Replacement Lover

Replacement Lover
GHIBAH RECEH


__ADS_3

@***Cafe* Teluse**


Alkisah ada tiga sahabat yang sedang menghabiskan waktu mereka di sebuah Cafe ternama sepulang kuliah. Ketiganya mempunyai alasan masing-masing dan berbeda-beda untuk berada di Cafe tersebut.


BETH, Satu-satunya perempuan diantara ketiganya. Seperti hari-hari sebelumnya, gadis itu tidak pernah absen untuk mampir berharap semesta lagi-lagi menakdirkannya bertemu dengan sang owner dari Cafe tersebut, yaitu Rizzi.


Sungguh harapan yang cukup muluk sepertinya mengingat gadis itu tak jarang hanya bermodalkan memesan segelas es teh dalam setiap kunjungannya.


Lalu ada SAID, pemuda yang semangat membuntuti Beth ke Cafe ini demi nebeng wifi untuk menuntaskan tugas mata kuliah Kewirausahaannya yang belum kelar.


Yang terakhir, adalah VYNT. Yang jujur saja hanya mengikuti kedua sahabatnya itu karena dirinya sama sekali tidak ada tujuan lain setelah berakhirnya kuliah mereka dan tidak ada kerjaan sama sekali.


Sehingga kesempatan untuk mengorek informasi dari Beth tentang kejadian kemarin di apartemen Tyo, menurutnya akan sangat sayang untuk dilewatkan.


"Lo gak tau diri banget sih, masa mo pedekate sama yang punya Cafe malah mesennya cuman es teh doang?! Dasar cewe gak modal!" cibir Said dengan mulut komat kamit namun kedua matanya menatap lurus ke layar laptop.


"Iye, iyeee...nih gue ganti pesenan gue." balas Beth.


"Ganti apaan?" Said mendongakkan kepalanya untuk mengintip pada kertas pesanan yang sedang ditulis Beth.


"Teh anget." jawab Beth singkat.


"Yee...sama aja itu mah. Sama-sama teh kali. Dasar kere lu!" Said yang gemas lalu melemparkan sebuah sedotan pada gadis itu.


Beth menghindar sambil cekikikan.


"Jadi ceritanya kemaren si kakaknya Argha tuh sakit apaan, Beth?" Vynt bertanya sambil menulis menu pilihannya pada kartu pesanan yang baru saja digeser Beth ke hadapannya.


"Demam tinggi." jawab Beth singkat.


"Ceileehhh...laki kok sakitnya demam?" nyinyir Said.


"Lo kate dia robot kagak bisa demam!" Beth balik menimpukkan sebatang sedotan pada Said.


"Lagian badan macho gitu, pilih sakit yang kerenan dikit kek, gagal ginjal mungkin." timpal Said lagi gak mau kalah.


"Heehhh, tuh mulut gue selepet juga nih. Ngomong asal jeplak aja gak pake aturan." Beth emosi mendengar nyinyiran Said yang dirasanya keterlaluan.


"Dosa lo nyumpahin orang gitu." Vynt ikutan melotot ke arah Said. Kali ini Vynt sependapat dengan Beth.


"Iyee...maap-maap." Said yang nyesel campur takut kena pelototan Vynt yang tajam setajam silet pun langsung mengkeret dibalik layar laptopnya.


"Herannya nih ya, tuh makhluk walopun kemaren mukanya pucet trus badannya keringetan bin lemes abis, tetep aja kadar kegantengannya tuh gak berkurang gaes." cerocos Beth. "Bener-bener pantes disebut makhluk Tuhan yang paling seksi." tambahnya sambil geleng-geleng kepala.


"Ahh...lo mah emang lebay!" giliran Vynt melemparkan sedotan ke arah Beth.


"Iisshhh!" Beth berdecak sebal.


"Trus lo ama Keira ngapain aja seharian disono?" Vynt masih berusaha mengorek informasi lagi dari gadis berambut ikal itu.


"Ya ngerawat Tyo lah, masa maen gaple, yang bener aja lo ah." Beth nyerocos sambil nyeruput teh angetnya yang baru datang.

__ADS_1


Sepertinya tingkat ke-sensi-an gadis itu makin meninggi mengingat sang owner Cafe yang ditunggu-tunggunya tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Yaelah Beth, gue nanyanya seriusan kali." ujar Vynt gemas.


"Ya gue juga jawabnya seriusan kali, Vynt. Keira tuh yang heboh ngapa-ngapain, gue mah cuman bantuin dikit-dikit doang." balas Beth lagi, kali ini gak pake sruput-sruputan tapi langsung menenggak teh angetnya sampai habis setengah gelas.


"Emang Keira ngapain aja sih?" pancing Vynt sambil lebih mencondongkan badannya dengan ekspresi yang pura-pura serius.


Beth berpikir sejenak, diketuk-ketukkannya jari telunjuk ke pipi kanannya.


"Hmm...pertamanya sih bantuin Tyo rebahan di kamarnya, trus masakin bubur, trus nyuapin Tyo makan buburnya, trus nungguin Tyo tidur sambil ngompres kepalanya Tyo, teruuusss..."


"Stop...stop...!" Vynt memotong cerita Beth sambil memegang keningnya yang berkerut.


"Emang keluarganya kemana sih kok sampe Keira yang ngelakuin semua itu?" tanya Vynt tak habis pikir.


"Entahlah." Beth mengedikkan kedua bahunya. "Setau gue sih, Tyo sama Argha cuman dua bersodara. Dan kalo di lihat dari apartemen Tyo, kayanya doi tinggal sendirian disono." Beth akhirnya menandaskan teh angetnya yang tinggal separuh tadi.


Lagi-Lagi Beth celingukan, namun belum dilihatnya sosok yang ditunggunya sedari tadi.


"Lo kalo gak sabaran gitu, kenapa gak langsung lo chat orangnya aja sih?!" omel Said jengah melihat tingkah Beth yang udah kaya orang sembelit gak bisa duduk diem ditempatnya.


"Chat sapa maksud lo?" tanya Beth balik dengan sedikit ketus.


"Ya Rizzi lah. Emang lo nungguin sapa dari tadi kalo buka dia?" tegas Said.


"Ketauan dong kalo gue sengaja kesini buat ketemu dia. Harga diri gue gimana, gaes" Beth menolak sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Eh, emang iya gituh?" tanya Beth mendadak melongo dalam mode polos dengan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kedua bahunya langsung melorot tanda gadis itu benar-benar tercengang akan kebodohannya sendiri.


Seketika Said pun ketawa ngakak sejadi-jadinya melihat keluguan sahabatnya yang satu itu. Vynt pun sukses menoyor kening Beth dengan jari telunjuk saking gemasnya. Emang Beth kadang-kadang seGAK JELAS itu anaknya.


Dari arah parkiran Cafe terlihat seorang pria jangkung berambut coklat terang sebahu dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya, baru saja keluar dari dalam mobil sport yang berwarna kuning terang.


Rizzi yang baru masuk ke dalam Cafe miliknya langsung tersenyum begitu melihat Beth duduk disalah satu sofa dengan meja yang berada tepat disisi jendela kaca besar yang membatasi antara ruang indoor dan ruang outdoor di Cafe itu.


Langkah kakinya yang bersiap menuju ke arah ruangan khusus staff tiba-tiba berubah arah menghampiri gadis mungil berambut ikal itu.


"Haii, dah lama?" sapa Rizzi yang seolah sudah paham bahwa gadis itu sedang menunggunya.


Well, karena memang sejak malam pesta perpisahan-nya Argha, dimana Beth dan Rizzi pertama kali berkenalan. Beth jadi setiap hari menyambangi Cafe milik pria nyentrik yang murah senyum itu.


Walaupun dengan lagak berpura-pura tidak mencarinya tapi entah kenapa Rizzi seperti bisa membaca niat gadis itu. Dan justru itulah yang membuat Rizzi tertarik pada Beth.


"Oh hai juga, Riz. Baru...barusan kok." jawab Beth terbata karena berbohong.


"Barusan pala lo peyang! Teh anget lo sampe gak bersisa gitu larinya kemane? Bocoorr?" celetuk Said yang disambut pelototan mata oleh Beth.


Rizzi jadi geli sendiri melihat konflik dua sahabat itu. Sepertinya bergabung dengan mereka akan menyenangkan, pikir Rizzi.


"Gaes, kenalin...ini Rizzi. Rizzi, ini Vynt dan Said. Mereka berdua sahabat aku dan Keira juga." Beth memperkenalkan.

__ADS_1


Dengan ramah Rizzi menyalami Vynt dan Said satu persatu.


"Tumben Keira gak kelihatan? kemana?" tanya Rizzi sambil mendudukkan diri di kursi kosong yang masih semeja dengan Beth dan kawan-kawan.


"Ooh, Keira lagi kerja sambilan." jawab Beth.


"Oia? dimana?" tanya Rizzi lagi dengan menebar senyumnya yang biasa.


"Di Silvia and Joe Chocolate." Beth yang lagi-lagi menjawab.


Mendadak senyum dibibir Rizzi menghilang berganti wajah terkejut yang serius.


"Silvia and Joe Chocolate yang tokonya ada di belakang Mall West Coast itu?" tanya Rizzi memastikan.


"Iya, kenapa?" Vynt yang menangkap perubahan ekspresi Rizzi pun mendadak serius.


"My God!!!" pekik Rizzi sambil refleks berdiri.


"Ada apa???" tanya Vynt yang juga langsung berdiri melihat reaksi panik Rizzi.


"Tadi di mobil pas mau kesini aku dengar berita dari radio, katanya ada kebakaran di toko coklat itu." jelas Rizzi cepat.


"SERIUS???" tanya Vynt, Said dan Beth bebarengan. Said dan Beth jadi ikutan berdiri saking shocknya.


"Aku serius." jawab Rizzi dengan ekspresi kalut yang tidak mengada-ngada.


"Kita harus kesana! SEKARANG!" Vynt berseru panik.


"Beth ikut di mobilku." titah Rizzi yang dibalas anggukan cepat oleh Beth.


Said buru-buru membereskan laptopnya lalu menyusul ketiga orang yang sudah lebih dulu melesat pergi.


"Masukkan tagihan mereka bertiga ke dalam paycheck pribadiku." Rizzi menginstruksi seorang staff yang dilewatinya sebelum keluar dari Cafe.


Sesampainya di parkiran mereka berempat kompak membentuk dua kelompok karena ada dua mobil yang harus mereka bawa. Vynt masuk ke mobil Said, sementara Beth masuk ke mobil Rizzi sesuai instruksi Rizzi tadi.


Di dalam mobil, Rizzi dengan tanggap memasang Bluetooth Earpiece ke salah satu telinganya lalu mulai menghubungi seseorang melalui sambungan ponselnya.


"Moga Keira gak kenapa-kenapa, Tuhaannn!" pinta Beth dengan mengaitkan kedua tangannya didepan dada dan mulai terisak.


Rizzi yang bersiap menyalakan mesin mobil hanya terdiam melihat reaksi Beth. Dalam hatinya, lelaki itu pun melantunkan doa yang serupa.


To Be Continue...


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2