
.
.
.
Ditengah keramaian sesi makan bersama di resepsi pernikahan Vynt dan Fady itu, tiba-tiba Beth berpamitan kepada teman-teman semejanya khususnya pada dua orang yang punya acara.
"Mmm...., gaes! Sorry, gue enggak bisa lama-lama, gue mesti ikut penerbangan jam sebelas malam ini." pamit Beth pada Vynt dan Fady saat acara memasuki sesi makan-makan.
Sesuai permintaannya kepada wedding planner yang disewanya, Vynt meminta agar dalam sesi makan-makan, ia bisa duduk satu meja dengan para sahabatnya ketimbang dengan keluarga inti yang rata-rata berusia paruh baya.
Ia tak ingin mati gaya di tengah-tengah perbincangan berbobot para orang-orang tua itu. Dan ia pun tak ingin makan semeja hanya berdua dengan istrinya di atas panggung dan menjadi tontonan yang mencolok di mata tamu-tamunya.
Karena itulah ia lebih memilih makan bersama-sama para sahabatnya dalam satu meja yang sama.
"Yaaahhhh, lo kok buru-buru banget sih, Beth?!" Keira langsung menanggapi dengan nada kecewa meski tangannya sibuk menyuapi Argha kecil yang ada di pangkuan Tyo.
Untungnya bayi yang belum genap setahun itu menurut saja ketika disuapi oleh sang Mama. Mungkin efek dikerumuni banyak orang asing serta dipangku oleh sang Papa hingga membuatnya jadi lebih anteng daripada biasanya.
"Soalnya lusa gue ada meeting sama klien dari kedutaan Singapura, Kei! Mereka mau booking tiket grup pulang pergi untuk bulan depan!" jelas Beth.
"Tapi apa kamu enggak apa-apa, Beth, ikut penebangan malem gitu?" Fady nampak khawatir mendengar rencana Beth itu.
"Tenang aja, Beth nggak sendirian kok, gue yang bakalan temenin dia pulang ke Indo, makanya gue juga pamit dari sekarang gaes!" seru Rizzi.
"Hmmm...modus lo keliatan banget, Bang!" sindir Vynt pada Rizzi.
"Jangan kebanyakan modus tapi ujung-ujungnya mbladus!" Tyo menambahkan sindiran Vynt pada Rizzi.
Sementara yang disindir hanya bisa mencebikkan bibirnya melihat teman-teman semejanya sama-sama tertawa geli. Kecuali Beth tentunya, karena gadis itu nampak tersipu sendiri.
"Kita bahkan belom seru-seruan di sini. Mumpung lagi sama-sama di Korea, Beth!" Keira masih nampak kecewa.
Lagi-lagi ucapan Keira itu menohok ulu hati Tyo. Ia merasa bersalah atas kurangnya waktu bagi istrinya untuk refreshing bersama teman-temannya. Bahkan untuk diri Keira sendiri. Tyo pun berjanji dalam hati agar lebih dapat meluangkan waktunya untuk istri dan anaknya.
"Ya gimana, Kei! Namanya juga ada kerjaan, entar tanggung jawab gue ama si bos gimana?" sindir Beth sambil melirik Vynt yang notabene memang sudah menjadi Bos Besarnya kali ini.
Vynt langsung tanggap dengan sindiran Beth itu, dan hanya meresponnya dengan pura-pura berdehem sambil senyum-senyum.
"Iya deh iya, moga next time kita ada waktu traveling bareng lagi ya!" akhirnya Keira menyerah pada situasi mereka.
"Tapi kamu ikutan sesi tangkap bunga dulu kan, Beth?" tanya Fady.
"Pinginnya sih, cuman masih lama enggak ya? Aku belum beres packing soalnya nih!" Beth nampak gusar.
__ADS_1
"Coba sebentar aku tanyain koordinator wedding plannernya dulu!" ucap Fady seraya melambaikan tangan kepada orang yang dimaksudnya untuk mendekat ke meja mereka.
Setelah percakapan singkat yang terjadi antara Fady dengan wanita asli Korea itu, Fady yang telah menjadi istri sah dari Vynt Dae-Ho lalu mengungkapkan jika sesi lempar buket bunga sudah bisa dilakukan karena sebagian besar undangan sudah menyelesaikan acara makan-makan mereka.
"Kalau gitu kita langsung ke venue yuk, Vynt!" ajak Fady pada suaminya.
Mendengar hal itu Beth langsung sigap berdiri dari duduknya dan bergabung dengan para wanita single lainnya untuk bersiap menangkap buket bunga yang akan dilemparkan oleh kedua pengantin dari atas panggung.
"Ayo, ayo buruan, Tyo! Kita juga ikutan kesana. Pasti bakalan seru ini!" ajak Keira tak kalah antusias.
"Tapi kamu jangan ikut-ikutan nangkep lho, Kei! Ingeettttt udah punya aku sama Argha!" Tyo memperingatkan istrinya.
"Iya, iyaaa. Aku cuman pengen liat dari deket aja kok, siapa nanti yang dapet buket bunganya!" balas Keira dengan semangat.
Setelah beres membersihkan mulut putranya, Keira bergegas berdiri lalu dengan setengah berlari mendekati Ny.Naina yang ternyata sama keponya seperti dirinya.
Mertua Keira itu bahkan sudah siap dengan kamera ponsel di tangan kanannya yang sudah tersetting pada mode video untuk merekam sesi pelemparan buket bunga oleh kedua mempelai.
"Mbak Ruka mana, Bu?" tanya Keira saat melihat babysitternya Argha tidak lagi bersama ibu mertuanya. Padahal tadi gadis itu makan semeja bersama mereka.
"Itu! Sudah ibu suruh ikutan nangkep bunga juga, siapa tahu dapet jodoh orang Korea!" jawab Ny.Naina dengan semangat.
Keira yang akhirnya bisa melihat sosok babysitter anaknya bergabung di sekumpulan wanita single bersama Beth pun kemudian hanya tersenyum lebar.
Keduanya nampak tak jauh dari kerumunan para wanita single yang sedang bersiap untuk menangkap buket bunga milik pengantin wanita.
Ny.Naina sengaja mendekat agar ia mendapatkan hasil video yang memuaskan sebagai bahan update statusnya setelah ini. Sedangkan Beth sudah lebih dulu berdiri di jajaran paling depan dari para wanita single itu.
Setelah mengambil ancang-ancang dan menghitung sampai tiga, Fady dan Vynt yang sama-sama memegang buket bunga dan berdiri membelakangi para wanita single lalu melemparkan bunga itu ke arah belakang mereka.
Buket bunga itu melayang cukup tinggi. Hampir semua mata para tamu nampak tertuju pada buket yang sedang terbang itu. Tak terkecuali Tyo dan Rizzi.
Saat buket itu melayang melewatinya, Beth langsung merasa bahwa harapannya untuk dapat menangkap buket itu pupus sudah.
Namun siapa sangka jika buket bunga itu pada akhirnya jatuh ke tangan Rizzi yang dengan refleks menangkap benda yang hampir mengenai wajahnya itu.
"Seettt daahh!!! Ni bunga kenapa jadi dilempar ke muka gue sih???" Rizzi tampak bersungut-sungut.
Seketika seluruh ruang pesta riuh oleh tepuk tangan dan seruan melengking dari para tamu lain.
Rizzi yang tak sengaja menangkap buket itu hanya bisa melongo melihat reaksi para tamu akan hasil tangkapannya, sementara Tyo yang di sampingnya malah tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan tampang sahabatnya yang satu itu.
"Kok malah elo sih yang dapet???" tanya Tyo tak habis pikir mengiringi derai tawanya.
Sejurus kemudian ia terlihat sibuk menenangkan Argha dalam gendongannya yang nampak tertarik dengan buket bunga di tangan Rizzi dan mencoba meraihnya.
__ADS_1
"Ya mana gue tahu kalo bakalan gini endingnya. Orang mau kena ke muka gue, masa' iya nggak gue tangkep!" balas Rizzi masih tampak bete.
"Waahhh, mitosnya kalo dalam enam bulan enggak ada yang ngelamar penangkap bunga, bakalan enggak nikah seumur hidup lho!" seru Keira yang langsung membuat ekspresi Rizzi memucat seketika.
"Se-se...s-seriusss lo, Kei!" tanya Rizzi tergagap.
"Entah yaa...bener enggaknya. Tapi mitosnya sih gitu!" Keira geli sendiri melihat ekspresi Rizzi.
Dan saat Rizzi melihat Beth yang datang mendekat, tanpa ragu ia langsung menyerahkan buket bunga itu pada Beth yang tampak murung.
"Nih, Beth! Buat kamu aja bunganya!" Rizzi menyodorkan bunga itu tepat di hadapan Beth.
Tapi dengan cepat gadis itu menangkisnya tanpa ragu, "Enggak deh! Makasih! Bukan aku yang tangkep, jadi bukan hakku!" ucap gadis itu dengan nada yang datar.
Rizzi mengernyitkan keningnya melihat reaksi Beth yang dingin. Ia bingung kenapa Beth tiba-tiba bersikap demikian padanya.
"Kei aku pamit duluan ya! Mau siap-siap balik nih! Aku udah pamit sama Vynt juga kok!" pamit Beth pada Keira.
Keira nampak mengangguk lalu bercipika cipiki ria pada Beth. Beth pun mengecup pipi Argha kecil dengan gemas sebelum pergi meninggalkan ruang ballroom tanpa menunggu Rizzi yang katanya akan pulang ke Indonesia bersama dengannya.
"Eeh, Beth! Tungguin aku dong! Kita kan mau pulang bareng!" Rizzi nampak mengejar Beth dengan membawa serta buket bunga di tangannya.
Dan akhirnya, Keira dan Tyo pun hanya bisa pasrah melepas kepergian Beth dan Rizzi yang harus pulang lebih dulu.
Karena kedua orang tua Vynt bukan sama-sama berasal dari Korea, alias campuran, jadi pernikahan Vynt dan Fady tidak menggunakan tradisi pernikahan tradisional Pyebaek* yang biasanya diselenggarakan setelah resepsi pernikahan selesai di gelar.
Oleh karena itu, setelah berakhirnya resepsi. Kedua mempelai pun memilih langsung pulang ke rumah keluarga Dae-Ho untuk beristirahat.
.
.
.
To Be Continue...
*PYEBAEK
Adalah upacara tradisional pernikahan Korea di mana yang hadir hanya untuk anggota keluarga.
Pengantin akan memakai hanbok pernikahan khusus dan akan tunduk pada orangtua mereka yang duduk di belakang meja rendah yang penuh dengan makanan pernikahan tradisional dan simbolis seperti chestnut, jujubes, dan kesemek kering.
Orangtua akan memberkati pasangan yang baru menikah serta ada tradisi "menangkap jujubes dan chestnut" untuk memprediksi berapa banyak anak perempuan dan anak laki-laki yang akan dimiliki pasangan.
Para tamu memakai hanbok untuk pernikahan. Ibu pengantin perempuan biasanya akan mengenakan hanbok merah muda atau ungu, dan ibu pengantin laki-laki akan mengenakan hanbok biru. Anggota keluarga yang lain mungkin atau nggak boleh memakai hanbok, sesuai dengan preferensi.
__ADS_1