
Setelah memastikan bahwa Keira sudah terlelap tidur untuk kembali beristirahat, perlahan Tyo keluar dari kamarnya yang saat ini sedang ditempati Keira.
Tyo ingin memastikan kenyamanan dan keamanan Keira. Karena itulah Tyo menempatkan Keira dalam kamarnya sendiri yang merupakan kamar terbesar, terbagus dan ternyaman se-Guest House. Agar dapat sekaligus melindungi Keira dari dekat di dalam pengawasannya langsung.
Setelah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Tyo lalu bergegas turun ke lantai bawah untuk mencari Rizzi dan Enka untuk membicarakan sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.
Setibanya di ujung tangga, Tyo menelpon Rizzi untuk menanyakan keberadaan pria itu.
📱TYO PRATAMA
Woi, Riz. Lo dimana
📱RIZZI RIYANT
Di ruang meeting. Lagi nonton Fast and Furious delapan nih sama anak-anak
📱TYO PRATAMA
Oh, okey. Gue kesana sekarang
📱RIZZI RIYANT
Sekalian nitip pesen ke orang dapur dong, suruh bawain makanan lagi. Kurang nih.
📱TYO PRATAMA
Oke
Dalam perjalanan menuju ruang meeting, Tyo berpapasan dengan seorang staff Guest House yang kebetulan sedang melintas.
Tyo langsung menyuruh staff tersebut untuk mengirim makanan ringan lain ke ruang meeting dan memesan segelas es kopi untuknya sendiri. Setelahnya Tyo meneruskan perjalanannya ke ruang meeting.
Saat Tyo membuka pintu ruang meeting tersebut, seluruh anak buahnya, kecuali Rizzi, seketika menoleh ke arah Tyo lalu berdiri dari kursi mereka masing-masing untuk menyambut kedatangannya.
Tyo yang awalnya mengernyit heran menerima perlakuan khusus itu akhirnya hanya memberikan kode dalam sekali ayunan tangan dengan penuh wibawa untuk menyuruh mereka semua kembali duduk.
Memang, sejak mereka melihat aksi Tyo yang mati-matian berusaha menyelamatkan Keira tanpa ragu apalagi takut. Membuat para anak buah Tyo menjadi lebih respek pada bosnya itu.
Bagi mereka, Tyo berbeda dengan bos-bos lainnya yang lebih sering menyuruh tanpa mau capek-capek terlibat langsung apalagi sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan orang yang sebenarnya penting bagi mereka.
Berbeda dengan Tyo yang seakan mengajarkan pada mereka semua bahwa seperti itulah seharusnya bagaimana cara melindungi dan menyelamatkan orang yang kita anggap penting itu.
Namun Rizzi terkekeh melihat adegan penyambutan untuk Tyo tadi. Tyo yang langsung mengambil duduk di kursi kosong di antara Rizzi dan Enka kembali mengeryit heran melihat sahabatnya mulai kumat begitu.
"Napa lo senyum-senyum sendiri? Obat lo abis?" tanya Tyo dengan nada sarkastis.
"Kagaaakkk, gue cuma jadi keinget omongan Keira kemaren yang nyebut lo Bos Mafia. Nah ini tadi, perciiissss banget adegannya kaya Bos Mafia baru nongol gitu. Huaahahahahaha."
Kali ini Rizzi tidak hanya terkekeh namun langsung meledakkan tawanya tanpa tedeng aling-aling.
#Kalau dipikir-pikir Rizzi ini benar-benar tipikal manusia yang tidak belajar dari kesalahan. Udah tau kemaren sama Tyo langsung digeplak kepalanya karena menertawakan topik yang sama, eehhh sekarang diulangin lagi. Enaknya diapain ya nih orang biar kapok???
Akhirnya setelah berdebatan panjang dalam hati author, dipilihlah satu cara untuk membuat Rizzi kapok.#
Melihat Rizzi yang tertawa dengan mulut yang terbuka lebar begitu, Tyo sontak mengambil sebuah jeruk di atas meja lalu menjejalkannya langsung ke mulut sahabat gesreknya itu hingga tersangkut diantara gigi atas dan bawahnya.
Rizzi yang shock seketika mendelik saat merasakan rahangnya yang linu akibat menganga terlalu lebar dan tak bisa ditutup. "XIAYAN YO YO! KHUYANG HAGAH! HAWH YO, KHENGA KHALNGA YO HAH, HUNHGU YAH HAHAF WU!!!"
#Yang artinya:
__ADS_1
(SIALAN LO, TYO! KURANG AJAR! AWAS LO, KENA KARMA LO NTAR, TUNGGU LAH ADZABMU!!!!)
Rizzi masih saja menyumpahi Tyo sedemikian rupa dengan mulut yang menganga meski menyadari suaranya yang tidak jelas dan malah membuat air liurnya bercucuran kemana-mana.
Reja yang panik melihat kondisi Rizzi langsung memukul punggung Rizzi sekuat tenaganya hingga Rizzi terbatuk hebat lalu terlepaslah jeruk nahas itu dari mulutnya.
"Anjiirrr, apes banget gue punya temen kaya lo! Udah kaya **** guling baru dipanggang aja gue, pake mulut diganjel jeruk gitu. SIALAN!" lagi-lagi Rizzi malah langsung memaki Tyo bukannya lebih dulu bersyukur setelah terbebas dari tragedi keselek jeruk yang bisa saja dialaminya tadi.
"Lo kalo masih berisik terus, gue ganti ganjel pake kulit duren nih!" ancam Tyo tidak main-main.
Mendengar keseriusan ekspresi Tyo, seketika mulut Rizzi terkatup rapat. Akhirnya pria berkaca mata itu tersadar dari khilafnya bahwa Tyo bukanlah lawan yang sebanding dengannya.
Dalam keseruan mereka menonton film Fast and Furious yang dinyalakan melalui proyektor dan layar besar di ruangan itu, Tyo diam-diam berbisik pada Enka untuk menanyakan perihal kelanjutan kasus Danny Wan.
"En, Gimana kondisi Danny di kantor polisi?" tanya Tyo sambil menyesap es kopinya yanh baru saja datang.
"Masih proses interogasi, Pak! Tapi mungkin agak sedikit molor mengingat pengacara Danny belum datang ke Indonesia. Tapi Pak Ruslan sudah mengutus Pak Agus Choir untuk memastikan Danny tidak akan menerima dispensasi apapun dan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya kepada Nona Keira." lapor Enka.
Tyo manggut-manggut mendengar laporan Enka tersebut. Jujur saja, Tyo masih memikirkan ucapan Danny kemarin yang menyebut bahwa dirinya telah memfitnah Mr.Wan.
Tyo jadi berpikir, jangan-jangan Danny berniat membalas dendam kepadanya tanpa mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Namun secara frontal pemuda itu begitu saja melaksanakan niat buruknya.
Menurut analisa Tyo, dalam pertarungannya melawan anak buah Danny kemarin, Tyo bisa menilai bahwa mereka tidaklah seprofesional Enka dan timnya.
Tyo jadi berpikiran jika Danny Wan sebenarnya bukanlah orang yang betul-betul jahat mengingat persiapannya untuk membalas dendam kepada Tyo bisa dibilang sangat lemah hingga begitu mudah dilumpuhkan.
"Riz, status si Joe ama kita gimana?" kali ini Tyo menyikut Rizzi yang sedang menikmati keripik pisang di depannya.
"Dah beres, gue dah bayar dia lebih dari cukup kok. Dia bilang langsung kontak aja kalo kita butuh dia lagi." sahut Rizzi santai sambil mengunyah keripik pisangnya.
"Kalo gitu lo pake dia lagi deh, suruh nyari info tentang Danny Wan dan antek-anteknya." titah Tyo.
"Nggak tau kenapa feeling gue ngerasa Danny tuh sebenernya cuman korban." ujar Tyo.
"Hah, kok bisa lo mikir gitu?" Rizzi heran.
"Entahlah, gue belom bisa mastiin. Makanya sekarang lo suruh aja si Joe nyari info yang gue omongin tadi." sahut Tyo sambil menarik piring berisi potongan buah-buah segar ke hadapannya.
"Iya deh iyaaa." balas Rizzi menurut saja.
"Dan kamu En, tolong langsung info saya kalo pengacaranya Danny udah dateng ke Indo." kali ini Tyo menoleh pada Enka.
"Baik, Pak." jawab Enka lugas.
Setelah menutup obrolan mereka dan kembali fokus pada film yang masih diputar di layar proyektor. Tiba-tiba Pak Sugeng memasuki ruang meeting. Melihat kedatangan Pak Sugeng, Tyo pun segera memanggil Manajer itu agar mendekat padanya.
"Iya, Mas Tyo? Manggil saya?" tanya Pak Sugeng.
"Pak, Tolong tambahkan extra bed di kamar saya di atas ya! Tapi jangan sekarang, Keiranya masih tidur. Nanti saja kalau kami turun untuk makan malam." pinta Tyo sopan.
"Baik, Mas." jawab Pak Sugeng mengerti.
Selepas Pak Sugeng berlalu, Rizzi yang merasa heran mendengar permintaan Tyo pada Pak Sugeng itu akhirnya bertanya, "Lo ngapain segala minta extra bed buat di kamar lo?" tanya Rizzi bingung.
"Ya buat gue tidur lah." jawab Tyo sekenanya sambil menusuk sepotong melon yang sudah dikupas dan dipotong dadu dengan garpu lalu langsung memakannya dalam sekali suapan.
"Laahh, kan ranjang di kamar lo udah yang queen size. Emang kurang lebar buat lo berdua?" Rizzi ikut-ikutan memakan buah segar potongan di hadapan mereka kecuali jeruk yang membuatnya trauma akibat perbuatan Tyo tadi.
"Bukannya gitu, gue cuman nggak mau mengulang kesalahan gue ke Keira. Gue dan Keira kan belum resmi nih. Kalau lagi-lagi gue seenaknya tidur seranjang sama Keira, gue ngerasa nggak adil aja buat dia. Gue pengen mulai sekarang lebih ngehargai Keira sebagai perempuan, Riz." jawab Tyo jujur.
__ADS_1
Rizzi tepekur mendengar pengakuan Tyo itu. Namun dalam pikirannya Rizzi merenungi dalam-dalam perkataan Tyo.
"Gue baru nyadar, bahwa cara gue mencintai Keira dulu itu salah. Dengan gue nggak bisa ngontrol perasaan gue sampe bikin Keira hamil itu salah. Dan sekarang, walaupun terlambat. Tapi gue pengen mulai mencintai Keira dengan cara yang bener. Dengan ngejagain dia baik fisiknya, hatinya, maupun harga dirinya." Tyo membeberkan niatnya pada Rizzi panjang lebar dengan ekspresi yang amat serius.
Rizzi menarik nafasnya dalam lalu menepuk pundak Tyo dengan keras. "You know, Bro? Kalo gue cewek, pasti gue udah termehek-mehek ama lo! Sumpah! Jadi geter nih di sini denger lo ngomong se-romantis itu." Rizzi berujar sambil menunjuk ke dadanya.
"Iisshhh, gue yang jijay kali ngebayangin elo termehek-mehek ke gue, diihh amit-amit." Tyo langsung berdiri dari kursinya untuk kabur sambil menjulurkan lidahnya geli.
"Hallaahhh, lo nggak usah sok jaim deh padahal mau khaannn. Sini dong baanngg ahhh, jangan tinggalin adek!" Rizzi malah mengejar Tyo sambil terus menggoda dengan gayanya yang genit ala-ala jablay.
Membuat Enka dan timnya serta Reja dan anak buahnya yang sedang menikmati film laga petualangan di ruangan itu seketika melongo melihat bos-bos mereka yang kumat gesreknya.
***
@Rumah Kediaman Zein Imran
Pak Zein sedang terduduk diam di dalam ruang kerja khusus di rumahnya. Pria paruh baya itu nampak merenung. Pikirannya penuh dengan hasil rapat Dewan Direksi yang digelar tadi siang.
Rapat yang membahas penyelewengan dana yang terjadi di PT. PERMATA itu membuat seluruh Dewan Direksi murka saat akhirnya mereka mengetahuinya.
Mereka jelas menyalahkan Pak Zein atas insiden itu. Baik sebagai pemimpin PT. PERMATA maupun sebagai suami Ny.Rosa yang tidak lain adalah pelaku penyelewengan dana tersebut.
Para Dewan Direksi memaksa Pak Zein untuk segera mengganti uang yang dipakai Ny.Rosa dalam kurun waktu yang telah mereka tentukan. Dengan embel-embel ancaman akan menuntut secara perdata jika Pak Zein tidak segera menunjukkan itikad baiknya.
Mendengar hal itu Pak Zein jadi tak bisa berkutik lagi. Hingga akhirnya ia pun berjanji untuk segera menyelesaikan perihal dana yang digelapkan istrinya itu.
Tidak cukup sampai disitu, Dewan Direksi juga meminta pertanggung jawaban Pak Zein sebagai Direktur Utama PT. PERMATA atas macetnya perputaran dana operasional perusahaan yang mengakibatkan gaji karyawan terancam tidak cair pada beberapa bulan ke depan.
Pak Zein menghela nafasnya panjang dan dalam. Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya. Uang yang digelapkan istrinya, gaji karyawan dan dana operasional lainnya, belum lagi hutang-hutang di bank yang hampir jatuh tempo.
Otak bisnisnya menghitung secara kasar jumlah dana yang harus didapatkannya dalam kurun waktu singkat.
Dan menurut perhitungannya, jumlah uang yang dibutuhkannya itu nilainya cukup fantastis, mencapai angka tujuh milyar. "Dari mana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu?" pikir Pak Zein.
Pria itu lalu teringat pada rumah yang ditinggalinya kini. Jika dijual, kemungkinan dirinya bisa mendapatkan dana empat sampai lima milyar dari rumah ini.
Tapi haruskah ia sampai harus menjual rumah ini demi menutup kekurangan perusahaan? tanyanya dalam hati. Lalu dimana ia akan tinggal jika rumah ini harus terjual. Tapi rumah itulah satu-satunya hartanya yang tersisa.
Pak Zein bimbang. Pria itu nampak hanyut dalam kebimbangannya sendiri sambil memijit-mijit keningnya yang makin berkerut.
Sejak banyak masalah yang muncul di perusahaan dan di rumahnya, kerutan di kening pria itu jadi bertambah seiring menumpuknya tingkat stres yang ia rasakan.
Merasa tidak punya pilihan lain, Pak Zein bergegas mencari dokumen sertifikat tanah dan rumah atas rumah yang ditinggalinya ini di dalam brankasnya.
Setelah cukup lama mencari dalam brangkas bahkan sampai mengeluarkan seluruh isi brankasnya. Pak Zein tetap tak dapat menemukan dokumen yang dicarinya itu.
Seketika Pak Zein teringat ucapan istrinya---Ny.Rosa yang pernah mengatakan jika wanita itu telah meminjam uang dari rentenir. Jika dugaannya tepat, pastilah istrinya itu yang telah mengambil dokumen sertifikat tanah dan rumah mereka untuk dijadikan jaminan saat meminjam uang kepada rentenir itu.
Hanya dengan membayangkannya saja Pak Zein sudah murka, namun dirinya harus memastikan sendiri dugaannya. Benarkah Ny.Rosa yang telah mengambil surat-surat tanah dan rumah itu?
"ROSAAAAAAA!!!!!" akhirnya Pak Zein memanggil istrinya dengan suara yang menggelegar hingga ke seluruh penjuru rumah.
To Be Continue...
.
.
.
__ADS_1
.