
Kepanikan masih menyelimuti perasaan ketiga teman Keira. Vynt, Said dan Beth. Mereka akhirnya memutuskan berkumpul di rumah Beth setelah lelah mencari Keira kemana-mana.
"Gimana niichh, Vynt?" tanya Beth cemas. "Gue dah coba telpon Keira terus tapi sekarang ponselnya malah gak aktif." lapor Beth.
Vynt hanya diam. Tapi otaknya mengingat-ingat ketika dirinya, Said dan Beth kembali ke kantor Papanya Keira untuk menginterogasi beberapa staff yang mungkin melihat kemana Keira pergi setelah gadis itu keluar dari gedung perkantoran PT. Permata.
Dan benar saja, seorang petugas security akhirnya menunjukkan arah mana yang dituju Keira setelah Vynt menyebutkan ciri-ciri gadis yang dicarinya itu kepada si security.
Setelah itu mereka bertiga segera menyusuri jalan yang ditunjukkan security tadi dengan harapan dapat menemukan keberadaan Keira. Tapi hasilnya nihil. Keira tak terlihat dimanapun. Dan tak dapat dihubungi hingga saat ini.
"Kita berdo'a aja semoga gak ada apa-apa sama Keira." saran Vynt pada Said dan Beth yang hanya dibalas anggukan pelan oleh kedua temannya itu.
Jujur sebenarnya pikiran Vynt tak karuan. Dia membayangkan hal-hal buruk apa yang dikatakan oleh Papa Keira pada anak gadisnya itu yang mungkin membuat Keira terguncang lalu lupa memberi kabar dan lupa pulang hingga saat ini.
Pikiran buruk Vynt melayang-layang hingga ke titik dirinya mulai membayangkan Keira mengalami kecelakaan, atau diculik orang jahat atau dibegal dan sebagainya.
Vynt memejamkan matanya, tak mampu lagi membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi pada temannya itu.
Brrmmm...
Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Beth. Ketiganya refleks menoleh ke arah pintu depan.
Vynt yang pertama bangun dari duduknya dan bergegas membuka pintu depan rumah Beth. Said dan Beth pun menyusul kemudian.
Ketika mereka bertiga akhirnya melihat sosok Keira didepan pintu pagar seketika Beth dan Said meneriakkan nama Keira dengan lantang. Membuat si pemilik nama langsung menoleh dengan terkejut.
Sementara Vynt malah memperlambat langkahnya setelah merasa lega melihat temannya itu pulang dalam keadaan utuh dan terlihat baik-baik saja. Namun ekspresinya kembali tegang ketika matanya menangkap sesosok pria yang datang bersama Keira.
***
"Berhenti di depan pagar hitam itu saja." Keira menginstruksi Tyo ketika pagar rumah Beth mulai terlihat.
__ADS_1
"Ok." jawab Tyo singkat.
Tyo pun menepikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Beth sebelum kemudian bergegas turun untuk membukakan pintu belakang tempat Keira menumpang.
"Makasi." ujar Keira.
Sebenarnya Keira kebingungan untuk menawari Tyo masuk ke dalam atau tidak. Dia merasa belum terlalu mengenal Tyo meski mereka sudah dua kali bertemu karena pertemuan-pertemuan itu didasari kebetulan belaka.
Keheningan yang canggung pun tercipta diantara keduanya. Hingga tiba-tiba...
"KEIRA!!!" teriak Beth dan Said dari dalam pagar secara bersamaan.
Keira dan Tyo spontan menoleh ke arah suara. Hati Keira menghangat melihat teman-temannya yang kemudian berlari menyambutnya.
"Lo kemana aja siiichhhh???" tanya Beth gemas dengan mencubit kedua pipi Keira.
"Aduuhh, sakit tauk." Keira meringis.
Keira hanya mampu pasrah sambil mengerucutkan bibirnya. Dirinya sadar bahwa memang salahnya sudah membuat teman-temannya cemas.
Tyo yang melihat perubahan ekspresi Keira tanpa sadar jadi senyum-senyum sendiri. Ternyata selain ekspresi murung yang sedari tadi ditunjukkan Keira, gadis itu juga bisa berekspresi imut seperti sekarang.
"Dia siapa, Kei?" suara Vynt mendadak muncul dari arah belakang Keira.
Ekspresi datar sengaja Vynt tampilkan di hadapan wajah baru yang belum pernah ditemuinya itu.
"Ooh, iya...temen-temen kenalin ini Tyo. Dia yang tadi nolongin aku di jalan." Keira membuka perkenalan.
"Dan Tyo..mereka sahabat aku, Vynt, Said dan Beth." Keira memperkenalkan temannya satu per satu kepada Tyo.
Tyo pun menjabat tangan ketiganya satu per satu dengan ramah.
__ADS_1
"Dia nolongin kamu dari apa, Kei?" tanya Vynt lagi masih menatap tajam pada Tyo.
Tyo sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan tajam Vynt. Tanpa Vynt ketahui sebenarnya Tyo bukan tipe pria bernyali ciut yang gampang terintimidasi oleh tatapan mematikan milik Vynt. Tyo tetap menampilkan senyum ramahnya kepada mereka berempat.
"Nanti aja aku ceritain di dalem." jawab Keira singkat.
"Tyo mau masuk dulu?" tawar Beth dengan mata berbinar penuh harap.
Jika saja Tyo sedang tidak ada urusan penting mungkin tawaran Beth akan langsung diterimanya. Namun sayangnya Tyo harus segera pergi menyelesaikan urusannya yang tertunda sedari tadi sejak pertemuan keduanya dengan Keira.
"Makasi dah nawarin, tapi aku ada urusan yang urgent sebenernya." jawabnya sopan dengan mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Loh berarti gara-gara aku jadi..." belum sempat Keira menyelesaikan kalimatnya, Tyo buru-buru menggeleng sambil mengibaskan sebelah tangan di depan wajahnya.
"Ooh, gak kok, Kei. Gak apa-apa. Nganter kamu sampe rumah gini emang udah tanggung jawab aku. So, It's fine." jelas Tyo santai sambil mengedikkan bahunya.
Tyo pun langsung pamit kepada mereka berempat. Di dalam mobilnya yang sudah melaju meninggalkan rumah Beth sebenarnya terbesit sedikit rasa kecewa karena Tyo seakan tidak mempunyai kesempatan untuk meminta nomor ponsel Keira tadi.
Tapi baginya pertemuan keduanya dengan Keira hari ini selain mengejutkan juga meninggalkan kesan mendalam di hatinya. Dan Tyo pun percaya jika semesta memang sudah merancang takdirnya dengan Keira, mungkin suatu saat dirinya bisa dipertemukan kembali secara kebetulan dengan gadis yang selalu terlihat menawan di mata Tyo itu.
To Be Continue...
.
.
.
.
Jujur yaa readers, aku tuuhh gak suka berbeli-belit kalo nulis cerita, cuman emang kadang-kadang 'detail' itu perlu banget biar readers bisa lebih memahami setting, suasana, sampe perasaan tiap karakternya.
__ADS_1
So stayy tuneee selaluuu yeess ππππππ