
.
.
.
Belum habis dua puluh empat jam ketika Rizzi akhirnya dapat menyatukan perasaannya yang selama ini terpendam kepada Beth.
Kini pria jangkung itu langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa ia pun harus dan WAJIB meminta izin kepada keluarga khususnya orang tua Beth untuk menjalin hubungan serius dengan putri mereka.
Dan kebetulan orang pertama yang ia temui, lagi-lagi adalah, Tante Maria---mamanya Beth.
"Lho...Nak Rizzi lagi yang nganter Beth pulang? Tante kira bakalan gantian sama Nak Said!" seru Tante Maria begitu membukakan pintu gerbang untuk Beth dan Rizzi.
Sore itu, kehadiran Rizzi kedua kali di sana untuk mengantar Beth pulang ke rumahnya langsung disambut kembali oleh Ny.Maria.
Ny.Maria juga sengaja pulang dari salonnya lebih awal demi menunggui sang putri pulang kerja agar ia dapat menemani sekaligus merawat putrinya yang sedang terluka itu di rumah.
"Mulai sekarang, mungkin saya terus yang akan mengantar jemput Beth, Tante! Bahkan setelah kaki Beth sembuh nanti." Rizzi membalas seruan mamanya Beth setelah wanita itu membuka pintu pagar rumahnya.
"Kok gitu? Jadi ngerepotin Nak Rizzi terus dong!" wanita pemilik mata kecoklatan yang persis seperti milik Beth itu nampak heran dengan pernyataan Rizzi barusan.
Rizzi dan Beth saling pandang dengan gugup. Tante Maria nampak menangkap sesuatu di antara keduanya. Tapi ia masih diam saja dan memilih menunggu Beth atau Rizzi sendiri yang mengakui 'sesuatu' itu kepadanya secara langsung.
Teringat akan nasehat yang pernah didengarnya dari Vynt, Rizzi segera mengambil kesempatan itu untuk berbicara serius mengenai hubungannya dengan Beth kepada Tante Maria.
"Ng...boleh saya masuk dulu, Tan? Ada yang ingin saya sampaikan dengan Tante!" pinta Rizzi sopan.
Tante Maria langsung mengulas senyumnya seraya mengangguk. Dalam hatinya ia sudah bisa menebak apa yang akan Rizzi bicarakan namun ia tak menyangka bahwa pria itu akan dengan berani mengungkapkan kepadanya secepat ini.
Di dalam rumah Beth, seperti yang sudah Ny.Maria duga, Rizzi mengungkapkan perasaannya terhadap Beth di hadapan ibunda gadis itu. Dan meski sudah dapat menebaknya, tapi Ny.Maria tetap sedikit terkejut ketika Rizzi menyinggung soal pernikahan.
Tentunya hal ini di luar ekspektasi Ny.Maria, karena ia sama sekali belum mengenal Rizzi sebelumnya. Bagaimana mungkin ia akan melepaskan putrinya begitu saja kepada seorang pria yang tidak di kenalnya.
"Mohon maaf sebelumnya Nak Rizzi, tapi apa ini tidak terlalu cepat? Kalian berdua baru jadian hari ini tapi sudah langsung membicarakan mengenai pernikahan. Apalagi saya pribadi sebagai orang tua Bethsa Putry merasa belum mengenal Nak Rizzi sama sekali." ungkap Ny.Maria.
Rizzi mengerjapkan matanya. Begitu pula dengan Beth yang memang awal ikut duduk di antara mamanya dan Rizzi.
"Ma, Beth udah kenal Rizzi sejak Argha masih hidup, dan itu artinya sudah lebih dari setahun yang lalu, bahkan hampir dua tahun!" Beth yang akhirnya menimpali ucapan mamanya itu.
Ny.Maria mendesah pelan. "Sayang, meskipun kamu merasa sudah mengenal pasanganmu, dan kamu yang akan menjalani kehidupan pernikahan itu, tapi kami para orang tua juga butuh untuk mengenal siapa calon pasangan seumur hidup untuk anak-anak kami! Kami juga butuh jaminan dalam hati kami atas hubungan anak-anak kami. Begitulah orang tua seharusnya, Beth!" Ny.Maria berujar dengan bijak.
"Tapi Ma...."
Rizzi tiba-tiba menyentuh tangan Beth untuk mencegah gadis itu mendebat mamanya lebih lanjut.
"Tante, berapa lama kira-kira yang tante butuhkan untuk dapat mempercayai niat baik saya?" todong Rizzi tanpa tedeng aling-aling.
Ny.Maria tersenyum lembut, "Hal seperti itu tidak dapat kita prediksi Nak Rizzi. Semua itu tergantung dari ketulusan dan kesungguhan usahamu dalam membuktikan diri pada kami sebagai keluarga Bethsa!" jawabnya dengan bijak. "Tante bahkan belum tahu apa-apa tentang kehidupanmu, apalagi keluargamu!"
Ny.Maria memandangi wajah Rizzi dan putrinya secara bergantian. Walaupun diam-diam ia sudah memberikan beberapa poin plus terhadap sikap Rizzi sebagai pria yang memiliki minat kepada Beth, tapi tetap saja ia tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja pada lelaki yang baru ditemunyai satu hari.
Rizzi mengangguk mengerti. Sebagai seorang pria ia dapat memaklumi alasan yang dilontarkan Tante Maria---mamanya Beth. Rizzi berusaha menempatkan posisinya pada posisi Ny.Maria sebagai orang tua.
Jika kelak ada pria yang tiba-tiba datang untuk meminta menikahi putrinya, sementara ia belum mengenal pria itu bahkan baru bertemu dengannya satu hari. Sangat mungkin jika ia akan bersikap sama seperti Tante Maria saat ini, bahkan mungkin ia belum tentu bisa setenang dan sebijak yang dilakukan Tante Maria.
"Kalau begitu, izinkan saya memperkenalkan diri saya sekali lagi, Tante!" ujar Rizzi sambil menyodorkan kartu namanya kepada mamanya Beth itu.
Ny.Maria dengan sigap dan sopan menerima kartu nama berwarna kuning kombinasi hitam itu dari tangan Rizzi lalu membacanya. Di sana tertulis nama Rizzi Riyant di tengah-tengah kartu dengan beberapa nomor dan alamat email yang juga tertera di kartu itu.
Sambil mengernyitkan keningnya, Ny.Maria membalik kartu dan melihat tulisan beberapa nama Kafe beserta alamatnya masing-masing yang juga tertulis di sana.
"Maaf, Nak Rizzi, tapi tante tidak melihat tulisan yang menyebutkan posisi pekerjaan kamu di sini. Dan apakah kamu bekerja di semua Kafe yang tertulis di sini?" tanya Ny.Maria dengan polosnya.
Sudut-sudut bibir Rizzi terangkat sedikit. Pria itu tersenyum canggung mendengar pertanyaan sang calon ibu mertua. Tapi ia bingung harus menjawab bagaimana untuk membuat kesannya tetap low profile di hadapan ibunda sang kekasih.
Belum sempat kepala Rizzi menemuka kalimat yang tepat untuk menjawab, Beth sudah lebih dulu membantunya membalas pertanyaan sang mama.
"Bukan, Ma. Tapi dia yang punya. Makanya enggak ada tulisan jabatannya, karena Rizzi owner dari kafe-kafe itu!" jawab Beth dengan ekspresi datar.
Ny.Maria tentu saja shock dibuatnya. "Semuanya?" tanyanya langsung.
Mau tidak mau Rizzi hanya bisa mengangguk pelan bebarengan dengan Beth yang juga menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu.
"Nama saya Rizzi Riyant, saya single dan belum pernah menikah. Usia saya hampir tiga puluh tahun. Saya bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakak saya sudah menikah, tinggal saya yang belum. Kedua orang tua saya masih ada. Dan saat ini saya tinggal serumah bersama mereka. Saya Sarjana Administrasi Bisnis - Manajemen Hotel Internasional. Sebelum lulus kuliah saya sudah merintis usaha saya sendiri yang saat ini sudah berkembang dalam bentuk beberapa kafe seperti yang tertulis di bagian belakang kartu nama saya."
Rizzi menjelaskan panjang lebar tentang dirinya. Berharap Ny.Maria dapat meresponnya dengan beberapa pertanyaan sambungan agar tercipta tanya jawab antara dirinya dengan ibunda Beth itu.
Namun nyatanya, hanya wajah kosong yang ditunjukkan Ny.Maria di hadapan Rizzi dan Beth setelah pria itu menyelesaikan penjabaran singkat mengenai dirinya.
Beth dan Rizzi lalu saling berpandangan dengan bingung ketika mereka sama-sama melihat ekspresi aneh yang seketika tergambar di raut wajah Ny.Maria. Tapi yang jelas, tampaknya tidak ada sebersit rona senang maupun lega pada mimik wajah ibunda Beth itu.
***
Keesokan paginya...
@International Ticketing floor,
Dae-Ho Trip Building.
Sudah lewat tiga puluh menit sejak komputer di atas meja kerjanya ia nyalakan, bukannya langsung mengerjakan tugas-tugasnya tapi Beth justru masih betah melamun sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
Masih segar dalam ingatan Beth saat ini, bagaimana semalam Rizzi menghadap mamanya secara langsung untuk meminta restu atas dimulainya hubungan asmara mereka berdua.
Meski sedikit canggung dan terlihat sangat gugup, tapi Rizzi berhasil memperkenalkan dirinya kembali kedua kalinya di hari yang sama namun dengan status yang berbeda.
__ADS_1
Jika paginya Rizzi masih mengaku sebagai temannya Beth, dalam artian HANYA teman biasa, sorenya ia sudah berani mengaku sebagai teman dekat alias menjadi kekasih Beth dengan tujuan menjalin hubungan untuk menuju ke jenjang pernikahan.
Namun yang menjadi ganjalan dalam hatinya yaitu ekspresi mamanya ketika mengetahui bahwa Rizzi adalah owner dari beberapa Kafe.
Meski pada akhirnya, ketika Rizzi pamit pulang, raut wajah sang mama kembali ramah seperti sedia kala, tetap saja Beth merasa mamanya tidak terlalu senang menerima kenyataan bahwa Rizzi terbilang sangat mapan.
Sebuah tanda tanya besar mau tak mau bercokol di hati seorang Bethsa Putry mengenai respon mamanya terhadap perkenalan sang kekasih.
Sebenernya apa sih yang mama pikirin??? Sejak semalam dia nerima kartu nama Rizzi rasanya udah aneh banget. Pas Rizzi udah pulang pun juga langsung masuk ke kamarnya tanpa ngomong apa-apa lagi ke gue. Kalau gini gimana gue bisa tahu apa pendapat mama tentang Rizzi sebenarnya!!! Arrrgghhh, pusiiinggggg!!!!
Mbak Haning menegur Beth yang sedang mengacak-ngacak rambutnya sambil menelungkupkan wajah di atas meja karena gemas sendiri mengingat kejadian semalam.
"Heeii, Nduk! Otak kamu nggak langsung gesrek karena habis dapet shock teraphy kemaren kan??? Xixixi!" wanita itu terkikik geli di akhir pertanyaannya.
Ia memegang secangkir kopi panas yang ia dudukkan pada bagian tepian atas kubikel Beth.
"Iihh, apaan sih, Mbak!" balas Beth malu-malu.
"Udaahhh bapernya dipending dulu, ingeettt...deadline grup Singapuramu hari ini loh ya! Don't lupaaa!" Mbak Haning mengingatkan Beth dengan menggoyang-goyangkan jari telunjukkan tepat di depan wajah gadis itu.
Dan Beth pun langsung tersentak. Ia menepuk keningnya sambil berseru, "Oia!!! Ya Ampun!!! Dikit lagi nih, oke dehh aku finishing sekarang!" ujarnya penuh semangat.
"Gitu dooong, semangat!!! Ngomong-ngomong boleh kukepoin nggak tuh insentif perdanamu mau kamu pake apaan, Nduk?" Mbak Haning menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum.
"Mau kukasihin ke mama semua kok, Mbak, buat nambahin modal salonnya biar makin maju!" jawab Beth terus terang.
"Good Girl! ujar Mbak Haning terharu sambil mengelus-elus kepala Beth dengan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangannya lagi masih memegangi cangkir kopi panasnya. "Ya udah, moga niat baik kamu berbalas kebaikan juga, Nduk! Met kerja deh kalo gituh!" imbuhnya sambil melenggang meninggalkan kubikel Beth.
Dibawanya serta cangkir kopi yang baru dibuatnya di pantry itu dan menghirup aroma kopinya dengan ceria. Dan dari dalam kubikelnya, Beth mengamini dengan lantang do'a dari seniornya barusan.
***
@Rumah Keluarga Digdaya
Selepas sarapan dan mengantar sang suami berangkat bekerja, berbeda dari biasanya, Ny.Rukmini langsung masuk kembali ke kamarnya untuk meneruskan chattingan grup yang masih heboh sejak semalam.
Begitu ia membuka grup chat di layar ponselnya, sudah ada puluhan pesan yang terkirim dari ketiga anak-anaknya. Karena malas untuk scroll ke atas demi mengikuti percakapan mereka sebelumnya, Ny.Rukmini langsung saja menulis uneg-unegnya di kolom grup itu.
🗨️Rukmini
Heii kalian pagi-pagi gini udah crtingan apa gak ada yg kerja hah
🗨️Sofia Arini
ini lg otw ngantor sama mas Reinka kok Mi
🗨️Rozmyta Aji
Welcome baacckk mamihQ yang cetar membahana 😁😆
🗨️Rozmyta Aji
Biasanya juga hbis sarapan lgsg nyiramin kembang sambil nggelar konser lokal 😂😆
🗨️Rukmini
ngeceee kamu Roz
🗨️Sofia Arini
😸
🗨️Rozmyta Aji
ampun baginda ratu 🙏
hamba tidak berani 🙇♀️🙇♀️🙇♀️
🗨️Rukmini
sontoloyo
🗨️Rozmyta Aji
🤣🤣🤣🤣🤣
🗨️Rozmyta Aji
Kabarnya si bontot gmn Mi? udah cerah apa masih mendung?
🗨️Rukmini
udah kaya musim semi
🗨️Sofia Arini
Mantap juga tuh cewek bisa bikin Rizzi udah kaya pancaroba aja cepet banget gonta ganti musimnya
🗨️Rozmyta Aji
Embyeeerrr 😂😆
🗨️Rukmini
pagi-pagi langsung keluar gak pake sarapan dirumah gak pake pamitan papi untungnya masih inget pamitan ama mami
__ADS_1
🗨️Rozmyta Aji
lgsg cuuuzzz ketempat kekasih hati tuh Mii
🗨️Rukmini
pastinya trus gimana hasil penyelidikanmu soal pacar barunya adekmu itu Roz
🗨️Rozmyta Aji
lagi otw ke rumah mami itu laporannya, udah Roz suruh sopirnya Roz yg nganter ke sana
🗨️Rukmini
Ok sip
🗨️Sofia Arini
gak di share sekalian di sini aja Roz, biar mbak masmu ini juga tau
🗨️Rozmyta Aji
wani piroooo😝
🗨️Sofia Arini
haiyaahhh gak seruuuu 😥
🗨️Rozmyta Aji
tp kata mas Reinka kmrn udah pernah ktmu cewek itu???
🗨️Sofia Arini
do'i kurang sajen, jd masih bungkam smpe skrg 😤😖
🗨️Rozmyta Aji
nooohh mi, anakmu kurang sajeenn
🤣🤣🤣
🗨️Rukmini
mampir sini lhoo tuh kembang di kebun mami banyak tinggal ambil
🗨️Sofia Arini
bukannya itu persediaan buat sajennya papi, Mi 😁
🗨️Rozmyta Aji
😂😂🤣🤣 ngakak so hard akoohh
Belum sempat Ny.Rukmini membalas chat terakhir sang menantu, sebuah ketukan dari pintu kamarnya mengurungkan niatnya untuk mengetikkan balasan.
"Siapa?" serunya dari dalam kamar.
"Ada sopirnya non Rozmyta datang nganter amplop untuk ibu!" jawab suara seorang asisten rumah tangga dari luar kamarnya.
"Masuk!" balasnya kemudian.
Sang asisten rumah tangga itu pun membuka pintu kamar majikannya secara perlahan lalu melangkah masuk setelah Ny.Rukmini melambai untuk menyuruhnya mendekat.
"Ini, Bu, amplopnya!"
"Sopirnya Roz mana?"
"Langsung kembali, Bu. Katanya disuruh non Roz ngambil stok barang yang kurang ke salah satu suppliernya no Roz." jawab wanita itu.
Ny.Rukmini manggut-manggut lalu kembali memfokuskan matanya pada amplop cokelat yang baru diterimanya.
"Kalau gitu tolong ambilkan saya teh!" pintanya pada sang asisten rumah tangga.
"Baik, Bu!"
Dan wanita itu pun undur diri untuk segera kembali ke dapur demi menyiapkan teh yang diminta sang majikan.
Sepeninggal sang asisten rumah tangga, Ny.Rukmini tak langsung membuka amplop yang ada di tangannya. Ibunda Rizzi itu nampak galau sambil menimang-nimang amplop besar itu.
Kok aku jadi lebih grogi daripada waktu nerima laporan perempuan-perempuan yang pernah deketin Rizzi dulu ya???
Apa karena sama yang ini, anak bontotku itu kelihatan lebih bucin daripada biasanya. Rizzi kayanya serius banget sama yang ini, sampe galau dan lesu berhari-hari gitu sebelum nembak gadis ini.
Dan kali ini juga Rizzi duluan yang nembak, padahal biasanya perempuan-perempuan itu yang nempelin anakku kemana-mana.
Ny.Rukmini cukup ketar ketir. Di dalam hatinya bagai sedang terjadi badai yang diakibatkan berkumpulnya awan kumulonimbus. Yaitu awan-awan hitam yang berkelompok dan menciptakan petir.
Bedanya dengan yang di atas langit, gumpalan awan hitam di dalam hati Ny.Rukmini ini tercipta karena ketidakstabilan emosi antara rasa penasaran bercampur rasa takut yang sedang di alami wanita paruh baya itu.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue....