Replacement Lover

Replacement Lover
PERJUANGAN TYO


__ADS_3

Vynt dan Beth yang baru keluar dari kantor Tata Usaha untuk mengurus pengajuan On the Job Training melihat Keira yang bengong sendirian di salah satu sudut taman kampus dari jendela kaca di lantai dua gedung kampus mereka.


"Ngapain Keira bengong disitu?" tanya Beth bingung.


"Entahlah." Vynt mengedikkan bahunya. "Samperin yuk!" ajaknya kemudian pada Beth.


Keduanya lalu melangkah menuruni tangga untuk menghampiri Keira di taman.


***


@Taman Fakultas Kepariwisataan


Keira duduk di salah satu bangku panjang di taman kampus dengan memegang ponselnya. Dilihatnya kembali pesan chat yang dikirim Tyo barusan.


๐Ÿ“ฉTYO PRATAMA


KerjaanQ mmbludak. Mungkin aQ ga bisa ktmu kmu dulu bbrpa hari. Tolong, slma itu kmu pikirin ttg ucapanQ kmrin


Pria itu berhasil memaksa Keira untuk memberikan nomor ponselnya ketika mereka masih di hotel. Mau tidak mau Keira pun memberikan nomornya pada pria yang terlanjur mengutarakan perasaan padanya itu.


๐Ÿ“ฎKEIRA PERMATA


Baiklah


Keira menghela nafas lega setelah membalas chat dari Tyo. Dia mempunyai jeda beberapa hari sebelum waktunya tiba memberikan jawaban yang tepat untuk pernyataan cinta Tyo.


Keira sama sekali tidak menyangka bahwa akan jadi seperti ini akhirnya. Sejak meninggalnya Argha, Keira rasanya tidak ingin lagi berhubungan dengan Tyo mengingat dia sering terbayang wajah Argha pada sosok Tyo.


Itu membuatnya sulit mengikhlaskan kepergian Argha. Padahal dia tahu persis bahwa Argha sudah tidak mungkin kembali. Dan Keira juga tidak ingin menambah luka di hati Tyo karena sikap Keira yang seperti itu.


Keira tahu, Tyo pun pasti tidak kalah merasa kehilangan. Keira turut merasakan kesedihan dalam tangis Tyo yang dilihatnya di Rumah Sakit waktu itu. Di depan kamar mayat yang menyimpan jasad Argha saat itu.


Itu bukanlah kesedihan yang dibuat-buat, pikir Keira. Lalu jika Tyo memang sesayang itu dengan adiknya tapi pria itu juga sudah mempunyai perasaan pada Keira bahkan sejak Argha masih hidup, mungkinkah selama ini Tyo berusaha menyimpannya sendiri? pikir Keira lagi.


Ya Tuhaaann, Keira sungguh sulit memahaminya. Apakah Tyo tetap akan menyimpan perasaannya jika Argha tidak pernah pergi? Apakah Tyo tetap akan mencintainya diam-diam jika Argha tetap hidup?


Keira menggigit bibirnya sendiri kala mengingat bahwa dia bahkan pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghindari Tyo. Dan itu memang dilakukannya demi usahanya untuk belajar menerima kepergian Argha.


Tanpa Keira sadari mungkin sikapnya saat itu justru makin membuat Tyo terluka. Keira menutup matanya rapat-rapat, berusaha menghilangkan sesak di dadanya yang mendadak muncul.


"Keeiiiraaaa...." Beth memanggil dengan nada seriosa yang dibuat-buat.


Keira langsung menoleh ke arah suara. Dilihatnya Beth dan Vynt yang berjalan mendekatinya.


"Tumben cuma berdua? Said mana?" Keira bertanya karena tak melihat temannya yang satu itu berasama mereka.


"Ooh, Said lagi remedi test Statistik di lantai tiga." jawab Beth.


"Ngapain lo disini? Nggak ngurus aplikasi OJT?" tanya Vynt pada Keira sambil mengetuk puncak kepala gadis itu dengan gulungan kertas di tangannya.


Keira tersenyum hambar pada keduanya. "Iya, ntar gue urus. Sampe kapan sih limitnya?" Keira balik bertanya pada Vynt.


"Masih sampe akhir bulan ini sih, tapi jangan nyantai juga keburu kehabisan kuota buat OJT di kantor-kantor yang bonafide." terang Vynt.


"Ooh, iya." Keira kembali menjawab tanpa semangat.


"Are you ok?" Vynt yang melihat Keira tak bersemangat menjadi khawatir pada temannya itu.


"Im okay. Cuman agak kecapekan aja." jawab Keira berbohong.

__ADS_1


Vynt menyipitkan matanya tanda tak percaya. Vynt tahu setelah jadwal praktek Tour Planning Keira kemarin lusa, gadis itu tidak langsung pulang ke apartemennya tapi malah pulang keesokan harinya lagi yang artinya gadis itu bermalam di luar entah dimana dan bersama siapa.


Vynt tak mau terlalu ikut campur masalah pribadi Keira tapi jika gadis itu memang mempunyai masalah yang pelik, Vynt tidak akan ragu-ragu untuk pasang badan menolongnya. Itu pun atas persetujuan Keira tentunya.


***


@Cafe Teluse


"Woi, Rizzi!" panggil Tyo pada Rizzi yang sedang duduk santai di salah satu meja bar menghadap notepadnya.


Ketika Rizzi akhirnya menoleh seketika Tyo melempar goodie bag berisi gaun pesta yang kemarin lusa dikirimkan Rizzi untuk Keira tepat di wajah pria nyentrik berkacamata itu.


"Ehh, Lhaa dhalahhh! Sadis banget sih ucapan terima kasih lo. Jadi begini sikap lo setelah semua yang gue lakuin buat lo dan Keira kemaren malem. Tega banget sih, Bro. Aku tuh gak bisa diginiin." cerocos Rizzi sambil pura-pura ngenes.


"Makasi banget karena berkat bantuan lo, hubungan gue ama Keira sekarang tambah runyam." balas Tyo dengan ekspresi jijik mendengar lawakan sahabatnya itu.


Tyo menarik kursi untuk duduk di sebelah Rizzi lalu melambaikan tangannya pada Rudy si Bartender.


"Mau pesan apa, Mas Tyo?" tanya Rudy sopan.


"Gue butuh minuman yang bikin melek, Rud." jawab Tyo.


"Siap." jawab Rudy sigap lalu tak lama pemuda ceking itu mulai sibuk meracik minuman untuk Tyo dari balik meja bar.


"So, gimana kelanjutan lo sama Keira? Ada perkembangan?" tanya Rizzi lagi.


Tyo tak segera menjawab. Matanya nampak sendu. Dihelanya nafas dalam lebih dulu lalu menyesap Punch Lemon yang baru saja Rudy sajikan untuknya.


"Gue udah nyatain perasaan gue ke Keira." ucap Tyo datar.


Rizzi spontan menoleh ke arah Tyo dengan membuka lebar matanya. Kaget mendengar ucapan Tyo yang terus terang itu.


Rizzi memang sudah menyadari perasaan Tyo pada Keira sebelumnya, namun dirinya masih saja kaget ketika mendengar sahabatnya itu mengungkapkannya langsung seperti ini.


Tak Rizzi sangka ternyata Tyo memiliki perasaan sedalam itu pada kekasih almarhum Argha---adik Tyo sendiri hingga berani menyatakannya langsung pada gadis itu.


"Gue udah nggak bisa lagi nyimpen perasaan gue ini, Riz. Tapi mungkin gue masih kurang nunjukin perasaan gue ke dia, makanya Keira sama sekali nggak menyadari perasaan gue selama ini. Bahkan setelah..." ucapan Tyo mendadak terhenti.


Hampir saja Tyo keceplosan mengatakan bahwa dirinya sudah bercinta dengan Keira. Padahal dia ingin hanya Tuhan dan Keira sendiri yang tahu tentang aib gadis itu selain dirinya.


"Bahkan setelah apa?" Rizzi penasaran.


"Yaa.. bahkan setelah gue ngomong langsung ke dia soal perasaan gue. Kayanya Keira masih belom bisa percaya." untungnya Tyo bisa ngeles dengan cepat jadi Rizzi tidak curiga dengan apa yang semalam telah dilakukannya bersama Keira.


"Mungkin karena selama ini di pikiran dan hati Keira cuman ada Argha. Nah, elo yang baru aja nongol jelas kalah start lah." timpal Rizzi.


"Iya-ya...hubungan Keira dan Argha dah hampir setahun. Nah gue, baru ngasih perhatian segini-segini aja." Tyo menyadari kekurangannya.


"Makanya kalo lo emang serius, lo kudu buktiin terus perasaan lo, pepet terus brayy...jangan kasih kendoorr." Rizzi mencoba mensupport sahabatnya itu.


"Tapi gimana mo mepet Keira terus kalo kerjaan gue banyak begini." keluh Tyo.


Mengurus dua perusahaan bukanlah hal mudah, apalagi kedua perusahaan yang diurusnya itu bukan dalam bidang yang sama.


Tyo memiliki perusahaannya sendiri yang menggeluti bisnis kontraktor, meskipun terbilang masih kecil dan baru karena baru beberapa tahun Tyo memulainya, namun bisnisnya berjalan cukup lancar.


Sementara perusahaan ayahnya bergerak di bidang akomodasi yang terus terang jauh dari minat dan bidang yang Tyo pahami selama ini.


Beruntung Tyo dibantu oleh beberapa orang terpercaya. Andrew, assistennya di perusahaan kontraktor miliknya sendiri yang selalu siap melaporkan dan mengerjakan apapun yang Tyo perintahkan.

__ADS_1


Serta Pak Agus Choir, sang tangan kanan ayahnya yang selalu siap membantu Tyo dalam memberi petunjuk sebelum mengambil keputusan penting untuk perusahaan sang ayah.


Tak lupa pula ada Rizzi yang juga selalu siap membantunya di bisnis ayahnya karena Rizzi termasuk salah satu maestro di bidang F&B* (food and beverage) yang masih termasuk dalam bisnis akomodasi.


Namun tetap saja kemampuan memimpin Tyo juga patut diacungi jempol karena meski terpaksa mengurus kedua perusahaan itu secara bersamaan tapi Tyo tetap mampu mengelola keduanya dengan cukup baik.


Yaahh...walaupun semua itu menguras seluruh tenaga dan waktunya. Tapi Tyo mau tidak mau harus menjalaninya. Demi keluarga dan demi dirinya sendiri.


"Ooh, iya ngomong-ngomong soal kerjaan. Nih gue dah sortir data korupsi yang sempet di email Argha ke elo sebelum kecelakaannya. Ternyata emang bener, Bro. Si Mr. Wan rekan bisnis bokap lo di Singapura itu emang memanipulasi hasil profit yang berimbas sama share profit yang harusnya bokap lo terima. Semua bukti yang dikumpulin Argha dah siap nih buat nuntut orang itu ke meja hijau." Rizzi berubah mode serius kala menjelaskan masalah itu pada Tyo.


"Teruuusss parahnya, gue udah selidikin juga kalo tuh uang hasil nilep jatah profit bokap lo dia pake buat beli saham lagi di Hotel cabang Singapura itu pake identitas orang lain yang notabene suruhannya dia. Intinya itu orang pengen nguasain hotel itu sendiri kayanya." Rizzi menjelaskan lagi hasil temuannya dengan berapi-api.


"Lo udah punya juga bukti-bukti money laundrynya dia yang lo temuin itu?" tanya Tyo tak kalah serius pada Rizzi yang kembali menatap layar notepadnya.


"Bukti dokumen sih udah ada tapi kita juga butuh saksi, parahnya semua orang suruhan dia yang beli saham Hotel cabang Singapura itu tersebar di beberapa negara, Bro. Kita jelas kalah otoritas kalo soal itu." Rizzi menampakkan wajah kecewanya.


"Lo bisa cariin data-data termasuk kelemahan orang-orang suruhan Mr.Wan itu nggak?" Tyo seperti punya ide.


"Bisa aja sih, klo gue liat track record mereka emang rata-rata mereka itu masuk daftar blacklist Bank Dunia yang kayanya sengaja di back up sama Mr. Wan dari segi ekonomi."


"Oke klo gitu, tolong lo siapin datanya. Biar gue yang urus mereka satu per satu supaya mau jadi saksi pihak kita. Cuman bukti doang gue kurang yakin menang ngelawan dia mengingat koneksinya Mr. Wan yang nggak bisa dianggep sepele." Tyo menatap Rizzi serius.


"Lo yakin bro? Gak bakalan gampang lho ini." Rizzi ragu.


"Sesulit apapun bakalan gue lakuin, karena secara nggak langsung Argha udah ngorbanin hidupnya demi menyelidiki masalah ini langsung." Tyo yakin.


Rizzi terdiam. Memang benar tujuan Argha memilih OJT disana karena ingin mengumpulkan bukti secara langsung akan penyelewengan yang diduga dilakukan oleh Mr. Wan itu.


Argha merasa itu adalah tanggung jawabnya mengingat kelak dirinyalah yg akan mewarisi perusahaan milik Pak. Ruslan---ayah Tyo dan Argha.


Hal itu dikarenakan Tyo tidak tertarik di bidang Perhotelan dan memilih mendirikan perusahaan kontraktornya sendiri dari nol. Untungnya orang tua Tyo tidak pernah mempermasalahkan apa yang menjadi pilihan kedua putranya.


"Kalo lo turun tangan sendiri ngurusin masalah ini, trus Keira gimana kabar?" Masalah ini nggak bakal selesai sebulan dua bulan lho, Bro." Rizzi mengingatkan.


Tyo terpekur. Tapi niatnya sudah bulat untuk meneruskan perjuangan Argha. Tidak akan dia biarkan perjuangan Argha menguap sia-sia begitu saja.


Dia harus bisa menyelesaikan masalah ini. Dia harus bisa memperjuangkan hak ayahnya kembali. Dia harus bisa menjadikan pengorbanan Argha berarti.


"Mungkin ini justru waktu yang tepat karena Keira juga masih butuh waktu buat mempertimbangkan perasaannya ke gue. Lagian toh Keira nggak akan pergi kemana-mana. Gue akan langsung nyari Keira begitu masalah ini selesai." Tyo percaya diri.


To Be Continue...


.


.


.


Terima Kasih buat yang udah VOTE:


~ Riana Nasir


~ Karuna


~ Endang Oke


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


*F&B, food and beverage department merupakan bagian dari hotel yang mengurus dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan pelayanan makanan dan minuman serta kebutuhan lain yang terkait, dari para tamu yang tinggal maupun yang tidak tinggal di hotel tersebut dan dikelola secara komersial serta profesional.

__ADS_1


__ADS_2