
.
.
.
Dalam perjalanan menuju ke Dae-Ho Trip tempat Beth bekerja beberapa bulan ini, Rizzi mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk mengorek perasaan Beth terhadapnya.
Termasuk ingin mengetahui apa alasan gadis itu menghindarinya beberapa hari belakangan. Tepatnya sejak mereka berdua pulang ke Tanah Air bersama dari Korea.
"Nomor kontakku kamu block dari ponsel kamu?" tanya Rizzi tiba-tiba.
"Hah? Apa?" Beth yang sedang berkutat dengan pikirannya sendiri begitu kaget mendengar pertanyaan mendadak dari Rizzi.
"Sejak kita pulang bareng dari Korea, kamu sama sekali enggak bales pesanku atau mengangkat teleponku." ungkap Rizzi.
Meski tatapan Rizzi lurus ke depan, tapi tanpa gadis di sebelahnya itu ketahui, ada percikan kecewa pada manik mata pria itu. Beth jadi salah tingkah dan merasa bersalah mendengar Rizzi mengungkap sikap cueknya pada pria itu beberapa hari ini. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa jadi ia diam saja.
"Kenapa, Beth? Kenapa kamu mengabaikan aku?" tanya Rizzi lagi setelah Beth membisu pada dua pertanyaannya yang sebelumnya.
Beth menunduk dalam-dalam di sisi pria itu. Ia langsung ingat nasehat Keira kemarin, nasehat yang menyuruhnya untuk memberikan kesempatan pada perasaannya sendiri. Yang juga menyuruhnya untuk memberikan kesempatan pada perasaan selaras yang mungkin juga dirasakan oleh Rizzi.
Tapi kini Beth sungguh-sungguh tidak tahu harus menjawab apa setelah pria itu langsung menanyakan alasannya mengabaikan Rizzi belakangan ini. Lebih tepatnya Beth tidak tahu harus memulai dari mana.
"Kamu marah sama aku?" Rizzi menarik rem tangan ketika mobilnya terjebak di sebuah lampu merah.
Setelah merasa mobilnya cukup aman, Rizzi lalu menoleh pada gadis yang dilihatnya menggeleng lemah menjawab pertanyaannya barusan.
"Lantas? Apa alasanmu?" Rizzi menatap dalam pada Beth.
Beth memberanikan dirinya menoleh pada Rizzi yang menatapnya dengan ekspresi serius. Ia ingat pernah melihat ekspresi seserius itu pada wajah Rizzi yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang ceria dan gokil, yaitu ketika Rizzi menyampaikan kabar duka tentang Argha kepada Keira.
Rizzi terpaksa memalingkan wajahnya pada tatapan Beth setelah mendengar bunyi klakson dari mobil yang mengantri di belakang mobilnya, tanda lampu lalu lintas sudah berubah hijau dan waktunya untuk kembali melaju.
"Aku enggak marah kok sama kamu." Beth akhirnya berani menjawab.
"Lalu kenapa kamu enggak baca pesanku dan jawab teleponku?" Rizzi cukup lega setelah mendengar bahwa Beth ternyata tidak marah padanya.
"Aku cuman lagi down aja waktu itu." aku Beth.
"Jadi kalau lagi down, kamu punya kebiasaan nyuekin orang-orang, gitu??? Termasuk orang yang care sama kamu?" Rizzi mulai bisa menyunggingkan sebaris senyuman di bibirnya.
Beth menelan salivanya susah payah. "Ca-care???" tanya Beth dengan terbata. Ia berkedip beberapa kali sebagai bentuk keterkejutannya.
"Aku langsung mengirim pesan yang menanyakan apakah kamu sudah sampai di rumahmu dengan selamat setelah aku sampai di rumahku sendiri. Itu karena aku khawatir sama kamu." ungkap Rizzi.
"Ooh, gitu..."
"Kamu pasti enggak tau kan? Karena sampai detik ini kamu sama sekali belum membaca semua pesan dari aku."
"Eeh, iya! Hehee." Beth tertawa canggung, lalu kembali menunduk. Sebenarnya ia teramat malu mengakuinya.
"Kamu enggak tanya kenapa aku khawatir sama kamu? Kenapa aku care sama kamu?"
"Ngg..." Beth melipat bibirnya kuat-kuat.
Namun belum sempat gadis itu menjawab, tanpa sadar, mobil Rizzi sudah memasuki pelataran parkir kantor Dae-Ho Trip. Rizzi memarkirkan mobilnya dengan benar lalu segera turun untuk membantu gadis di sampingnya turun dari mobil.
"Kemarikan tanganmu!" pinta Rizzi setelah ia membuka pintu mobil yang ada di sisi tempat duduk Beth.
Beth mendongak pada pria jangkung di hadapannya, lalu ia mengulurkan tangannya dengan cepat karena tidak ingin dirinya terlambat masuk kantor.
Rizzi langsung meraih tangan Beth dan membantunya turun dari mobil. Sebisa mungkin Rizzi tidak membuat Beth memberikan tumpuan yang berlebihan pada kaki kanannya yang masih agak bengkak.
"Kamu bawa obatmu, Beth?" tanya Rizzi setelah mereka berdua berhasil berdiri dengan benar.
__ADS_1
Beth mengangguk kikuk menanggapi pertanyaan Rizzi. Bulu kuduknya seketika meremang kala tangan kanan Rizzi dengan perlahan menyentuh pinggangnya.
"Ayo jalan! Pelan-pelan saja ya!" Rizzi menuntun Beth dengan telaten dan penuh kesabaran. "Lantai berapa ruang kerjamu?" tanyanya lagi.
"Lantai tiga!" jawab Beth sambil menahan malu pada tatapan orang-orang yang melihat ke arah mereka berdua.
Rizzi berencana mengantar Beth hingga ke dalam ruang kerjanya. Pria itu nampak tak peduli pada pandangan orang lain. Yang ia pedulikan kini, hanyalah gadis yang saat ini ada dalam rengkuhan tangannya.
Di dalam lift yang membawa keduanya ke lantai tiga itu, Rizzi kembali memanfaatkan keadaan yang sepi. Karena kebetulan hanya mereka berdua yang ada di dalam lift.
"Kamu beneran enggak marah sama aku kan Beth?" tanya Rizzi.
Beth langsung melongo mendengar pertanyaan Rizzi yang lagi-lagi begitu tiba-tiba itu. Tapi begitu dirinya menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya itu, Beth tersentak melihat tatapan mendamba pada binar mata Rizzi yang menatap lekat ke arahnya.
Dengan refleks Beth langsung menundukkan kembali kepalanya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang. Begitu kencang hingga ia takut Rizzi akan mendengarnya juga.
Ya Tuhaannn, jantungkuuuu.... pekik Beth dalam hati.
"Beth...!" panggil Rizzi.
"Eng-enggak...a-aku...enggak marah sama kamu...kok. Beneran!" Beth gugup.
"Kalau gitu tolong jangan mengabaikan aku lagi ya!" pinta Rizzi dengan suara yang lembut.
Saking lembutnya, Beth sampai takut melihat ke arah pria itu lagi. Gadis itu takut kalau lagi-lagi ia akan melihat ekspresi yang memicu debaran extra pada jantungnya. Ia khawatir tak akan sanggup menanggungnya lebih lama. Beth langsung mengangguk dengan cepat setelah mendengar permintaan Rizzi.
Rizzi merasakan tangan Beth sedikit gemetar dan berkeringat. Tapi hatinya sumringah kala gadis itu mengiyakan permintaannya barusan.
Sesampainya mereka di lantai tiga, Rizzi tetap menuntun Beth hingga ke depan ruang kerjanya.
"Lho, Nduk! Kamu kenapa?" tanya Mbak Haning yang muncul tiba-tiba.
"Kakiku bengkak, Mbak. Kemarin aku habis jatuh dari motor." lapornya pada sang supervisor.
"Aku kepikiran bookingan grupku, Mbak!" jawab Beth terus terang.
"Astaga, Beth!" Mbak Haning cuman bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban jujur dari Beth. Trus ini siapa?" tanya Mbak Haning lalu menoleh pada Rizzi.
"Saya Rizzi, saya cuman mau mengantar Beth aja!" jawab pria itu dengan ramah.
"Oh, makasi banyak kalau begitu! Biar saya yang tuntun dia sampai kubikelnya."
Mbak Haning lalu memegangi lengan Beth agar Rizzi dapat melepaskan pegangannya pada Beth. Meski enggan, tapi Rizzi terpaksa harus melepaskan gadis itu. Ia sadar Beth harus bekerja, begitu juga dirinya yang juga harus segera pergi dari sana agar tidak mengganggu kinerja Beth.
"Kalau gitu aku tinggal ya, Beth. Nanti sore aku jemput lagi. Jangan pulang sendiri! Tunggu aku! Dan tolong...balas pesanku!" Rizzi tersenyum singkat sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar.
"Ayo, Nduk! Aku bantu duduk di kubikelmu?" ajak Mbak Haning lalu membimbing juniornya yang masih sedikit tercengang pada ucapan terakhir Rizzi tadi.
***
Seharian itu, di kantor Dae-Ho Trip mendadak muncul desas desus aneh tentang Beth. Ternyata, diantarnya Beth pagi tadi oleh seorang Rizzi Riyant berdampak buruk pada gadis itu.
Karenanya gosip negatif tentang Beth pun mulai merebak, setelah banyak mata yang menjadi saksi bahwa Beth tadi pagi datang ke kantor sambil berpelukan dengan seorang pria yang mereka kenali sebagai putra bungsu keluarga Digdaya.
Entah siapa yang memulai, tapi hingga jam makan siang, gosip itu semakin memanas. Beth yang tidak bisa kemana-mana hari itu sama sekali tidak tahu menahu tentang gosip yang tersebar mengenai dirinya.
Karena ia bahkan harus makan siang di dalam ruang kerjanya ditemani Mbak Haning dan beberapa staff lain yang juga tidak turun ke kantin kantor untuk makan siang.
Namun karena merasa harus ke toilet, Beth akhirnya keluar juga dari ruang kerjanya itu.
"Yakin bisa sendiri?" tanya Mbak Haning dengan khawatir.
"Iya, Mbak! Udah mendingan kok, enggak begitu sakit lagi. Aku juga bakalan pelan-pelan jalannya." balas Beth.
"Ya udah! Bawa handphone kamu, sapa tau butuh bantuan langsung telepon aja ya!" titah sang Supervisor pada juniornya itu.
__ADS_1
"Iya-iyaa..." jawab Beth.
Pelan-pelan ia menyusuri lorong kantornya menuju ke toilet wanita di lantai itu. Namun ketika sudah mendekati pintu toilet, Beth tiba-tiba mendengar suara beberapa orang staff wanita yang menyebut-nyebut namanya.
Beth spontan saja menghentikan langkahnya. Ia berdiri mematung berpegangan pada tembok yang tak jauh dari sisi pintu toilet. Gadis itu mencoba mendengar lebih dulu, apa yang para wanita itu bicarakan tentang dirinya.
"Gila ya gosipnya hari ini! Langsung heboh gitu!"
"Gimana enggak heboh shaayy!!! Turun dari mobil langsung nempel banget kaya perangko!"
"Tapi ada yang bilang karena kakinya tuh anak bengkak lho."
"Ya kali kalo bengkak beneran??!! Sapa tau aja cuman akting! Gue juga bisa pura-pura keseleo supaya dibolehin nebeng mobilnya seorang Rizzi Riyant. Anaknya konglomerat gitu loohhh!"
"Tapi baik banget loh, si Rizzi itu. Do'i bela-belain nganterin tuh anak sampe ke ruang kantornya di lantai tiga!"
"Oia??? Seberapa istimewanya sih si Bethsa Putry itu???"
"Katanya siihh, si Bethsa itu juga temennya bos kita lho. Temennya Vynt Dae-Ho!"
"Ck, ketauan banget modusnya. Gara-gara gagal ngedapetin Vynt Dae-Ho yang sekarang udah nikah, jadinya langsung pindah sasaran dia."
"Hebatnya kok bisa ya dia ngedeketin anak-anak orang kaya gitu??? Salut gue, hahaa!"
Dan ketika mereka lagi asyik-asiknya bergosip, tiba-tiba seorang wanita lain muncul dari salah satu bilik closet di belakang mereka.
Beth tidak tahu siapa itu, ia hanya mendengar deheman yang di buat oleh wanita yang baru keluar dari bilik closet itu.
Tapi nampaknya, kehadiran wanita itu di sana cukup ampuh untuk membuat para staff wanita yang bergosip tadi berkeringat dingin dan langsung pucat seketika saking paniknya.
"Bu Fady!" panggil wanita-wanita penggosip itu dengan suara yang teramat lirih.
Mendadak suara mereka tak lagi selantang dan sesinis sebelumnya ketika mereka tengah asyik menggosipkan Beth. Sebab saat ini mereka berhadapan dengan wanita yang tidak hanya mereka kenal sebagai Manajer Perencana Tour tetapi juga sebagai istri dari ahli waris Dae-Ho Trip.
"Ternyata emang bener ya kalo toilet itu tempat favoritnya dedemit, khususnya dedemit gosip!" ujar Fady dengan suara yang lantang dan tegas.
Istri Vynt Dae-Ho itu rupanya sudah lebih dulu berada dalam bilik closet sebelum para staff wanita penggosip itu masuk ke toilet dan mulai memfitnah Beth yang tidak-tidak.
"Saran saya, kalo kalian punya lebihan waktu, daripada ngegosip yang nggak ada gunanya. Mending manfaatin waktu buat yang lain deh, daripada gabut. USELESS!!!" Fady berkata sinis saat mencuci tangannya sambil memberikan lirikan tajam pada mereka.
"I-iya, Bu. Maaf. Kami minta maaf!" para wanita itu pun ngacir setelah mendapat sindiran tajam dari sang Ibu Bos.
Begitu mereka keluar dari toilet, lebih kaget lagi ketika mereka melihat Beth yang tengah berdiri tak jauh dari sisi pintu.
"Eh, Beth!!!" pekik mereka kompak.
Pekikan mereka terdengar juga oleh Fady yang langsung keluar dari toilet untuk melihat Beth.
"Beth! Kamu dari tadi di sini?" tanya Fady dengan wajah cemas. Ia khawatir Beth terluka setelah mendengar ucapan para wanita itu.
Beth tak menjawab dengan suara, sebab bibirnya terlalu kelu setelah mendengar gosip miring tentang dirinya. Ia hanya mengangguk perlahan menjawab pertanyaan Fady.
"Kalian!!!" panggil Fady pada para wanita itu. "Mumpung orang yang kalian gosipin dah di depan mata nih, apa enggak ada gitu yang mau kalian sampaikan secara langsung?" tanya Fady dengan sedikit menyindir sambil melipat tangannya di depan dada.
Para wanita itu langsung gemetaran dihadapkan pada orang yang baru saja mereka ghibahi. Mau pura-pura amnesia juga udah enggak mungkin, karena saksi yang mendengar mereka bergosip adalah sang nyonya besar mereka sendiri.
Dengan tertunduk malu sekaligus takut, mereka akhirnya kompak meminta maaf kepada Beth di bawah pengawasan langsung istri Vynt Dae-Ho---Bos Besar mereka.
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1