
@Ruang Pimpinan, TAKHTA Grup
Tak berapa lama menunggu, akhirnya Pak Zein Imran kini telah bertemu langsung dengan Pak Ruslan serta Pak Agus Choir di dalam ruangan khusus Pimpinan Grup itu.
"Terima kasih telah mengundang saya, Pak. Saya tidak pernah menyangka bahwa perusahaan besar seperti Takhta Grup akan berinvestasi dengan perusahaan kecil kami." ujar Pak Zein merendah untuk membuka percakapan.
"Investasi?" tanya Pak Ruslan mengernyitkan keningnya. "Sepertinya anda salah paham, Pak Zein!" tegas Pak Ruslan.
Pak Ruslan lalu melirik ke arah Pak Agus yang dengan sigap langsung maju untuk mengambil alih komando meeting informal kali ini.
"Mohon maaf, Pak Zein Imran. Izinkan saya meluruskan kesalah pahaman ini." potong Pak Agus menginterupsi.
Pak Zein nampak bingung. Ia memperbaiki posisi duduknya supaya lebih tegak sebagai gestur sikap seriusnya.
"Mungkin telah terjadi miss komunikasi antara saya dengan sekretaris anda hingga anda berpikir bahwa kami mengundang anda kali ini untuk teken kontrak investasi. Untuk itu saya mohon maaf!" terang Pak Agus dengan nada sopan namun profesional.
"Lalu, jika bukan untuk membicarakan perihal investasi. Untuk apa saya diundang kemari?" tanya Pak Zein heran.
Pak Agus Choir hanya memperlihatkan senyum bisnisnya mendengar pertanyaan Pak Zein itu. Tapi setelahnya, sekretaris andalan Pak Ruslan itu lalu mengambil tas besar yang berisi beberapa dokumen dan menatanya di meja yang ada di hadapan Pak Zein Imran.
"Kami ingin membeli empat puluh lima persen saham yang tersisa di PT. PERMATA yang masih anda miliki, Pak Zein!" tutur Pak Agus to the point.
Seketika mata Pak Zein terbelalak. "Membeli?" tanyanya tak percaya.
"Betul!" jawab Pak Agus kalem. "Dan untuk anda ketahui, kami sudah membeli terlebih dahulu lima puluh lima persen saham yang dimiliki oleh beberapa Dewan Direksi di PT. PERMATA." ungkap Pak Agus.
Pak Zein pun makin bingung dibuatnya. "Tapi untuk apa Takhta Grup ingin membeli PT. PERMATA sementara background bidang bisnis kita berbeda?" tanya Pak Zein lagi.
Pak Agus pun kembali tersenyum. "Pertanyaan itu biar Pak Ruslan sendiri yang akan menjawabnya." timpal Pak Agus.
Pak Zein pun mengalihkan pandangannya ke arah Pak Ruslan yang sedang duduk di balik meja Pimpinannya. Pak Zein terlihat menunggu pria paling berkuasa di Takhta Grup itu untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Anak lelaki saya akan menikah. Dan karena calon istrinya ini adalah seorang yang istimewa maka saya ingin membelikan PT. PERMATA sebagai hadiah pernikahan untuk calon menantu saya itu." jawab Pak Ruslan.
Pak Zein melongo dibuatnya. Calon menantu seperti apa yang sangat beruntung hingga mendapatkan sebuah perusahaan kontraktor bernilai milyaran sebagai hadiah pernikahan? tanya Pak Zein dalam hati.
Diam-diam ia teringat akan Keira---anak perempuan yang telah dibuangnya. Dimana kah Keira sekarang? Sedang apakah ia? Apakah Keira dapat melanjutkan hidupnya dengan baik setelah ia mendepak gadis itu dari keluarganya? Pak Zein melamun sendiri.
"Bagaimana Pak Zein, apakah anda menerima tawaran kami?" tanya Pak Agus Choir membuyarkan lamunan Pak Zein Imran.
"Oh, Maaf. Bagaimana?" Pak Zein merasa malu karena telah gagal fokus dalam meeting penting bagi dirinya kali ini.
Dengan profesional Pak Agus mengulangi penawarannya kepada Pak Zein mengenai kompensasi pembelian sisa saham yang dimiliki Pak Zein atas PT. PERMATA.
Pak Zein nampak berpikir sejenak mempertimbangkan penawaran dari Takhta Grup untuknya. Otak bisnisnya kembali bekerja dan langsung memperhitungkan segala nilai serta nominal terkait pembelian saham itu.
Setelah di ambil kesimpulan, rupanya Pak Zein cukup mendapat untung kali ini. Mengingat Pak Ruslan menawarkan harga yang tidak merugikan ditambah dengan penutupan kekurangan dana operasional yang akan dilakukan oleh pihak Takhta Grup.
Membuat Pak Zein secara otomatis terbebas dari masalah pelik perusahaan yang membebani pundaknya. Serta terhindar dari resiko menjual rumahnya sendiri.
Selain itu, Pak Zein seolah sudah tidak punya pilihan mengingat seluruh para Dewan Direksi memilih untuk menjual saham mereka ke Pak Ruslan dan segera angkat kaki dari PT. PERMATA.
Pak Zein pun akhirnya menyerah dan merelakan Takhta Grup untuk membeli sahamnya di perusahaan itu.
"Baiklah, Pak Agus, Pak Ruslan. Saya menerima tawaran Takhta Grup. Saya akan menjual seluruh saham saya kepada Takhta Grup." ucap Pak Zein tegas.
Mendengar kalimat persetujuan keluar dari mulut Pak Zein, membuat Pak Ruslan dan Pak Agus Choir kompak saling lirik dan tersenyum puas.
__ADS_1
"Kalau begitu silahkan anda tanda tangani Akta Pemindahan Hak yang untuk selanjutnya akan diurus oleh pengacara kami bersama pengacara anda, Pak Zein!" ujar Pak Agus sambil menyerahkan beberapa dokumen dan pena ke hadapan Pak Zein.
"Silahkan anda baca sekali lagi satu persatu jika merasa perlu." Pak Agus menambahkan.
Merasa tak ada yang perlu diragukan lagi, Pak Zein seketika menanda tangani seluruh dokumen yang dihadapkan padanya itu. Termasuk beberapa dokumen yang sebenarnya tidak terkait dengan transaksi pembelian saham itu.
Namun karena kelalaiannya sendiri, Pak Zein akhirnya terlanjur menanda tangani dokumen itu tanpa membacanya terlebih dulu.
"Maaf Pak Ruslan, maafkan kelancangan saya tapi jika boleh tahu. Siapakah orang yang telah beruntung menjadi anak menantu anda sekaligus pemilik PT. PERMATA yang baru?" tanya Pak Zein setelah selesai membubuhkan tanda tangannya.
"Kenapa anda ingin tahu?" Pak Ruslan balik bertanya.
"Saya cuma ingin memastikan apakah anak menantu anda itu adalah orang yang memiliki background dibidang kontraktor, karena jika tidak maka itu akan sulit. Saya takut, usaha anda membeli PT. PERMATA akan sia-sia bila tidak di handle oleh orang yang kompeten." terang Pak Zein apa adanya.
"Oh jangan khawatir, Pak. Sekalipun anak menantu saya tidak memiliki basic di bidang kontraktor, justru anak lelaki saya sendiri yang akan mengurusnya mengingat anak lelaki saya sangat ahli di bidang kontraktor." jawab Pak Ruslan dengan terbuka.
"Oh, syukurlah jika begitu." balas Pak Zein.
"Anak menantu saya bahkan belum tahu atas hadiah saya ini. Jika dia tahu, dia pasti sudah melarang saya untuk melakukan ini." beber Pak Ruslan.
"Kenapa pak?" Pak Zein mengernyitkan keningnya.
"Karena Keira adalah gadis yang baik hati yang tidak akan tega melihat ayah kandungnya terpuruk bahkan setelah dirinya disingkirkan dari keluarganya sendiri." ujar Pak Ruslan akhirnya berterus terang.
"Apa??? Keira???" Pak Zein tampak terbelalak kaget.
"Benar Pak Zein, anak menantu saya bernama Keira Permata yang tidak lain adalah anak yang telah anda buang." Pak Ruslan menatap tajam pada Pak Zein.
Dan di saat yang bersamaan, muncullah Tyo yang dengan penuh wibawa masuk ke dalam ruangan ayahnya itu.
"Permisi, maaf menganggu!" Sapa Tyo singkat namun sopan pada Pak Zein. Tyo mengira bahwa dirinya telah menginterupsi meeting ayahnya di ruangan ini.
"Maaf, Yah. Kenapa manggil aku kesini padahal ayah sedang ada tamu?" tanya Tyo bingung sambil mendekati meja kerja Pak Ruslan.
"Justru karena itu ayah panggil kamu kesini. Perkenalkan dirimu pada Pak Zein Imran, ayah kandung Keira." perintah Pak Ruslan pada putranya.
Seketika Tyo berbalik untuk menatap Pak Zein Imran lebih lekat, dirinya tak menyangka akan dipertemukan oleh ayahnya dengan Papa kandung Keira.
"Pak Zein! Perkenalkan, ini anak saya Tyo Pratama. Calon suami Keira Permata!" ungkap Pak Ruslan sambil berdiri di samping putranya dengan bangga.
Pak Zein tersentak seketika bertemu langsung dengan Tyo, calon suami Keira---anak perempuan yang telah dibuangnya.
Setelah ayahnya memperkenalkan dirinya, Tyo hanya diam dengan ekspresi yang seketika berubah menjadi tajam. Tyo tak ingin tersenyum ataupun menjabat tangan pria itu.
Pak Zein yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Tyo pun menjadi tegang. Entah kenapa dirinya merasa tidak berani menatap lurus ke arah Tyo.
Tyo lalu duduk di salah satu sofa di ruangan itu yang tepat berhadapan dengan posisi duduk Pak Zein.
"Apa yang dia lakukan di sini, Ayah?" pertanyaan Tyo tertuju pada ayahnya, namun tatapan matanya yang tajam seakan sedang menusuk dada Pak Zein.
"Kita baru saja menyelesaikan transaksi pembelian saham dari Pak Zein di PT. PERMATA." ujar Pak Ruslan dengan santai.
"Kapan prosedur resminya bisa selesai?" tanya Tyo lagi.
"Jika besok para pengacara dari kedua belah pihak bisa langsung bertemu untuk mengurus transaksi ini lebih lanjut, kemungkinan dalam seminggu PT. PERMATA sudah resmi menjadi milik Nona Keira, Mas Tyo." kali ini Pak Agus yang menjawabnya.
"Bagus! Selesaikan dengan cepat karena pernikahanku dengan Keira juga akan dipercepat!" perintah Tyo dengan tegas.
__ADS_1
"Baik!" jawab Pak Agus.
"Ng, anu...Nak Tyo...." Pak Zein nampak ingin mengutarakan sesuatu namun ragu-ragu bercampur dengan rasa takut yang mendadak menyerangnya saat berhadapan dengan Tyo.
"Jangan memanggil saya dengan sebutan itu! Karena saya bukan anak anda!" potong Tyo tegas dan cepat.
"Oh, Maaf saudara Tyo. Maafkan kelancangan saya. Tapi bisakah anda mempertemukan saya dengan anak saya Keira?" pinta Pak Zein.
"Anak anda?" sebelah alis Tyo terangkat tinggi. Tyo tidak suka mendengar Pak Zein menyebut Keira sebagai anaknya setelah apa yang diperbuat pria itu pada Keira.
"Iya, Saya ingin meminta maaf pada Keira." terang Pak Zein sedikit mengiba.
Mendengar permintaan Pak Zein yang menurutnya keterlaluan, Tyo jadi mendengus keras saking kesalnya.
"Saya benar-benar tidak pernah bertemu dengan orang yang lebih tidak tahu malu daripada anda." ujar Tyo sarkastis.
Mendengar ucapan Tyo yang menusuk membuat Pak Zein seketika terdiam. Entah karena rasa bersalahnya pada Keira yang membuatnya kehilangan wibawa atau memang karakter Tyo yang diluar dugaannya, membuat nyali Pak Zein seketika menciut menghadapi seorang Tyo Pratama.
"Dengan seenaknya anda menyingkirkan seorang anak dari hidup anda, dan kini dengan seenaknya pula anda ingin menemuinya dengan alasan ingin meminta maaf??? Tidakkah itu terdengar sangat egois bagi Keira??? Anda pikir Keira itu boneka yang tidak punya hati dan perasaan???" Tyo mengeluarkan uneg-unegnya saking geramnya.
Pak Zein semakin menunduk dibuatnya. Menyadari bahwa semua yang dikatakan Tyo barusan itu memang benar adanya. Sementara Pak Ruslan hanya diam melihat sikap tegas Tyo pada pria yang bisa dibilang ayah mertuanya itu.
"Asal anda tahu, gara-gara keegoisan anda, Keira jadi skeptis pada orang-orang dari kalangan atas. Keira jadi trauma dan mengganggap bahwa semua orang kaya itu sejenis dengan anda, Bapak Zein Imran YANG TERHORMAT."
Tyo menekankan kalimat terakhirnya dengan geram sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah tempat duduk Pak Zein.
Tyo yang akhirnya berdiri tepat di hadapan pria itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Memandang lurus dan tajam ke bawah---ke arah Pak Zein Imran yang masih duduk di tempatnya yang entah kenapa nampak begitu kecil di hadapan Tyo.
"Anda tidak tahu bagaimana sulitnya perjuangan saya meyakinkan Keira agar percaya pada saya, menerima saya dan keluarga saya. Jadi tolong hilangkan niat anda untuk menemui Keira mulai saat ini. Saya anggap, saya tidak pernah mendengar permintaan anda itu sama sekali." ujar Tyo tajam sambil berlalu pergi.
Hatinya terlalu panas untuk berada dalam satu ruangan yang sama dengan ayah kandung Keira itu.
Saat mengingat bahwa pria itulah biang dari segala penderitaan Keira selama ini. Tyo khawatir dirinya tidak akan sanggup lagi menahan diri untuk tidak memukul pria itu jika bertahan di sana lebih lama.
Sepeninggal Tyo, Pak Zein jadi merenungi perkataan demi perkataan Tyo tadi. Dan dengan pikirannya yang saat ini sedang terbuka. Semua ucapan Tyo tadi memang benar.
Pak Zein mendadak malu sendiri, mengakui keegoisannya selama ini. ia merasa telah berhutang pada Keira. Anak yang selama ini tidak diperlakukannya secara adil. Anak yang diabaikannya. Bahkan yang dengan tega dibuangnya tanpa memikirkan perasaan anak itu.
"Saya pun memiliki permintaan yang sama seperti putra saya Tyo!" Pak Ruslan membuka suara. "Sebagai syarat dari transaksi kita hari ini, saya minta anda mulai saat ini sampai kapan pun, tidak akan muncul lagi ataupun mengklaim hak apapun kepada Keira dan anak-anaknya kelak." perintah Pak Ruslan tak kalah tegas dengan Tyo.
"Tapi Pak...?!" belum sempat Pak Zein menyanggahnya, Pak Ruslan lebih dulu membeberkan fakta yang terlewat oleh Pak Zein hari ini.
"Anda sudah tidak mempunyai alasan apapun karena anda sudah menanda tangani dengan sukarela bahwa anda menyetujui syarat dari kami itu!" ungkap Pak Ruslan.
"Saya...?" Pak Zein kembali terkejut saat dilihatnya Pak Agus menunjukkan surat syarat yang dimaksud dan telah ditanda tanganinya tadi.
Pak Zein tak bisa berkutik lagi. Bahunya seketika melorot. Pak Zein yang teringat akan perlakuannya dulu pada Keira hanya bisa menangis terisak mengingat dulu Keira pun pernah berada di posisinya kini. Merasa dibuang, diperlakukan bagai parasit yang harus dibasmi hingga ke akarnya.
To Be Continue....
.
.
.
.
__ADS_1
.