
.
.
.
@Kafe Teluse,
Rizzi terheran-heran melihat Said duduk sendirian di salah satu sudut Kafenya, apalagi dengan raut wajah yang tampak acak-acakan. Ada gurat sendu bercampur gusar yang tersirat nyata di wajah pemuda itu. Rizzi yang baru kembali ke Teluse dari mengantar Beth pulang ke rumahnya dan bermaksud akan meneruskan pekerjaannya, malah berjalan lurus ke arah Said.
"Woi, Id!" Rizzi melambaikan tangan dari arah pintu masuk.
Said mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Pemuda itu mengira Vynt yang datang, dan tak menyangka jika justru Rizzilah yang menyapanya. "Loh, belum pulang, Bang?" tanyanya pada Rizzi yang sudah menarik salah satu kursi di meja itu lalu mendudukinya.
"Belum. Barusan balik dari nganterin Beth pulang kerumahnya. Nah elo, ngapain sendirian di sini?" Rizzi duduk dengan santai sambil menyilangkan kakinya serta melipat tangan di depan dada.
"Nungguin, Vynt. Gue mo curhat sama dia," ungkap Said terus terang.
"Wah, berarti gue harus cabut nih?" tanya Rizzi seolah tahu diri.
"Kalau nggak lagi sibuk, gabung kita aja nggak apa-apa kok, Bang! Siapa tahu Bang Rizzi juga bisa ngasih gue nasehat," sergah Said cepat.
Rizzi memindai raut wajah Said yang nampak mendung, seolah-olah siap menurunkan hujan yang bukan lagi sekedar gerimis melainkan hujan deras disertai petir yang bergemuruh. Merasa kasihan pada pemuda itu, Rizzi pun memutuskan untuk menunda pekerjaannya dan memilih bergabung dengan Said sambil menunggu Vynt tiba.
Untungnya, tak berapa lama, Vynt muncul dari balik pintu Kafe yang berlonceng sehingga mendetingkan bunyi yang khas ketika pintu itu terbuka atau tertutup. "Cuman kita bertiga aja nih? Bang Tyo mana?" tanya Vynt celingukan.
"Tyo di rumahnya kali, Vynt!" balas Rizzi cepat.
"Loh, nggak lo panggil juga, Id?" Vynt menatap heran pada Said.
"Aslinya tuh gue cuman manggil elo, tapi karena kebetulan Bang Rizzi nongol, jadi ya gue minta nimbrung sekalian," jelas Said.
Vynt pun manggut-manggut sambil mengangkat tangan untuk memanggil pelayan. Setelah Vynt dan Rizzi memesan minuman untuk mereka sendiri, kedua pria itu kembali fokus pada pemuda tanggung bertampang kearab-araban di antara mereka.
"So, siapa cewek yang mau lo curhatin ke gue?" tanya Vynt to the point.
__ADS_1
Rizzi yang sudah bisa menebak jawaban Said langsung tersenyum miring. "Pasti Milla," selanya dengan yakin.
Vynt bersandar sambil menoleh ke arah Rizzi, "Milla? Siapa tuh?" tanya Vynt merasa tak kenal.
Said menghela napasnya sebelum akhirnya menceritakan secara singkat awal mula pertemuannya dengan gadis bernama Millana Risty kepada Vynt dan Rizzi, serta perkembangan hubungannya dengan gadis itu hingga saat ini.
"Jadi lo beneran suka sama si Milla, Id?" tanya Rizzi serius.
"Tapi setelah denger cerita lo, kok gue ragu ya sama perasaan lo ke cewek itu," sela Vynt. "Gue curiga elo tuh cuman tertarik sama dia karena iba, bukan karena beneran suka," lanjut Vynt.
"Kalo gue awalnya nggak kepikiran gitu sih, Id. Tapi setelah Vynt ngomong begitu, gue pikir masuk akal juga sih. Cuman, kalo emang lo beneran suka Milla hanya karena kesian sama dia, itu sangat nggak adil buat Milla, Bro!" Rizzi menegaskan.
"Trus sekarang gue mesti gimana dong?" tanya Said memelas.
"Ya lo filter dong perasaan lo ke Milla. Coba lo konfirmasi pelan-pelan ikatan emosional lo sama dia sampe sejauh mana!" Vynt memberikan sarannya.
Said mengernyit mendengar saran yang dilontarkan sahabatnya itu, "Sorry Bro, IQ gue terlalu jongkok untuk bisa mencerna omongan lo barusan itu. Ayolah...to the point aja napa sih! Belom apa-apa udah puyeng duluan nih pala gue," rutuknya.
"Pantesan lo nggak lulus-lulus, segitu doang IQ lo," ejek Vynt mencebik.
"Gitu bangga. Dasar gesrek lo!"
"Bodo amat!"
"Udah-udah ..." potong Rizzi melerai kedua sahabat itu. "Maksud Vynt itu, lo harus bisa ngenalin sebenernya perasaan yang lo rasain ke Milla itu cukup istimewa untuk disebut rasa suka bahkan rasa cinta ataukah emang cuman sebatas iba," terang Rizzi.
"Terus ... Kalo emang gue beneran suka sama Milla, apa yang harus gue lakuin? Apakah gue harus nembak dia? Ngajak pacaran? Tapi dia mau pindah ke Singapura. Gimana dong nih?" Said mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
"Kalo itu, lo harus putusin sendiri! Karena cuman lo yang paling tahu apa yang terbaik untuk hubungan kalian nantinya," jelas Vynt yang langsung disetujui oleh Rizzi lewat anggukan kepala.
Said tepekur, ia tak menyangka akan serumit ini menata perasaan terhadap seseorang secara serius. Ia merasa memang menyukai Milla, karena ia belum pernah merasa setakut ini kehilangan seorang gadis dalam hidupnya.
Namun, haruskah ia menyatakan perasaannya sekarang kepada gadis itu? Bagaimana jika perasaannya malah membuat Milla bingung dan hanya akan memperburuk hubungan mereka berdua dikemudian hari?
***
__ADS_1
Beberapa hari berlalu, tetapi pikiran Said masih terus berpusat kepada Milla. Pemuda itu bahkan lupa pada aplikasi trainingnya yang belum terverifikasi. Ia bahkan seperti tidak ada niat untuk melakukan kroscek, padahal sudah hampir dua bulan sejak ia memasukkan aplikasi tersebut ke bagian Tata Usaha. Namun, Said malah nampak acuh dan lebih grogi menghadapi hari kepergian Milla ke Singapura yang semakin dekat.
Milla baru selesai berbelanja dari minimarket bawah ketika ia melihat seorang wanita cantik berhijab yang berdiri tepat di depan pintu apartemen Said. Siapa tuh? Milla membatin dengan penasaran. Wanita itu mirip Kak Said, jangan-jangan saudaranya. Apa beliau kesini tanpa konfirmasi? Kak Said kan lagi pergi. Milla terus bermonolog dalam hati sembari melangkah mendekat.
Mengikuti dorongan hatinya, Milla memutuskan untuk menghampiri wanita itu bermaksud untuk menawarkan bantuannya. "Permisi!" sapa Milla ketika jarak antara dirinya dengan wanita itu hanya tersisa beberapa langkah saja.
Si wanita cantik menoleh ke arah Milla sembari mengerjap dengan sedikit kaget. Sepertinya tadi wanita itu sedang melamun hingga tak mendengar langkah Milla yang semakin dekat.
Milla tersenyum ramah dengan kedua tangan yang memegangi kantong belanjaannya dengan erat. "Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu mengerjap lagi, nampak kebingungan. "Apa anda tinggal di sini?" tanyanya sambil menunjuk pintu apartemen yang ditinggali Said.
Malika menggeleng pelan masih dengan senyum yang terukir di bibirnya. "Saya tinggal di sebelahnya. Tapi saya kenal dengan penghuni kamar itu, apa Kak Said sudah tahu kalau anda akan datang?" tanya Milla dengan sopan.
"Tidak, dia tidak tahu. Saya kesini tanpa rencana jadi saya tidak sempat mengabari anak saya kalau saya akan mampir," jawab wanita itu sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas jinjingnya.
Kedua bola mata Milla tampak melebar mendengar ucapan wanita itu. Hah, anak? Dia bilang 'anak saya' ... Berarti beliau ini ibunya Kak Said dong? Milla tak percaya. Masih muda ... Mana cantik banget lagi! Milla mendadak panik menyadari dirinya berhadapan langsung dengan ibunda Said.
"Barusan saya menelepon Said, dan dia bilang akan langsung pulang setelah urusannya selesai," ucap wanita itu sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Apa anda mau menunggu di dalam kamar saya sambil minum teh?" tanya Milla hati-hati. "Saya bisa kirim chat ke Kak Said kalau anda menunggu di tempat saya," imbuh Milla.
Wanita itu tampak memindai sosok Milla dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa ekspresi merendahkan atau maksud buruk lainnya. Sebaliknya, beliau nampak tidak percaya dan sedikit takjub akan keramahan gadis semuda Milla yang terpikir untuk menawarinya tempat beristirahat dan juga teh.
"Saya rasa itu akan lebih menyenangkan ketimbang menunggu di lobi bawah sendirian," jawab wanita itu tersenyum. "Kalau begitu perkenalkan, saya Bilqis, ibu dari Said Najib," ucapnya sembari mengulurkan tangannya kepada Milla.
Milla menyambut uluran tangan Ny.Bilqis dengan ramah sambil menjawab, "Saya Milla. Adik tingkat sekaligus tetangganya Kak Said. Mari, Bu!" Milla melewati Ny.Bilqis lalu membuka pintu kamarnya sendiri. "Silahkan masuk!" ucap Milla setelah membuka pintu lebar-lebar.
Ny.Bilqis pun mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Meski senang dapat membantu ibunda dari pemuda yang dikaguminya, tak dapat dipungkiri jika saat ini jantung Milla berdegup begitu kencang, bahkan lebih kencang ketimbang berhadapan dengan Said.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue...