
.
.
.
Demi segera merestorasi dan mendapatkan dokumen-dokumen pentingnya kembali, selama dua hari Milla sibuk mondar mandir mencari salinan dokumen-dokumen itu di kampusnya. Untungnya Said—tetangga baru sekaligus kakak tingkatnya, selalu siap sedia mengantar dan menemaninya kemanapun.
Namun, ketika Milla bermaksud mengunjungi bekas Pantinya untuk meminta salinan akte kelahirannya, sesuai informasi dari Tyo, Milla memilih pergi bersama Pak Agus dari Takhta Grup. Hal itupun disampaikan Milla kepada Said malam sebelumnya ketika pemuda itu bertanya tentang rencana ke Panti via chat.
📩SAID NAJIB
Hai, Mill. Besok kamu jadi ke Panti?
📮MILLANA RISTY
Jadi, Kak.
📩SAID NAJIB
Q antar ya? Brgkt jam brp? Pulangnya sekalian ke Mall boleh klo kamu mau lgsg nyari ponsel baru. Tp klo kmu masih mo minjem punyaQ gpp juga sih ✌🏼😁✌🏼
📮MILLANA RISTY
Maaf Kak, tp kata Mba Keira besok aQ perginya sama org dari Takhta Grup. Jadi Kak Said nggak perlu nganterin aku 😊🙏🏻
📩SAID NAJIB
Oia, siapa?
📮MILLANA RISTY
Kalo nggak salah namanya Pak Agus, org yg nantinya bantu merestorasi dokumen²Q.
📩SAID NAJIB
__ADS_1
Oh, gitu.
📮MILLANA RISTY
Iya, maaf ya, Kak. Dan makasi dah nawarin. Mungkin plgnya dr Panti kita bisa ke Mall kalo Kak Said nggak repot.
📩SAID NAJIB
Oke, deh.
📮MILLANA RISTY
Kalo gitu, sampe ketemu besok Kak.
Milla bermaksud membubuhkan emotikon berkedip pada pesan terakhirnya, tapi ia urungkan karena malu. Ia khawatir Said akan menganggapnya genit saat melihat emotikon itu. Alhasil, Milla akhirnya hanya membalas dengan tulisan tanpa emotikon apapun.
Esoknya...
Milla baru keluar dari lift ketika dilihatnya Said sedang berbincang dengan Pak Agus di lobi. "Loh, kak Said! Dari mana?" tanya gadis itu dengan polosnya.
"Lebih tepatnya, mau ke mana," jawab Said sambil menyunggingkan cengiran khasnya.
Senyum jahil pemuda itu selalu tampak menarik di mata Milla—manis dan mempesona. Membuatnya merasa nyaman ketika berada di dekat pemuda keturunan Arab tersebut. Pemuda yang sejak kedatangannya dalam hidup Milla, selalu membawa keberuntungan dan kebahagiaan yang nyata bagi gadis itu. Selama masa hidupnya, belum pernah Milla merasakan saat-saat paling normal dan paling menyenangkan seperti saat ia bersama dengan Said.
Andai bisa selalu seperti ini!—batin Milla. Tapi mungkin harapan ini terlalu muluk untuk orang seperti aku. Milla tersenyum miris yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Kalau gitu kak Said mau kemana?"
"Mau nganter kamu."
"Hah?! Ke Panti?"
Said mengangguk sambil menyodorkan sebelah jempolnya ke hadapan Milla.
"Tapi kan aku mau pergi sama Pak Agus?" ucapan Milla barusan lebih menyerupai pertanyaan dari pada pernyataan, sebab wajah gadis itu nampak kebingungan dengan tingkah Said yang tak terduga.
__ADS_1
Said sekali lagi menganggukkan kepalanya, "Kita pergi bertiga, tapi kamu semobil sama aku. Jadi nanti pulang dari Panti, Pak Agus bisa langsung balik ke kantornya. Nggak harus bolak balik buat nganterin kamu."
"Ooh, begitu," Milla hanya merespon sekenanya sambil menatap Said dan Pak Agus secara bergantian, masih dengan ekspresi bingung.
Tanpa banyak bicara lagi, ketiganya lantas berangkat menuju Panti Asuhan bekas tempat tinggal Milla sebelum ia memutuskan untuk hidup mandiri. Sesuai dengan rencana Said, Milla semobil dengannya, sedangkan Pak Agus mengendarai mobilnya sendiri sambil mengikuti mobil Said dari belakang.
Diam-diam Said menyembunyikan perasaan groginya di depan Milla. Sejak ia mendengar bahwa Pak Agus akan mengantar gadis itu ke Panti untuk meminta salinan akte kelahirannya, Said langsung merasa cemburu. Ia sampai heran pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa cemburu pada Pak Agus yang jelas-jelas tidak akan melirik seorang gadis muda seperti Milla dengan statusnya yang sudah berkeluarga.
Namun, agaknya sisi rasional Said begitu mudah hilang jika menyangkut gadis yang bernama Millana Risty. Bisa-bisanya gue jelous sama Pak Agus. Parah banget! Malu-maluin aja!—Said membatin sambil melipat bibirnya dengan gugup. Begitu khawatir kalau-kalau sikap gugupnya terdeteksi oleh gadis yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya itu.
Setibanya di Panti, Milla langsung membawa Pak Agus menghadap pada Kepala Panti. Pak Kholis—Pengawas sekaligus Kepala Panti—nampak terkejut dengan kedatangan Milla yang tiba-tiba, apalagi gadis itu membawa serta seorang pria yang terlihat seperti seorang pebisnis eksekutif.
Meski awalnya terkejut dengan alasan kedatangan Milla, tetapi akhirnya Pak Kholis dapat mengerti dan mencoba membantu Milla dengan menyediakan salinan akte lahir yang dibutuhkan gadis itu.
"Bapak menyesal atas musibah yang kamu alami di luar sana Milla, tapi bapak bersyukur bahwa kamu baik-baik saja. Dan bapak do'akan, kamu bisa mendapatkan sponsor dari perusahaan Pak Agus agar kelak masa depanmu bisa cemerlang. Karena kamu anak yang baik, kamu berhak atas keburuntungan itu, Nak," ungkap Pak Kholis dengan mata yang menatap lembut kepada Milla.
"Terima kasih atas do'anya, Pak," balas Milla dengan mata berkaca-kaca.
Selanjutnya, ketika Pak Agus memutuskan untuk berbincang lebih lanjut dengan Kepala Panti, Milla memilih pamit karena merasa tujuannya telah tercapai. Bahkan iapun telah menyerahkan seluruh salinan dokumen yang berhasil didapatnya dari kampus kepada Pak Agus agar dapat segera diurus proses restorasinya.
Milla langsung celingukan mencari Said setelah keluar dari ruangan Kepala Panti. Merasa tak menemukan sosok pemuda yang dicarinya di sekitar situ, Milla memutuskan berjalan ke arah lapangan—tempat bermain para anak Panti—yang terdengar ramai meski dari kejauhan.
Tak disangka, Milla malah menemukan Said sedang bermain futsal dengan anak-anak Panti lainnya di lapangan itu. Melihat Said yang sedang antusias bermain, serta melihat keseruan yang dirasakan anak-anak Panti, Milla tak sampai hati memanggil pemuda itu dan menghentikannya bermain. Karenanya, Milla memutuskan menunggu Said sampai selesai bermain sambil duduk di pinggir lapangan.
Selang beberapa saat kemudian, permainan bola sepak itupun berakhir dengan kemenangan dari pihak tim yang Said ketuai. Layaknya pemenang pada umumnya, Said dan timnya melakukan selebrasi kemenangan dengan meriah meski tetap dengan sikap konyolnya yang tak pernah ketinggalan.
Saat sedang asyik berjoget sambil menggoyangkan pinggulnya dan berputar-putar, tatapan mata Said akhirnya bersiborok dengan tatapan Milla dari pinggir lapangan. Tatapan keduanya saling terpaku untuk sesaat, sampai Said tersadar betapa memalukan tingkahnya itu. Hal itu langsung membuatnya menghentikan aksi kocaknya karena malu setengah mati. Wajah Said yang kecoklatan sampai merah padam saking malunya.
Melihat reaksi Said yang salah tingkah setelah terpegok olehnya telah bersikap konyol, Milla akhirnya tidak mampu lagi menahan tawanya. Gadis itupun terbahak di tempat duduknya seorang diri. Membuat Said seketika ingin sekali menancapkan wajahnya sendiri ke dasar bumi.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue...