Replacement Lover

Replacement Lover
TERKUAK


__ADS_3

@Cafe Teluse


"Keira...Vynt...sebelah sini." Beth langsung melambaikan sebelah tangannya ketika melihat Keira dan Vynt masuk ke Cafe Teluse agar kedua sahabatnya itu langsung tahu dimana dia duduk saat itu.


Keira dan Vynt serentak menoleh ke arah suara Beth yang ternyata sedang duduk berdua dengan Rizzi di deretan kursi area bar.


Hmm, pucuk dicinta ulam pun tiba, batin Vynt sambil tersenyum dengan ujung bibir yang terangkat ke atas ketika melihat Rizzi.


Tiba-tiba saja bulu kuduk di tengkuk Rizzi pun berdiri, "Ck...kok gue jadi merinding gini sih?" pikir Rizzi heran. "AC-nya kekencengan kali ya." Rizzi tolah toleh. "Perasaan tadi biasa aja." kali ini Rizzi terlihat mengusap tengkuknya agar bulu kuduknya kembali ke posisi semula, masih dengan ekspresi keheranan.


Ketika tiba-tiba Vynt muncul di sampingnya dengan senyum yang aneh dan tatapan mata yang tajam, akhirnya Rizzi menyadari apa yang membuatnya merinding tadi.


"Hai Riz." sapa Vynt. "Lagi sibuk nggak? ngobrol yuk!" ajak Vynt lagi yang entah kenapa meski di ucapkan secara biasa saja tapi justru terdengar bagai kalimat pembuka dari sebuah interogasi bagi Rizzi.


"Eh, iya boleh." jawab Rizzi yg sedikit tergagap. Ini cowok walaupun masih bocah tapi auranya gak main-main, pikir Rizzi tentang Vynt. Jadi inget waktu pertama kali ketemu Tyo. Tyo bahkan punya aura yang kuat sejak umurnya sepuluh tahun, kenang Rizzi pada akhirnya.


***


Rizzi pertama kali bertemu Tyo dan Argha dua puluh tahun lalu. Saat itu Rizzi dan Tyo yang seumuran, sama-sama masih berusia sepuluh tahun, sementara Argha delapan tahun.


Di sebuah pesta ulang tahun salah satu anak konglomerat lainnya, mereka bertemu untuk yang pertama kali. Mamanya Rizzi yang pertama mengenalkan putra semata wayangnya itu ke Tyo dan Argha.


"Rizzi kenalin nich...ini Tyo dan ini Argha, adiknya." ujar Mama Rizzi sambil menunjuk ke arah kakak beradik itu satu per satu. "Mereka berdua anaknya Om Ruslan Pratama, temennya papa kamu yang punya banyak hotel itu loh." tambah Mama Rizzi.


Rizzi yang terkesima oleh aura Tuan Muda Tyo pun seketika minder. Karena meskipun dirinya juga anak orang kaya tapi tanpa pakaian dan fasilitas mewah serta perawatan diri yang mahal, mungkin dimata orang lain yang tidak tahu latar belakangnya, Rizzi hanya akan terlihat layaknya anak-anak biasa pada umumnya.


Berbeda dengan Tyo. Jika di umur sepuluh tahun saja, Tyo sudah mampu menonjolkan pengaruhnya tanpa berbuat apa-apa, lalu bagaimana ketika nanti Tyo sudah dewasa, pikir Rizzi kecil kala itu.


Sejak saat itu mereka bertiga berteman baik. Karena selain orang tua mereka juga bersahabat baik, hanya Rizzi yang mampu memahami sifat dan sikap kedua penerus Takhta Grup yang menaungi beberapa hotel dan resort di Indonesia itu.


Khususnya terhadap Tyo. Mungkin karena mereka seumuran, Rizzi merasa lebih bisa memahami Tyo daripada Argha. Bahkan ketika di bangku sekolah menengah pertama, Tyo mulai meninggalkan segala fasilitas mewah dan bergaya hidup sederhana, Rizzi seolah dapat mengerti alasan kenapa Tyo melakukan itu.


Tyo tidak ingin diperlakukan berbeda. Tyo ingin diperlakukan sama seperti yang lainnya. Tidak dibeda-bedakan karena pengaruh keluarganya. Tyo ingin bertemu dengan orang-orang yang mampu menerima dirinya apa adanya, bukan orang-orang yang selalu melihat dari latar belakangnya.


Rizzi yang saat itu ingin selalu bersama Tyo bahkan sampai memohon-mohon pada orang tuanya untuk ikut masuk ke sekolah di sekolah negeri biasa seperti Tyo. Bukan di sekolah swasta terbaik seperti yang telah dipilihkan kedua orang tuanya.


Tak jauh berbeda ketika mereka memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas. Tyo tiba-tiba saja menyampaikan niatnya untuk tidak mewarisi bisnis ayahnya kelak ketika dirinya dewasa.


Tyo mempunyai cita-citanya sendiri. Dia lebih ingin membuat perusahaannya sendiri dari nol dan itu pun di bidang yang berbeda dengan bidang yang digeluti bisnis ayahnya.


Menurut pengamatan Rizzi, Tyo sudah menunjukkan minatnya di bidang kontraktor dan arsitektur sejak tahun pertama mereka di Sekolah Menengah Atas.


Hal itu dimulai pertama kali ketika Tyo dan Rizzi tidak sengaja melihat-lihat event IndoBuiltTech Expo yang memamerkan kemajuan terkini teknologi digital di bidang arsitektur.


Sejak saat itu Tyo mulai mengoleksi buku-buku tentang kontraktor dan arsitektur. Beruntung Tyo dan Argha memiliki orang tua yang memahami minat serta bakat anak-anaknya.


Jadi ketika Tyo mengungkapkan niatnya untuk tidak akan mewarisi bisnis ayahnya, orang tuanya pun dengan legowo menerima keputusan putra sulungnya itu.


Hal itulah yang sampai saat ini membuat Rizzi iri pada Tyo. Tyo memiliki orang tua yang selalu mendukungnya. Tidak selalu mendikte atau bahkan mengatur masa depan anaknya secara sepihak.

__ADS_1


Keputusan itu pula disambut baik oleh Argha. Argha yang sangat mengagumi ayahnya sejak kecil sudah bercita-cita ingin turut terjun di bidang yang digeluti ayahnya.


Bak gayung bersambut, keputusan Tyo itu memberikan peluang kepada Argha untuk menggantikan posisi kakaknya mewarisi bisnis ayah mereka. Oleh sebab itu Argha mengambil jurusan pariwisata perhotelan yang sesuai dengan bidang industri bisnis ayahnya.


Tapi siapa sangka bahwa akhirnya kini Argha telah pergi untuk selamanya. Dan mau tidak mau, Tyo yang tidak tega melihat ayahnya yang sakit-sakitan terpaksa mengurus bisnis ayahnya itu pada akhirnya.


***


Tepukan Vynt dibahunya membuyarkan lamunan Rizzi seketika.


"Kalo ngantuk merem, Bro. Jangan tidur sambil melek gitu. Serem ngliatnya." celetuk Vynt lalu meminum espresso dingin yang sudah dipesannya saat Rizzi melamun tadi.


Rizzi tertawa malu. Beruntung Beth sudah tak lagi duduk disampingnya. Gadis itu sudah berpindah tempat ke area sofa bersama Keira. Rizzi tak mau tampang konyolnya ketahuan oleh Beth. Mau taruh dimana mukaku? pikir Rizzi lagi.


Vynt melirik pada notepad dan beberapa dokumen yang terjilid dengan mika bening di hadapan Rizzi.


"Lo lagi sibuk?" tanya Vynt basa basi.


"Oh, iya sedikit." jawab Rizzi sambil kembali fokus pada layar notepadnya.


"Lo kerja di ruangan terbuka gini emang nggak apa-apa?" tanya Vynt lagi merasa heran. Apakah pria itu tidak mengenal istilah Company Confidential atau bahasa gaulnya Rahasia Perusahaan. Bisa-bisanya dia bekerja di ruangan terbuka yang bisa dilihat banyak orang begini, pikir Vynt merasa aneh.


"Eh, apa? Ooh itu, nggak apa-apa kok. Bukan pekerjaan yang sepenting itu juga." jawab Rizzi sedikit kaget dengan pertanyaan Vynt.


Seperti yang sudah diduganya, pemuda ini bukan dari kalangan biasa melihat dari gestur dan caranya bicara. "Ini cuman pekerjaan rumah yang diberikan Tyo ke aku sebelum dia pergi ke luar negeri."


"Memangnya lo kerja sama Tyo kok sampe harus ngerjain pekerjaan rumah dari dia." Vynt memulai investigasinya.


"Nggak juga sih. Cuman karena Tyo lagi sibuk jadi gue bantu-bantu sedikit kerjaannya. Tapi bukan murni kerjaan Tyo sendiri juga, lebih tepatnya kerjaannya ayahnya Tyo." Rizzi sedikit menjelaskan.


Kening Vynt berkerut tanda otak pemuda itu sedang bingung. "Maksudnya kerjaan Tyo sendiri dan kerjaan ayahnya gimana sih?" tanya Vynt blak-blakan.


"Lho, Keira gak pernah cerita ya tentang Argha dan Tyo?" giliran Rizzi yang keheranan.


"Emang Keira tahu apa? itu anak ngelihat orang nggak pernah dari latar belakangnya." jelas Vynt sambil menoleh sesaat ke arah Keira yang kemudian diikuti oleh Rizzi yang juga jadi menoleh ke arah Keira.


"Dia aja baru tahu kalo gue anaknya owner Dae-Ho Trip setelah semester dua. Padahal gue temenan ama dia dari semester satu. Coba bayangin!" cerita Vynt sedikit geli mengenang pertemanannya dengan Keira.


Sontak Rizzi menoleh ke arah Vynt dengan mata terbuka lebar mendengar pengakuan pemuda itu barusan. Bukan, bukan tentang kelemotan Keira mengetahui latar belakang keluarga temannya itu melainkan tentang Vynt yang pewarisnya Dae-Ho Trip.


"Tunggu-tunggu." Rizzi mengarahkan telapak tangannya ke depan muka Vynt untuk menginterupsi. "Lo bilang barusan kalo elo anaknya owner Dae-Ho Trip?" tanya Rizzi pada Vynt dengan penekanan yang tegas.


"Iya." jawab Vynt sedikit bengong melihat reaksi Rizzi.


"Berarti elo anaknya Mr. Hwa Dae Ho yang asli Korea itu?" tanya Rizzi lagi. Yang langsung disambut anggukan oleh Vynt. "Jadi elo adik cowok satu-satunya Vlora?" tambah Rizzi dengan penuh penekanan.


Mendengar Rizzi menyebut nama mendiang kakak perempuannya, mendadak ekspresi Vynt berubah kaku. "Lo kenal kakak gue?" tanyanya dingin pada Rizzi.


"Ya Ampuunnn." pekik Rizzi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Gak kenal lagi..." jawabnya sambil menurunkan tangannya dari wajahnya.

__ADS_1


"Gue bahkan naksir sama Vlora pas dia dan gue sama-sama dateng ke pesta ultah anaknya pemilik Paminto Grup. Sumpah kakak lo yang waktu itu masih sepuluh tahun aja udah cantik bangeettt dimata gue." tambah Rizzi dengan sedikit histeris.


"Oia?" tanya Vynt heran.


Rizzi tersenyum kecut mendengarnya. "Sayangnya bukan gue yang waktu itu menarik perhatian Vlora, tapi Tyo." jawab Rizzi dengan mata menerawang.


Vynt jadi kaget. Kenapa Tyo bisa ada di pesta anak-anak orang kaya jika bukan karena Tyo juga salah satu dari kalangan mereka, pikirnya. "Tyo juga ada disana?" tanya Vynt hari-hati.


"Iyalah, Tyo dan Argha juga." beber Rizzi. "Paminto Grup khan udah lama punya beberapa merger sama Tahkta Grup, masa anaknya pemilik Tahkta Grup malah nggak diundang sih." Rizzi terus bicara.


"Anaknya pemilik Takhta Grup?" ulang Vynt mengernyitkan keningnya.


"Tyo dan Argha itu anaknya Ruslan Pratama. Orang nomor satu di Takhta Grup yang menaungi beberapa hotel dan resort di Indonesia. Gak cuman di Indonesia malah, tapi juga dibeberapa negara tetangga." jelas Rizzi entah kenapa jadi sedikit membanggakan latar belakang sahabatnya itu.


"Berarti Tyo itu pewaris Takhta Grup?" tanya Vynt lagi.


Rizzi menghela nafas panjangnya lebih dulu sebelum akhirnya mulai menceritakan ketika Tyo menolak mewarisi bisnis ayahnya karena minatnya pada bidang lain, hingga Tyo yang memulai bisnis kontraktor dari nol dan bisnisnya yang mulai berkembang saat ini.


Namun karena kematian Argha yang seharusnya menggantikan Tyo mewarisi usaha ayahnya, mau tidak mau kini Tyo pun harus menghandle dua usaha itu secara bersamaan.


Itulah sebabnya kini Rizzi sedikit-sedikit turut membantu beberapa urusan di Takhta Grup yang sempat terbengkalai.


Tanpa disadari Rizzi, Vynt merekam semua informasi itu baik-baik di dalam otaknya. Yang untuk selanjutnya akan ia laporkan kepada Keira.


"Oia, gimana kabarnya sama kakak lo si Vlora? Pasti tambah cantik aja dia sekarang." tanya Rizzi bersemangat.


Vynt nampak tersenyum sambil menghabiskan espresso dinginnya. "Kakak gue, Vlora, udah meninggal enam tahun lalu." jawab Vynt getir.


Kematian Vlora yang tiba-tiba memang dirahasiakan, itulah sebabnya tak banyak yang tahu tentang kisah tragis gadis itu kecuali kerabat dekat yang bisa dipercaya.


Rizzi melongo tak percaya. "Sorry, gue turut berduka Vynt." ucap Rizzi tulus dengan menepuk bahu Vynt pelan.


"Nggak apa-apa. Kakak gue udah tenang sekarang." Vynt membalas tepukan Rizzi di bahunya lalu memberikan senyum yang entah kenapa terasa sepi.


***


To Be Continue...


.


.


.


.


.


Makasii banyak tambahan VOTEnya @Dwi Ratnasari,,,,makasii juga udah VOTE @KFii 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2