Replacement Lover

Replacement Lover
VLORA


__ADS_3

@Apartemen Vynt


Sekembalinya dari apartemen Keira, Vynt bersandar pada daun pintu apartemennya sendiri sesaat setelah pemuda itu menutupnya dari dalam. Ditariknya nafas panjang lalu dihembuskannya lagi pelan-pelan.


Matanya menerawang sendu dengan kepala didongakkan ke atas. Kenapa? Vynt membatin. Kenapa harus Keira? tanyanya lagi entah pada siapa.


Perlahan ia beranjak menuju tempat tidurnya. Vynt menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas kasur yang membuat tubuhnya sedikit memantul lalu kembali lagi dan akhirnya terdiam disana.


Diangkatnya satu lengan ke atas keningnya. Tak lama Vynt memejamkan matanya seiring otaknya yang memutar kembali memori di masa lalu.


Memori tentang seorang gadis bernama Vlora yang pernah ada dalam hidupnya. Sebuah nama yang hingga detik ini pun masih terpatri dalam hatinya.


***


Enam tahun yang lalu, Vynt yang baru lulus sekolah menengah pertamanya mencoba mendaftar di sekolah menengah kejuruan yang sama dengan sekolah kakaknya---Vlora.


"Kamu yakin mau satu sekolah sama kakak kamu?" tanya Bundanya sambil menyerahkan piring penuh nasi kepada Vynt.


Pemuda itu hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bundanya.


"Aku kan harus nerusin bisnisnya ayah. Setelah aku survey, cuman di sekolah kakak yang jurusan Pariwisatanya paling bagus kualitasnya." jelas Vynt sambil mengunyah makanannya.


"Beneerr, mau nerusin usaha ayah? Nggak ada cita-cita lain gitu?" tanya Bundanya lagi. "Ayah sama Bunda nggak masalah kalo kamu punya cita-cita lain yang pengen kamu wujudkan."


"Ada sih, tapi fokus utamaku masih pengen nerusin usaha ayah. Aku nggak mau usaha ayah yang dirintisnya dari nol menguap sia-sia atau diambil alih sama orang lain. Aku nggak mau." tegas Vynt saat itu.


Bundanya hanya bisa tersenyum melihat keteguhan hati anak lelakinya itu.


"Ayahmu pasti tersentuh kalo denger sendiri kamu ngomong gitu, Vynt." ujar Bundanya.


"Biarin aja Vynt masuk sekolahku, Bun. Emang di sekolahku jurusan Pariwisatanya paling bagus kok. Apalagi kemaren baru menang Lomba Kompetensi Siswa se-Provinsi loh." ujar Vlora berbangga.


Vynt mengangguk-angguk menyetujui ucapan kakaknya itu.


"Iya, yang menang namanya kak Farida Husen kan, kelas dua jurusan Pariwisata."


"Loh kok tau?" tanya Vlora heran.


"Aku kan followernya di Instagram." aku Vynt sambil meringis.


"Waahh, jangan-jangan kamu naksir dia ya? makanya mau masuk sekolahku biar bisa pendekatan juga." tuduh Vlora pada adiknya.


"Apaan sih, enggak kok." Vynt langsung pura-pura fokus pada piringnya sambil menunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang malu.


"Heii, masih kecil nggak boleh pacaran dulu." timpal Bundanya.


"Kalo aku udah boleh belum, Bund?" tanya Vlora sambil bersandar manja pada pundak sang Bunda.


"Apalagi kamuuu, entar aja langsung Bunda nikahin kalo emang udah pengen punya pasangan." ujar Bunda Vynt sambil menyentil hidung Vlora.


"Yaaahhh, Bunda nggak asik." Vlora memonyongkan mulutnya pura-pura merajuk.


Vynt pikir, saat itu, pertanyaan Vlora hanya obrolan pengisi waktu luang semata, sama sekali tidak serius.


Tapi setelah Vynt benar-benar sudah menjadi siswa kelas satu di sekolah yang sama dengan sang kakak, dirinya mulai menemukan fakta yang mencengangkan.


Suatu hari, ketika jam istirahat, Vynt sedang bermain basket dengan teman-teman sekelasnya di lapangan depan perpustakaan.


Ketika bola basket yang dipakainya bermain kemudian menggelinding ke arah samping perpustakaan, Vynt yang terpaksa mengambilnya tanpa sengaja memergoki Vlora---sang kakak yang saat itu sudah kelas tiga, berciuman dengan seorang lelaki di kebun belakang perpustakaan yang sepi.


Vynt yang kaget jadi terbengong sesaat melihat adegan itu. Untungnya pikirannya cepat kembali sadar lalu dengan cepat pula dirinya bersembunyi di balik dinding agar Vlora dan lelaki itu tidak menyadari bahwa mereka sudah terpergok oleh Vynt.

__ADS_1


Vynt mengenali wajah pria itu sebagai Si Ketua Osis yang sama-sama kelas tiga seperti kakaknya. Namanya kak Marenda.


Meski sama-sama kelas tiga tapi jurusan keduanya berbeda. Sang kakak---Vlora, ada di jurusan Akuntansi sementara sang Ketua Osis---kak Marenda adalah kakak kelas satu jurusan dengan Vynt yaitu Pariwisata.


Anehnya, justru sepengetahuan Vynt, kak Marenda itu punya pacar dari jurusan yang sama alias satu kelas dengannya yaitu kak Nazla.


Lalu kenapa sekarang Vynt malah melihat kak Marenda berciuman dengan kakaknya sendiri---Vlora.


Apakah kak Marenda sengaja mendua dengan kak Vlora? apakah Vlora menikung Nazla dan pacaran diam-diam dengan kak Marenda? atau tanpa sepengetahuannya, kak Marenda sudah putus dari kak Nazla lalu kemudian menjalin hubungan dengan Vlora.


Aahh, Vynt pusing sendiri memikirkannya. Sebenarnya Vynt bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi masalahnya ini ada hubungannya dengan kakaknya, anggota keluarganya.


Melihat kakaknya pacaran diam-diam saja sudah membuat Vynt khawatir. Bagaimana reaksi ayah dan bundanya jika tahu ternyata putri mereka satu-satunya sudah berani menjalin kasih dengan lawan jenis hingga berani berciuman di sekolah seperti itu.


Vynt jadi galau sendiri. Apa yang harus dilakukannya. Lebih tepatnya apa yang bisa dilakukan seorang anak sepertinya untuk menyadarkan sang kakak bahwa apa yang dilakukannya itu salah.


Sejak saat Vynt mengetahui hubungan antara Vlora dan kak Marenda, entah kenapa, Vynt jadi lebih mengamati keseharian keduanya. Khususnya keseharian Vlora. Baik ketika di rumah ataupun di sekolah, Vynt selalu memperhatikan kakaknya itu.


Dan dari pengamatan Vynt sejak saat itu, Vlora memang menunjukkan gelagat sedang menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi.


Satu persatu sikap aneh dari sang kakak mulai Vynt temukan, seperti, Vlora mulai mengunci ponselnya dengan sandi. Tidak mau diajak pulang sekolah bareng untuk hari selasa, kamis, dan jumat dengan alasan yang nampak sangat dibuat-dibuat.


Pernah suatu sore, ketika Vynt bersama dengan Bunda dan kakaknya sedang bersantai di ruang tamu menunggu waktu makan malam sekaligus kepulangan sang ayah dari kantor. Vynt iseng bertanya pada Bundanya.


"Bun, kalo misalnya, misalnya nih ya...ada cewe yang suka sama Vynt, trus cewe itu pengen jadi pacarnya Vynt, gimana? boleh nggak?" Vynt pura-pura bertanya pada Bundanya yang sedang menonton televisi sambil melirik ke arah sang kakak.


Dilihatnya Vlora seakan langsung tertarik dengan topik yang diutarakan adiknya saat itu. Entah apa yang diharapkannya dari jawaban sang Bunda.


Sebelum menjawab pertanyaan anak lelakinya itu, sang Bunda lebih dulu tersenyum pada Vynt.


"Bilang aja, bundaku galak. Kalo kamu suka sama aku berarti kamu harus jadi menantunya karena aku nggak boleh pacaran, gituuu." Bunda Vynt mencoba mengajari anaknya sambil mengacak rambut Vynt dengan gemas.


"Ooh, gitu ya? berarti pacaran bener-bener NO ya Bund?" tanya Vynt lagi memastikan jawaban Bundanya sambil sekali lagi melirik reaksi sang kakak.


Bunda Vynt yang tak sadar dengan sikap aneh Vlora malah lebih fokus dan balik bertanya pada anak lelakinya.


"Emang anak Bunda yang selalu sok cool ini udah ada yang suka?" tanya Bunda Vynt penasaran.


Vynt yang tak lagi dapat mengamati reaksi sang kakak sejak gadis itu masuk ke kamarnya jadi terpaksa meladeni rasa penasaran Bundanya.


"Ya banyaklaahhh." jawabnya asal.


"Teruuusss, ada yang kamu suka nggak?" korek Bundanya lagi.


"Nggak, cewe sekolahan mulutnya berisik." jawab Vynt jujur apa adanya.


Mendengar jawaban ketus dari sang anak, Bunda Vynt langsung tertawa terpingkal dibuatnya.


Suatu pagi Vynt dikejutkan oleh suara kakaknya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.


Sang ibu yang panik mengira anak perempuannya masuk angin bergegas membuatkan teh hangat jahe sekaligus menyiapkan sup untuk Vlora. Namun entah kenapa perasaan tidak enak seketika merayap di hati Vynt.


Hari itu terpaksa sang kakak tidak masuk sekolah. Dan ketika Vynt tiba di sekolah, lagi-lagi dirinya dikejutkan oleh rumor yang berkembang dari mulut ke mulut para siswa bahwa ada kemungkinan kak Nazla dan kak Marenda dikeluarkan dari sekolah karena melanggar peraturan sekolah dan mencoreng nama baik sekolah.


"Gilaaa beneerr, tau nggak kalo kak Nazla dihamilin sama kak Marenda." kata seorang siswa perempuan yang suka bergosip.


"Eeh, serius lu?" sahut siswa lainnya.


"Iyeee, gue kan tetangganya kak Nazla. Bapaknya ngamuk-ngamuk sampe ngelaporin kak Marenda ke polisi. Makanya pihak sekolah jadi tahu trus dikeluarin deh mereka." tambah si tukang gosip.


"Kesian yaa, kak Nazla. Aturan yang dikeluarin kak Marendanya aja kan kak Marenda yang dipolisiin. Kak Nazla masa depannya gimana tuh kalo nggak lanjut sekolah. Tinggal dikit lagi lulus malah dikeluarin." timpal penggosip lainnya.

__ADS_1


DEG.


Sebersit pikiran buruk menjalar di benak Vynt. Mendadak dirinya teringat kondisi Vlora tadi pagi, lalu gosip yang tiba-tiba merebak di sekolah ini mau tidak mau membuat Vynt memikirkan yang tidak-tidak terhadap kakaknya.


Ketika Vynt pulang sekolah hari itu, dilihatnya sang Bunda yang sedang gundah gelisah karena Vlora mendadak mengunci diri di kamar. Membuat ketakutan Vynt semakin nyata dan membesar.


"Anak itu gimana sih, orang sakit kok malah pintunya dikunci. Gimana Bunda bisa ngerawat dia coba." omel Bundanya dari dapur.


Hingga malam tiba, sang kakak---Vlora, tak kunjung membukakan pintu kamarnya untuk siapapun. Bahkan ketika sang ayah pulang bekerja dan mencoba mengetuk pintu kamar Vlora atas permintaan sang Bunda pun, Vlora bergeming.


Dan saat tengah malam tiba, rumah Vynt dikejutkan oleh suara benturan benda keras yang berasal dari kamar Vlora.


Ayah, Bunda, dan Vynt serta dua orang asisten rumah tangga sontak terbangun karenanya. Membuat semua orang serentak menuju ke arah asal suara. Kamar Vlora.


Pak satpam yang sedang berjaga di pos dekat pintu gerbang pun tak luput mendengar suara keras itu dan juga langsung masuk ke dalam rumah.


"Ada apa pak?" tanya pak satpam pada ayah Vynt.


"Nggak tahu, mang Asep. Suaranya dari kamar Vlora." jawab Ayah Vynt.


Kemudian beliau dan Bundanya Vynt mencoba memanggil-manggil Vlora dari luar sambil terus mengetuk pintu secara bergantian. Sementara dua asisten rumah tangga mereka hanya berdiri dengan cemas.


Vynt yang seolah sudah tahu apa yang terjadi tiba-tiba berteriak pada semua orang yang ada disana.


"Dobrak pintunya!" perintah Vynt. "CEPAT DOBRAK PINTUNYA!" kali ini Vynt langsung mengambil kursi kayu tak jauh dari tempatnya berdiri lalu berusaha mendobrak pintu kamar Vlora dengan kursi itu.


Melihat usaha Vynt, seketika sang ayah dan pak satpam pun berusaha turut mendobrak pintu itu. Dan berkat usaha ketiganya, hanya dengan beberapa kali dobrakan saja pintu kamar Vlora akhirnya terbuka.


Namun ketika pintu itu telah terbuka dan semua orang melihat kedalamnya, seketika semua orang menjadi histeris karena melihat Vlora yang terkapar di lantai dengan darah yang mengalir deras dari pergelangan tangan dan tubuh bagian bawah gadis itu.


Vlora mengiris nadinya sendiri dengan pecahan kaca rias di kamarnya yang lebih dulu dia hancurkan sehingga menimbulkan bunyi yang amat keras dan membangunkan seisi rumah. Kamar gadis itu nampak berantakan seolah gadis itu baru saja mengamuk di dalamnya.


Vlora segera di bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan, namun karena kehilangan banyak darah, Vlora akhirnya tidak tertolong.


Ayah dan Bunda Vynt bagai tersambar petir dua kali kala dokter yang menangani Vlora melaporkan bahwa gadis itu tak hanya kehilangan darah dari nadinya yang terpotong tapi juga kehilangan banyak darah akibat keguguran.


Dari isi ponsel Vlora akhirnya semuanya terungkap, rupanya Vlora tengah hamil akibat hubungan bebasnya dengan Marenda, dan saat gadis itu mencoba meminta pertanggung jawaban Marenda, si Ketua Osis malah membeberkan fakta menyakitkan lain bahwa kekasih resminya, yaitu kak Nazla juga tengah hamil akibat perbuatannya.


Dan karena bapaknya Nazla melaporkan Marenda lebih dulu ke polisi mau tidak mau Marenda memilih bertanggung jawab terhadap Nazla dan bukan Vlora. Mengetahui hal itu membuat Vlora kemudian gelap mata dan membunuh dirinya sendiri.


Tragedi memilukan itu akhirnya membuat keluarga Vynt yang tadinya damai sejahtera menjadi dirudung duka dan trauma yang mendalam. Terutama bagi Bundanya yang malah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Vlora.


Rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam membuat Bunda Vynt jadi sakit-sakitan. Karenanya ayah Vynt membawanya pulang ke Korea untuk berobat dan berusaha memberikan suasana baru dalam hidup mereka agar tak selalu teringat akan kematian Vlora yang tragis.


Sejak saat itu Vynt hidup seorang diri di Indonesia. Karena dirinya tak sampai hati meninggalkan pusara sang kakak kesepian jika dirinya turut meninggalkan negara ini.


Tidak ada kehidupan yg benar-benar sempurna di dunia ini. Tidak ada keluarga yang tak punya masalah. Seindah apapun yang tampak dari luar, kita tidak akan pernah tahu persis. Aib apa, atau derita apa yang mereka pernah alami dan mereka simpan selama ini.


***


Setelah kembali dari lamunan panjangnya, Vynt tepekur dengan pandangan lurus ke langit-langit.


Jangan lagi! Tragedi itu tidak boleh terulang lagi dalam hidupnya. Jangan lagi ada korban untuk kasus yang serupa dengan orang-orang terdekatnya. Tidak pula dengan Keira.


Vynt sangat tahu bagaimana menderitanya hidup sahabatnya itu selama ini. Dan Vynt sangat menyayangi Keira layaknya adiknya sendiri. Kali ini dia tidak akan membiarkan Keira berakhir seperti Vlora.


Aku harus melakukan sesuatu kali ini! Ikrarnya pada diri sendiri.


To Be Continue...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2