
.
.
.
Hari berganti, setelah sarapan, Tyo lagi-lagi mengajak Keira ke suatu tempat.
"Lagi??? Kemanaaa???" tanya Keira pada suaminya dengan ekspresi keheranan.
"You will know it soon, Baby! Tapi tenaaaang, kali ini kita rame-rame kok!" balas Tyo dengan senyum menggoda. "Sekarang pakaikan anak kita baju tebal untuknya!" pinta Tyo.
Keira pun langsung menurut dan bergegas menuju kamar sebelah untuk menggantikan baju putranya dengan baju musim dingin untuk di luar ruangan. Begitu pula dengan Mbak Ruka yang juga sudah memakai mantel tebal pemberian Ny.Naina.
Di lobi hotel, Vynt dan Fady sudah menunggu keluarga kecil itu dan siap dengan mobil besar mereka. Namun saat Tyo baru melewati resepsionis, seseorang menyapanya.
Ternyata orang itu adalah seniman yang semalam mereka temui di Hongdae. Pelukis itu sengaja datang sendiri untuk mengantarkan lukisannya yang telah rampung sebagai tanda terima kasih kepada Tyo yang telah memberikan bayaran yang memuaskan atas lukisannya.
Tyo pun tak mengira jika seniman itu akan repot-repot mengantarkan lukisannya sendiri. Bahkan lukisan yang ternyata berisi potret dirinya bersama istri dan anaknya itu pun sudah terbingkai cantik dengan figura kaca yang elegan.
Tyo dan Keira merasa sangat puas dengan lukisan itu. Sebagai tanda terima kasih, Tyo berniat memberikan uang tips tambahan namun seniman itu menolak dengan bahasa inggris yang ala kadarnya.
Pria pelukis itu beralasan jika uang yang diberikan Tyo semalam sudah sangat lebih dari cukup untuk membayar jasanya maupun ongkos kirimnya. Merasa tugasnya sudah selesai, pria itu pun langsung pamit dari hadapan Tyo dan Keira.
Dan akhirnya, keluarga kecil itu pun mulai naik ke mobil Vynt setelah Tyo lebih dulu menitipkan lukisan itu ke bagian resepsionis.
Ternyata mereka menuju City Hall skate rink di kota Seoul untuk bermain ice skating. Tyo sengaja menyewa salah satu rink khusus untuk keluarganya selama dua jam penuh.
Para pengunjung yang datang sampai terbengong-bengong melihat salah satu skate rink di sana tidak dibuka untuk umum karena sedang digunakan Tyo sekeluarga.
Hal itu dilakukan Tyo karena ia tidak ingin terpisah satu sama lain dengan anggota keluarganya mengingat kondisi City Hall yang sangat ramai.
Apalagi Tyo ingin membawa serta pula sang anak untuk berseluncur di atas es meski bayinya itu hanya menaiki kursi dorong yang berbentuk ****** laut yang sedang menukik.
Tyo merasa kenyamanan dan keamanan mereka tidak akan maksimal jika harus berbaur dengan pengunjung lainnya. Karena itulah ia sengaja menyewa salah satu skate rink kecil yang biasa digunakan para pemula khusus untuk keluarganya.
"Tyoooo, tolooonngg!!! Aku enggak bisa berdiri niihh!" pekik Keira sambil bergelayut pada salah satu tali tambang yang ada di pinggir rink.
Tyo tersenyum geli melihat istrinya yang susah payah mencoba berdiri dengan kedua kakinya sendiri sambil memakai sepatu skating.
Sementara Mbak Ruka yang tidak tahan dingin menolak untuk ikut berskating, alhasil gadis itu hanya mengambil foto para majikannya dari luar rink dengan antusias.
Ia bahkan sampai membawa kamera DLSR yang dihadiahkan oleh Tyo dan Keira di ulang tahunnya beberapa waktu lalu khusus untuk mengabadikan momen ini.
Sedangkan Argha kecil didorong berkeliling rink oleh Fady yang ternyata cukup mahir berskating seperti Tyo. Berbeda dengan istrinya, Vynt pun tak begitu bisa bermain skating. Meskipun tidak separah Keira yang bahkan susah untuk berdiri, Vynt hanya tidak bisa meluncur dengan lurus.
Hasilnya, tak sampai dua jam, mereka pun sudah kelelahan. Dan setelah puas ber-Ice Skating, sesuai skenario dari Tyo, Vynt lalu mengantar mereka ke Premier Thai Spa di daerah Cheongdam-dong, Gangnam.
"Ngapain kita kesini?" tanya Keira bingung.
"Kalian para cewek, silahkan memanjakan diri! Biar aku dan Vynt yang akan jagain Argha." ujar Tyo santai sambil mengambil sang anak dari gendongan istrinya.
"Lhoo..." Keira masih melongo.
"Saya juga, Pak?" tanya Mbak Ruka pada Tyo dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Ya kalo kamu ngerasa cewek, ikut aja sana. Tapi kalo ngerasa cowok sini ikut kita!" jawab Tyo sambil ngeloyor pergi menyusul Vynt yang sudah melangkah duluan ke arah sebuah Kafe di sebelah Spa tersebut.
Ketika Keira dan Mbak Ruka masih melongo saking bingungnya, Fady lalu menarik keduanya untuk masuk ke lebih dalam.
"Udah yuukk, buruan masuk! Enggak boleh protes ya karena udah booking nih!" ajak Fady.
Hampir dua setengah jam ketiga wanita itu menghabiskan waktu memanjakan diri di dalam Spa. Segala jenis perawatan mereka lakukan hingga tubuh mereka bertiga sama-sama rileks dan bersih.
Sementara Tyo dan Vynt dengan sabar menunggu di Kafe sebelah sambil mendiskusikan rencana selanjutnya sekaligus menjaga si kecil Argha yang untungnya sama sekali tidak rewel.
Selesai Spa, mereka lalu mampir ke sebuah restoran Asia untuk makan siang bersama. Barulah setelahnya mereka kembali ke hotel.
"Kita enggak ikutan turun ya, karena masih ada acara lain nih! Sorry banget!" ujar Fady dari dalam mobil setelah Tyo dan Keira serta Mbak Ruka yang sedang menggendong Argha kecil turun dari dalam mobil.
"Oke, no problem! Makasi banget yaa bantuannya hari ini!" balas Tyo pada Fady dan Vynt.
"Sama-sama!" jawab Fady.
"Have fun yaa buat entar malem!" sahut Vynt dari belakang kemudi sesaat sebelum melesatkan mobilnya pergi dari halaman hotel.
Tyo hanya membalas Vynt dengan melambaikan tangannya sementara Keira mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Vynt tadi. Ia pun melirik ke arah sang suami yang hanya menyunggingkan senyum misteriusnya.
Tapi karena rasa kantuk yang sudah dirasakannya sejak dalam perjalanan pulang, Keira jadi enggan membahas masalah yang sempat disinggung Vynt tadi. Setidaknya untuk saat ini, pikir Keira.
Namun ternyata tidur singkat yang direncanakan Keira berlangsung hingga menjelang makan malam. Tyo yang maklum akan kondisi tubuh sang istri yang merasa rileks setelah melakukan perawatan tubuh di spa sampai tidak tega membangunkannya.
Namun demi terlaksananya acara puncak mereka malam ini, Tyo terpaksa membangunkan istrinya itu untuk makan malam romantis di restoran bintang lima yang ada di hotel itu.
"Kei, bangun, Kei! Sayang, bangun yuk! Udah waktunya makan malam nih." Tyo menepuk-nempuk pipi Keira yang mulus untuk membangunkannya.
"Ini jam berapa, Tyo?" tanyanya pada sang suami yang menungguinya di tepi tempat tidur.
"Jam enam lebih sedikit!" jawab Tyo sambil memandangi wajah bangun tidur istrinya yang selalu nampak cantik di matanya.
"Haaahhh, udah semalam itu??? Kenapa kamu enggak bangunin aku daritadi sih?" Keira langsung duduk dan mengucek matanya dengan cepat.
"Aku enggak tega bangunin pas ngeliat kamu pules banget tidurnya!" jawab Tyo jujur.
"Trus anakku mana? Argha bangun atau tidur?" tanya Keira lagi.
"Argha tadi sempat bangun jam tiga sore, terus habis dimandikan dan main sebentar sama Mbak Ruka, dia tidur lagi deh sampai sekarang!" balas Tyo.
"Terus kamu sendiri mau kemana udah rapi gitu?" Keira yang akhirnya dapat membuka matanya lebar-lebar baru sadar bahwa suaminya sudah terlihat tampan seperti akan pergi ke acara formal.
"Aku mau ajakin kamu dinner di resto bawah!" sahut Tyo dengan senyum manisnya.
"Sekarang?" Keira bertanya dengan nada polos.
"Ya iyalah, sekarang sayaaanngg, masa' dinner mau besok pagi, itu mah sarapan namanya!" jawab Tyo sambil memencet hidung Keira.
"Makan malam doang, rapi gitu?" Keira terheran.
"Ya kan, resto bawah itu bintang lima, mereka punya dress code formal untuk setiap pengunjungnya. Kamu juga buruan siap-siap gih, dressnya udah aku pilihin tuh di sana!" Tyo menunjuk pada gaun satin merah yang dipilihnya untuk sang istri kenakan malam ini.
Keira mengangguk. Perutnya memang sudah lapar lagi selepas tidur siang yang panjang barusan. Makanya tanpa ragu Keira menuruti perintah sang suami untuk mandi dan bersiap-siap.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Keira dan Tyo sudah saling duduk berhadapan di salah satu meja khusus couple di restoran itu.
Meski restoran itu memiliki dekorasi yang elegan dan indah, namun entah kenapa Keira merasa hanya di sekitar mejanya saja yang dekorasi bunganya sedikit lebih banyak. Meja tempat mereka makan jadi lebih cantik ketimbang meja lainnya.
Saat makanan penutup mulai di hidangkan, tiba-tiba entah dari mana, seorang voilinis muncul mendekati meja mereka sembari memainkan biolanya yang mengalunkan musik klasik yang indah.
Keira terkejut dengan kedatangan pemain biola itu, namun ia sudah bisa menduga jika suaminyalah yang mengatur semuanya.
"Ini perbuatan kamu kan?" tanya Keira dengan tatapan mata penuh selidik ke arah Tyo.
"Suka?" balas Tyo.
Keira mengangguk senang. Pasalnya ia jadi pusat perhatian seluruh pengunjung restoran itu. Dan tak sedikit dari mereka, khususnya para wanita, yang memandangnya dengan tatapan iri.
Tapi rupanya kejutan dari Tyo untuknya malam ini tidak hanya itu. Karena tak lama, Tyo pun berdiri dan melangkah hingga ke belakang kursi yang diduduki Keira lalu memakaikan sebuah kalung yang sedari tadi di simpan Tyo di dalam saku jasnya.
Tyo memakaikan kalung dengan liontin yang berasal dari patahan gelang milik Keira yang dulu ditemukan Tyo di pertemuan pertama mereka sewaktu di Bandara dulu.
Keira kaget sekaligus terharu. Terlebih lagi Tyo telah memodifikasi liontin itu dengan menambahkan sebutir berlian berwarna pink di tengah-tengahnya.
"Ya Ampun, Tyo...apa ini?" Keira tak percaya. Disentuhnya liontin yang kini tergantung di lehernya dengan mata berkaca-kaca.
"Hadiah untuk istriku!" jawab Tyo puas setelah ia kembali duduk di kursinya.
"Apa nggak apa-apa aku nerima semua ini Dari kemarin hingga saat ini yang kamu lakuin ke aku ini menurutku udah berlebihan."
Tyo meraih tangan kiri istrinya yang masih ada di atas meja lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Nggak ada hadiah yang berlebihan untuk kamu, Kei. Kamu istriku. Milikku, milikmu juga!" jawab Tyo tegas namun lembut.
Ekspresi Keira seketika berubah sendu, "Aku jadi takut, Tyo! Takut sesuatu yang buruk akan terjadi kalau aku terlalu bahagia begini!"
"Tolong kamu jangan berpikir begitu, Kei! Kamu berhak bahagia, bahkan sangat bahagia setelah semua penderitaan yang kamu dan ibumu alami di waktu dulu."
"Tapi waktu menikah kemarin, kamu juga sudah membelikanku banyak sekali perhiasan, Tyo."
Tyo memajukan tubuhnya untuk mencium tangan Keira sebelum membalas ucapan istrinya itu.
"Semua yang aku lakuin untuk kamu, sebanyak apapun uang yang aku keluarin untuk kamu, semua itu nggak akan bisa menebus segala yang udah kamu kasih buat aku, Kei. Malam pertamamu, pengorbananmu mengandung dan melahirkan anakku. Waktumu, tenagamu, dan kesabaranmu untuk ngurusin aku dan anak kita. Aku nggak akan bisa menebus semua itu, Keira. Enggak akan bisa. Jadi tolong jangan pernah bilang apa yang aku kasih ke kamu ini berlebihan. Ini sama sekali nggak ada apa-apanya, Kei!"
Tyo berkata panjang lebar untuk mengungkapkan rasa di dadanya. Sebersit ketulusan terpancar dari sorot matanya yang menatap lurus ke dalam bola mata Keira. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan istrinya.
Keira terdiam. Ia kehabisan kata-kata mendengar ungkapan tulus dari sang suami padanya. Hanya air mata yang mulai membanjir dan binar pada manik matanya yang mewakili suaranya untuk mengungkapkan kebahagiaan.
Bibir Keira bergetar menahan buncah di dadanya. Ia merasa bahagia, sangat bahagia hingga tak ada lagi yang diinginkannya saat ini selain memeluk laki-laki yang masih berlutut di hadapannya. Memeluk suaminya. Belahan jiwanya.
Tyo yang seakan mengerti apa yang diinginkan kekasih hatinya itu lalu perlahan bangkit dan memeluk tubuh Keira erat. Mendekapnya dengan penuh kasih dan menghujani kepala Keira dengan ciuman penuh cinta.
Keduanya seakan tak peduli pada sekitar, pada tatapan orang-orang yang turut menyaksikan momen spesial nan menghanyutkan dari sepasang suami istri itu.
.
.
.
__ADS_1