Replacement Lover

Replacement Lover
RASA YANG SALAH


__ADS_3

Pelan-pelan Tyo membuka matanya. Sakit kepala yang menyerangnya sejak semalam kini dirasakannya mulai mereda. Bulir-bulir keringatnya masih ada namun tak sampai membasahi bajunya seperti sebelumnya. Nafas panasnya bahkan sudah kembali normal.


Meski samar tapi dirinya ingat saat Rizzi membantunya berganti kaos, juga saat Keira yang membangunkannya untuk makan dan dengan hati-hati menyuapinya bubur kemudian membantunya minum obat penurun demam.


Khususnya di bagian ketika Keira yang merawatnya, sangat terekam jelas di ingatan Tyo. Anehnya, meski merasakan sakit yang membuatnya tidak nyaman dan terpaksa harus memperlihatkan sisi dirinya yang sangat tidak keren dihadapan Keira, Tyo malah bersyukur karena sakitnya ini justru memberinya kesempatan bertemu bahkan dirawat oleh Keira.


Mungkin inilah yang dinamakan hikmah dalam sebuah cobaan. Tyo jadi senyum-senyum sendiri memikirkan quote yang baru saja terlintas dibenaknya.


Tyo mencoba untuk duduk dengan perlahan dan ternyata badannya sudah terasa lebih ringan. Tyo melihat sekeliling kamar tidurnya. Ada mangkuk bekas kompresan dan obat yang belum terminum di atas nakas tapi tak ada orang lain di lantai atas selain dirinya.


Apa mereka bertiga berkumpul di lantai bawah, pikir Tyo.


Tapi tak terdengar suara apapun dari bawah. Padahal dengan desain lantai atas yang terbuka dan terhubung oleh tangga tunggal yang juga bermodel terbuka, seharusnya menjadikan segala aktifitas yang terjadi di lantai bawah bisa terdengar sampai ke lantai atas. Namun nihil, Tyo tak mendengar apapun.


Atau mereka bertiga sudah pergi, pikir Tyo lagi.


Tapi akhirnya Tyo mendengar suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga. Meski pelan namun ia yakin seseorang sedang naik menuju lantai atas. Dilihatnya ujung tangga lekat-lekat dan penuh harap, dan setelah sosok Keira muncul disana, hati Tyo pun langsung merasa lega.


Ternyata gadis itu masih disini, pikirnya.


Keira datang dengan membawa sepiring buah pir dan apel yang sudah terpotong dan tercuci bersih. Dilihatnya gadis itu memidahkan mangkuk kompresan dari atas nakas ke lantai untuk kemudian menggantinya dengan meletakkan piring buah di atas nakas.


Tyo melihat setiap gerakan yang dibuat gadis itu dengan seksama dan takjub. Seketika hatinya menjadi lega sekaligus miris. Lega karena memikirkan Argha yang beruntung mendapatkan kekasih sebaik Keira dan miris pada dirinya yang merasa iri akan keberuntungan adiknya itu.


Keira duduk diatas kursi kayu yang dibawakan Rizzi dari meja dapur di lantai bawah. Semata-mata agar Keira tidak terus menerus berdiri saat harus mengganti kompres dari kening Tyo hampir seharian ini.


"Rizzi dan Beth lagi nyari makan. Stok bahan makanan di dapurmu cuma cukup untuk buat bubur." Keira memberi penjelasan tanpa diminta.


"Pantesan sepi sekali, berarti kamu belum makan, Kei? Maaf ya." Tyo merasa tidak enak pada Keira.


"Aku pasti makan kok kalo Rizzi sama Beth dah balik bawa makanan." balas Keira santai.

__ADS_1


"Tapi ini sudah jam berapa? tadi pagi kamu sarapan?" Tyo benar-benar tidak enak.


"Sekarang udah hampir jam tiga sore. Aku memang gak sempat sarapan tadi pagi tapi aku dah nyemil apel kok dibawah." terang Keira.


Tyo tidak lagi menjawab, namun pandangannya berubah sendu menatap Keira. Pundaknya menurun karena lesu. Rasa malu dan bersalahnya bercampur jadi satu.


"Gimana? masih pusing?" tanya Keira santai, berusaha mengabaikan ekspresi bersalah Tyo agar lelaki itu tidak terus-terusan merasa tidak enak padanya atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena telah membuat Keira kelaparan.


"Udah mendingan. Makasih, Kei." jawab Tyo dengan suara yang sudah tidak parau lagi.


Keira membuka laci pada nakas lalu mengeluarkan termometer digital yang tersimpan disana.


"Cek suhumu dulu. Kalo masih diatas tiga puluh tujuh derajat, kamu harus ke rumah sakit!" titah Keira dengan menyerahkan termometer itu pada Tyo.


Tyo meraih alat kesehatan berbentuk pipih dan panjang itu dari tangan Keira lalu memasukkan salah satu ujungnya ke mulutnya sendiri. Hanya dua menit hingga benda yang terjepit diantara bibir Tyo itu mengeluarkan bunyi tanda sudah mendapatkan hasil.


Tyo menyerahkan kembali termometer itu pada Keira. Dengan sigap Keira melihat angka yang tertera lalu tersenyum penuh kelegaan.


"Tiga enam koma delapan. Syukurlah demammu sudah turun." ucap Keira sumringah.


Keira menggeleng, "Jangan sungkan! Aku kesini sebagai pengganti Argha yang sedang jauh yang tidak mungkin langsung datang saat kamu sakit begini." timpal Keira tenang dan datar.


JLEB!


Hati Tyo seakan dihujam belati. Meski menyakitkan baginya saat mendengar alasan Keira, tapi apa yang diucapkan gadis itu sangat masuk akal. Keira tidak mungkin ada disini, merawatnya dengan penuh perhatian jika bukan karena dirinya adalah kakak dari seorang Argha---kekasih Keira.


"Tadi Argha juga sudah telpon waktu kamu masih tidur. Kayanya dia dapat kabar dari Rizzi kalo kamu sakit. Tapi waktu aku bilang kalo aku, Rizzi, dan Beth nemenin kamu disini, Argha jadi tenang. Dan sekarang aku juga jadi tenang kalo kamu udah merasa baikan" Keira menerangkan dengan suara sewajar mungkin.


Tyo mendengarkan setiap ucapan Keira dengan senyum datar yang cenderung kosong. Hatinya mendadak hampa meski tubuhnya berangsur normal kembali.


"Sekarang kamu makan buahnya dulu ya." pinta Keira dengan menyodorkan piring buah yang tadi dibawanya beserta sebuah garpu pada Tyo.

__ADS_1


"Makasi." hanya itu kata yang keluar dari bibir Tyo karena hatinya terlalu amburadul menanggapi perhatian dari Keira yang nyata sudah hanya memposisikan diri sebagai calon adik ipar.


Tyo menerima piring buah itu dari tangan Keira lalu mulai memakan buahnya pelan dengan sedikit menundukkan kepala. Berharap Keira tidak menyadari ekspresi murung yang mulai tergambar diwajahnya.


Bagus. Sepertinya Tyo tidak berpikir macam-macam dengan sikap dan perhatianku padanya, pikir Keira.


Tanpa Tyo sadari sebenarnya Keira merasa salah tingkah sendiri. Keira tak habis pikir, bisa-bisanya dia bersikap begitu gusar dan panik saat mendengar Tyo sakit.


Kekhawatiran yang dirasakannya untuk pria itu seakan menyamai kekhawatiran yang seharusnya dirasakannya terhadap kekasihnya sendiri. Keira begitu khawatir melihat kondisi Tyo sejak dirinya dan Beth datang ke apartemen Tyo tadi pagi.


Wajah Tyo yang pucat dan berkeringat membuat hati Keira merasa nyeri. Saat Tyo mendadak limbung pun, tubuh Keira refleks menopang tubuh Tyo seolah sangat tak rela jika tubuh Tyo jatuh terjerembab ke lantai yang keras.


Ketika tubuhnya merasakan panas tubuh Tyo pun Keira seakan ingin menggantikan sakit yang Tyo rasakan saat itu. Dan Keira benar-benar tak sampai hati ketika melihat Tyo berbaring lemas di sofa.


Jika saat itu Keira tidak sekuat tenaga menahan diri, pasti dirinya sudah memindahkan kepala Tyo ke atas pangkuannya sendiri lalu membelai lembut rambut lebat Tyo yang sedikit basah oleh keringat itu dengan penuh rasa sayang.


Ya Tuhaaaannn, pekik Keira dalam hati. Jika dirinya tidak sedang duduk disamping Tyo menemani lelaki itu memakan buahnya mungkin Keira akan menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan beringas.


"Apa yang barusan gue pikirin Tuhaannn??? Nggak..nggak...ini salah, perasaan ini salah! Lo nggak seharusnya begini, Kei! NGGAK BOLEH! JANGAN GILA, KEIRAAAA!!!" jerit batin Keira.


Hati dan pikiran Keira yang kacau balau sangat kontras dengan penampilan luarnya yang masih mampu menyunggingkan senyum menawan dibibirnya. Di hadapan Tyo.


To Be Continue...


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jujur yaa,,,,,author sndri juga gemessss koQ ama mereka b2 yg saling nutupi perasaan masing-masing. Tp klo hati Keira pindah ke Tyo truusss si Argha apa kabarnya yaaa??? Hmmm...๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”


__ADS_2