Replacement Lover

Replacement Lover
KEMBALINYA TYO


__ADS_3

@Stasiun Kota


Seorang gadis cantik berambut panjang tampak berjalan tergesa-gesa dengan menyeret koper besarnya. Ekspresinya ketakutan dengan kepala yang sedikit menunduk seolah ingin menyembunyikan wajahnya.


Ketika baru saja melewati sebuah gerai makanan dan minuman yang menggantung beberapa paket masker sekali pakai aneka motif yang dikemas dalam plastik.


Keira tiba-tiba menghentikan lajunya sejenak lalu berjalan mundur perlahan sambil menoleh ke arah masker sekali pakai yang dijual di gerai itu.


"Aku butuh itu. Aku harus membeli itu." ujar Keira dengan yakin.


Keira tidak tahu sudah sejauh mana Vynt menyadari kepergiannya dan melakukan pencarian terhadapnya. Tapi yang Keira tahu, jika Vynt sudah melaporkan kepergiannya kepada Tyo, maka pria itu pasti akan dengan mudah menggunakan kekuasaannya untuk mencari dirinya.


Keira seketika bergidik membayangkan ada berapa banyak orang yang akan dikirim Tyo untuk mencarinya. Secepat kilat Keira membeli beberapa paket masker sekali pakai itu untuk berjaga-jaga dan memakainya satu saat itu juga.


Keira kembali melanjutkan langkahnya, namun lagi-lagi terhenti tepat di depan sebuah gerai resmi salah satu brand provider telekomunikasi yang ada di deretan kios menuju pintu masuk utama.


Keira menatap deretan kartu-kartu perdana yang dipajang di etalase gerai tersebut.


"Sepertinya, aku juga harus ganti nomor ponsel lagi." gumam Keira lirih.


Setelah berpikir sejenak akhirnya gadis itu membelokkan badannya ke arah gerai operator penyedia jasa telekomunikasi yang berbasis teknologi Four-G LTE Advance itu.


Dibelinya sebuah nomor cantik untuk mengganti nomor ponsel yang saat ini sedang digunakannya.


"Hmph, dengan begini mereka tidak akan menemukanku lagi." Keira mendengus kasar setelah membuang nomor simcard yang baru dipakainya beberapa bulan ke dalam tong sampah terdekat.


Kini dengan penuh rasa percaya diri dan tekad yang bulat untuk segera meninggalkan kota, Keira kembali melangkahkan kakinya menuju loket pembelian tiket. Kali ini langkahnya lebih cepat dari pada sebelumnya.


"Selamat siang, bisa dibantu." sapa petugas loket wanita itu dengan ramah.


"Saya butuh satu tiket Go Show* yang masih available kemana saja dengan keberangkatan tercepat?" pinta Keira dalam sekali ucapan.


"Baik, mohon ditunggu!"


Nampak petugas loket lalu menatap layar komputer di hadapannya dengan jari-jari yang mulai menari di atas keyboard untuk mencari data yang sesuai dengan permintaan Keira.


"Yang masih available dan segera berangkat ada Kereta Api SRI TANJUNG jurusan Lempuyangan, Jogja dan Kereta Api JAYABAYA jurusan Jakarta, mbak." jelas petugas loket itu.


"Yang mana yang berangkat lebih dulu?" tanya Keira lagi.


"SRI TANJUNG berangkat tiga puluh menit lagi, tepatnya pukul satu lebih tiga puluh lima menit. Keretanya juga sudah stand by di peron dua." jawab petugas loket. "Kalau JAYABAYA baru akan berangkat pukul dua lebih satu menit dan kereta apinya juga belum datang." tambah petugas loket itu.


Keira melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul tiga belas lebih lima menit. Itu artinya dia hanya harus bersabar selama tiga puluh menit lagi untuk segera pergi dari dari kota ini.


"Oke, saya ambil yang SRI TANJUNG." ucap Keira tegas.


Setelah menyelesaikan proses check in dan pengecekan bagasi, Keira kemudian diizinkan memasuki peron.


Bergegas dirinya menuju peron dua dimana Kereta Api SRI TANJUNG telah berdiri kokoh menunggu para penumpangnya dan siap untuk berangkat.


Dengan dibantu oleh petugas peron, Keira naik ke gerbong ekonomi tiga sesuai yang tertulis pada tiket yang dipegangnya. Petugas itu juga membantunya memasukkan koper Keira ke dalam kompartemen bagasi di atas tempat duduk.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada petugas tersebut, Keira langsung duduk di kursi dengan nomor yang juga sesuai di tiketnya.


Kebetulan kursi Keira berada di dekat jendela sehingga ia bisa melihat pemandangan di luar kereta yang mungkin nanti akan dilewatinya.


Selama menunggu kereta berangkat, di dalam hatinya Keira tak henti-henti merapalkan doa keselamatan dan kelancaran dirinya sebelum pergi meninggalkan kota ini. Seumur hidupnya, ini adalah tiga puluh menit paling mendebarkan bagi Keira.


Demi meningkatkan kewaspadaan, Keira masih tetap menggunakan maskernya meski sudah berada dalam gerbong kereta.


Berharap tidak akan ada yang mengenalinya lalu menyeretnya turun untuk kemudian membawanya ke hadapan Tuan Muda Tyo Pratama.

__ADS_1


Tepat setelah tiga puluh menit, sebuah pemberitahuan keberangkatan mulai menggema ke seluruh stasiun. Dan tak lama gerbong kereta api yang dinaiki Keira mulai bergerak.


Tak ayal Keira merasa sangat lega. Seolah dirinya baru saja terbebas dari kejaran binatang buas yang mengancam nyawanya.


Keira berharap, semoga setelah ini, dirinya bisa hidup tenang berdua dengan anaknya nanti. Diusapnya lembut permukaan perutnya sambil bergumam lirih.


"Mulai sekarang hanya akan ada kita berdua anakku." ucapnya pada diri sendiri dan janin yang ada di rahimnya.


***


Siang itu, Tyo baru mendarat di tanah air. Dia bersyukur bisa kembali ke Indonesia sehari lebih cepat dari jadwal yang seharusnya karena persidangan di Singapura berlangsung sangat lancar.


Hal itu dikarenakan seluruh saksi-saksi kunci yang telah Tyo kumpulkan dari beberapa negara bersikap kooperatif memihak dirinya sehingga sangat memberatkan pihak Mr. Wan yang akhirnya tak berkutik menerima kekalahan gugatannya.


Tyo pulang dengan bangga karena membawa kemenangan di pihak Takhta Grup. Tyo pulang dengan kelegaan karena telah berhasil menuntaskan misi rahasia Argha di akhir hidupnya.


Kini kematian Argha tak lagi sia-sia sebab bukti-bukti yang telah dikumpulkan adiknya itu telah membawa perusahaan mereka menuju ke puncak kemenangan.


Memberikan keadilan bagi Takhta Grup yang baru saja memperoleh hak-haknya kembali setelah sekian lama dicurangi oleh Mr. Wan dan ditambah dengan aset-aset Mr. Wan lainnya sebagai bentuk ganti rugi yang dialami Takhta Grup selama beberapa tahun ini.


Dan ini pasti menjadi kabar baik bagi orang tuanya, khususnya bagi sang ayah yang masih begitu berduka atas kematian Argha hingga terus saja kambuh penyakitnya.


Ayahnya masih sangat menyesali keputusannya melepaskan Argha untuk menjadi mata-mata di Hotel Singapura itu sehingga mengantarkan Argha pada kematiannya.


Meski kematian Argha murni kecelakaan tapi bagi ayahnya, jika dirinya tidak mengizinkan Argha pergi saat itu mungkin hingga detik ini Argha masih tetap hidup dan berkumpul ditengah-tengah mereka.


Merasa urusan Takhta Grup telah rampung, Tyo pun kini bisa fokus sepenuhnya kepada Keira. Di dalam mobil yang membawanya keluar dari area Bandara Internasional itu, Tyo tampak sedang menelpon seseorang.


📱TYO PRATAMA


"Halo, Riz. Keira udah ketemu?"


***


"Hiyaaaaa, Tyo nelpon!" pekik Rizzi refleks menjauhi ponselnya yang berdering lalu malah memeluk Vynt yang duduk tak jauh disampingnya.


"Apaan sih, Riz. Tyo nelpon ya buruan diangkat ngapain lo malah meluk-meluk gue?" Vynt berusaha melepaskan pelukan Rizzi dari tubuhnya.


Meski selama beberapa hari ini dirinya jadi cukup akrab dengan owner Cafe Teluse tersebut, tapi tetap saja Vynt merasa geli karena dipeluk-peluk seorang pria dewasa.


"Gue takuuuutt, Vynt." Rizzi merengek nggak jelas. "Kalo Tyo tahu kita udah kehilangan Keira dua hari ini, bisa mampus gue?" akhirnya Rizzi melepas pelukannya pada Vynt. Berganti dengan menjambak-jambak rambutnya sendiri karena frustasi.


"Lo angkat atau nggak, lo tetep bakalan mampus kalo Tyo udah dateng!" ujar Vynt menakut-nakuti. Ekspresi Rizzi jadi memucat mendengarnya.


"Tenang, gue bantuin ngomong ntar, gue belain biar lo nggak di hajar." Vynt yang sedikit geli melihat wajah pucat Rizzi akhirnya berusaha menenangkan.


"Bener ya? You are my new bestfriend, Vynt." Rizzi tersenyum lega mendengar niat Vynt membantunya menghadapi Tyo.


Akhirnya, meski masih sedikit ragu, Rizzi meraih ponselnya dari atas meja di dalam kantornya di Cafe Teluse itu lalu menggeser icon receive dari layar ponselnya.


📱TYO PRATAMA


"Halo, Riz. Keira udah ketemu?"


📱RIZZI RIYANT


"Belom, brother. Kayanya Keira udah beneran cabut ke luar kota."


📱TYO PRATAMA


"Terus kenapa lo nggak langsung info gue?"

__ADS_1


Mendengar suara Tyo yang tajam dan menakutkan, lidah Rizzi jadi kelu dan lagi-lagi pria itu menampakkan ekspresi meringis ketakutannya di depan Vynt.


Melihat hal itu, Vynt yang tak tega pada Rizzi buru-buru mengambil alih percakapan dan meraih ponsel yang masih ditempelkan Rizzi di telinganya.


📱VYNT DAEHO


"Halo Tyo, ini gue Vynt. Lo dah di Indo?"


📱TYO PRATAMA


"Iya, kalian dimana?"


📱VYNT DAEHO


"Kita ada di Teluse, mending lo kesini dulu. Banyak yang musti dijelasin"


📱TYO PRATAMA


"Oke, gue kesana sekarang."


Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Rizzi dan Vynt, Tyo menginstruksikan sopirnya untuk memutar mobil ke arah Cafe Teluse.


"Kita ke tempatnya Rizzi dulu pak, ke Cafe Teluse." perintah Tyo.


"Ndak jadi langsung pulang kerumah utama tho mas?" tanya pak sopir memastikan.


"Nanti Pak, kita ke Cafe Teluse dulu sekarang." tegas Tyo.


"Baik mas Tyo." balas pak sopir.


***


@Rumah Keluarga Pratama


"Bagaimana perkembangan persidangan di Singapura?" tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi goyang antik di salah satu balkon rumah besar itu kepada Pak Agus Choir---sekretaris andalan ayah Tyo di Takhta Grup.


"Pihak kita sudah dinyatakan menang gugatan, Pak. Mas Tyo juga sudah kembali ke Indonesia. Tapi tim kuasa hukum kita masih di Singapura untuk mengurus beberapa dokumen pelengkap.


"Tyo sudah pulang?" kening Pak Ruslan mengernyit.


"Tadi siang sudah terpantau mendarat di Bandara Kota, Pak. Bahkan Pak Yusam sendiri yang menjemput." terang Pak Agus Choir.


"Kalau Yusam yang menjemput kenapa sampai sekarang Tyo belum sampai disini?" tanya Pak Ruslan heran.


"Tadi Pak Yusam lapor sama saya, katanya mereka mampir ke Cafenya mas Rizzi dulu, Pak." lapor Pak Agus.


"Kenapa lagi anak itu mampir kesana? Bukannya langsung pulang dan laporan tentang kasus di Singapura secara langsung ke ayahnya?" lagi-lagi Pak Ruslan merasa heran.


"Saya kurang tahu, Pak. Apa perlu saya cari tahu?" tanya Pak Agus.


"Tidak. Tidak perlu. Biar nanti saya tanyakan langsung sama Tyo." tegas Pak Ruslan


To Be Continue...


.


.


.


*Tiket Go Show

__ADS_1


'Go Show' adalah sebutan untuk pembelian tiket mendadak di stasiun pada hari keberangkatan. Tiket ini tersedia apabila ada penumpang yang sebelumnya sudah memesan tiket, membatalkan keberangkatannya.


__ADS_2