
"Sumpah ya! Walaupun saya sering ketemu orang-orang yang bermuka dua, penghasut, penjilat, tapi baru kali ini lhooo saya ngadepin orang yang nggak tahu malu pake banget model begitu. Ya ampuuunnn, kesel akutuh!" Ny.Naina membanting pintu mobilnya dengan bersungut-sungut.
Membuat Pak Yusam terjingkat saking kagetnya. Dan Ny.Mustika yang mengekorinya masuk ke dalam mobil menjadi tak enak hati. Pasalnya My.Mustika merasa jika Ny.Naina mengalami kejadian tidak mengenakkan itu karena dirinya.
"Kita pulang, Pak Yusam!" perintah Ny.Naina pada sopirnya dengan nada tinggi.
Pak Yusam yang takut akan kemarahan majikannya itu pun hanya mengangguk cepat lalu segera menyalakan mesin mobil untuk membawa mereka kembali ke rumah keluarga Pratama.
Emosi Ny.Naina masih sangat berkobar-kobar saat dirinya mengingat setiap ucapan sarkas Ny.Rosa terhadap Ny.Mustika tadi. Meski dirinya tadi sempat memelintir bahkan menendang wanita itu, tapi Ny.Naina merasa belum puas melampiaskan amarahnya.
Dia yang awalnya secara tidak sengaja mendengar Ny.Mustika dibully dari balik fitting room pun langsung keluar dari tempat itu untuk melihat siapa wanita kurang ajar yang berani mengata-ngatai besannya.
Lebih jengkel lagi ketika Ny.Naina tahu jika Ny.Rosa hanyalah pegawai gudang di butik itu. Tapi justru kata-kata kasar dan kurang ajar yang keluar dari mulut wanita itu terus saja terngiang di telinganya.
"Orang dia sendiri yang kere kok ngatain besanku kere. Hiiisshhhh, rasanya pengen tak uleg itu mulut pake cabe setan biar mulutnya yang kotor itu jadi ndower kaya ikan Napoleon." Ny.Naina yang gemas sampai memukul-mukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya berkali-kali.
"Ng...anu...Bu Naina! Saya minta maaf atas kejadian tadi! Karena saya, anda jadi mengalami hal yang tidak mengenakkan." Ny.Mustika menunduk karena malu saat meminta maaf kepada calon besannya itu.
"Lho, kenapa Bu Mustika yang jadi minta maaf ke saya? Harusnya wanita gila itu yang minta maaf ke anda, Bu!" Ny.Naina jadi bingung sendiri dengan sikap Ibunda Keira itu.
"Sudah biarkan saja, Bu! Kalau saya sudah kebal dengan sikap wanita itu." Ny.Mustika tampak pasrah.
"Maaf, Bu Mustika. Kalau boleh tahu wanita tadi itu siapa? Kok berani-beraninya membully anda bahkan di tempat umum begitu? Nggak punya etika sama sekali!" ujar Ny.Naina tak habis pikir.
"Ng..itu..dia..." Ny.Mustika tampak ragu-ragu untuk membeberkan masa lalunya kepada calon besannya itu.
Ia khawatir, setelah ia menceritakan tentang masa lalunya kepada Ny.Naina, akan mengubah cara pandang Ibunda Tyo itu terhadap putrinya.
Namun yang tidak Ny.Mustika ketahui bahwa kedua orang tua Tyo sudah tahu kisah masa lalu kelam keluarga Keira. Hanya saja tidak mengetahui secara fisik siapa-siapa saja orang yang turut andil di dalamnya, selain Pak Zein Imran tentunya.
"Jika Bu Mustika merasa ragu untuk menjawab pertanyaan saya, tidak apa-apa kok, Bu. Anda tidak perlu menjawabnya." Ny.Naina yang merasa prihatin melihat kegugupan Ibunda Keira itu lalu mengusap-usap punggung Ny.Mustika dengan lembut.
"Ngg...sebenarnya wanita tadi itu. Istri kedua mantan suami saya, Bu. Dia itu ibu tirinya Keira. Namanya Rosa!" jawab Ny.Mustika pada akhirnya.
Ny.Naina yang mendengar jawaban dari Ny.Mustika langsung melebarkan matanya seakan tak percaya.
Ia langsung mengingat hasil investigasi yang pernah dilaporkan Pak Agus Choir padanya dan suaminya tentang kekejaman Ny.Rosa selama Keira dan Ibunya menumpang di pavilliun rumah Pak Zein Imran.
Dan kini, setelah ia bertemu secara langsung dengan wanita sinting itu. Ia pun jadi bisa membayangkan penderitaan seperti apa yang selama ini dialami oleh Ny.Mustika dan calon mantunya---Keira.
Jika di muka umum saja, wanita itu dengan berani membully Ny.Mustika, entah apa yang sanggup wanita itu lakukan untuk membully Keira dan Ibunya saat menumpang di rumah Pak Zein Imran.
Mendadak hati Ny.Naina merasa teriris. Ia seakan tidak terima saat membayangkan Keira diperlakukan buruk oleh wanita gila itu. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat berusaha menahan emosinya.
Ny.Mustika yang menyadari perubahan ekspresi di raut wajah Ny.Naina pun langsung meraih kedua tangan wanita itu lalu membelainya dengan lembut.
"Tolong Bu Naina lupakan kejadian tadi. Anggaplah kita tidak pernah bertemu dengan wanita itu. Dan tolong! Jangan beritahukan hal ini pada Keira. Saya tidak mau dia stres karena hal itu." pinta Ny.Mustika dengan penuh kesungguhan.
Ibunda Tyo trenyuh mendengar permintaan tulus calon besannya. Ia memang sudah bisa menduga jika Keira dan Ibunya adalah orang-orang yang kuat dan baik hati, namun ia tak menyangka jika calon besannya itu memliki hati yang begini besar.
Rasa respeknya pada Ibunda Keira itu seketika melonjak jauh dalam diri Ny.Naina. Ia pun bersyukur, bisa mempunyai calon mantu dari seorang ibu yang berhati sebaik ini.
"Bu Mustika tenang saja. Ini akan jadi rahasia kita berdua saja!" balas Ny.Naina menyanggupi permintaan Ny.Mustika barusan.
Detik berikutnya, perjalanan pulang itu hanya diisi dengan percakapan ringan seputar kebaya dan jas yang mereka beli dari butik tadi.
***
__ADS_1
Hari-hari dengan cepat berlalu. Keluarga itu melewatinya sambil mematangkan persiapan acara pernikahan Keira dan Tyo yang rencananya akan di gelar di salah satu Hotel bintang lima milik Takhta Grup.
Ny.Naina terpaksa harus mengubur angan-angannya untuk membuatkan pesta di kapal pesiar atau bahkan menyewa sebuah pulau untuk resepsi mengingat kondisi Keira yang masih rentan.
Meski begitu Ny.Naina masih sangat bersyukur bisa menyelenggarakan pesta untuk pernikahan putra sulungnya, sekaligus kini putra satu-satunya walaupun tak se-spektakuler acara pesta para crazy rich lainnya.
Dengan dibantu beberapa kerabat serta menggunakan media kurir bahkan perusahaan ekspedisi untuk menjangkau alamat yang berada di luar kota, Ny.Naina dan Ny.Mustika bahu membahu menyebarkan undangan pesta pernikahan anak-anak mereka yang hanya tinggal menghitung hari.
Pemilihan waktu yang cukup terlambat memang, untuk menyebarkan undangan pernikahan. Namun hal itu tidak menjadikan suatu masalah yang berarti mengingat terbatasnya undangan yang mereka bagikan.
Keluarga itu memang hanya mengundang kerabat serta relasi yang cukup dekat demi membuat acara yang relatif singkat. Lagi-lagi karena mempertimbangkan kondisi si pengantin wanita yang tidak memungkinkan untuk menjalankan prosesi pernikahan yang memakan waktu lama dan bertele-tele.
Namun ketika undangan sudah tersebar dan orang-orang mulai membicarakan acara pernikahan pewaris tunggal Takhta Grup, banyak pihak yang merasa penasaran terhadap pasangan yang konon katanya tidak terlalu terbuka di muka umum itu.
Apalagi bila menilik dari predikat yang melekat pada Tyo Pratama sebagai salah satu anak konglomerat yang tidak pernah terlibat skandal dengan wanita manapun bahkan terkesan sulit di dekati, tentu saja tersebarnya berita pernikahannya ini sangat membuat orang-orang penasaran tentang siapa calon mempelai wanita yang sangat beruntung itu.
Bahkan, sebagian besar para penerima undangan dengan bangganya sampai memamerkan undangan yang mereka dapatkan lewat sosial media masing-masing.
Pak Armand---Ayah tiri Keira, datang tepat tiga hari sebelum hari pernikahan. Ny.Mustika sendiri yang menjemputnya di bandara dengan diantar oleh Pak Yusam atas suruhan Ny.Naina tentu saja.
"Lho, Bu Mustika kemana, Kei? Kok nggak kelihatan?"
Tyo yang baru turun dari kamarnya itu langsung mencari calon istrinya yang ternyata sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Ny.Naina.
Mereka berdua sedang duduk di atas karpet di tengah-tengah ruangan untuk menentukan pengelompokan letak duduk para tamu untuk setiap round table yang telah pihak hotel siapkan.
"Ibu lagi jemput Pak Armand di Bandara." jawab Keira sambil mendongak ke arah Tyo yang sudah berdiri disampingnya dengan pakaian semi formal yang rapih.
"Sendirian?" Tyo masih bertanya tentang kepergian calon mertuanya itu menjemput suaminya.
Mendengar pertanyaan Keira itu, Ny.Naina jadi ikutan mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Tyo. "Iya, kamu mau kemana, Nak?" Ny.Naina ikutan bertanya.
Tyo meletakkan tangan kanannya di pinggang sementara tangan kirinya sibuk menggaruk bagian belakang lehernya. Nampak sedang memikirkan sebuah jawaban yang masuk akal untuk Keira serta ibunya.
"Aku mau nganterin undangan buat Pak Zein Imran." jawabnya kemudian dengan mantap merasa telah menemukan jawaban yang tepat.
"Aku ikut?" tanya Keira.
"Nggak usahlah. Nggak lama kok. Daripada kamu nanti capek dijalan." sergah Tyo berharap Keira menurutinya untuk tidak ikut. Sebab selain itu masih ada hal penting lain yang akan dilakukannya hari ini.
"Oh, okey!" dan ternyata Keira memang menurut sesuai dengan harapannya.
Tyo lalu berpamitan kepada Keira dan Ibunya. Dan hanya pada Ny.Naina Tyo berbisik untuk sekalian berpamitan membeli perhiasan untuk Keira. Ny.Naina pun mengedipkan sebelah matanya tanda merespon rencana putranya itu. Tyo lalu meninggalkan Keira di rumah bersama ibunya.
Setelah mengantar undangan ke rumah Pak Zein Imran dan memastikan undangannya berlaku untuk seluruh penghuni rumah itu termasuk Daffi dan Bi Iyeh, Tyo lalu mengunjungi toko perhiasan mewah untuk membeli perhiasan untuk seserahan termasuk mengambil cincin pernikahan yang sudah dipesannya lebih dulu.
Andrea yang ternyata sudah lebih dulu berada di toko perhiasan itu pun sedikit mengomel lantaran dirinya yang diajak Tyo untuk memilih perhiasan seserahan Keira, bukannya malah sang calon pengantin wanitanya sendiri.
"Lo bilang nggak ada minat ama gue, tapi sekarang nyatanya lo malah ngajakin gue milih perhiasan buat seserahan! Labil tau nggak lo!" omel Andrea.
"Nggak usah mulai ngeHALU! Nggak mempan ama gue!"
Tyo memukulkan buku katalog perhiasan dari toko itu yang sedang di pegangnya ke atas ubun-ubun Andrea.
"Lagian milih barang beginian kok ngajak gue sih, bukannya ngajakin calon bini lo si Keira!" sungut Andrea sambil mengelus-elus kepalanya.
"Keira nggak bakalan mau gue ajakin milih beginian, makanya ini gue diem-diem belinya. Tapi karena gue nggak tau banyak soal selera cewek, jadinya gue minta tolong eluuu buat ngasih pendapat. Lo kan udah jadi cewek sekarang, pastinya lo bisa ngasih gue masukan dari sudut pandang cewek." beber Tyo menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Iye, Iyeee, gue paham! Teruuusss rencananya lo mo beliin dia yang gimana?" Andrea berusaha memastikan niat Tyo.
"Lha itu yang gue belom tau. Ini aja gue baru ngeh kalo pilihan warna perhiasan itu nggak cuman satu macem tapi ada banyak macem!" ujar Tyo yang mulai bingung dengan membolak balikkan katalog toko itu.
"Yang penting itu modelnya, Bro! Soal warna gampaangg. Tinggal lo beliin aja masing-masing satu set untuk satu jenis warna emas di toko perhiasan ini." timpal Andrea menyarankan.
"Gitu ya?!" Tyo mengangkat sebelah alisnya.
"Ya Iyalah!" jawab Andrea cepat.
"Permisi ada yang saya bantu, Pak, Bu?" seorang staff pria yang nampak berpengalaman tiba-tiba muncul di hadapan keduanya.
Andrea yang lebih dulu mengemukakan niat mereka untuk mencari perhiasan yang cocok untuk seserahan pernikahan kepada pria itu. Pria itu pun tersenyum lantas mulai menjelaskan kepada keduanya.
"Di sini kita punya tiga pilihan warna Gold; yaitu Yellow Gold, Rose Gold dan White Gold. Dan untuk pemilihan desain perhiasannya, saya sarankan yang sesuai dengan karakter si pemakai." jelas pria itu.
"Tuuh kan, gue bilang juga apa. Pilih modelnya yang sesuai ama karakteristik Keira soal warna mah belakangan. Keira kan putih orangnya, kulitnya bening. Gue yakin kok bakalan cocok sama warna emas apapun. Kaya gue nih, malah pake campur warna."
Andrea pun menunjukkan kalung dan anting panjangnya yang memiliki beberapa warna berbeda sekaligus namun tetap terlihat menawan di kulitnya yang putih.
Tyo pun manggut-manggut menerima saran dari teman sekaligus anak buahnya itu.
"Kalau gitu saya mau cari set perhiasan yang cocok untuk wanita yang kalem, dengan gaya sederhana, sangat feminim, berambut panjang, dan berkulit putih." jelas Tyo mencoba mendeskripsikan karakter Keira kepada staff pria itu.
Staff pria itu nampak mengangguk mengerti lalu berpikir sejenak dan kemudian mulai berjalan kesana kemari untuk mengambilkan perhiasan yang dirasa sesuai dengan yang dicari Tyo, dibantu oleh beberapa staff lainnya.
Tak lama, beberapa set perhiasan aneka model dengan aneka pilihan warna Gold pun berjajar rapih di hadapan Tyo dan Andrea. Tyo mulai memperhatikan isi kotak-kotak perhiasan yang terbuat dari beludru hitam itu.
Dan setelah melalui beberapa perdebatan kecil dengan Andrea, akhirnya Tyo memilih masing-masing satu model untuk ketiga warna Gold yang tersedia di toko tersebut.
"Saya juga mau nyari gelang untuk wanita paruh baya yang kekinian, ada?" tanya Tyo lagi kepada staff pria yang melayaninya tadi.
"Ada pak, sebentar!" jawab staff itu lalu membungkukkan badannya untuk membuka pintu etalase yang berada tepat di hadapan Tyo. "Ini pak, gelang yang lagi tren di kalangan ibu-ibu sosialita." jelas staff pria itu. "Best seller di toko kami." tambahnya lagi.
Tyo nampak menimang-nimang gelang itu ditangannya dengan senyum puas. Ia lalu mengembalikan gelang itu kepada staff toko dan berkata, "Saya ambil dua peace untuk gelang itu." ujarnya mantap.
Staff pria itu pun nampak sumringah mengetahui total belanjaan Tyo yang akan melebihi target penjualannya bulan ini. Dan mulai menyiapkan seluruh perhiasan yang diminta oleh Tyo.
"Buat siapa yang itu?" tanya Andrea kepo.
"Buat Ibu dan Ibu mertua. Biar tambah kompak." jawab Tyo sambil tersenyum simple.
"Indah banget idup lo kayanya ya." puji Andrea sambil menggelengkan kepalanya.
"Not as simple as you thought. (Nggak se-simple yang lo pikir.)" Tyo menjawab dengan senyuman.
**Memang seringnya, kita hanya mampu membandingkan rumput tetangga yang lebih hijau dari pada rumput kita. Tanpa kita ingat bagaimana sulitnya proses yang telah mereka jalani untuk mendapatkan rumput sehijau itu.
Skenario hidup itu sudah ada, masing-masing kita hanya bisa menjalaninya. Namun jangan menyerah dengan keadaan, karena setiap kebahagiaan itu butuh perjuangan.
To Be Continue...
.
.
.
__ADS_1