Replacement Lover

Replacement Lover
Vynt Story : JUJUR


__ADS_3

.


.


.


Beberapa menit telah berlalu, tapi keheningan di dalam ruang perawatan di lantai dasar gedung ASTRO Tours itu masih saja berlaku.


Tak ada gurauan seperti biasanya, tak ada pula percakapan, bahkan suara. Para makhluk-makhluk bernyawa di dalam ruangan itu sama-sama diam membisu. Berdiskusi dengan pikiran mereka masing-masing.


Entah bagaimana isi pikiran mereka, tetapi yang jelas topiknya semua sama, yaitu tentang seorang Vynt. Anak magang yang tiba-tiba saja menjelma menjadi keponakan orang nomor satu di ASTRO Tours.


Ditambah dengan embel-embel, keponakan 'tersayang' sepertinya ya, mengingat bagaimana perlakuan Mr. Dong Dae-Ho kepada Vynt tadi yang nampak begitu lembut juga perhatian.


Tiba-tiba, Maurice yang baru pulang dari lunch meeting bareng klien di luar kantor seketika menyeruak masuk ke dalam ruang perawatan dan langsung duduk ditepian kasur tempat Vynt terbaring.


"Vyyyynnnttt, aku dengar kamu terluka ya? Ya Tuhaannn, brondongku kesayangan jadi berdarah-darah begini!" pekik Maurice panik.


Namun, kepanikan Maurice langsung berubah menjadi ekspresi heran melihat teman-teman se-Tim-nya yang tumben-tumbennya saling membisu dan tampak canggung begini. Padahal biasanya mereka akan menggila jika sedang ngumpul bersama.


"Apa? Apa? Ada apa ini, kok situasinya awkward gini? Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Maurice kebingungan.


Suasana masih hening. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Maurice barusan. Wanita itu jadi bengong sendiri sambil memandangi wajah teman-temannya satu per satu.


Vynt menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka suaranya, "Maaf teman-teman, aku tidak ada maksud apa-apa dengan menutup-nutupi siapa aku sebenarnya. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk mempermainkan kalian. Sungguh," ungkap Vynt dengan tulus.


Ia tidak tahan lagi dengan keheningan dalam ruangan itu, dan rasa canggung yang tiba-tiba hadir di antara dirinya dan anggota Tim Dua. Ia tidak ingin anggota Tim Dua salah paham padanya.


"Iya guys, Vynt tidak bermaksud buruk. Dia hanya ingin diperlakukan seperti anak magang biasa. Dan itu mungkin tidak akan terjadi jika kita tahu sedari awal kalau dia adalah keponakan bos besar," imbuh Fady mencoba membantu klarifikasi Vynt.


"Whaaattttttsss?" Maurice sontak melompat berdiri dari duduknya dengan kedua tangan menempel di pipi-pipinya. "Vynt keponakannya bos? Keponakannya Mr. Dong Dae-Ho?" tanya wanita itu dengan suara cetar membahana.


Maurice kembali menatap mata teman-temannya satu per satu, dan kesemuanya memberikan respon yang sama, sama-sama mengangguk pelan.


"Jadi kau sudah tahu, Fa?" tanya Qiqi pada Fady.


"Aku baru tahu tiga hari lalu, sebelum-sebelumnya aku juga tidak tahu sama seperti kalian," beber Fady terus terang.


Dan seluruh Tim Dua pun kompak manggut-manggut mendengar penjelasan dari Fady barusan.


"Pantesan royal banget pas nraktir kita."


"Pantesan bisa stay di Somerset."


"Pantesan tongkrongannya Mercedes-Maybach."


Dan 'pantesan-pantesan' lain yang diutarakan anggota Tim Dua satu per satu.


"Oh My Wooowww, Vyyynnttt. Pacarin aku doonngg!" Maurice langsung mengobral dirinya di hadapan pemuda itu.


Ia kembali duduk di tepian ranjang yang ditempati oleh Vynt sambil cengar cengir di hadapan keponakan bosnya itu.


"NO WAY! Karena aku udah punya wanita idaman lain," jawab Vynt tegas sambil melirik pada Fady.


Sementara Fady yang dilirik oleh Vynt langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung Revi yang duduk di sebelahnya.


"Cie... Cie... Ada apaa niiihhh? Hubungan terlarang antara si anak magang sama pembimbingnya?" goda Enno pada Vynt dan Fady yang langsung disambut siulan dari si kembar serta cengiran menggoda dari seluruh anggota Tim Dua lainnya.


"Hubungan terlarang apaan sih? Enggak lah!" sahut Vynt tidak terima. "Kalau naksirnya sama Bang Enno, Bang Qiqi, atau Bang Helmy, baru cinta terlarang tuh namanya."


"Ya iyalah, aku juga ogah pacaran sama kamu walaupun situ keponakannya bos. Idiiihhh, jijay!" balas Enno sambil pura-pura bergidik geli.


Semuanya tertawa, situasi kembali ceria. Hingga Maurice mulai mengorek-ngorek sejauh apa hubungan antara Vynt dan Fady.


"Berarti kalian berdua udah pacaran nih? Asyiikkkk, bakalan ada traktiran enak lagi nih kita guys," ujarnya riang sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


"Menang banyak kamu, Fa, bisa dapetin Vynt! Udah tajir, brondong pula. Waarrr biasyaahhh," seru Norma-Revi memberikan empat jempol mereka pada Fady.


Namun, di luar dugaan mereka semua, karena Vynt malah tampak menggeleng. "Perasaanku belum dibalas tuh sama Fady, karena dia baru putus dari pria brengsek tadi," ucap Vynt dengan pura-pura memelas mencoba mengadu pada teman-teman se-Tim-nya.


"WHAT THE HELLLLLLLL!" koor anggota Tim Dua sambil serempak melotot pada Fady.


"Fa! Kau ini bodoh atau apa sih? Bisa-bisa kau bla bla bla bla bla......." dan rentetan omelan panjang dari Maurice yang berkacak pinggang tepat di hadapan Fady.


Vynt jadi terkikik geli melihat Fady dimarahi habis-habisan oleh Maurice. Untungnya tak berapa lama, Mr. Seo kembali masuk ruang perawatan itu untuk memberitahukan bahwa ambulance yang akan mengantar Vynt ke Rumah Sakit sudah tiba.


"Fa! Karena Vynt terluka demi menolongmu, jadi kau yang harus ikut aku menemani dia di Rumah Sakit," pinta Mr. Seo pada Fady.


"Baik, Oppa!" jawab Fady semangat, mengingat dirinya terselamatkan dari omelan dan tatapan tajam Tim Dua yang tidak terima dirinya masih menggantungkan perasaan seorang Vynt.


***


Setelah penyerangan secara terang-terangan yang dilakukan Adent terhadap Fady di seberang kantor ASTRO Tours, hingga membuat Vynt terluka dan harus menerima beberapa jahitan di pinggangnya, Fady dan Vynt membuat tuntutan yang serius terhadap Adent atas dorongan dari Mr.Seo.


"Kalian harus menuntutnya, HARUS!" paksa Seo Kang Jun pada Fady yang masih takut untuk bertindak. Sementara Vynt sendiri seperti sudah bersiap melakukan itu.


Namun, setelah Vynt benar-benae memutuskan untuk menuntut Adent, akhirnya Fady pun turut mengajukan tuntutan terhadap mantan kekasihnya.


Dan setelah mendengar kabar penyerangan terhadap Fady serta Vynt, Mirae—sepupu kedua Vynt yang ternyata seorang pengacara langsung murka.


"Apaaa? Kau dicekik mantan kekasihmu? Dan dia juga melukai Vynt dengan pisau? Kurang ajar sekali orang itu! DIA MENCARI MASALAH DENGAN ORANG YANG SALAH!" Mirae geram luar biasa.


Wanita itu kelihatan sekali sedang berapi-api. Mengetahui sahabat dari calon kakak iparnya yang sudah dikenalnya sejak lama disakiti, serta ditambah lagi adik sepupu kesayangannya—yang baru bisa ditemuinya—juga terluka karena orang itu, membuat Mirae tidak terima.


"Aku akan membantu kalian. Aku yang akan menjadi pengacara kalian. Tenang saja! Akan kupastikan pria tak berguna itu meringkuk di penjara. AWAS SAJA DIA!" Mirae menggerutu sendiri sambil mengepalkan kedua tangannya.


Dengan bantuan Mirae yang seorang profesional, hingga dengan cepat mengumpulkan bukti-bukti yang memberatkan Adent, sehingga Vynt dan Fady pun memenangkan gugatan dengan mudah.


Akhir cerita bagi Adent. Ia harus meringkuk dalam penjara untuk waktu yang cukup lama karena Mirae menuntutnya dengan beberapa pasal, yaitu; pencurian di flat Fady, penyerangan berencana terhadap Fady, membawa senjata tajam ke area publik, serta melakukan penganiayaan dengan senjata tajam hingga mengakibatkan korban terluka cukup serius.


Sedangkan Vynt, hampir seminggu ia tidak masuk kantor karena harus memulihkan lukanya dulu. Dan selama itu pula ia tinggal di rumah keluarga Pamannya agar ada yang merawat. Tapi Fady setiap hari berkunjung ke sana demi melihat keadaan Vynt.


Selama seminggu itu Bibinya Vynt merawatnya dengan sepenuh hati. Dan setelah lukanya sembuh, Vynt masih tinggal di sana seminggu lagi demi menyenangkan hati bibinya yang ingin dirinya tinggal lebih lama.


***


Sekian waktu berlalu, hingga tibalah hari di mana Vynt akan pulang ke Indonesia untuk menghadiri pesta pernikahan Keira dan Tyo. Sudah jauh-jauh hari Vynt mengajukan izin liburnya ke Mr. Seo sejak ia mendapat undangan pernikahan Keira dan Tyo via aplikasi chat.


"Kapan rencananya kamu mau mudik?" tanya Enno pada Vynt yang sedang mengerjakan surat izin kunjungan untuk beberapa tempat yang memerlukan izin khusus untuk membawa rombongan tamu tur ke dalamnya.


"Aku terbang besok. Hari ini hari terakhirku sebelum aku libur selama tiga hari," jawab Vynt sambil tetap fokus pada layar komputernya.


"Jangan lama-lama di Indonesia ya Vynt, cepat kembali. Tanpamu Call of Duty-ku jadi tidak seruuuu... cuma kau seorang timku yang paling solid," rengek Enno yang kini terobsesi menjadikan Vynt sebagai partner gamenya.


"Kan masih ada si kembar," jawab Vynt santai.


"Mereka bodoh, tidak pernah mengerti instruksiku. Disuruh nembak lawan malah aku yang mereka tembak. Sialan sekali kan?" gerutu Enno.


"Heeiii, kau tuh yang sialan! Perintahmu selalu ngaco. Kami jadi tidak mengerti apa maksudmu," bantah Helmy dari balik kubikelnya.


"Makanya itu aku bilang kalian bodoh, tidak punya intuisi," balas Enno tidak mau kalah.


"Intuisi kepalamu. Kau tuh pemimpin labil, kapan suruh tembak, kapan suruh lempar bom, saking kesalnya kutembak saja kau," ungkap Qiqi.


"Oo, jadi kau sengaja menembakku? Dasar ajudan payah," maki Enno.


Dan pria asli Singapura itu akhirnya perang mulut dengan si kembar yang tak terima disalahkan karena ketidakbecusan Enno dalam memimpin pasukan dalam game online mereka.


Merasa tidak punya urusan lagi dengan ketiga sahabat gesrek itu, Vynt pun hanya geleng-geleng kepala sambil melirik cepat ke arah mereka bertiga.


"Lho, kamu pulang bareng Fady ke Indonesia? Kok jadwal mudik kalian sama?" tanya Maurice heran.

__ADS_1


"Benarkah? Aku malah tidak tahu kalau Fady juga mau pulang kampung," balas Vynt tanpa menoleh. " Memangnya ada urusan apa dia?" tanyanya pada Maurice.


"Entahlah," jawab Maurice singkat sambil mengedikkan bahunya. "Itu dia. Tanya saja langsung padanya," ujar Maurice dengan menunjuk ke arah Fady yang baru keluar dari lift bersama Norma dan Revi.


Baru setelah Maurice mengatakan bahwa Fady datang, Vynt benar-benar menghentikan kegiatannya untuk mendongak ke arah Fady yang sudah berdiri di sebelah kubikelnya.


"Kamu besok juga mau pulang ke Indonesia?" tanyanya pada wanita itu.


"Iya, kenapa? Kamu juga?" balas Fady.


"Iya, Kamu sudah beli tiket?" tanya Vynt lagi.


"Belum, aku sih biasanya beli go-show. Cari yang murah, heheee," ujar Fady sambil nyengir.


"Kalau begitu biar kupesankan yang satu penerbangan denganku," Vynt langsung mengeluarkan ponselnya untuk membelikan tiket Fady secara online.


"Heii, tidak perlu. Biar aku beli sendiri," sergah Fady.


Tapi Vynt malah cuek dan tetap membelikan tiket untuk Fady. "Done! Kita berangkat bersama besok pagi. Apa perlu kau menginap di apartemenku malam ini?" tawar Vynt dengan berani.


Kontan saja ucapan Vynt itu langsung membuat ruang Tim Dua menjadi riuh. Pasalnya keberanian Vynt menawari Fady untuk menginap di apartemennya langsung di sambut siulan menggoda dari seluruh Tim Dua.


***


@Aparthotel SOMERSET


"Sorry ya, Fa!" ucap Vynt tiba-tiba sambil mengepak baju-bajunya dalam koper.


"Hah? Kenapa?" Fady yang disuguhi permintaan maaf secara tiba-tiba jadi heran sendiri.


Wanita itu langsung menoleh ke arah Vynt yang sibuk mengepak baju di sofa sementara dirinya sendiri baru keluar dari kamar mandi setelah mencuci wajahnya.


"Karena ajakanku menginap di sini pasti teman-teman sedang berpikiran yang tidak-tidak tentang kita," jawab Vynt dengan lirih.


DEG! Jantung Fady berdebar secara spontan. Haduuuhhh, kenapa dia harus membahasnya sekarang siihh? Gerutunya dalam hati.


"Aku tidak terlalu memikirkannya. Jadi tenang saja," jawab Fady mencoba untuk tetap terlihat santai di hadapan pemuda itu meski sebenarnya hatinya kebat-kebit.


"Syukurlah kalau kamu berpikir begitu! Aku takut itu akan menjadi beban mental untukmu," Vynt memberikan ekspresi penuh penyesalan pada Fady. Membuat wanita itu tak berdaya.


Entah kenapa dia langsung mengiyakan begitu Vynt mengajaknya menginap, apa karena ia begitu mempercayai pria muda itu? Mungkin saja, dan bukannya itu sebuah awal yang bagus untuk memulai hubungan dengan Vynt.


Fady hampir memantapkan diri untuk menerima pernyataan cinta Vynt kemarin dulu, tapi entah kenapa bibirnya membeku ketika ia ingin mengutarakan perasaannya itu.


Apa ini? Kenapa aku masih ragu? Fady seolah tak mengerti maksud hatinya sendiri.


"Sekarang tidurlah, besok kita harus berangkat pagi," pinta Vynt sambil menutup kopernya yang telah beres.


Malam itu, Fady menempati ranjang untuk tidur sementara Vynt sendiri tidur di sofa. Tapi tanpa Fady ketahui, ketika tengah malam tiba, Vynt beranjak mendekatinya dan duduk di tepian ranjang sambil menatap ke arah Fady yang tertidur pulas.


Cepatlah move on, Fa! Segeralah berpaling padaku! Akan kubuktikan keseriusanku mendapatkanmu. Janji Vynt pada Fady yang tengah terlelap.


Vynt tersenyum penuh arti sambil memandangi wajah tidur Fady. Di usapnya kepala Fady dengan lembut dan perlahan agar tidak membangunkan wanita itu.


Entah sejak kapan ia begitu tergila-gila dengan seorang Fady Savira. Padahal kesan pertama pertemuan mereka kurang menyenangkan. Namun, tiba-tiba saja Vynt selalu merasa penasaran pada wanita ini. Hingga ia tidak bisa membiarkan Fady seorang diri.


Dan entah sampai kapan pula ia bisa menahan diri saat berada dekat dengan Fady, apalagi ketika mereka hanya berdua saja seperti ini. Vynt tidak pernah merasakan hasrat sebesar ini pada seorang perempuan. Ini hal yang baru baginya. Ia susah payah menahannya demi menjaga kepercayaan Fady padanya.


Semoga saja Fady dapat segera menerima perasaannya agar ia dapat secepatnya melamar wanita itu. Vynt ingin sesegera mungkin menjadikan Fady miliknya, seutuhnya.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2