel sambil mengerutkan kening.


"Menurut aku tinggi bodynya pas buat tinggimu, terus mesin jenis ini lebih gampang diperbaiki di Bangkok. Merk ini memiliki lebih banyak bengkel resmi tersebar di Bangkok ketimbang merk lainnya," terang Enno.


Vynt nampak manggut-manggut, "Aku juga tadi sempet mau milih itu tapi ragu-ragu," jawab Vynt jujur.


TIING!


Bunyi lift kembali berdenting tanda mereka sudah sampai di lantai tujuan. Ketiganya lalu keluar dari lift secara bergiliran dengan Fady yang keluar lebih dulu.


"Oke deh, kalo gitu aku ambil yang itu saja. Trims ya, No, atas sarannya," ucap Vynt tulus sambil menepuk punggung Enno pelan.


"Sama-sama, Brow," sahut Enno sambil membalas tepukan Vynt di punggung pemuda itu.


"Wuidiihh... kamu mau kemana Hell, rapih banget gituh?" tanya Enno ketika ia melihat penampilan Helmy yang sudah lebih dulu berada di ruang kerja mereka.


"Tebak je laahh? Yakali rapih gini mau nguras ******, hellaaawww! Saya tuh nak de meeting di Hotel Sathorn," Helmy yang berbangga hati jadi keluar deh logat Malaysianya.


"‌Woow, TERBAIK!" sahut Enno dengan mengacungkan dua jempolnya.


‌Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon di ruangan itu. Fady yang terdekat dengan posisi telepon langsung mengangkatnya.

__ADS_1


Ternyata Mr. Seo yang menelpon dan ia menyuruh Helmy untuk melakukan kroscek ulang laporan keuangan dari project tour mereka sebelumnya karena ada keluhan dari bagian akunting dan Helmy lah penanggung jawab keuangannya saat itu.


Lalu Fady menginformasikan pada Mr. Seo jika Helmy hendak meeting dengan klien di luar kantor, tapi Mr. Seo tetap ngotot menyuruh Helmy menyelesaikan tanggungannya dulu. Alhasil batallah rencana Helmy untuk meeting di hotel mewah.


Lalu Mr. Seo malah mengutus Fady untuk menggantikan Helmy meeting di hotel. "Ajaklah Vynt sekalian agar dia mendapatkan pengalaman dari meeting itu," titah sang HRD.


"Yes, Sir!" ujar Fady lalu menutup teleponnya.


"Helmy, maaf tapi Mr. Seo ngotot menyuruhmu mengkroscek laporan keuangan kemarin. Dan menyuruhku menggantikanmu untuk pergi ke meeting itu," ujar Fady merasa tidak enak.


"Whyyyyy?" Helmy menjerit lebay sambil melorot ke lantai. Namun sedetik kemudian ia kembali berdiri tegak. "Aahh ya sudah lah, dari pada meratapi nasib mendingan aku buru-buru selesaikan laporan itu sebelum Mr. Seo berubah jadi Super Saiyya jilid empat."


Dengan wajah pucat Helmy lalu segera melaju menuju kubikelnya untuk menggambil laporan keuangan yang dimaksud lalu berlari kecil melewati teman-temannya sambil berteriak,


"Wish me luck ya guys! Do'ain aku masih selamat sehat wal'afiat setelah keluar dari ruang HRD nanti," ujarnya sambil menuju ke arah lift dan segera naik ke ruang HRD menemui Mr. Seo.


Teman-teman lain yang melihat tingkah ketakutan Helmy barusan langsung tertawa terbahak-bahak. Tapi mereka maklum, pasalnya Mr. Seo jika sudah marah seolah gedung ASTRO Tours akan runtuh seketika.


Tentunya hanya Vynt yang belum pernah mengetahui sosok mengerikan di balik sikap profesionalisme pria itu.


****


‌Di Eastin Grand Hotel Sathorn, Bangkok, Fady dan Vynt yang sudah merampungkan meeting mereka dengan klien dari Malaysia segera menuju pintu keluar untuk kembali ke kantor ASTRO Tours.


Namun, ketika mereka melewati lobi hotel yang megah itu, secara tidak sengaja Fady seperti melihat seseorang yang dikenalinya. Ia melihat orang itu di deretan meja reservasi hotel. ‌


Meski ia hanya melihat dari bagian belakang orang itu, tapi keyakinan Fady entah kenapa begitu mencuat dari dalam hatinya. Meski begitu kaki-kakinya terus melangkah bersama Vynt menuju area parkiran hotel.


Fady seketika gelisah saking penasarannya. Ia ingin sekali mengkroscek kebenaran fakta apakah memang orang yang dilihatnya sekilas tadi adalah orang yang di kenalnya.


Vynt yang menyadari ekspresi keraguan Fady serta gestur berjalannya yang seakan enggan untuk melangkah lagi langsung bertanya, "Ada apa? Kok mukamu begitu?"


"Ah, apa? Enggak, enggak apa-apa kok," jawab Fady gugup.


Tapi Vynt justru makin curiga melihat kegugupan Fady itu. Namun, dia masih diam saja karena belum mengerti apa yang membuat Fady jadi bersikap demikian.


Saat mereka sudah tiba di samping mobil, Vynt yang membuka pintu lebih dulu di bagian kemudi jadi terpaku melihat Fady yang mematung dengan tangan yang sudah memegang handel pintu mobil namun belum membukanya.


"Vynt, kayanya tadi ada yang ketinggalan deh di tempat meeting kita. Coba aku periksa dulu ya, kamu tunggu di sini aja, enggak lama kok."


Dan Fady pun langsung melesat tanpa menunggu respon jawaban dari pemuda magang itu.


Vynt sempat bengong sesaat melihat tingkah aneh Fady. Ia ingat dengan jelas jika tidak ada yang tertinggal di dalam sana karena ia sudah memeriksanya sebelum mereka pergi. Vynt jadi berpikir apakah ini hanya akal-akalan Fady saja untuk bisa kembali ke dalam hotel dan melakukan sesuatu. Tapi apa?


Di dorong oleh suara hati, Vynt akhirnya mengikuti Fady secara diam-diam. Dan ternyata Fady pun juga sedang mengikuti orang lain secara diam-diam.


Fady mengikuti seorang pria yang sedang berpelukan mesra dengan seorang wanita. Melihat arahnya mereka sepertinya sedang menuju ke arah lift.


Sebuah kunci kartu terselip di mulut sang pria sebagai tanda mereka sudah menyelesaikan prosedur check in hotel. Itu artinya mereka sedang menunggu lift untuk naik ke kamar yang telah mereka pesan.


Fady melihat kedua orang itu dengan jarak yang sedikit jauh, sementara Vynt melihat Fady yang mengintai dua orang itu dari kejauhan.


Tak lama Fady nampak shock sambil menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat pria dan wanita tadi saling berciuman mesra di depan pintu lift yang masih tertutup.


Vynt dapat melihat dengan jelas ekspresi Fady yang seolah terluka. Bagaimana tidak jika Fady baru saja melihat dengan mata kepalanya sendiri kekasihnya—Adent sedang berciuman dengan wanita lain dan sedang menuju ke kamar.


Entah apa yang mereka berdua lakukan di dalam sana setelah ciuman yang panjang dan panas itu. Fady sakit hati. Air matanya mengalir tanpa peringatan. Namun dia tidak ingin gegabah. Ia masih mencintai kekasihnya itu, dan melabrak mereka langsung saat itu juga bukanlah gaya Fady.


Ia akan bicara empat mata pada Adent secepatnya. Diam-diam Fady memotret adegan ciuman itu dengan kamera ponselnya sebagai bukti. Bukti yang akan ditunjukkannya kepada Adent saat mereka bicara serius nanti.


Vynt turut melihat semua yang Fady lakukan di belakangnya. Dan ketika Adent serta wanita selingkuhannya menghilang dari balik pintu lift. Vynt dapat melihat Fady menyeka air matanya sebelum akhirnya berjalan kembali ke arahnya. Ke arah parkiran mobil di hotel itu.


Vynt langsung melesat kembali ke dalam mobil lebih dulu agar Fady tidak tahu bahwa ia mengikuti wanita itu.


Di luar dugaan Vynt, Fady kembali ke mobil dengan ekspresi biasa. Tak ada luka ataupun air mata lagi di sana. Wanita itu benar-benar sudah menghapus semuanya. Seolah semua ekspresi sakit hatinya tadi tidak pernah ada. Meski mungkin untuk sementara saja.


"Sorry, ternyata enggak ada yang ketinggalan kok. Yuk kita buruan balik kantor," ucapnya sambil memasang sabuk pengaman.


Vynt tetap diam namun memperhatikan raut wajah Fady. Memang ada bekas air mata di sana, jadi Vynt yakin ia tak salah lihat bahwa wanita yang sedang duduk di sampingnya itu baru saja menangis.

__ADS_1


Tapi kenapa Fady berpura-pura tegar di hadapan Vynt? Apakah Fady berpikir Vynt bukanlah siapa-siapa jadi tidak harus tahu apa yang telah terjadi padanya hingga ia sampai menangis.


Vynt melajukan mobilnya sambil menerka-nerka dalam hati. Namun banyak hal yang menjadikan alasan bagi Fady untuk tidak memperlihatkan lukanya di hadapan pemuda itu. Dan satu hal yang pasti adalah, Vynt hanyalah orang luar di dalam kehidupan pribadi Fady.


Entah kenapa Vynt tiba-tiba merasa kecewa akan keadaan itu dan sedikit kesal karenaya. ‌Karena tanpa Vynt sadari, saat itulah Vynt mulai tertarik pada karakter Fady yang menurutnya kuat di sisi yang satu sekaligus lemah di sisi yang lain.


Malam itu Vynt melihat Fady pulang sendiri tanpa dijemput kekasihnya. Hal itu semakin menguatkan dugaan Vynt jika pria yang dilihat Fady di hotel tadi adalah kekasihnya.


Namun selang satu hari berlalu, esoknya ketika pulang kerja, Vynt tanpa sengaja melihat Fady kembali dijemput kekasihnya.


Dan lagi-lagi, di dorong oleh suara hati, Vynt tanpa sadar mengikuti mobil yang membawa Fady. Sebisa mungkin Vynt menjaga jarak mobilnya agar Fady tidak tahu bahwa Vynt membuntutinya diam-diam.


Tiba-tiba di sebuah jalan yang sepi, Vynt melihat mobil kekasih Fady itu berhenti untuk beberapa saat. Hingga kemudian ia melihat seorang pria turun dari sisi kemudi lalu berputar menuju pintu kursi penumpang di mana Fady duduk.


Tak lama Vynt pun melihat ketika Fady ditarik turun dari dalam mobil oleh pria itu lalu Fady didorong hingga tersuruk di atas trotoar. Dan setelahnya, pria itu nampak kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Fady begitu saja di tepi jalan.


Rahang ‌Vynt mengeras melihat adegan demi adegan kasar yang menimpa seniornya itu. Tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram roda kemudi kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Ia lalu turun dari mobilnya yang sudah terparkir tak jauh dari tempat Fady terduduk di atas trotoar lalu berlari ke arah wanita itu.


"Fady! Kamu kenapa duduk di sini? Kamu enggak apa-apa? Kamu terluka?" cecar Vynt pada Fady yang bingung atas kemunculan Vynt yang tiba-tiba.


"Vynt, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Fady heran.


"Aku sedang putar-putar cari makanan, dan kebetulan lewat sini lalu lihat kamu duduk di tepi jalan. Memangnya apa yang kamu lakukan?" Vynt beralasan.


Ia masih mencoba menarik batas antara senior dan junior dalam hubungan mereka. Makanya Vynt memutuskan untuk tidak jujur, karena jika ia terus terang telah melihat Fady di kasari, mungkin wanita itu akan sangat malu padanya.


"Aku mau pulang, sedang mencari taksi dan tiba-tiba aku terjatuh sendiri. Mungkin kakiku kecapekan." Fady jelas berbohong padanya, tapi Vynt menunjukkan wajah seolah ia percaya dengan ucapan wanita itu.


Vynt jadi merasa miris. Namun, bibir Vynt tak mampu meneriakkan suara hatinya yang marah setelah melihat Fady terluka akibat pria kasar itu.


"Ayo kubantu berdiri. Akan kuantar kamu pulang," tawar Vynt lalu mengangkat pundak Fady agar wanita itu bisa berdiri tegak dan membimbingnya menuju mobilnya.


"Enggak usah Vynt, enggak usah repot-repot," tolak Fady.


Vynt bergeming. Ia tetap memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya dan secara perlahan membantu Fady duduk di kursi penumpang bagian depan.


Sebelum menutup pintunya, Vynt lebih dulu membuka mantelnya untuk ia letakkan di atas pangkuan Fady agar kaki wanita itu tidak kedinginan mengingat hari ini Fady memakai setelan kemeja dan rok pensil selutut.


Melihat Vynt yang seakan tidak mau dibantah lagi, Fady pasrah dan menurut saja saat Vynt memintanya memasang petunjuk jalan ke arah tempat tinggalnya.


‌Sesampainya di flat Fady, Vynt memaksa untuk membantu merawat luka di tubuh Fady yang terkena gesekan di trotoar. Vynt tahu ada beberapa luka di tubuh wanita itu. Ia melihatnya sekilas saat membantu Fady berdiri tadi.


"‌Aku bisa sendiri, kamu enggak usah khawatir," tolak Fady lagi.


"‌Emang kamu punya tangan berapa merasa bisa merawat lukamu sendiri? Tanganmu cuman dua, dan satunya terluka, mana bisa kamu merawat luka-lukamu hanya dengan satu tangan," Vynt ngotot dengan nada santai.


"Tapi..." Fady nampak masih ragu.


"Aku janji akan langsung pulang setelah membantu mengobati lukamu," tegas Vynt.


Akhirnya lagi-lagi Fady mengalah dan membiarkan ‌Vynt merawat luka-luka di tubuhnya. Vynt mengobati luka Fady dalam diam, tetapi hal itu malah membuat Fady berdebar. Apalagi saat Vynt menyentuh bagian kakinya yang terluka. Fady sampai tak bisa mengontrol debaran di dadanya.


Ya ampuuunnn, ini jantung kenapa sih berisik banget. Jadi salah tingkah di depan Vynt gini. Malu-maluin deh kamu, Fa, rutuk Fady dalam hatinya.


‌Setelah selesai merawat seluruh luka Fady, sesuai janjinya Vynt langsung pamit. Di luar dugaan Fady, Vynt mengusap kepalanya dengan lembut sesaat sebelum Vynt menghilang dari balik pintu flatnya.


‌Fady melongo, tetapi hatinya menghangat seiring menghangatnya bagian kepala yang tersentuh oleh tangan Vynt tadi. Ketulusan Vynt yang mengobatinya tanpa suara, dan semua perhatian Vynt padanya di mobil tadi, membuat Fady merasa bahwa Vynt bahkan bersikap lebih dewasa daripada usianya.


Dan malam itu, Vynt pun sukses membuat Fady melupakan kejadian menyakitkan yang telah dilakukan Adent terhadapnya.


To Be Continue...


.


.


.


.

__ADS_1


Aku masih di sini lhoo Readersku kesayangaannn, jangan kendorin like dan komennya yaa, Mood Boosterku bangeettt ituuu 😘😘😘❤️❤️❤️



__ADS_2