
"Jadinya kemana ini mbak?" tanya si supir taksi entah sudah yang ke berapa kali.
"Ke Apartemen Pakubumi, Pak!" jawab Keira akhirnya.
Pak supir yang mendengarnya langsung merasa lega karena tak lagi harus bertanya-tanya ke arah mana lagi mereka akan berkendara.
Sementara Keira, gadis itu sudah memikirkan skenarionya sendiri selama beberapa puluh menit pertama perjalanannya tadi. Keira bahkan sudah menon-aktifkan ponselnya sejak masuk ke dalam taksi agar tak ada satu orang pun yang dapat menjangkaunya.
Keira sudah bertekad tidak akan bergantung pada siapa pun lagi. Mulai sekarang dia harus melakukan semuanya sendiri. Menanggung beban ini sendirian bukanlah tindakan cerdas, tapi Keira akan merasa lebih tidak waras jika memaksakan diri berhubungan lagi dengan orang-orang kalangan atas apalagi konglomerat sekelas keluarga Pratama.
Jika keluarga Papanya—Pak Zein Imran saja sudah antipati terhadap keberadaannya di muka bumi ini, bagaimana tidak dengan keluarga Pratama yang jauh lebih tinggi kelasnya.
Keira tak berani membayangkan segala macam skenario mengerikan yang mungkin dapat dilakukan oleh keluarga yang bergelimang harta itu.
Jika bagi mereka uang sama sekali bukan masalah, jangankan hanya mengusir. Mungkin mereka dapat melakukan apapun untuk mempermalukan Keira ke seluruh penjuru negeri karena telah berani menggoda seorang ahli waris Takhta Grup bahkan sampai mengaku-ngaku dihamili olehnya.
Keira bergidik ngeri, bulu kuduknya merinding. Tekadnya sudah bulat untuk segera angkat kaki dari kota ini. Lebih baik dirinya menghilang. Lebih baik dirinya bersembunyi dari Tyo maupun keluarga Pratama. Bahkan dari teman-teman yang lebih memilih untuk memihak pada pria yang telah menghamilinya itu.
"Sudah sampai, mbak!" Panggilan pak supir taksi membuyarkan lamunan Keira.
Bergegas gadis itu turun dari taksi setelah membayar lalu segera menaiki lift ke lantai dua menuju kamarnya.
Sampai di dalam kamarnya Keira bagai orang kesetanan yang buru-buru memasukkan beberapa pakaian dan dokumen penting serta beberapa barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya ke dalam kopernya.
Berharap tidak berpapasan dengan siapun yang mengenalnya, tanpa pikir panjang lagi Keira segera menyeret kopernya yang sudah penuh itu keluar dari gedung apartemennya.
Beruntung ada sebuah taksi yang baru menurunkan seseorang di depan pintu lobi ketika Keira baru keluar dari gedung.
Keira pun segera masuk ke dalam taksi tersebut setelah memastikan jika supirnya tidak sedang menunggu penumpang yang sebelumnya turun.
"Mau diantar kemana, mbak?" tanya si supir taksi dengan ramah.
"Tolong ke Stasiun Kota, Pak!" jawab Keira tegas tanpa ragu.
***
@Klinik Spesialis ObGyn
Vynt yang baru keluar dari toilet nampak melangkah tenang menuju ke ruang tunggu. Dirinya berharap semoga Tyo gerak cepat dengan rencana mereka hingga misi yang diembannya hari ini sukses.
Namun ketika Vynt sudah tiba di ruang tunggu, pemuda itu mengernyitkan keningnya ketika tak melihat sosok Keira di sana.
Matanya menyisir tajam mencari sosok sahabatnya itu di seluruh ruangan, namun nihil. Tak tampak sama sekali batang hidung Keira di ruangan yang luasnya hampir empat puluh meter persegi itu.
Mungkinkah Keira sudah masuk ke ruang dokter? pikirnya. Atau gadis itu sedang membeli sesuatu di kantin klinik? tebaknya lagi mengingat Keira yang sejak hamil jadi lebih cepat lapar.
Masih dengan kepala yang celingukan ke kanan dan ke kiri, Vynt berjalan menuju meja pendaftaran.
"Permisi, Sus. Pasien atas nama Keira Permata apa sudah masuk ruang dokter?" tanya Vynt pada suster yang bertugas di meja pendaftaran.
"Sebentar, saya cek dulu." sahut suster tersebut sambil membuka sebuah buku yang besar. "Di dalam masih pasien nomor urut lima. Ibu Keira ada di nomor urut enam, jadi belum masuk. Mungkin sebentar lagi." jelas suster itu.
Vynt mengernyitkan keningnya lebih dalam. Lagi-lagi dirinya merasa heran. Lalu kemana gadis itu?—pikirnya. Kali ini Vynt menuju ke kantin klinik dengan langkah yang cepat dan lebar. Mendadak firasatnya tidak baik.
Sesampainya di kantin klinik, lagi-lagi Vynt tak berhasil menemukan Keira. Kakinya lalu kembali ke arah toilet. Di depan toilet wanita itu, Vynt kebingungan sendiri.
Dia tak mungkin langsung masuk ke dalam toilet wanita meski dengan alasan mencari seseorang, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Keira di dalam sana dan tidak ada yang menolongnya, pikir Vynt paranoid.
Tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam toilet. Vynt dengan sigap mencegat wanita itu demi satu tujuan.
__ADS_1
"Permisi, mbak. Boleh tanya di dalam apa masih ada orang? Saya lagi cari adik saya." tanya Vynt pada wanita itu.
"Kayanya udah nggak ada siapa-siapa deh, Mas." sahut wanita itu.
"Oh, gitu ya ..." jawab Vynt ragu-ragu, merasa tidak percaya.
"Mau saya bantu kroscek sekali lagi?" tanya wanita itu menawarkan diri.
"Oh iya boleh, mbak! Boleh! Kalo tidak merepotkan!" seketika ekspresi Vynt sumringah.
"Tunggu disini ya!" kata wanita itu sesaat sebelum kembali masuk ke dalam toilet wanita.
Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali keluar sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada, mas. Saya udah buka bilik closetnya satu-satu, kosong semua." jawab wanita itu lugas.
Wajah Vynt kembali muram, "Kalo gitu makasi, mbak, atas bantuannya." Vynt mengangguk sambil menundukkan sedikit badannya sebagai bentuk terima kasih.
"Oke, sama-sama." balas wanita itu sambil tersenyum singkat lalu melenggang pergi.
Vynt merogoh ponselnya dari saku celana, dengan cepat menekan icon calling setelah membuka nomor kontak Keira di ponselnya. Vynt mencoba menelpon gadis itu.
“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Terdengar suara khas dari nomor yang sedang tidak aktif.
Vynt mencoba lagi sekali, dan hingga ketiga kalinya hasilnya masih sama. Ponsel Keira sepertinya memang sedang tidak aktif.
"Ck, dimana kamu, Kei?" Vynt berdecak kasar. Meski pikirannya mulai panik namun Vynt merasa harus tetap mampu mengontrol otaknya agar tetap melakukan tugasnya secara jernih dan berlogika.
Vynt menarik rambutnya kebelakang dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya berkacak pinggang. Ekspresi cemas tak bisa tidak tersirat di raut wajahnya.
Haruskah ia menelpon Tyo dan mengabarkan tentang ini? Bagaimana jika Keira hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi? Vynt galau.
Vynt kembali bertanya pada suster bagian pendaftaran tentang giliran Keira, berharap gadis itu sudah lebih dulu masuk ke ruang dokter saat dirinya sedang mencarinya ke toilet tadi.
"Maaf tapi giliran Ibu Keira Permata sudah terlewat, kami sudah mencoba memanggil beliau beberapa kali namun tidak ada tanda-tanda beliau ada di sini jadi kami memanggil pasien dengan nomor antrian berikutnya." terang suster tersebut.
SIAL! Rutuk Vynt dalam hati. Harus bagaimana lagi dia bisa memastikan keberadaan Keira? Saat sedang meredam rasa paniknya sendiri, Vynt tiba-tiba teringat pada kamera pengawas CCTV yang pastinya terpasang di beberapa titik potensial di klinik ini.
Bergegas Vynt menuju ke ruang security untuk meminta izin melihat rekaman CCTV yang ada di klinik ini berharap ia dapat melihat kemana Keira pergi. Tapi hal itu tak semudah yang ada di pikiran Vynt.
Para security itu menolak menunjukkan rekaman CCTV tersebut dengan alasan tidak adanya kewenangan hukum meski Vynt sudah memohon-mohon dengan dalih mencari keluarganya yang hilang dari dalam klinik.
Merasa menemui jalan buntu, Vynt akhirnya terpaksa kembali menelpon Tyo dan melaporkan apa yang terjadi saat ini.
📱TYO PRATAMA
"Halo, Vynt. Gimana? Beres?"
📱VYNT DAEHO
"Sorry, Tyo. Bad news! Keira hilang!"
📱TYO PRATAMA
"Hah, maksud lo hilang gimana?"
Vynt pun menceritakan kronologi yang dialaminya tadi secara rinci, juga tentang usahanya untuk melihat rekaman CCTV namun akhirnya gagal karena terganjal perijinan dan regulasi.
📱TYO PRATAMA
__ADS_1
"Lo tunggu di sana siapa tahu Keira balik, tapi gue panggilin Rizzi buat bantuin elo ngeliat CCTV itu."
Setelah berkata demikian, sambungan telepon itupun terputus. Sesuai instruksi dari Tyo, Vynt tetap menunggu di klinik tersebut dengan harapan Keira kembali dan hanya pergi sebentar.
Namun hingga sekian lama, harapan Vynt menguap sia-sia. Bukan Keira yang dilihatnya datang ke klinik itu melainkan Rizzi dan seorang pria yang nampak seperti anggota polisi yang berpakaian bebas.
"Anter gue ke ruang securitynya." titah Rizzi tanpa sapaan ataupun basa basi begitu dilihatnya Vynt sedang berdiri gelisah di pintu utama klinik spesialis ObGyn tersebut.
Sesuai perintah, Vynt menggiring Rizzi dan pria disampingnya sampai ke pintu ruang security yang jadi satu dengan ruang monitor CCTV.
"Lo tunggu diluar." kata Rizzi pada Vynt lalu kemudian dirinya sendiri masuk ke dalam ruang security bersama pria asing tadi. Tak berapa lama Rizzi kembali keluar dan memanggil Vynt untuk ikut masuk.
"Vynt, lo dah boleh masuk." panggil Rizzi kemudian.
Entah apa yang telah Rizzi dan pria asing tadi bicarakan dengan para security itu di dalam sana hingga akhirnya mereka mau menunjukkan rekaman CCTV yang telah disetting ke waktu ketika Keira masih ada di klinik itu.
Dengan menyusuri setiap video, Vynt dan Rizzi akhirnya berhasil menemukan sosok Keira yang tertangkap beberapa kamera CCTV di klinik itu. Salah satunya di sudut lorong toilet.
Terlihat Keira yang melewati toilet pria lalu nampak berdiri mematung di depan pintunya dengan tubuh yang sedikit condong kesamping seperti orang yang sedang menguping.
Lalu tak lama terlihat Keira putar arah keluar dari lorong toilet dan kembali tertangkap kamera CCTV yang terpasang di pintu keluar darurat yang posisinya ada di sayap kiri bangunan klinik tersebut.
Dari penemuan itulah Vynt dan Rizzi akhirnya menyimpulkan bahwa Keira sudah meninggalkan klinik atas inisiatifnya sendiri dan bukan karena diculik ataupun hal buruk lainnya.
"Mungkin Keira tanpa sengaja denger omongan gue sama Tyo di telpon." tebak Vynt ketika dirinya dan Rizzi juga pria asing di sebelahnya itu sudah keluar dari ruang CCTV.
"Gue belum sepenuhnya paham masalahnya kenapa, tapi secepatnya kita harus temuin Keira." timpal Rizzi.
"Iya, sebelum dia pergi jauh dari kota ini." tambah Vynt tak mampu lagi menyembunyikan wajah paniknya di depan Rizzi.
"Hah?!" Rizzi melongo mendengar ucapan Vynt itu. "Maksud lo kabur?" tambahnya.
Vynt awalnya hanya mengangguk lalu kemudian memperjelas jawabannya. "Dari Tyo."
Rizzi menepuk keningnya dengan frustasi. "Temen lo yang satu itu bener-bener deh yaa...RIBET!" Rizzi berteriak gemas.
Namun dengan cepat emosinya kembali stabil lalu menoleh pada pria asing yang sedari tadi mengikutinya.
"Sekarang tugas lo, cari cewek ini sampai dapet. Tapi utamakan keselamatannya. Jangan sampai kenapa-kenapa seujung rambut pun. Ngerti?!" perintah Rizzi pada pria itu sambil memperlihatkan foto Keira dari ponselnya.
Pria asing itu tampak mengangguk mengerti lalu dengan cepat mentransfer foto Keira dari ponsel Rizzi ke dalam ponselnya sendiri.
"Ada petunjuk untuk memudahkan pencarian saya bos?" tanya pria itu.
"Mungkin dia sedang berusaha keluar dari kota ini, entah ke kota lain atau bahkan keluar negeri." Vynt yang menjawab.
Mendengar hal itu, Rizzi pun memberi instruksi tambahan. "Sebar anak buah kamu di stasiun, terminal, bandara atau pelabuhan untuk mencegah Keira kabur lebih jauh."
"Kayanya Keira nggak mungkin ke bandara karena lagi nggak boleh terbang, dan tolong jangan kasar sama badannya. Keira lagi hamil muda." tambah Vynt.
"APAA???" Rizzi yang shock langsung menoleh ke arah Vynt sambil melongo.
To Be Continue....
.
.
.
__ADS_1
.