Replacement Lover

Replacement Lover
RAPAT GABUNGAN


__ADS_3

Keira mengerutkan keningnya heran ketika Tyo hendak membawa mobilnya memasuki pekarangan sebuah rumah mewah berlantai dua bertema monokrom.


Pagar tinggi yang menjulang di bagian depannya itu terbuka otomatis kala Tyo membunyikan klakson mobilnya sebanyak dua kali.


"Lho, ini rumah siapa? Katanya mau rapat di kantor perusahaanmu, kok malah kesini?" Keira yang masih bingung jadi celingukan melihat setiap sudut pekarangan rumah yang menurutnya sangat indah itu.


Tyo hanya tersenyum simpul sambil membukakan pintu untuk Keira keluar dari mobilnya setelah beres terparkir. Keira melongo saat melihat banyak sekali mobil dan motor yang terparkir di garasi samping rumah itu.


"Ini bukan rumah biasa, Kei." jawab Tyo akhirnya. "Ini rumah kantor milik PT. PERKASA." tambah Tyo kini dengan senyum lebih lebar.


Keira terbelalak. "Apa??? Jadi ini kantor? Kantornya PT. PERKASA?" Keira kembali tolah toleh sambil berdecak mengagumi tempat yang baru pertama dikunjunginya itu.


"Iya." jawab Tyo singkat.


"Ini semua punya kamu?" tanya Keira lagi dengan mata yang membulat lebar.


"Bukan, sayang! Yang betul itu, ini PUNYA KITA!" ralat Tyo dengan menekankan kata-kata terakhir pada Keira.


Keira langsung tersipu begitu ia memahami apa maksud dari kata-kata Tyo barusan.


"Kamu suka nggak?" Tyo menggandeng tangan Keira untuk membimbingnya ke pintu masuk.


Keira mengangguk sambil tak henti-hentinya berdecak kagum pada rumah kantor yang terkesan homey itu. "Pasti karyawan kamu pada betah kalo kerja di tempat senyaman ini." gumamnya.


"Itulah yang aku inginkan waktu aku membeli rumah ini untuk menjadikannya kantor PT. PERKASA. Biar mereka betah lama-lama disini." jawab Tyo penuh kepuasan.


"Sebenernya kamu tuh se-kaya apa sih, Tyo?" tanya Keira yang baru kepikiran tentang kekayaan pribadi sang calon suami setelah melihat perusahaan milik Tyo ini.


Tyo langsung terpaku. Ia yang baru pertama kali mendengar pertanyaan Keira tentang jumlah kekayaannya itu pun berhenti melangkah seketika. Ia lalu menoleh pada Keira dengan tatapan tak percaya.


"Kamu beneran nggak tahu?" tanya Tyo heran.


Dan Keira pun cuman menggeleng dengan polosnya.


"Nggak pernah sekalipun denger dari ibu?" Tyo menyipitkan kedua matanya saat menanyakan itu.


Keira kembali menggeleng namun kali ini dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Tyo melongo. Pria itu nampak mengedipkan matanya beberapa kali kemudian mengambil nafas dalam lalu membuangnya dengan cepat. Sedetik kemudian ia malah memalingkan wajahnya dari Keira dan meneruskan langkahnya sambil tetap menggandeng tangan gadis itu


"Loh? Kok nggak dijawab? Ngambek karena aku cuek sama aset kamu?" Keira nampak sedikit kecewa melihat tingkah Tyo yang mengabaikan pertanyaannya.


"Mending nggak usah aku jawab daripada nanti kamu kabur lagi setelah tahu sekaya apa aku!" jawab Tyo datar sambil mempererat genggaman tangannya pada tangan Keira.


Keira seakan tertohok mendengarnya. Ia pun refleks melipat kedua bibirnya ke dalam mulut agar berhenti melontarkan pertanyaan yang menyudutkannya lagi.


Begitu memasuki pintu utama, beberapa orang nampak berlalu lalang sambil menyapa Tyo dengan sopan. Tidak ada meja resepsionis ataupun security yang menjaga di pintu depan.


"Kita tidak memerlukan resepsionis disini karena jarang sekali ada tamu. Itu karena hampir seluruh staff humas lebih sering kerja di luar kantor. Biasanya mereka baru akan datang ke kantor jika sudah mendapat kontrak untuk proyek baru." Tyo memberikan penjelasannya seolah mengerti isi pikiran Keira.


"Tapi kalau satpam ada kan?" ternyata Keira masih penasaran.


"Lah emangnya siapa tadi yang bukain pagar kalau bukan satpam? Walaupun dibuka secara otomatis, tetep aja yang mengoperasikan sistemnya ya satpam di kantor ini, Keira." Tyo tertawa kecil.


Keira lantas tertawa mendapati Tyo yang mulai merasa gemas pada setiap pertanyaan-pertanyaannya.


"Ruangan mereka tepat di balik pagar yang tinggi menjulang tadi. Tapi karena tertutup pepohonan jadi nggak kelihatan dari arah garasi. Makanya kamu tadi nggak lihat ya?!" Tyo melirik ke arah Keira yang berjalan tepat di sampingnya.


"Ooh, Hehee, iya. Habis aku fokus sama pemandangannya." jawab Keira polos.


Setelah naik ke lantai dua melalui tangga dengan tepian antik yang melingkari sebagian dinding bangunan itu, akhirnya mereka bertemu dengan Andrew---asisten Tyo yang juga bisa dibilang sebagai wakil Tyo di PT. PERKASA ini.


"Thanks God! Akhirnya lo dateng juga." Andrew sedikit berlari untuk mendekati Tyo dan Keira. Pria yang mempunyai mata biru itu nampak langsung menyerahkan sebuah map tebal kepada Tyo.


"Wakil dari PT. PERMATA dah dari pagi tuh ngendon di sini. Mana disepik mulu sama si Andrea, sumpah kesian gue ngeliatnya!" lapor Andrew sambil terkikik geli.


"Tapi nggak kabur kan orangnya?" tanya Tyo dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tetap memegang map tebal itu di salah satu tangannya.


"Fortunately, nggak! Gila, gue sampe salut ama itu orang! Betah banget ngadepin si uler keket." jawab Andrew sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


Tak lama pecahlah tawa keduanya karena alasan yang tak Keira ketahui. Membuat Keira hanya diam sambil memandang dua pria yang berdiri di hadapannya itu secara bergantian.


"And this might be, Miss Keira. Bener kan?" tanya Andrew setelah pandangannya kemudian beralih kepada Keira sambil menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan gadis cantik yang dikenalnya sebagai calon istri Bosnya itu.


Keira terpaksa melepas genggaman tangan Tyo untuk menerima jabatan tangan Andrew sambil fokus pada mata birunya yang menawan. Nih orang pasti blasteran bule deh, batin Keira menerka-nerka.


"Saya memang separuh bule. Ibu saya orang Finlandia asli, ayah saya orang Banyuwangi. Makanya mata saya biru. Dan nama saya Andrew Budiono yang artinya pria yang berani dan berbudi, salam kenal!" ujar Andrew dengan mengedipkan sebelah matanya.


Ucapan Andrew barusan seolah menegaskan tebakan batin Keira. Mulut Keira sampai membentuk huruf 'O' saking kagetnya. "Apa kalian berdua sama-sama bisa baca pikiran orang ya? Kok perasaan dari tadi aku mikir apa ketahuan mulu?" balas Keira gemas.


Tyo dan Andrew jadi kembali tertawa bersamaan, "Nggak perlu sampe punya ilmu kaya gitu untuk tahu isi pikiranmu, Kei. Soalnya semuanya udah ketulis tuh di muka kamu." Tyo yang saking gemasnya jadi mencubit pipi Keira.


"Aahh, masa siihh?!" Keira langsung menutup mukanya dengan kedua tangan saking malunya.


Melihat Keira yang salah tingkah, Tyo dan Andrew pun kembali melanjutkan tawa mereka berdua.


"Udah yuk, buruan dimulai meetingnya! Takut nggak kelar sebelum makan siang, bisa ngamuk si Andrea kalau sampe nggak bisa lunch tepat waktu." ajak Andrew sambil lalu.


Mendengar satu nama lagi yang asing di telinganya membuat Keira semakin gugup mengikuti meeting perusahaan perdananya ini.


Dirinya ketar ketir kira-kira seperti apa orang-orang yang akan bekerja sama dengannya itu. Mampukah ia memposisikan diri sebagai pemilik perusahaan?! Keira bimbang dalam hati.


Dan Keira terkejut saat memasuki ruang rapat, ternyata sudah ada Pak Iqbal dan seorang wanita di dalamnya. Pikirannya pun kembali bertanya-tanya kenapa Pak Iqbal yang hadir mewakili PT. PERMATA dalam rapat penggabungan kedua perusahaan itu? Apakah Tyo sengaja tidak memecat asisten andalan Papanya itu ketika terjadi pergantian kepemilikan di PT. PERMATA?


Tyo yang menyadari kekagetan Keira pun hanya maklum mengingat gadis itu memang masih awam untuk urusan perusahaan.


"Kamu kaget karena yang ikut rapat cuman segelintir orang atau karena ada Pak Iqbal disini?" Tyo bertanya seolah pria itu lagi-lagi dapat membaca pikiran Keira.


Keira meringis mendengar pertanyaan Tyo yang tepat sasaran, "Dua-duanya." jawab Keira masih dengan pose memamerkan deretan gigi putihnya yang menawan.


Tyo membalas cengiran Keira dengan senyum simpulnya, "Nanti aku bahas sekalian dalam rapat ya!" ujarnya kemudian sambil menggeser sebuah kursi untuk mempersilahkan Keira duduk, lalu ia sendiri pun duduk di kursi yang ada di sebelah Keira.


"Ini rapat pertamamu, Keira. Kamu tidak perlu terlalu banyak bicara karena materi hari ini semuanya sudah aku urus. Tapi tanyakan apa yang perlu kamu tanyakan. Selebihnya kamu hanya perlu melihat dan mempelajari. Watch and learn. Oke!" Tyo memberi instruksi pada Keira.


Keira nampak antusias. Ia pun mantap menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas instruksi Tyo tadi.


Setelah memberikan ucapan pembuka, Andrew mulai mengenalkan satu persatu nama-nama orang yang hadir dalam rapat itu.


Ketika Andrew selesai melakukan acara perkenalan, Tyo segera mengambil alih rapat untuk langsung masuk ke pembahasan pokok. Saat itulah Tyo mengungkapkan alasannya untuk tetap mempertahankan Pak Iqbal di jajaran staff khusus PT. PERMATA.


Hal itu dikarenakan Tyo melihat potensi Pak Iqbal yang memang sangat kompeten dalam melakukan pekerjaannya, serta keloyalan Pak Iqbal saat bekerja dengan Papa Keira yang begitu arogan membuat Tyo berpikir bahwa Pak Iqbal pasti akan mampu menjadi wakil Keira dengan baik dalam mengurus PT. PERMATA.


Semua pemikiran Tyo itu membuat Keira tak menyangka. Ia pun lebih fokus menatap Tyo dengan seksama untuk mempelajari cara pimpinnya.


"Pak Iqbal, mulai bulan depan saya mengangkat anda sebagai Wakil Direktur di PT. PERMATA. Apa anda siap?" tanya Tyo tegas.


"Kalau boleh tahu, apa alasan dibalik promosi saya ini, Pak Tyo?" diluar dugaan, Pak Iqbal bukannya langsung menerima posisi tersebut tapi malah menanyakan alasan pengangkatannya terlebih dahulu.


Reaksi Pak Iqbal ini membuat Tyo semakin yakin pada keputusannya. Karena itu artinya, Pak Iqbal adalah orang yang penuh perhitungan dan tidak gila jabatan. Satu poin tambahan untuk Pak Iqbal di mata Tyo.


"Saya sudah melihat track record anda yang tanpa cela, Pak Iqbal." Tyo memulai penjelasannya.


Keira langsung memasang mata dan telinganya baik-baik untuk mendengar dan menyaksikan cara Tyo menempatkan posisinya sebagai pemimpin perusahaan.


"Meksi saat anda masih bekerja di bawah Pak Zein yang penuh tekanan tapi tak lantas membuat anda melakukan banyak kesalahan. Justru sebaliknya, ketidak stabilan emosi Pak Zein menjadikan anda semakin teliti dalam bekerja. Hasilnya, semua pekerjaan yang anda lakukan nyaris sempurna." beber Tyo.


Tyo yang sudah mengkalkulasi segala hal mengenai pengangkatan ini, merasa sangat yakin bahwa Pak Iqbal akan dapat menggantikan tugas-tugas pokok Keira sebagai Direktur utama dengan baik.


Tidak hanya untuk mewakili Keira memimpin PT. PERMATA saat gadis itu masih belum siap untuk terjun secara langsung di perusahaannya sendiri. Pak Iqbal juga harus bekerja sama dengan PT. PERKASA dalam satu menejemen yg sama, serta melaporkan seluruh perkembangan PT. PERMATA kepada manajemen PT. PERKASA dan juga kepada Keira tentunya.


"Tapi apa anda percaya pada saya, Pak?" kali ini Pak Iqbal mempertanyakan kesungguhan Tyo padanya.


Tyo tersenyum miring menanggapi pertanyaan Pak Iqbal itu, "Jika saya tidak percaya pada anda, saya tidak akan memberikan posisi itu pada anda. Apa anda pikir saya akan dengan mudah memberikan posisi yang begitu penting pada orang yang belum saya ketahui dengan jelas latar belakangnya?" Tyo memberikan jawaban dengan makna yang mendalam kepada Pak Iqbal.


Pak Iqbal termangu sejenak mencerna jawaban Tyo itu. Pikiran profesionalnya lantas menangkap maksud dibalik jawaban itu. Setelah mempertimbangkan secara singkat, Pak Iqbal lantas menganggukkan kepalanya di hadapan semua orang di ruangan itu.


"Saya mengerti maksud anda, Pak Tyo! Baiklah kalau begitu, saya akan jalankan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya." jawabnya dengan lugas.


Tyo dan Andrew nampak tersenyum puas menerima jawaban dari Pak Iqbal.

__ADS_1


"Bagaimana, Keira? Apa kamu keberatan?" tiba-tiba saja Tyo menanyakan persetujuan dari Keira sebagai pemegang saham tunggal di PT. PERMATA.


"Aku setuju saja kalau kamu merasa Pak Iqbal memang pantas untuk posisi itu. Aku sepenuhnya percaya pada keputusanmu!" jawab Keira tegas.


"Kalau begitu segera kita Sah-kan saja sekarang juga!" ujar Tyo sambil memberi kode pada Andrew melalui gerakan tangannya.


Pak Iqbal nampak tersentak dengan ucapan Tyo barusan. Sementara Andrew yang cepat tanggap atas instruksi dari bosnya itu pun segera berdiri lalu keluar dari ruangan. Tak lama, Andrew terlihat masuk kembali ke dalam ruang rapat bersama tim pengacara perusahaan PT. PERMATA.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Tyo pada tim pengacara itu.


"Sudah, Pak Tyo! Berkas kontrak kerja baru untuk Pak Iqbal sebagai Wakil Direktur di PT. PERMATA sudah kami siapkan semuanya, tinggal Nona Keira dan Pak Iqbal tanda tangani saja!" jawab salah satu dari pengacara itu.


Pak Iqbal nampak sedikit gugup menyadari bahwa dirinya akan langsung menanda tangani kontrak kerja barunya hari ini juga, padahal saat pagi tadi berangkat ke tempat ini, dirinya hanya berpikir untuk menghadiri rapat gabungan layaknya rapat-rapat lain yang pernah dihadirinya.


Pak Iqbal sama sekali tidak menyangka bahwa justru di tempat ini, dirinya akan menerima jabatan baru yang lebih tinggi daripada jabatannya yang lama sekaligus langsung melakukan pengesahan kontrak kerja baru dalam waktu yang sama.


Tim Pengacara dari PT. PERMATA langsung membagikan masing-masing satu salinan kontrak kerja kepada Keira dan Pak Iqbal


yang harus mereka tanda tangani secara bersama-sama.


"Silahkan anda berdua baca terlebih dahulu isi dari kontrak tersebut!" salah seorang pengacara menyarankan kepada Keira dan Pak Iqbal.


Pak Iqbal menuruti saran pengacara tersebut dan mulai membaca kontraknya dengan teliti. Begitu pula dengan Keira yang dibantu Tyo untuk mengartikan beberapa istilah yang tidak Keira mengerti yang tertulis di dalam kontrak tersebut.


Tiba-tiba Pak Iqbal berdiri dari kursinya ketika ia membaca sebuah poin yang dirasanya sangat tidak masuk akal.


"Ada apa, Pak Iqbal? Apa anda merasa keberatan dengan salah satu isi dari kontrak itu?" tanya Tyo santai karena dirinya tahu, apa yang membuat Pak Iqbal jadi begitu terkejut setelah membaca kontrak itu.


Karena di dalam kontrak kerja baru itu, Tyo bahkan memberikan dua persen saham PT. PERMATA kepada Pak Iqbal sebagai jaminan loyalitas pria itu terhadap PT. PERMATA kedepannya.


Pada poin berikutnya, Tyo juga menjanjikan bonus saham dua kali lipat dari yang diterima Pak Iqbal di awal kontraknya jika Pak Iqbal mampu menambah achievement dalam pekerjaannya selama satu tahun pertama masa jabatan barunya itu.


"Apa ini tidak salah, Pak Tyo? Non Keira?" tanya Pak Iqbal pada kedua Bosnya itu.


Tyo tersenyum melihat ekspresi terkejut Pak Iqbal yang justru nampak takut ketimbang senang. "Jika yang anda maksudkan tentang poin mengenai dua persen saham itu, maka jawabannya tidak, Pak Iqbal. Itu tidak salah!" Tyo menegaskan.


"Tapi...apa ini tidak berlebihan Pak Tyo?" Pak Iqbal nampak masih tidak bisa percaya.


"Tidak Pak Iqbal. Anda berHak untuk saham itu, karena itu sesuai dengan tanggung jawab anda nantinya sebagai Wakil Direktur yang baru di PT. PERMATA." Tyo menyakinkan.


Mendengar jawaban dari Tyo yang sangat meyakinkan itu, Pak Iqbal kembali duduk secara perlahan sambil terus menatap pada kertas yang dipegangnya.


Saat ini Pak Iqbal merasa bagaikan menerima durian runtuh. Bagaimana tidak, tidak hanya dipromosikan tapi juga dihadiahi dua persen saham dari perusahaan yang akan dipimpinnya itu. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa selama masa karirnya di PT. PERMATA.


"Jadi bagaimana? Apakah anda menerimanya, Pak Iqbal?" Tyo kembali memastikan jawaban dari calon wakil Keira itu.


Namun Pak Iqbal justru masih terdiam tak percaya. Melihat reaksi Pak Iqbal yang sampai speechless justru membuat Tyo tertawa.


"Anda jangan takut, Pak! Kontrak itu bukan sebuah jebakan, saham itu murni bonus untuk anda. Anggap saja itu adalah hasil dari loyalitas dan kerja keras anda selama bekerja di PT. PERMATA." jelas Tyo dengan riang.


"Kalau begitu baiklah, Pak Tyo. Saya akan menerimanya dengan senang hati." jawab Pak Iqbal dengan suara yang bergetar menahan bungah di hatinya.


"Bagus! Karena sudah selayaknya anda menerimanya." balas Tyo cepat.


Lalu tanpa banyak bicara lagi, baik Keira dan Pak Iqbal masing-masing menanda tangani salinan kontrak itu secara bergantian di hadapan para tim pengacara PT. PERMATA. Setelahnya, mereka semua saling berjabat tangan sebagai tanda selesainya prosesi pengesahan jabatan baru tersebut.


Merasa tugas mereka disana sudah selesai, para tim pengacara itu lalu undur diri. Andrew lalu mengantar mereka hingga keluar PT. PERKASA.


"Baiklah, selanjutkan kita akan membahas target pemulihan PT. PERMATA." ucap Tyo sambil bertepuk tangan satu kali untuk mengembalikan fokus para anggota rapat itu kembali kepadanya.


Sesaat kemudian, seorang wanita yang sangat cantik dan sexy terlihat memasuki ruangan rapat. Tanpa meninggalkan kesan yang profesional, wanita itu berdiri dengan anggun di depan pintu ruang rapat itu. Keira sangat terkejut melihatnya.


"Apa sekarang saya sudah boleh bergabung?" tanyanya dengan suara rendah yang mendayu-dayu kepada seluruh penghuni ruang rapat itu.


Keira sampe terperangah melihat penampakan wanita itu yang menurut Keira lebih pantas menjadi seorang artis atau model majalah dewasa ketimbang bekerja kantoran di perusahaan kontraktor seperti PT. PERKASA milik Tyo ini.


Siapa wanita ini? Apa dia salah satu pegawai Tyo di PT. PERKASA? Tanya batin Keira. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa tidak nyaman atas keberadaan wanita itu di sini. Tapi Keira tidak tahu kenapa.


To Be Continue....

__ADS_1


**InshaAllah hari ini double up ya ๐Ÿ˜‰ tapi satu-satu dulu, biar tenang bacanya. Tetap sabaarrr....tetap enjoyyy....๐Ÿ˜โœŒ๏ธ


Have a nice day ๐Ÿ˜˜โค๏ธ**


__ADS_2