
Dalam perjalanannya menuju Takhta Grup, Pak Zein tepekur sendiri di dalam mobilnya. Jika dirinya diundang untuk menghadap orang nomor satu di Takhta Grup itu beberapa minggu yang lalu, mungkin perasaannya akan berbeda.
Masih antusias. Masih memiliki motivasi yang cukup kuat. Masih merasakan semangat untuk berjuang mempertahankan keutuhan PT. PERMATA. Dan masih memiliki rasa percaya diri.
Tapi kini semuanya telah berbeda. Semuanya seakan telah sirna. Semangatnya telah runtuh seiring hancurnya rumah tangga dan keluarganya. Membuat motivasinya dalam memperjuangkan PT. PERMATA juga lenyap tak bersisa.
Namun sebagai Direktur Utama yang membawahi puluhan karyawan yang menggantungkan hidupnya di PT. PERMATA. Mau tidak mau Pak Zein harus tetap menemui Pak Ruslan dari Takhta Grup yang konon menurut Pak Iqbal---sekretarisnya---Takhta Grup ingin berinvestasi di PT. PERMATA.
Karena itulah Pak Zein bergegas memenuhi undangan dari Takhta Grup dengan harapan dirinya akan mendapatkan dana investasi yang cukup untuk menutup kekurangan dana operasional perusahaan.
Sesampainya di lobi gedung Takhta Grup, Pak Zein yang turun di depan pintu utama melihat antrian beberapa tamu lain yang ingin masuk ke dalam gedung bertingkat dua puluh dua itu.
Karena harus menyesuaikan aturan di tempat yang di kunjunginya, mau tidak mau Pak Zein ikut mengantri pada barisan yang telah terbentuk sebelumnya. Ia pun lalu memilih antrian yang tidak terlalu panjang.
Di gedung Takhta Grup, sistem pengamanan yang sangat ketat membuat tidak sembarangan orang bisa masuk.
Di pintu masuk utama, terdapat beberapa meja resepsionis yang dijaga oleh seorang security sebagai pengaman dan dua orang staff resepsionis di masing-masing meja.
Setiap tamu yang datang harus lebih dulu melapor kepada resepsionis tentang maksud dan tujuan kedatangannya. Setelah dilakukan kroscek pada divisi yagg dituju, barulah tamu tersebut dipersilahkan untuk masuk.
Sementara pintu masuk untuk para karyawan sendiri dikhususkan di sayap kanan bangunan itu. Berbekal pin barcode di setiap ID Card yang mereka miliki, para karyawan harus melewati alat sensor dengan menempelkan ID Card mereka terlebih dahulu agar bisa membuka akses jalan untuk memasuki gedung.
Dan di sayap kiri gedung dikhususkan untuk akses keluar masuk tamu VVIP yang tidak perlu melapor apalagi mengantri terlebih dulu untuk memasuki gedung serta diperuntukkan untuk orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di Takhta Grup termasuk juga anggota keluarga mereka.
Setelah menunggu untuk beberapa saat, tibalah giliran Pak Zein untuk melaporkan tujuan kedatangannya kepada staff resepsionis.
"Selamat siang Pak, bisa dibantu? Mau bertemu dengan siapa dan di divisi apa?" tanya staff tersebut dengan ramah dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda salam.
"Saya ada janji dengan Pak Ruslan, pimpinan Takhta Grup." jawab Pak Zein tegas.
"Mohon maaf, anda dari mana? Dan dengan bapak siapa?" staff tersebut kembali menanyakan identitas Pak Zein.
"Saya Zein Imran dari PT. PERMATA."
"Baik, Pak Zein Imran. Mohon ditunggu sebentar, akan saya kroscek-kan terlebih dahulu ke sekretaris beliau." tegas staff tersebut meminta Pak Zein untuk menunggu sedikit lagi.
📞SEKRETARIAT CEO
Sekretariat CEO, dengan Norma bisa dibantu?
📞RESEPSIONIS
Siang Miss Norma. Saya dari divisi Resepsionis, ada tamu untuk Pak Ruslan dari PT. PERMATA dengan Bapak Zein Imran. Apakah diterima?
📞SEKRETARIAT CEO
Silahkan di izinkan masuk, beliau sudah terdaftar di guest list untuk meeting dengan Pak Ruslan hari ini.
📞RESEPSIONIS
__ADS_1
Baik, terima kasih.
"Pak Zein Imran, anda sudah boleh masuk. Ruangan pimpinan Grup ada di lantai dua puluh dua. Silahkan access cardnya untuk anda gunakan naik turun lift." terang staff resepsionis seraya menyerahkan sebuah kartu kepada Pak Zein.
Sementara Pak Zein hanya mengangguk sebagai ganti terima kasih.
Sebelum melewati pintu kaca yang otomatis akan terbuka ketika mendeteksi sensor gerak dari seseorang yang hendak memasuki gedung, Pak Zein lebih dulu harus berhadapan dengan petugas security yang membawa alat detektor sebagai salah satu prosedur keamanan.
Setelah lolos uji detektor, barulah Pak Zein dapat melangkahkan kakinya memasuki bagian dalam gedung Takhta Grup yang tampak megah lagi kokoh itu.
Sesuai instruksi dari resepsionis tadi, Pak Zein bergegas masuk ke dalam lift menggunakan kartu yang telah dipegangnya untuk naik ke lantai dua puluh dua di mana ruangan Pak Ruslan berada.
Dan akhirnya, di sinilah ia berada kini. Di ruang tunggu yang diperuntukkan untuk para tamu yang akan menemui Pimpinan tertinggi di Takhta Grup itu.
***
@Rumah Keluarga PRATAMA
Keira berada di dapur bersama Ny.Naina, Mbok Sri dan beberapa asisten rumah tangga lain ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Lagi.
Keira yang saat itu sedang menikmati bubur kacang hijau yang tengah diidamnya terpaksa harus berhenti menyuapi mulutnya sendiri untuk merogoh ponsel dari saku cardigannya.
Dilihatnya nomor kontak Tyo di layar ponsel. Ny. Naina yang penasaran akhirnya spontan bertanya. "Dari siapa, Kei?" tanya Ny. Naina kepo.
"Tyo lagi yang nelpon, Bu!" jawab Keira polos.
Pasalnya segala sesuatu yang dilakukannya bersama Keira hari ini jadi sedikit terganggu oleh Tyo yang selalu saya menelpon Keira, untuk mengecek keadaan Keira, atau bahkan hanya untuk menanyakan Keira sedang apa.
"Capedeeeehh!" Ny.Naina memutar bola matanya jengah sambil menempelkan punggung tangannya di kening, membuat Keira dan Mbok Sri serta asisten rumah tangga lainnya tertawa geli melihat tingkah Nyonya rumah mereka.
"Jadi gimana nih, Bu? Keira angkat nggak?" tanya Keira lagi.
"Udah buruan diangkat! Bilangin sama Tyo! Kalo sampe dia nelpon sekali lagi. Ibu bakalan nyita ponsel kamu biar dia nggak bisa gangguin We Time kita lagi." ancam Ny.Naina bersungut-sungut.
Keira hanya bisa tertawa mendengar ancaman dari calon Ibu Mertuanya itu.
"Ibu ngomong sendiri aja ya, biar Keira loud speaker telponnya." sahut Keira sambil menggesernya icon receiver dari layar ponselnya untuk menerima telpon Tyo.
Tak lupa ditekannya icon loud speaker agar suara Tyo jelas terdengar oleh semua orang yang ada di dapur.
📱KEIRA PERMATA
Halo, Tyo
📱TYO PRATAMA
Hai, Kei.
📱KEIRA PERMATA
__ADS_1
Ada apa?
📱TYO PRATAMA
Gak apa-apa. Kamu lagi apa?
"LAGI MAU RUJAKAN SAMA IBU, MBOK SRI DAN MBAK-MBAK YANG LAEN. UDAH DEH TYO, BERHENTI NELPONIN KEIRANYA! NTAR IBU SITA JUGA NIH HAPE KEIRA BIAR KAMU NGGAK BISA KONTAK DIA LAGI SELAMA DI KANTOR!" teriak Ny.Naina dari balik meja dapur karena sedang mengupas mangga muda untuk acara rujakan mereka siang ini.
Dari seberang telpon Tyo jadi meringis mendengar omelan ibunya. Tapi karena takut dengan ancaman sang ibu akhirnya Tyo pun menyerah.
📱TYO PRATAMA
Iya deh iya, Tyo gak bakal telpon-telpon lagi kecuali Keiranya yang nelpon duluan. Tapi jangan sita hape Keira ya, Bu! Nanti kalo Tyo kangen trus pengen nge-chat, gimana?
Mendengar suara Tyo yang merajuk langsung menggemparkan seisi dapur, kecuali Keira tentunya, karena Keira tidak tahu bagaimana sikap keseharian Tyo itu kala di rumahnya sendiri.
"Ya Tuhaannn, anak ibookk, bisa juga bucin banget gitu ya??!! pekik Ny. Naina terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya yang sakit karena kram.
📱TYO PRATAMA
Ya udah, Aku tutup
Kentara sekali jika Tyo buru-buru ingin melarikan diri dari godaan Ibu dan antek-anteknya mengingat reaksi mereka yang heboh dari seberang telpon.
Keira pun hanya bisa melongo melihat situasi yang membingungkan untuknya ini.
"Sumpah ya, seumur-umur Mbok Sri kerja di rumah ini sejak Mas Tyo kecil, belum pernah lho liat sikap manjanya Mas Tyo. Apalagi pake acara merajuk kaya itu tadi. Ya Ampuunn, gemes ee." beber Mbok Sri yang langsung mendapat persetujuan dari semuanya termasuk Ny.Naina---ibunda Tyo sendiri.
"Oia??? Masa' siihh???" Keira tak percaya.
"Benerrr, Kei. Serius!" tegas Ny.Naina sambil mengacungkan dua jarinya membentuk tanda 'V".
Mau tak mau Keira jadi ikutan tertawa dibuatnya. Di dalam hatinya, baru kali ini pun Keira merasakan kebahagiaan seramai ini selama hidupnya.
"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Kei?!" bisik Keira dalam hati.
To Be Continue....
.
.
.
.
.
.
__ADS_1