Replacement Lover

Replacement Lover
PERTENGKARAN


__ADS_3

@Rumah Keluarga PRATAMA


Setelah makan malam, Tyo dan Keira berkumpul di ruang keluarga untuk membahas rencana pernikahan mereka.


"Jadi gimana, Kei? Kamu punya bayangan sendiri nggak pengen acara yang seperti apa? Temanya, trus tempatnya gitu?" tanya Ny. Naina sambil membolak balik majalah-majalah pernikahan yang baru dibelinya hari ini.


Di luar dugaan Ny. Naina, Keira menggeleng. "Keira nggak tahu, Bu. Keira nggak ada ide sama sekali. Nurut aja deh." jawab Keira tak bersemangat.


"Kamu aneh iihh, biasanya perempuan tuh paling heboh kalo ngomongin soal rencana pernikahan, lha kamu malah nggak semangat gini." Ny. Naina merasa aneh pada calon menantunya itu.


Sementara Tyo mulai menyadari jika sepertinya ada yang sedang mengganjal di hati Keira saat ini.


"Kamu maunya pesta yang bagaimana, Nak?" kali ini Pak Ruslan ikut-ikutan bertanya.


"Iyaa, yang mewah trus megundang banyak orang atau yang sederhana, yang private tapi terkesan sakral." tambah Ny. Naina.


Alih-alih menjawab pertanyaan kedua calon mertuanya itu, Keira malah menggeleng lalu mengedikkan bahunya tanda bahwa dirinya tidak bisa memilih.


"Kamu kenapa, Kei?" tanya Tyo khawatir.


Keira menatap Tyo lekat seakan ingin menyalurkan pikirannya ke dalam pikiran Tyo lewat telepati, agar ia tak harus menjawab pertanyaan Tyo dengan kata-kata. Namun tentu saja hal itu mustahil ia lakukan.


"Dengar Kei, Jangan kamu pendam gelisahmu sendiri! Ada aku. Ada Ayah dan juga Ibu. Mulai sekarang kita hadapi semuanya bersama, Oke!" pinta Tyo dengan tatapan mata yang lekat dan sungguh-sungguh.


Keira mengedarkan pandangannya secara bergantian ke arah Tyo, Pak Ruslan dan Ny. Naina. Dilihatnya mereka semua memberikan sorot mata yang sama, sorot mata kekhawatiran.


"Aku..." Keira menggantung kalimatnya merasa tak yakin dengan apa yang akan diucapkannya.


Di dalam hati Keira, ada sebongkah ragu yang bersemayam. Ragu karena takut akan penolakan yang mungkin dilakukan oleh keluarga barunya, khususnya Tyo, atas keinginan terpendamnya.


Tyo menggosok punggung Keira dengan lembut untuk menyakinkan gadis itu bahwa tidak apa-apa bagi Keira untuk mengungkapkan keinginannya.


"Aku pingin minta restu Papa dan Ibuku untuk menikah." akhirnya Keira mengutarakan niatnya yang sedari tadi seolah mengganggu pikirannya. Tyo terpaku seketika.


Melihat reaksi Tyo yang mendadak diam, akhirnya Pak Ruslan mengungkapkan kepada Keira jika tadi siang Pak Ruslan dan Tyo sudah bertemu Pak Zein di kantor Takhta Grup.


"Kenapa Papa ke kantornya Ayah?" tanya Keira heran.


Pak Ruslan masih mencoba menunggu reaksi dari Tyo namun ternyata Tyo masih betah berdiam diri. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh putranya itu.


Pak Ruslan pun mau tidak mau menceritakan kepada Keira perihal rentetan masalah yang menimpa Pak Zein belakangan ini. Mulai dari merosotnya tender yang diterima PT. PERMATA hingga mengakibatkan kurangnya perputaran dana operasional di perusahaan Papa Keira itu.


Meski selama beberapa bulan terakhir PT. Permata masih dapat menutupinya dengan dana pinjaman dari Bank, namun itu hanya sementara hingga akhirnya perusahaan itu benar-benar terancam koleps.


Belum lagi masalah penyelewangan dana perusahaan yang dilakukan oleh istri Pak Zein sendiri hingga membuat rumah tangga Pak Zein berantakan.


Pak Ruslan sengaja tidak menyebutkan masalah kebobrokan moral yang dilakukan ibu tiri Keira demi menjaga perasaan Keira di depan keluarga barunya.


Beruntung Takhta Grup dengan sigap dapat segera bertindak dengan membeli seluruh saham PT. PERMATA untuk menyelamatkan perusahaan itu dari ambang kehancuran.


Melihat ekspresi Keira yang pucat pasi seketika, kentara sekali jika keira shock mengetahui kondisi Papanya yang bangkrut, dan segala cobaan yang dialami Papanya itu.


"Kenapa ayah membeli perusahaan Papa? Kenapa Ayah tidak memberikan investasi saja agar Papa dapat terus mengelola perusahaannya?" tanya Keira pada Pak Ruslan.


Pak Ruslan menarik nafasnya dalam sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Keira. Ia harus tepat memilah kata-kata dalam menjabarkan kondisi yang ada, lagi-lagi demi menjaga perasaan Keira termasuk agar Keira mengerti bahwa tindakan yang dilakukannya sudah sangat tepat.


"Pertama, Ayah memang ingin memberikan PT. PERMATA padamu sebagai kado pernikahanmu. Kedua, karena menurut penilaian ayah, Papamu sudah tidak punya motivasi dan semangat untuk memimpin PT. PERMATA lagi. Itulah mengapa, Ayah lebih memilih membelinya daripada hanya sekedar berinvestasi." terang Pak Ruslan.


"Tapi kenapa?" Keira masih belum begitu mengerti.


"Jika kita membiarkan PT. PERMATA terus dikelola Papamu sementara dia sudah tak memiliki potensi untuk itu, Ayah khawatir, meski ayah berinvestasi pada perusahaan itu, cepat atau lambat, PT. PERMATA tetap akan hancur tak berbekas." Pak Ruslan memberi jeda pada penjelasannya agar Keira mampu mencernanya.


Keira memang nampak berpikir serius sambil terus menyimak penjelasan calon ayah mertuanya itu.


"Makanya Ayah berpikir untuk membelinya agar Tyo bisa mengambil alih perusahaan itu. Tyo bisa menggabungkan PT. PERMATA dan PT. PERKASA milik Tyo yang kebetulan bergerak di bidang yang sama dan mengelolanya dalam satu manajemen yang sama." Pak Ruslan menjelaskan secara rinci.


"Tapi Keira tidak ingin memiliki PT. PERMATA, Ayah. Keira jadi merasa sudah merebut perusahaan Papa, padahal Keira pun tidak bisa mengurusnya sendiri." Keira menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah sedihnya.


"Kamu tidak perlu berpikir seperti itu, Nak! Jika Papamu adalah orang tua yang adil dan tidak mementingkan egonya sendiri sejak awal. Ayah yakin, saat inipun PT. PERMATA akan jatuh ke tanganmu juga sebagai pewarisnya. Ayah hanya mengembalikan semuanya ke pada jalurnya semula." Pak Ruslan berusaha agar Keira tidak menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Yang namanya rezeki itu sudah digariskan bahkan sebelum manusia lahir ke dunia. Jika sekarang ini PT. PERMATA sepenuhnya menjadi milikmu itu bukan karena Ayah tapi itu memang sudah takdirmu, Nak." tambah Ny. Naina mencoba memberikan sudut pandang yang positif pada Keira.


"Lalu apa yang akan Papa lakukan setelah kehilangan perusahaannya?" tanya Keira dengan nada sendu.


Pak Ruslan mengatakan bahwa dirinya sudah merekomendasikan Pak Zein ke salah satu perusahaan temannya yang sesuai dengan bidang yang dikuasai Pak Zein untuk memberikan posisi yang tepat kepada Papanya Keira itu untuk memulai hidup barunya.


"Kamu tenang saja, Nak! Papamu akan baik-baik saja. Dia mungkin sedang jatuh dan rapuh saat ini. Tapi dia adalah pribadi yang sebenarnya kuat. Percayalah!" ujar Pak Ruslan berusaha menenangkan Keira.


Meski begitu, hati Keira masih kalut. Setelah mendengar segala hal yang menimpa Papanya, Keira makin ingin menemui Papanya itu.


"Setelah mendengar kabar tentang Papa, aku jadi makin ingin bertemu dengannya. Apa aku boleh menemui Papaku? Aku ingin memastikan sendiri bagaimana keadaannya." tanya Keira lirih.


Setelah Keira menyelesaikan kalimatnya, suasana hening mendadak tercipta di dalam ruang keluarga yang luas itu.


Tak lama Tyo nampak bangkit dan pergi dari ruangan itu tanpa sepatah katapun. Tanpa menjawab atau memberikan respon apapun terhadap permintaan Keira tadi. Membuat ketiga orang lainnya di ruangan itu terbengong-bengong.


Khususnya Keira, ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan Tyo. Marahkah? Kecewakah? Tapi Keira pun tak merasa melakukan kesalahan hingga Tyo harus marah atau kecewa. Ia hanya ingin menemui Papanya, orang tuanya.


Ny. Naina yang menangkap kekecewaan di raut wajah Keira langsung merasa tak enak hati pada calon menantunya itu.


"Maafin Tyo ya, Nak! Mungkin Tyo belum siap melihat kamu bertemu Papamu, mungkin Tyo takut kamunya terluka lagi." seolah mengerti apa yang Tyo rasakan, akhirnya Ibu Tyo meminta maaf kepada Keira atas perilaku putranya itu.


"Keira salah ya Bu?" tanya Keira pada Ny. Naina. "Apa aku salah kalau aku khawatir sama Papa? Apa aku salah kalau aku pengen ketemu Papaku sendiri dan meminta restu dari beliau untuk pernikahanku?" mata Keira nampak teramat sendu. Ny. Naina jadi tidak tega melihat gadis itu.


"Kamu tidak salah, Nak. Kamu khawatir pada Papamu itu wajar. Dan Tyo khawatir padamu itu juga wajar. Karena khawatir adalah perasaan yang wajar kita rasakan terhadap orang yang kita sayangi." ujar Ny. Naina.


Pak Ruslan nampak mengganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat sang istri. Dan Keira terdiam menatap calon ibu mertuanya itu dengan penuh kekaguman.


"Sebaiknya kamu ngomong sekali lagi pada Tyo. Utarakan pemikiranmu sejelas-jelasnya sama dia, sepenting apa restu Papamu itu bagimu, dan bagi pernikahan kalian!" Ny. Naina mencoba memberikan saran pada Keira.


"Kalau Ayah dan juga Ibu sih pasti mengizinkan, Keira. Karena niatmu itu baik. Lakukanlah apa yang menurut kamu benar, Nak!" Pak Ruslan angkat bicara.


Keira terharu mendengar ucapan Pak Ruslan dan Ny. Naina. Membuatnya lagi-lagi mensyukuri takdirnya masuk ke dalam keluarga yang penuh cinta dan kehangatan ini.


"Kalau gitu, Keira susulin Tyo dulu ya, Bu, Yah!" pamit Keira pada orang tua Tyo.


Setelah berpamitan pada Pak Ruslan juga, Keira bergegas menyusul Tyo yang pergi entah kemana. Kebetulan saat keluar dari ruang keluarga, Keira berpapasan dengan Pak Yusam yang baru masuk dari pintu depan.


Keira pun hendak bertanya pada bapak tua itu jikalau beliau melihat Tyo, "Pak, Pak...Pak Yusam!" panggil Keira saat Pak Yusam hendak menuju ke arah dapur.


"Iya Non Keira? Ada apa?" balas Pak Yusam seketika mematung ketika menyadari Keira memanggilnya dari depan pintu ruang keluarga.


"Bapak lihat Mas Tyo?" tanya Keira.


"Ooh, Mas Tyo tadi keluar, kayanya jalan ke arah pantai di sebelah, Non!" jawab Pak Yusam.


"Makasi ya, Pak!" ucap Keira sambil lalu. Dan Pak Yusam pun meneruskan perjalanannya menuju dapur.


Keluar dari pintu utama, Keira celingukan. Matanya fokus menyisir ke arah pesisir pantai yang terletak di sebelah kanan rumah keluarga Pratama itu.


Pencarian Keira terhenti kala matanya menemukan Tyo ternyata sedang duduk di atas pembatas beton tak jauh dari bibir pantai seorang diri.


Tyo duduk menghadap ke arah laut dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu hingga pria itu tak menyadari kedatangan Keira dari arah belakangnya.


Keira menepuk punggung Tyo pelan. Tyo menoleh dan sedikit terkejut kala melihat Keira yang sekoyong-koyong sudah berdiri di belakang punggungnya.


"Kei!" pekik Tyo singkat. Bukti bahwa pria itu memang sedang fokus menyelami pikirannya sendiri. Tyo meraih pergelangan tangan Keira.


"Kamu marah?" tembak Keira langsung sambil turut mendudukkan diri di samping Tyo namun menghadap ke arah yang berkebalikan dengan pria itu.


Tyo melingkarkan lengannya di perut Keira untuk menjaga agar gadis itu tidak terjatuh saat duduk di atas pembatas beton yang tanpa sandaran itu.


"Aku tidak marah." jawab Tyo sambil menyandarkan kepalanya di pundak Keira.


"Trus apa? Kamu kecewa?" tanya Keira lagi. Disentuhnya kepala Tyo yang sedang bersandar di sebelah bahunya.


Tyo tampak menggeleng lemah, menggesekkan kepalanya di antara pundak dan telinga Keira. "Aku cuman takut. Takut kamu sedih lagi, takut kamu terluka lagi kalau kamu ketemu papamu itu." ungkap Tyo.


"Tapi aku bakal lebih sedih kalau aku nggak ketemu papa, aku juga butuh restu papaku, Tyo!" jelas Keira sedikit mengiba.

__ADS_1


"Kenapa sih, Kei? Kenapa kamu masih peduli sama Papamu setelah semua yang dia lakukan padamu?" suara Tyo sedikit meninggi mendengar permintaan Keira yang masih kekeuh ingin menemui Pak Zein Imran---Papanya.


Tyo mengangkat kepalanya dari pundak Keira saat mengatakan itu dan menatap lurus ke dalam kedua mata Keira.


"Dan kenapa kamu nggak bisa ngerti kalo itu penting buat aku???" Keira balas menatap Tyo lekat.


Merasa sia-sia membicarakan ini dengan calon suaminya itu, Keira pun bangkit berdiri. Namun sebelum berlalu pergi, buru-buru Tyo menangkap lengan Keira untuk menghentikan laju gadis itu.


Keira yang marah lalu mengibaskan pegangan tangan Tyo pada lengannya. "Kamu minta aku percaya sama kamu, tapi sekarang kamu sendiri yang gak percaya aku? Kenapa kamu gak percaya bahwa aku akan baik-baik saja meski menemui Papaku?" Keira berujar dengan emosi. Suaranya bergetar menahan tangis yang akan muncul karena hatinya yang kecewa.


Tyo tepekur melihat reaksi Keira yang di luar dugaannya. Bibirnya menjadi kelu seketika, tak menyangka jika Keira akan semarah ini menerima penolakannya.


"Sebagai calon istri kamu, aku akan turuti kamu untuk tidak menemui Papaku. Tapi kamu harus tahu kalo aku kecewa sama sikap kamu, Tyo. Sekarang ini aku ngerasa kamu sama sekali nggak mencoba untuk mengerti aku, mengerti posisiku." ujar Keira lalu pergi meninggalkan Tyo dan masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar Tyo yang di tempatinya selama tinggal di rumah keluarga Pratama.


***


@Cafe Teluse


Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda---malam itu Beth janjian dengan Said untuk nongkrong bersama di Cafe Teluse.


Dua sahabat itu bertemu di parkiran saat Beth baru turun dari ojek onlinenya dan Said yang juga baru turun dari mobilnya.


Keduanya lantas berpelukan erat saling melepas kerinduan lalu bersama-sama menuju pintu masuk Cafe tanpa melepas pelukan masing-masing.


Said merangkul pundak Beth mengingat ukuran tubuh gadis itu yang kecil mungil dan Beth memeluk pinggang Said yang kurus ceking.


Sepintas, mereka terlihat layaknya sepasang kekasih jika orang lain tidak tahu bahwa mereka hanyalah sepasang sahabat yang lama tak bersua.


Rizzi yang berencana pulang lebih cepat, tanpa sengaja berpapasan dengan mereka berdua di pintu masuk.


"Lho, Beth!" panggil Rizzi kaget melihat Beth yang berpelukan dengan Said.


Tiba-tiba rasa kesal menjalar di hatinya. Entah kenapa ia merasa tak suka melihat pemandangan antara Said dan Beth yang saling menempel di hadapannya itu.


"Hai, Riz!" balas Beth pada Rizzi.


"Kalian..." Rizzi memotong kalimatnya sambil memperhatikan lebih seksama ke ara dua sahabat itu, "...mau masuk?" akhirnya Rizzi menuntaskan pertanyaannya.


Said yang langsung paham reaksi Rizzi yang aneh, seolah mengerti apa yang terpikirkan oleh pria berkaca mata itu. Said pun mengeratkan rangkulannya pada pundak Beth untuk menggoda Rizzi.


"Ya iyalah mau masuk, kan ngadepnya ke dalem. Emang kita undur-undur, mau masuk jalannya ngadep keluar." canda Said.


"Oh, oke. Berdua aja?" tanya Rizzi nampak kikuk.


"Ya kalo situ mau jadi pihak ketiganya nggak masalah sih! Cuman asal inget aja tapinya kalo ada dua orang lagi berduaan yang ketiga berarti setannya!" celoteh Said lagi. Yang sontak saja membuat Rizzi jadi keki.


"Yaudah masuk yuk, gue telponin Keira biar ikutan kesini jadi gue nggak perlu jadi setannya." balas Rizzi sedikit bersungut-sungut sambil membuka pintu Cafe lebih lebar.


"Hloohh, kamu tahu Keira sekarang dimana?" tanya Beth sambil memilih kursi mana yang akan mereka duduki.


"Tau lahhh!" Rizzi merasa mendapat angin karena Beth terlihat antusias pada tawarannya tadi.


"Kata Vynt, Keira nggak jadi magang bareng dia di Thailand? Tapi pas gue kontak Keiranya langsung, nomornya udah nggak bisa dihubungi." cerita Beth setelah duduk, disusul oleh Said. "Buruan dong panggilin Keira kesini, gue kangen banget niichh sama Keira!" pinta Beth.


"Oke-oke, gue telponin lakinya dulu ya?" jawab Rizzi sambil mengeluarkan ponselnya.


"HAHHHH, LAKINYA KEIRA??? SIAPA???" tanya Said dan Beth kompak. Membuat Rizzi tersenyum-senyum melihat kekagetan dua sahabat itu.


To Be Continue...


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2