Replacement Lover

Replacement Lover
BAPER (II)


__ADS_3

Keira merasa pelukan Tyo semakin erat dan semakin erat hingga lama kelamaan membuat dirinya susah untuk bernafas.


Keira mencoba menepuk-nepuk pundak Tyo agar pria itu segera melepaskan pelukannya.


Tyo mengerjap setelah menyadari pelukannya pada gadis itu sudah terlalu erat dan terlalu lama. Hingga kata maaf meluncur dari bibirnya.


"Sory, Kei. Aku cuman lega aja karena kamu selamat." Tyo beralasan dengan sedikit mendorong tubuh Keira menjauh dari tubuhnya sendiri.


Saat itulah Tyo menyadari bahwa penampilan Keira terlihat mengenaskan. Tidak hanya seragam kerja yang dipakai Keira menjadi basah terkena air dari selang pemadam tapi juga wajah dan rambut panjang gadis itu terlihat sangat kotor akibat terkena abu dan jelaga.


Kedua kaki Keira bahkan terlihat polos tanpa alas apapun. Entah apa yang sudah terjadi pada gadis itu di dalam sana hingga keadaan Keira terlihat sedemikian kacau.


"Ayo kita menepi. Disini terlalu crowded." ajak Tyo.


Tyo melepas jaket hitam yang dikenakannya untuk dia pakaikan pada Keira. Dan tanpa ragu, pria itu lalu menggendong Keira layaknya tuan putri tanpa sepatu kacanya.


Keira yang kaget dengan tindakan tiba-tiba Tyo otomatis melingkarkan tangannya di leher lelaki itu karena takut terjatuh.


Hati Keira tersentak menerima perlakuan manis Tyo. Tak bisa dipungkiri bahwa Keira juga merasa lega mendapati seseorang yang dia kenal ada bersamanya di saat-saat menegangkan itu. Terlebih lagi seseorang itu adalah Tyo. Entah kenapa hatinya berasa begitu nyaman berada di dekat Tyo.


Tyo membawa Keira menuju motornya dan mendudukkan gadis itu diatasnya. Sekali lagi Tyo memeriksa kondisi Keira untuk memastikan apakah perlu membawa gadis itu ke Rumah Sakit atau tidak.


"Apa ada yang luka? apa ada yang sakit?" tanyanya lembut dengan menatap lekat pada mata Keira.


Gadis itu hanya menggeleng untuk membalas pertanyaan-pertanyaan Tyo.


"Perlu aku antar ke Rumah Sakit?" tawar Tyo.


Lagi-lagi Keira hanya menggeleng.


"Tyo, kumohon jangan begini...." pinta Keira. "Kalau kamu terus memperlakukanku semanis ini, hatiku bisa meleleh sepenuhnya dan gak bisa utuh lagi." mata Keira menatap sendu pada Tyo.


Tentu saja semua kalimat itu diucapkan Keira dalam hatinya. Bukan dengan suara melalui bibirnya.


Meski sorot matanya nyata-nyata menyiratkan isi hatinya itu. Namun tetap saja Tyo tak mampu mengartikannya. Bukan karena Tyo tidak peka.


Namun di mata Tyo, saat ini Keira justru terlihat seperti seseorang yang masih sedikit trauma. Trauma akan musibah yang baru saja berhasil dilaluinya.


Tubuh Keira yang masih gemetar diartikannya sebagai sisa rasa takut yang masih dirasakan gadis itu atas peristiwa nahas yang baru saja terjadi.


Dari kejauhan terlihat Vynt dan Beth menghampiri Tyo dan Keira yang masih saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Keira." panggil Beth.


Keira yang langsung menoleh dan melihat kedua sahabatnya sedang berlari ke arahnya segera turun dari motor Tyo.


Kedua gadis itu pun berpelukan haru. Beth menangis keras di dada Keira. Tangisan kelegaan melihat sahabatnya yang selamat dari musibah.


Keira pun ikut menangis lega. Air matanya tak mampu lagi dibendung. Dirinya bersyukur masih dipertemukan oleh orang-orang yang menyayanginya.


Dengan langkah yang mulai melambat Vynt mendekati dua orang gadis yang masih erat berpelukan itu. Nafasnya yang masih terengah-engah setelah berlari dalam kepanikan membuatnya belum sanggup berkata-kata.


Namun hatinya sudah merasa lega melihat Keira baik-baik saja. Vynt mengusap wajah paniknya dengan kedua tangan sambil mengatur nafasnya agar kembali normal.


Setelah merasa dirinya sedikit tenang, Vynt mengusap kepala Keira dengan lembut. Keira menoleh ke arah Vynt dengan senyum penuh kelegaan.


"Makasih banyak sudah menemukan Keira." ucap Vynt tulus menoleh pada Tyo sambil menepuk lengan Tyo pelan.


Tyo hanya menggangguk tanpa kata.


"Rizzi mana?" tanya Tyo pada Vynt.


"Said dan Rizzi masih di mobil mereka masing-masing. Mereka kejebak macet karena penutupan jalan akibat kebakaran ini." terang Vynt.


"Tapi aku kehilangan tasku beserta isinya. Aku gak bisa masuk ke apartemenku saat ini." Keira baru tersadar bahwa dirinya keluar dengan tangan kosong.


"Pulang kerumah gue dulu aja sampe lo bisa dapetin lagi kunci apartemen lo." Beth menyarankan. "Toh bekas kamar yang lo pake dulu masih kosong kok, Kei." tambah Beth.


"Gue setuju." sahut Vynt. "Besok gue bantu urusin soal kunci apartemen lo, gampang kok..palingan lusa lo udah bisa pulang ke apartemen lo lagi."


"Nginep lamaan juga gue malah seneng, Kei." Beth menimpali.


Keira menggangguk setuju mendengar saran Vynt dan Beth. Dia hanya bisa pasrah menerima kebaikan teman-temannya.


"Oke, kalo gitu biar aku yang antar Keira ke rumah Beth dengan motorku, kalian tidak keberatan kan?" tanya Tyo menawarkan diri.


"Mending gitu deh, takutnya kalo lo ikut kita naik mobil bakalan lama di jalan. Kayanya lo harus buruan mandi trus ganti baju, Kei. Tampang lo gak banget!" ujar Vynt berusaha menggoda Keira.


"Jelek banget ya gue?" tanya Keira sambil tersenyum kecut.


"Parah." timpal Beth tertawa sambil menyerahkan kunci rumahnya. "Nih bawa, pasti lo duluan yang nyampe soalnya." tambah Beth.


Keira menerima kunci itu dari tangan Beth. Keduanya lalu berpelukan sekali lagi sebelum akhirnya berpisah sementara untuk pulang sendiri-sendiri ke rumah Beth.

__ADS_1


Setelah Beth dan Vynt menghilang dibalik kerumunan massa. Lagi-lagi tanpa aba-aba, Tyo langsung menggendong pinggang Keira lalu menaikkannya ke atas motor.


Tyo membuka kemejanya lalu memasangkan kemeja itu ke perut Keira. Hal itu dilakukannya demi menutupi paha Keira yang sedikit terbuka karena rok seragamnya yang terangkat saat duduk di atas motornya.


"Biar gak masuk angin." Tyo memberi alasan.


"Kok kamu pake baju tumpuk-tumpuk gitu, apa masih agak meriang?" tanya Keira heran.


"Nggak kok, aku dah bener-bener sembuh. Thanks to you. Cuman tadi rencananya mau ngantor makanya pake kemeja juga di atas kaos. Syukurlah ternyata sekarang malah berguna buat kamu." jawab Tyo sambil memasangkan helm di kepala Keira.


"Loh, berarti kamu gak jadi ngantor malah kesini?"


"Iya."


"Kenapa? kenapa kamu bela-belain sampe segininya?" Keira merasa bersalah.


"Kalo kamu, pasti aku bela-belain." jawab Tyo singkat.


Mendengar ucapan Tyo, Keira merasa banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya. Senyum Keira pun mengembang tanpa bisa dicegah.


"Tapi gara-gara aku kamu jadi batal ngantor. Gak apa-apa nih?" tanya Keira khawatir.


"Gak apa-apa, tenang aja." Tyo menjawab santai sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Beneran." Keira ragu pada jawaban Tyo.


"Iya, beneran. Kan aku bosnya." timpal Tyo enteng.


"Hah!!!" Keira melongo.


To Be Continue...


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2