Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : RIZZI OH RIZZI


__ADS_3

.


.


.


@Kafe Teluse


"Hai, Rud!!! Bos lo mana?"


Vynt menyapa bartender andalan Kafe Teluse itu, sekaligus menanyakan keberadaan Rizzi. Sedangkan Fady mengekor di belakang suaminya meski kedua tangan pengantin baru itu tetap terjalin satu sama lain.


"Oh, Hai juga, Mas Vynt! Bos Rizzi ada di kantornya tuh, lagi badmood kaya'nya. Murung terus dari kemaren-kemaren!" lapor Rudy.


"Hmm, iyee....gue tahu kok! Thanks ya!" balas Vynt sambil menyodorkan salam kepalan tangan pada Rudy yang langsung disambut dengan ceria oleh si bartender.


"Sama-sama, Mas!"


Vynt lalu memilihkan Fady tempat duduk yang nyaman lebih dulu sebelum beranjak untuk menemui Rizzi di dalam kantornya.


"Fa, kamu tunggu di sini bentar ya sambil pesen makanannya dulu. Aku mau ke kantornya Rizzi, mau ngomong empat mata sama dia. Kalau ngajakin kamu, takutnya dia enggak nyaman. Maaf ya!" ujar Vynt pada istrinya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


"Oke, iya...enggak apa-apa! Kamu selesaikan dulu aja urusanmu sama Rizzi, biar aku tunggu di sini. Tapi kamu mau makan apa nih???" tanya Fady yang baru saja menerima buku menu dari waiter yang langsung menghampiri mereka.


"Terserah kamu aja deh! Aku apa aja oke! Samain sama punyamu juga enggak apa-apa. Aku ngikut aja!" jawab Vynt sambil lalu.


Fady tampak merespon ucapan terakhir suaminya itu dengan memberikan kode 'OK' lewat jari-jarinya. Dari kejauhan, Vynt samar-samar mendengar suara sang istri yang menanyakan pada waiter, makanan apa yang recomended hari ini.


Namun Vynt tak lagi fokus pada istrinya saat ia mulai mengetuk pintu ruangan kantor Rizzi.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk!" terdengar suara rendah Rizzi dari dalam.


Vynt membuka pintu itu perlahan. "Woii, bro! Ini gue!" sapa Vynt pada pria yang kini sedang melepas kacamatanya itu.


Rizzi langsung bangkit dari kursi kebersarannya begitu melihat Vynt yang masuk. Sejak telepon mereka tadi, pikirannya terus saja menerka-nerka. Apa sebenarnya yang akan dibicarakan Vynt tentang Beth. Pria itu begitu penasaran hingga mengabaikan setumpuk pekerjaan di hadapannya.


"Duduk, Vynt!"


Rizzi berpindah duduk ke sofa di tengah-tengah ruangan itu. Sementara Vynt langsung memilih sofa tunggal lainnya yang berhadapan langsung dengan sofa yang diduduki oleh Rizzi.


"Tampang lo enggak banget, Bro!" Vynt membuka obrolan itu dengan guyonan ringan.


Namun Rizzi membisu sambil mendesah pelan. Ia tak peduli bagaimana penampilannya kini. Jangankan penampilan, bahkan ia tak peduli pada perutnya yang belum terisi makanan sejak pagi. Hanya minuman yang terus saja ditenggaknya sedari tadi.


Vynt langsung tersenyum tipis begitu melihat Rizzi yang tetap diam tak menanggapi guyonannya.


"Jadi lo serius sama temen gue???" kini Vynt bertanya dengan nada dan ekspresi serius seolah sedang menanyakan kesungguhan seorang pria yang akan melamar adiknya sendiri.


"Emang gue keliatan enggak serius selama ini?" Rizzi balik bertanya.


"Emang iya!!!" jawab Vynt cepat. Masih dengan cara duduk yang santai dengan menyilangkan kedua kakinya.


"Hahh...." Rizzi kaget sekaligus heran mendengar jawab Vynt barusan. Kedua alisnya mengkerut.


"Karena kalau lo serius sama Beth, lo bakalan perjuangin dia! Hadapi dia! Samperin dia dengan gentle! Bukannya malah diem aja, ngendon di sini. Dan langsung pasrah gitu doang waktu Beth nyuekin elo! Berjuang dong! Cemen lo!!!" ejek Vynt.


Meski terkesan mengejek tapi nada bicara Vynt sama sekali tidak tinggi. Karena memang Vynt tidak sedang emosi saat mengatakan itu tadi. Ia hanya ingin menyadarkan Rizzi dari kegalauannya yang sebenarnya tidak penting. Vynt hanya mencoba mengurai pikiran Rizzi yang sedang mbulet bin ruwet dengan ketakutannya sendiri.


Rizzi tepekur mendengar ejekan dari Vynt. Ia merasa tertampar. Tapi ia tidak tersinggung sebab ia menyadari bahwa penilaian Vynt memang benar terhadapnya. Rizzi langsung sadar bahwa dirinya ternyata sepengecut ini.


"Mungkin gue emang cemen. Karena gue takut kalo perasaan Beth ternyata enggak sebesar perasaan gue ke dia!" jawabnya lirih.


"Berarti lo enggak tulus dong ke Beth?! Belom apa-apa lo udah su'udzon aja ama perasaan Beth ke elo! Sekarang gue tanya sama lo, Riz? Kenapa air mata sama keringet itu rasanya asin???" balas Vynt.

__ADS_1


Rizzi mengedikkan bahu lalu menggeleng pelan.


"Karena suatu perjuangan itu enggak mengenal kata manis, Bro! Lo harus inget itu! Dengerin gue, Riz! Datengin dia trus ungkapin perasaan lo! Soal perasaan siapa yang paling banyak mah urusan belakangan. Tunjukin ketulusan lo! Karena ketulusan itu enggak akan mengkhianati hasil, Bro!" Vynt mengurai nasehatnya dengan berapi-api.


Rizzi kembali merenung. Menalar setiap kata demi kata bijak yang terlontar dari Vynt. Dan tiba-tiba ia merasa malu sendiri. Sebab Vynt yang notabene lebih muda darinya, malah bisa menasehatinya sebijak itu.


Pantas saja Vynt bisa lebih dulu menikah ketimbang dia. Karena mungkin memang dari segi kedewasaan, Vynt lebih matang daripada dirinya. Hingga Vynt dapat lebih cepat menentukan langkahnya untuk masuk ke jenjang pernikahan.


"Elo tuh banyak yang ngedukung, Riz! Masa' masih enggak pede??? Tapi kalo lo masih pengen tau sejauh apa perasaan Beth ke elo, coba lo tanya Keira. Kata Tyo, kemaren Beth pulang cepet dari kantor karena mau curhat sama Keira. Bahkan Beth tetep bela-belain ke rumah Keira setelah dia kecelakaan dan jatuh dari motornya di jalan."


Mendengar kalimat Vynt yang terakhir, tubuh Rizzi otomatis menegang. "Serius Beth habis kecelakaan??? Trus kondisi Beth gimana???"


"Sebelum kesini tadi gue juga udah nelpon Beth buat make sure langsung kondisinya dia. Kaki kanannya masih bengkak. Walaupun kemaren di rumah Keira langsung dipanggilin dokter dan dikasih obat. Tapi gue yakin dia besok bakalan masih nekat berangkat kerja karena dia lagi handle tiket grup buat bulan depan." beber Vynt.


"Emang dia bisa berangkat sendiri dengan kondisi kaki yang bengkak begitu?" Rizzi tampak khawatir.


"Ya enggak lah, palingan dia mau minta anter Said atau naek taksi online. Tapi saran gue sih, mending jadikan ini kesempatan lo!" Vynt menaikkan sebelah ujung bibirnya.


Rizzi manggut-manggut. Kali ini otaknya langsung menangkap apa maksud dari ucapan Vynt itu. Sepertinya Vynt telah berhasil mengurai pikiran Rizzi yang sempat semrawut tadi melihat ekspresinya yang kini nampak lebih bernyawa.


"Pikirin baik-baik saran dan nasehat dari gue! Semoga lo enggak ngecewain kita semua yang ngedukung lo! Dan kapan pun lo butuh bantuan, langsung kabarin aja! Kita semua selalu siap kok buat lo dan Beth!"


Vynt tiba-tiba berdiri dari kursinya lalu mendekati Rizzi. Ditepuknya pundak pria itu dua kali lalu melangkah menuju pintu sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


Vynt langsung menghampiri meja di mana istrinya duduk dan terlihat sedang memainkan ponselnya. Di hadapan wanita itu sudah tersaji beberapa jenis makanan namun nampaknya belum ada satu pun yang tersentuh.


"Lho kok belum makan?" tanya Vynt sambil menarik kursi di samping istrinya untuk ia duduki.


"Nungguin kamu lah! Kan lebih enak makan bareng daripada makan sendiri-sendiri." jawab Fady dengan tersenyum.


"Enggak keburu dingin?" Vynt mengangkat sebuah garpu dan mulai mengambil pasta dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.


"Enggak kok, baru dateng juga ini makanannya!" jawab Fady sambil mengikuti sang suami yang sudah mulai makan.


Tak lama setelah suami istri itu menyantap makan malam mereka, tiba-tiba terdengar suara Rizzi yang tengah memberi instruksi pada manajer Kafe.


"Gue balik sekarang, Cim! Tolong lo pending semua kerjaan gue hari ini, biar gue kerjain semuanya besok! Sorry ngerepotin lo lagi!" Rizzi nampak menepuk pundak pria yang biasa dipanggilnya Cimot itu, alias sang manajer Kafe Teluse sesaat sebelum Rizzi akhirnya keluar dari Kafe miliknya.


Tak jauh dari sana, Vynt nampak tersenyum penuh arti melihat Rizzi yang pergi dengan tergesa-gesa. Otaknya sudah bisa menebak kemana pria itu akan pergi.


"Jadi...ada apa dengan Rizzi dan Beth?" tanya Fady disela kegiatan makan malamnya.


Vynt tersenyum lebar sebelum akhirnya menceritakan apa yang tengah terjadi di antara kedua insan yang diam-diam saling menaruh hati itu kepada sang istri.


***


Malam itu, Rizzi langsung mendatangi rumah Beth tanpa persiapan. Ia hanya menuruti dorongan hatinya saja untuk berada tak jauh dari tempat di mana gadis pujaannya itu berada.


Sesampainya di depan pagar rumah yang beberapa kali di kunjunginya itu, Rizzi hanya diam di dalam mobilnya. Ia tak berani masuk untuk menemui gadis itu. Ia takut mengganggu waktu istirahat Beth.


Rizzi sebenarnya ingin menelpon Keira dan menanyakan apa isi curhat Beth pada istri Tyo itu. Tapi kemudian Rizzi kembali malu pada dirinya karena merasa akan berbuat curang dengan mengorek isi hati Beth dari orang lain dan bukannya menanyakan langsung pada sang pemilik hati.


Hingga hujan turun, Rizzi tetap berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah Beth. Di dalam sana ia berpikir dan berpikir. Nasehat dari Vynt tadi terngiang-ngiang di kepalanya. Memotivasi hatinya.


Dan akhirnya ia pun mantap pada satu keputusan yang kemudian ia ikrarkan berulang-ulang dalam hatinya sendiri.


Hingga hampir tengah malam, Rizzi akhirnya pulang kerumahnya sendiri. Sang ibu yang memergoki anak bungsunya pulang larut malam langsung menegurnya.


"Kamu habis darimana, Riz? Jam segini baru pulang."


"Dari rumah temen, Mi!"


"Udah makan?"


"Enggak laper! Rizzi ke kamar dulu, Mi!"

__ADS_1


Mami Rizzi---Ny.Rukmini heran melihat sikap anak bungsunya.


Tuh anak kenapa sih akhir-akhir ini kaya hidup enggap mati pun tak mau!!! Apa patah hati lagi??? Tapi biasanya cepet pulihnya...palingan sehari doang lesu, besoknya udah gesrek lagi tuh anak. Tumben ini kok sampe berhari-hari. Kalau enggak salah sejak dia pulang dari Korea deh udah kaya' zombie gitu. Atau jangan-jangan terjangkit Corona???


Ny.Rukmini yang penasaran cpur parno lalu segera kembali ke kamarnya dan mencari ponselnya. Setelah ketemu, ia mengendap-endap pergi ke balkon kamarnya agar suaminya yang sedang tidur tidak terganggu oleh suaranya yang akan menelpon seseorang.


Meski sebenarnya bisa, tapi ia malas bertukar pesan yang jelas-jelas tidak membutuhkan suara. Maklumlah, mata tuanya sudah kurang awas melihat tombol-tombol keyboard pada layar ponsel yang menurutnya rumit itu.


📱RUKMINI


Roz!!! Kamu dengar Mami nggak?


📱ROZMYTA AJI


Ya Mi, ada apa malem-malem gini nelepon Roz?


📱RUKMINI


Besok kamu ke rumah Mami ya! Suruh kakakmu sama istrinya juga ke sini, PENTING!


📱ROZMYTA AJI


Mau bahas apaan sih, Mi?


📱RUKMINI


Udaahhh, kalian ke sini dulu aja besok! Mami mau curhat!


📱ROZMYTA AJI


Yaelah, Mi. Papi emang gitu dari dulu, nggak usah curhat segala kita udah tau kok masalahnya.


📱RUKMINI


Haiissshh, sotoy kamu!!! Bukan soal Papimu ini, tapi soal adekmu, si Rizzi!!!


📱ROZMYTA AJI


Yaaahh, ini lagi!!! Pasti patah hati lagi gara-gara dimanfaatin cewek! Udah lah, Mi! Biarin dulu! Entar sehari juga sembuh tuh anak!


📱RUKMINI


Masalahnya ini udah beberapa hari, Roz. Ada kali empat harian kalo Mami perhatiin. Sejak dia pulang dari Korea itu lhoo.


📱ROZMYTA AJI


Oia??? Wah... kali ini bakalan seru nih kaya'nya. Oke deh, besok Roz ke rumah Mami sambil ngajak Mas Reinka sama istrinya.


📱RUKMINI


Siipp, Mami tunggu ya kalian!


📱ROZMYTA AJI


Siaapp, Mi!


Dan Ny.Rukmini nampak antusias untuk pertemuannya dengan anak serta menantunya besok.


.


.


.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2