Replacement Lover

Replacement Lover
JUST ONE NIGHT


__ADS_3

Tyo duduk di tepi ranjang. Nampaknya pria itu sudah lebih dulu mandi melihat rambutnya yang masih basah dengan bulir-bulir air yang masih menetes sesekali dari ujung rambutnya.


Tyo mengusap tetesan air yang masih sedikit membasahi rambutnya itu dengan handuk yang bertengger di lehernya sambil terus memandangi wajah Keira yang masih terpejam.


Dibelainya lembut rambut Keira. Dinikmatinya wajah tidur gadis cantik yang semalam telah menyerahkan mahkotanya itu padanya.


Sedikit penyesalan merayap di pikiran Tyo. Seharusnya ia bisa lebih menghargai gadis yang dicintainya itu dengan melindungi mahkotanya, bukan malah mengambilnya dengan penuh nafsu seperti semalam, pikir Tyo.


Tapi Tyo sudah berencana bertanggung jawab akan Keira. Setelah kejadian semalam, dirinya tak mungkin melepaskan gadis itu lagi sebab hati dan tubuhnya sudah begitu membutuhkan Keira.


Belaian tangan Tyo turun hingga ke pipi Keira yang bersemu merah. Merasakan belaian lembut menjalar di pipinya, Keira yang masih berada di alam bawah sadarnya seketika tersenyum meski kedua mata gadis itu masih tertutup rapat.


Tyo yang melihat senyuman Keira pun ikut tersenyum. Entah apa yang sedang diimpikannya. Tapi Tyo berharap dirinya ada di dalam mimpi indah Keira.


"Nggg..." Keira mengerang perlahan.


Jiwanya yang perlahan telah kembali dari alam mimpi sedikit demi sedikit mulai mengembalikan kesadaran Keira. Rasa sakit di kepala dan sekujur tubuhnya mulai dirasakan Keira.


Keira mengerjapkan matanya pelan sambil menahan sakit kepalanya yang seperti habis terbentur lantai dengan sangat keras. Ketika matanya mulai terbuka sedikit, diusapnya selimut berwarna putih bersih yang dengan lembut dan hangat membalut tubuhnya itu.


"Sudah bangun?" tanya Tyo tepat saat Keira telah membuka matanya dengan sempurna.


"Hah!!" pekik Keira kaget.


Keira tersentak melihat seorang pria tampan bertelanjang dada dan hanya memakai celana jeans sobek-sobek yang sedang duduk di tepian ranjang tempatnya berbaring.


Gadis itu teramat kaget sekaligus terpesona melihat sosok Tyo yang nampak segar dengan rambut yang masih sedikit basah. Dan otot perutnya yang...ahhh, seketika wajah Keira memerah karena malu sendiri telah memperhatikan tubuh pria itu.


Keira menenggelamkan dirinya lagi di balik selimut yang langsung membuatnya sadar bahwa tubuhnya pun polos tak berbusana. Bagaimana bisa...??? Ohh...Keira baru ingat bahwa semalam dirinya sudah melakukan sesuatu yang sangat intim dengan Tyo.


Kegiatan yang seharusnya tidak dirinya lakukan tanpa ikatan yang jelas itu sudah terlanjur terjadi. Entah apa yang merasuki pikiran Keira semalam hingga ia begitu saja menyerahkan mahkotanya pada seorang Tyo Pratama.


Cintahkah? Nafsukah? Keira belum tahu pasti. Padahal hubungannya dengan Argha yang notabene kekasihnya sendiri bahkan tidak pernah sampai sejauh ini.


Sebongkah rasa sesal bersemayam di hati Keira. Meski begitu, entah kenapa Keira tidak terlalu sedih. Apakah dirinya sudah terpengaruh pergaulan bebas anak muda jaman sekarang. Keira tak sangsi mengingat teman-teman pun mayoritas penganut pergaulan bebas.


Namun Keira masih belum percaya bahwa dirinya pun bisa terseret nafsu seperti semalam hingga tak mampu berpikir logis lagi. Ternyata memang masih begitu banyak hal yang tidak Keira mengerti di dunia ini.


Tyo tertawa geli melihat tingkah Keira yang malu-malu lalu bersembunyi di dalam selimut. Dibukanya selimut Keira dalam sekali hentakan tangan yang langsung membuat gadis itu kaget bukan main.


"Kyaaa!!!" pekik Keira seketika refleks memegangi ujung selimut yang masih dapat diraihnya itu kuat-kuat.


Keira tidak ingin Tyo melihat tubuh polosnya di bawah cahaya yang terang benderang seperti ini.


"Kenapa? aku sudah lihat semuanya semalam?" goda Tyo sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Keira yang mulai panik.


Tanpa permisi, Tyo mengecup bibir Keira singkat. Keira melongo. Tyo menciumnya hanya dua detik namun cukup untuk membuat wajah Keira memerah layaknya kepiting rebus. Samar-samar dapat diciumnya aroma shampo dan sabun dari tubuh segar Tyo.


Takut nafsunya timbul lagi karena terlalu lama melihat tubuh polos Keira, Tyo akhirnya memilih bangkit dari tepian ranjang lalu berjalan menuju sofa.


"Mandilah dulu, berendamlah. Sudah kusiapkan air hangat di bath up." Tyo menyarankan tanpa menoleh lagi ke arah gadis itu. "Pakailah bathrobe yang ada di kamar mandi dulu sampai bajumu selesai dilaundry." tambah Tyo.


Keira bergeming. Otak Keira tidak fokus pada rentetan kalimat Tyo tapi malah fokus pada sosok super maskulin yang tengah berjalan menuju sofa tak jauh dari ranjang tempatnya melongo. Bahkan dari belakang pun, punggung Tyo yang belum tertutup apapun itu tampak sangat menggoda iman Keira.


"Kenapa, Kei? Butuh bantuanku ke kamar mandi?" Tyo yang sudah duduk di sofa merasa heran melihat Keira yang hanya diam saja. Mematung di atas ranjang.


Keira salah tingkah, merasa tercyduk telah memelototi tubuh Tyo hingga dirinya pun secepat kilat melarikan diri ke kamar mandi dengan selimut yang lebih dulu ia lilitkan ditubuhnya.


Di dalam kamar mandi jantung keira berdegup kencang. Dia masih tak percaya sudah melakukan hal seintim itu dengan Tyo. Ingatan Keira mengembara kembali ke malam tadi.


***


Setelah mendapat persetujuan Keira, Tyo dengan cepat meraih pinggang gadis itu dengan lengannya yang kekar untuk merapatkan tubuh mereka berdua.

__ADS_1


"Apa kamu takut?" tanya Tyo dengan suara yang serak karena telah dikuasai hasratnya.


Keira mengangguk menjawab pertanyaan Tyo, tak mampu lagi bicara karena nafasnya yang tercekat oleh gemuruh nafsunya sendiri. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi Keira.


"Apa...kau...pernah melakukan ini... sebelumnya?" suara Tyo putus-putus. Konsentrasinya terbagi antara mengatur nafasnya yang naik turun dan gerakan tangannya yang berusaha untuk membuka kait pakaian dalam di punggung Keira.


Kembali Keira hanya menggelengkan kepalanya. Tyo tersentak sesaat namun sedetik kemudian sebaris senyum tersungging dibibirnya.


Meski Keira dan Argha sudah berpacaran hampir setahun lamanya, rupanya hubungan mereka berdua bahkan belum sampai sejauh ini, pikir Tyo.


"Aku janji, aku akan melakukannya dengan lembut." bisik Tyo tepat ditelinga Keira.


Membuat bulu kuduk gadis itu merinding oleh deru nafas Tyo yang begitu dekat hingga menyentuh kulitnya.


Untuk selanjutnya, Keira menyerahkan kendali penuh pada Tyo. Dibiarkannya pria itu melakukan tugas-tugasnya. Melepaskan hasratnya.


Keira memilih untuk menikmatinya saja. Menikmati setiap sentuhan, setiap ciuman, dan apapun yang dilakukan pria itu pada setiap jengkal bagian dari tubuhnya.


Sesekali Keira mendesah, tak jarang pula suara erangan lolos dari bibirnya yang sibuk memanggil-manggil nama Tyo kala pria itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang.


Terus begitu berulang-ulang hingga suara desahan panjang mereka serukan bersamaan seiring tercapainya klimaks yang menjadi akhir dari permainan mereka berdua malam itu.


***


Keira menenggelamkan dirinya dalam bath up untuk menghentikan ingatan akan tubuh polos Tyo yang **** dan memeluknya semalam, ingatan akan adegan mesumnya bersama Tyo.


"Bluupp..blup..blup.." Keira menjerit histeris di dalam air sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya di dasar bath up.


Ketika kepalanya timbul lagi ke atas permukaan air, Keira mulai berpikir kembali. Bagaimana status hubungannya dengan Tyo setelah ini? Dan bagaimana perasaan pria itu terhadapnya. Bagaimana pula perasaan Keira yang sebenarnya pada Tyo? Suka-kah? Atau hanya pelarian kah? Keira benar-benar kebingungan.


***


"Tubuhmu baik-baik saja?" tanya Tyo sambil menyajikan french toast dan segelas latte di hadapan Keira.


"Kita sarapan dulu. Isi perutmu. Semalam kita bahkan tidak makan malam." ujar Tyo lalu menuangkan kopi hitam untuknya sendiri.


Keira tak habis pikir bagaimana pria ini bisa dengan bebas bertelanjang dada di hadapan seorang gadis, well..walaupun semalam bahkan Tyo tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya saat mereka bercumbu.


Keira yang lagi-lagi mengingat kenangan 'panas'nya dengan Tyo buru-buru menyeruput latte-nya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.


Tyo terus saja memperhatikan gerak gerik Keira setelah gadis itu keluar dari kamar mandi. Canggung sekali, pikir Tyo.


Tok-Tok-Tok, Room Service.


Terdengar ketukan dan suara dari luar pintu.


"Mungkin itu baju kita." gumam Tyo lalu segera bangkit untuk membukakan pintu.


"Permisi, saya mengantar baju anda yang sudah selesai dilaundry." sebuah suara perempuan terdengar dari arah luar kamar.


"Ok. Saya terima. Terima Kasih." balas Tyo singkat.


Namun nampaknya staff perempuan itu belum mau beranjak pergi dari tempatnya.


"Anu..apa ada yang bisa saya bantu lagi Mas, eh..Pak?" tanya staff hotel itu lagi tampak gugup.


Keira yang mendengarnya dari dalam kamar merasa yakin seyakin yakinnya jika staff hotel itu pasti sudah terpesona pada Tyo.


Bagaimana tidak bila pria itu membuka pintu kamar dengan bertelanjang dada seolah sedang memamerkan tubuh maskulinnya yang menawan, pikir Keira kesal mengira Tyo adalah pria yang suka tebar pesona.


"Tidak, terima kasih." jawab Tyo singkat padat dan tegas sambil menutup pintu bahkan tanpa menunggu staff hotel itu pergi lebih dulu.


Kali ini Keira jadi senang dengan sikap dingin Tyo pada staff hotel itu. Yang membuktikan bahwa Tyo ternyata bukanlah pria yang suka tebar pesona seperti dugaannya barusan.

__ADS_1


Setelah menutup pintu, Tyo segera mengambil bajunya yang masih terbungkus plastik laundry. Membuka plastiknya lalu langsung memakai kembali kaosnya tepat di hadapan Keira.


Sementara baju Keira yang juga masih terbungkus plastik diletakkannya di atas ranjang yang entah sejak kapan sudah tertata rapih seperti belum pernah ditiduri.


"Lalu..." Tyo melanjutkan obrolannya sesaat setelah ia kembali duduk di hadapan Keira.


"Menurutmu hubungan kita sekarang bagaimana, Kei?" tanya Tyo to the point.


Keira yang hendak menyuapkan seiris french toast ke dalam mulutnya otomatis melongo mendengar pertanyaan Tyo yang langsung pada intinya.


Pria ini sama sekali tidak bisa basa-basi, pikir Keira. Jujur hatinya belum siap menjawab pertanyaan itu, sebab sampai detik ini pun Keira belum menemukan jawabannya.


Tyo yang melihat reaksi kaget Keira jadi tercengang sesaat. Tak lama pria itu lalu meletakkan cangkir kopinya kembali dan mulai menatap lurus pada gadis yang sedang kikuk di hadapannya.


"Aku pikir hubungan kita berubah setelah apa yang kita lakukan ini." Sambil bersandar, Tyo melipat kedua tangannya di depan dada.


Keira masih diam saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa dan tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi pria dihadapannya ini.


"Apa kamu menyesal?" Suara Tyo semakin lirih.


Keira melirik sekilas ke arah Tyo lalu mengangguk perlahan kemudian menundukkan wajahnya. Gadis itu tidak berani menatap langsung wajah Tyo sejak pria itu menatap lurus ke arahnya.


Kali ini Tyo sangat kecewa melihat anggukan kepala dari Keira yang menyiratkan penyesalan gadis itu.


"Lalu apa maksudmu menyerahkan diri padaku semalam?" Tyo kembali bertanya sementara Keira kembali diam.


"Apa kamu menganggap yang kita lakukan semalam hanya one night stand?" Rahang Tyo mulai mengeras.


"Aku pikir kamu juga menganggap begitu." Keira akhirnya menjawab walaupun sedikit takut mengungkapkan isi pikirannya.


"Ya Tuhaan, Keira. Itu pengalaman pertamamu. Kamu pikir aku tidak akan bertanggung jawab terhadapmu?" suara Tyo mulai meninggi.


"Tapi aku sendiri yang setuju menyerahkan diriku. Aku tidak mau kamu terpaksa bertanggung jawab atas aku, Tyo." jelas Keira berusaha mengimbangi suara Tyo.


"Kau pikir aku melakukannya tanpa perasaan padamu?" tanya Tyo lagi. Dirinya tak percaya bahwa Keira masih belum menyadari perasaannya setelah semua ini.


Keira sekali lagi melongo mendengar ucapan terakhir Tyo barusan. "Apa maksudmu?" tanya gadis itu lirih.


Tyo yang frustasi pada ketidak peka-an Keira menarik rambutnya kebelakang. Lalu mulai menatap tajam lagi pada gadis didepannya itu.


"Aku Mencintaimu, Keira Permata. Bahkan sejak dulu, sejak Argha masih hidup. Apa itu sudah cukup jelas?" Tyo berkata dengan sangat tegas dan serius.


Membuat garpu yang sedari tadi dipegang Keira terjatuh dengan sendirinya.


To Be Continue...


.


.


.


.


Makasiii yang dah bantu VOTE jadi makin semangat nulisnya 😁


.


Makasii buanyakk juga yg dah komen minta up terus, komen kalian semua bagai cambuk buatQ Up tiap hari wlopun kerjaan dunia nyataQ juga seabrek, tp berkat kalian yang nagihnya ngalah-ngalahin dept collector jdi aQ tetep semangat. πŸ˜…πŸ˜†


.


Maaapphh klo blom bisa ngasih lebih dr 1bab sehari yaa, moga2 kedepannya bisaaa βœŒοΈπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2