Replacement Lover

Replacement Lover
Extra : KONDANGAN


__ADS_3

.


.


.


Akhir pekan ini, seluruh keluarga Pratama bertolak ke Korea untuk menghadiri resepsi pernikahan Fady dan Vynt.


Mereka berangkat dengan China Airlines pukul enam pagi dari Indonesia dan baru tiba di Bandara Internasional Korea, Incheon, pada pukul delapan malam kurang lima menit.


"Sini, Kei, Argha biar aku yang gendong! Dari sejak kita transit di Taipei tadi kamu terus yang pegang Argha!" Tyo meraih tubuh mungil putranya itu dari gendongan istrinya yang sudah nampak lelah.


Mereka baru saja tiba di hotel dimana Tyo menyewa dua suites room sebagai tempat tinggal sementara untuk keluarganya selama di Korea. Hotel itu pula yang nantinya akan digunakan Vynt untuk resepsi pernikahannya besok.


Keira menyerahkan si kecil Argha ke dalam gendongan suaminya. Ia sebenarnya tidak begitu lelah tapi sangat lapar.


Maklumlah, sejak dari Taipei hingga sampai di Korea, Argha yang kumat rewelnya jadi lebih sering menyusu ASI ketimbang susu formula.


Keira memang pernah membaca di artikel parenting bahwa bayi yang rewel selama perjalanan udara memang lebih baik ditenangkan dalam dekapan sang ibu ketimbang dibiarkan tidur dalam kontainernya sendiri.


Dan saat ia membuktikan tips itu, ternyata memang tips tersebut sangat berguna. Tapi akibatnya, ia jadi sangat lapar sekarang.


"Tyo aku laper banget nih!" gumam Keira pada suaminya.


Ny.Naina yang mendengar keluhan Keira langsung tanggap untuk mengambil alih sang cucu agar anak dan menantunya itu bisa hunting makan malam berdua.


"Siniin Arghanya, biar ibu dan Mbak Ruka yang tidurkan. Kalian cari makan aja di luar sekalian jalan-jalan, mumpung belum terlalu larut!" ujar Ny.Naina.


Keira langsung tersenyum sumringah mendengar ide sang ibu mertua. "Mauuu, aku mau jalan-jalan nyari makan!" pekik Keira sedikit merajuk pada Tyo.


"Trus, kalian sendiri gimana? Belum lapar juga?" tanya Tyo pada keluarganya.


"Kita mah gampang, Nak! Makan di hotel juga bisa! Takut makanan Korea enggak cocok buat Ibu sama Ayah!" jawab Pak Ruslan menanggapi putranya.


"Mbak Ruka, mau nitip apa?" tanya Keira pada babysitter Argha itu.


"Saya makan di hotel aja deh, Bu!" jawab Nanny-nya Argha. Nampaknya gadis itupun ragu pada makanan Korea yang tidak dikenalnya.


"Ya udah kalo gitu Tyo sama Keira pergi dulu!" pamit Tyo pada keluarganya.


"Ati-ati di jalan dan jangan jauh-jauh perginya biar nggak kelamaan balik hotelnya!" perintah Ny.Naina yang langsung dibalas anggukan kompak dari anak dan menantunya itu.


Tyo dan Keira memilih berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan Myeongdong. Sebagai distrik belanja terbesar di Seoul, Myeongdong punya pertokoan yang lengkap, mulai dari produk kosmetik, fashion hingga fastfood.


Dan yang tak kalah terkenalnya adalah jajanan street food. Gak cuma murah, beragam kuliner jalanan di sepanjang Myeongdong terkenal dengan rasanya yang menggugah selera bagi pecinta makanan Korea.


Bagi suami istri itu, momen seperti inilah yang menggantikan masa-masa pacaran yang tidak pernah mereka lewati sebelum menikah. Mengingat hubungan mereka yang bisa dikatakan cukup rumit sebelum pernikahan mereka akhirnya terjadi.


Keira terus saja menebar senyum lebarnya kala berjalan berdampingan bersama sang suami di jalanan kota Seoul yang masih ramai itu.


"Seneng banget mbaknya?" sindir Tyo sambil menundukkan kepalanya sedikit untuk mengintip wajah sang istri dari balik topi yang dipakai Keira.


"Iya dong! Kan kita jarang pacaran kaya gini!" jawab Keira polos.


Penuturan Keira itu langsung menusuk hati Tyo. Meski ia tahu Keira berkata demikian bukan untuk menyindirnya yang jarang mengajak sang istri jalan-jalan akibat kesibukan masing-masing, tapi tetap saja Tyo merasa tertohok.

__ADS_1


Otaknya langsung berpikir, bagaimana memanfaatkan waktu mereka selama di Korea ini untuk mewujudkan harapan terpendam Keira akan kebersamaan mereka berdua seperti saat ini.


***


Setelah pergulatan yang terjadi beberapa kali semalam tadi, Keira dan Tyo nampak masih meringkuk di balik selimut meski alarm di ponsel mereka sudah berteriak-teriak sejak beberapa jam yang lalu.


Keira yang lebih dulu terbangun dan langsung bangkit terduduk begitu menyadari bahwa sinar matahari sudah begitu terang hingga menembus melalui korden jendela kamar tidur mereka.


"Haaaahhh!!! Jam berapa ini???" pekik Keira sambil meraih ponselnya di nakas.


Matanya seketika melebar saat melihat jam digital di ponselnya yang sudah menunjukkan waktu menjelang siang hari.


"Ya ampun, Tyo! Kita kesiangan!!!" teriak Keira panik.


Ia hampir menyibak selimut yang melingkupi tubuhnya ketika lengan Tyo tiba-tiba melingkar di perutnya dan menariknya kembali hingga terhempas di atas bantal.


"Jangan kemana-mana!" pinta Tyo dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia memeluk kembali tubuh istrinya di balik selimut mereka dengan erat.


"Jangan kemana-mana gimana??? Terus yang ngurusin anakku siapa, Tyo?!" protes Keira sambil meronta mencoba melepaskan diri dari dekapan Tyo.


"Khan ada Mbak Ruka. Kalo kamu kesiangan pasti Ibu juga udah lebih dulu bantuin dia. Kamu tenang aja, Kei!" guman Tyo tepat di telinga Keira.


"Tetep aja enggak bisa gitu, Tyo! Mamanya Argha itu aku, jadi yang harusnya bertanggung jawab penuh ngurusin Argha ya aku. Mbak Ruka atau Ibu itu cuman bantuin aku aja!" jelas Keira.


"Terus yang ngurusin aku siapa dong?" Tyo balik bertanya.


Keira terdiam. Ia menghela nafas berat dan panjang. Suaminya ini kadang kala memang suka nyebelin begini. Tapi bukan Keira namanya kalau tidak bisa mengontrol sikap Tyo yang lagi kumat kolokannya.


Keira membalik tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Tyo. Ia lalu mengecup suaminya itu dengan cepat lalu berkata,


Keira menempelkan hidungnya pada hidung Tyo dengan gemas. Berharap suaminya itu mengerti bahwa Tyo dan Dwiargha adalah dua orang yang sangat Keira cintai saat ini.


"Iya deh iyaaa...maafin suamimu yang manja ini. Kali ini, aku rela ngalah deh demi anak. Tapi nanti malam jangan harap ya!" balas Tyo lalu menarik tengkuk Keira dan dengan cepat membalas kecupan istrinya sebelum wanita itu akhirnya turun dari tempat tidur.


"Siap, Bos!!!" ucap Keira sambil mengerling genit ke arah suaminya.


Setelah itu Keira bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Ia berpakaian secepatnya dan segera ke kamar sebelah untuk menemui putra mereka.


***


#Sorenya, setengah jam menjelang resepsi pernikahan Vynt dan Fady.


Meski sudah memakai gaun pesta mewahnya, dibantu oleh babysitternya Argha, Keira masih sibuk mendandani bayi kecilnya untuk turut hadir di acara penting sahabatnya itu.


"Naaahhh, Udah! Anak mama udah rapi sekarang! Jangan belepotan lagi ya dek!" ujar Keira pada si kecil Argha yang baru saja ia pakaikan baju baru. "Sekarang ikut sama Mbak Ruka dulu ya, Sayang!"


Baru saja Keira menyerahkan Argha ke gendongan nanny-nya, tiba-tiba Ny.Naina muncul ke dalam kamar suite yang Tyo sewa selama mereka ada di Korea.


"Keiii, cucu Ibu mana? Udah siap belum?" tanya Ny.Naina pada menantunya.


"Udah nih, Bu! Baruuu aja beres!" balas Keira sambil tetap sibuk memasukkan beberapa keperluan untuk Argha ke dalam diapers bag milik anaknya itu.


"Ya ampuuunn, cucu oma lucunya!!!" pekik Ny.Naina senang begitu melihat Argha kecil yang sudah bersih dan rapi dalam gendongan Mbak Ruka.


"Sini, Mbak! Biar saya yang gendong!" pinta Ny.Naina.

__ADS_1


Mbak Ruka dengan sigap memberikan bayi yang belum genap satu tahun itu kepada neneknya.


"Ini Mbak, tasnya Argha! Taruh aja di bawah stroller sama tolong carikan gendongannya ya, di sini enggak ada soalnya. Mungkin ada di stroller!"


Keira menyerahkan diapers bag milik putranya kepada Mbak Ruka. Perempuan muda itu tampak patuh menerima tas dari Keira dan mengangguk atas permintaan majikannya tadi.


"Kamu buruan siap-siap, Kei. Tinggal setengah jam lagi loh acaranya!" seru Ny.Naina.


"Iya, Bu! Keira tinggal dandan aja kok ini!" Keira menjawab seruan ibu mertuanya itu.


"Ya udah, Ibu sama Argha duluan ke bawah ya!" pamit Ny.Naina. "Ayo Mbak Ruka!" ajaknya pada nanny-nya Argha yang dengan tenang mengikuti nenek bayi yang diasuhnya.


Keira bergegas mendandani dirinya sendiri di meja rias yang ada di kamar hotelnya itu. Hanya butuh make up dan memblow rambut panjangnya saja dan bereslah sudah.


Tyo masuk ke kamar mereka ketika melihat istrinya sedang menyemprotkan parfum sebagai sentuhan akhir penampilannya sore ini. Begitu melihat Keira yang nampak sangat cantik, Tyo otomatis mengunci pintu.


Keira yang mengetahui hal itu langsung menyipitkan matanya. Menatap curiga ke arah suaminya yang nampak sangat tampan dengan jas pesta yang pas di badannya.


Tyo membalas tatapan curiga istrinya dengan seringai yang khas ketika dirinya sedang ingin mencumbu istrinya itu. Dan tanpa ragu ia mulai mendekati Keira yang masih berdiri di depan meja rias.


"Enggak usah macem-macem deh!" ancam Keira.


"Siapa juga yang mau macem-macem, orang aku maunya cuman satu macem kok! Yaitu kamu!" Tyo terus maju sementara Keira terus mundur.


"Iissshh, Tyooo. Aku dah beres dandan ini! Jangan rese' deeehhh!" Keira nampak geregetan dengan tingkah suaminya.


Tyo malah terkikik geli melihat reaksi istrinya yang seperti itu, membuatnya semakin ingin menggoda wanitanya itu.


Hanya dengan mempercepat dua langkah saja, Tyo langsung bisa meraih pinggang Keira lalu menarik tubuh istrinya itu hingga menempel erat ke tubuhnya sendiri.


"Tyoooo!!!" Keira memekik dengan spontan begitu Tyo dapat meraihnya.


Tyo tersenyum gemas sambil menatap wajah cantik istrinya dari jarak dekat. Ingin rasanya ia mencegah istrinya keluar malam itu dan mengurung Keira di kamar bersamanya saat itu juga, tapi mengingat bakal ada begitu banyak orang yang akan mengomelinya nanti, Tyo jadi mengurungkan niatnya untuk saat ini.


Akhirnya Tyo hanya mengecup bibir Keira dua kali sebelum melepaskan tubuh istrinya lagi. Keira merasa lega setelah terbebas dari suaminya. Jujur saja, ia sempat takut jika Tyo nekat dan membuatnya tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan Vynt malam ini.


***


Di bandingkan dengan resepsi di Indonesia yang meriah dan besar-besaran, resepsi pernikahan Vynt dan Fady di Korea lebih private dan kekeluargaan. Hal itu dikarenakan memang hanya anggota besar kedua keluarga serta kerabat dekat yang diundang.


Meski begitu, Fady dan Vynt tetap tampil memukau bagaikan pangeran dan putri dengan baju pengantin berwarna putih yang serasi.


Meski belum wisuda tapi Vynt tak ingin lagi menunda pernikahannya dengan Fady. Mungkin karena alasan itulah ia jadi satu-satunya yang selesai skripsi lebih dulu di antara empat sekawan.


Beth sudah kelar magang tapi skripsinya belum selesai. Karena setelah magang ia langsung direkrut menjadi karyawan kontrak di Dae-Ho Trip, jadi ia masih belum bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan skripsi.


Sementara Said saat ini masih magang, sedangkan Keira bahkan belum magang karena baru saja kembali kuliah setelah terminal selama satu tahun lamanya.


Resepsi pernikahan Fady dan Vynt dilakukan di Indonesia dan Korea. Diantara empat sekawan, hanya Said yang tidak ikut ke Korea karena alasan magang itu. Tapi untungnya Said masih bisa menghadiri pernikahan yang di gelar oleh keluarga besar mempelai wanita di Indonesia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2