Replacement Lover

Replacement Lover
PANIK


__ADS_3

Tyo langsung merangsek masuk ke kamar Keira saat melihat calon istrinya itu meringkuk kesakitan. Diraihnya tubuh Keira ke dalam pangkuannya.


"Kamu kenapa, Keira?" Tyo bertanya dengan nada khawatir.


Keira membisu. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit kuat. Wajah gadis itu semakin memucat dengan mata yang mengernyit rapat.


"Keira!!!" panggil Tyo lagi pada Keira. Namun gadis itu nampaknya masih tak mampu menjawab panggilannya akibat sakit yang dirasakannya.


Keira hanya mencengkeram lengan Tyo untuk mencoba menyalurkan apa yang tengah dirasakannya kini.


Ny.Naina yang datang setelah Tyo pun langsung ikut panik melihat keadaan Keira. "Keira kenapa Bu Mustika?" tanyanya pada Ibunda Keira itu.


"Saya tidak tahu pastinya, Bu Naina. Tadi saya sedang ganti baju di kamar mandi saat Keira merintih memanggil saya. Pas saya keluar kamar mandi tau-tau udah begini anaknya." jelas Ny.Mustika.


Tyo turut merasakan tubuh Keira yang menegang sekaligus bergetar hebat. Ekspresi gadis itu tampak menahan sesuatu yang menyakitkan. Bibir Keira tak henti-hentinya merintih. Tyo tidak tega melihatnya.


"Keira kenapa ini, Bu?" tanya Tyo mengiba pada kedua ibu itu.


Ibunda Keira yang sedari tadi duduk di samping gadis itu dengan panik akhirnya berinisiatif untuk memeriksa kondisi perut Keira.


"Coba sini Ibu pegang perutnya." ujar Ny.Mustika dengan suara yang sedikit bergetar.


Ny.Mustika menyentuh perut Keira yang ternyata kaku dan menonjol di satu sisi. Ia pun langsung memberitahukan hal itu pada Tyo dan Ny.Naina.


"Perutnya kaku sekali, dan menonjol di sebelah sini. Saya nggak tahu ini kenapa." ujar Ny.Mustika nampak panik dengan menunjuk ke perut bawah Keira yang sebelah kanan.


"Mending langsung kita bawa ke Rumah Sakit aja Tyo, sebelum semuanya terlambat." pinta Ny.Naina pada putranya itu.


Tyo mengangguk setuju dan segera membopong tubuh Keira untuk dibawanya keluar dari kamar. Secepat kilat Ny.Mustika segera meraih tasnya yang tergantung di gantungan baju lalu berlari kecil mengikuti langkah Tyo setelah menutup pintu kamar.


Ny.Naina yang turun ke lantai bawah lebih dulu segera menelpon Pak Yusam yang standby di pos satpam.


"Pak Yusam, segera siapkan mobil. SEKARANG!" perintah Ny.Naina dan langsung menutup telpon itu sebelum Pak Yusam sempat menjawab apapun.


Ia pun berlari ke arah kamarnya untuk mengambil dompetnya lalu langsung keluar lagi menuju pintu utama.


Begitu mobil sudah siap di depan pintu utama, Tyo segera meminta Ny.Mustika untuk masuk lebih dulu agar dapat memangku bagian kepala Keira.


"Biar ibu yang duduk di belakang sama Bu Mustika, Tyo!" pinta Ny.Naina pada putranya.


Tyo menurut saja dan langsung masuk ke kursi penumpang disebelah Pak Yusam setelah melihat ibunya sudah duduk di kursi belakang bersama Ny.Mustika dan Keira.


"Kita ke Rumah Sakit terdekat, Pak Yusam. Tolong cepat!" perintah Tyo pada sopir keluarganya itu.


Dalam perjalanan, Tyo yang khawatir sesekali melihat ke arah belakang dimana Keira dan kedua Ibu mereka berada. Ny.Mustika tampak mengusap-usap kening Keira yang basah oleh keringat dingin.


Sementara Ny.Naina yang tak kalah panik terlihat mengusap-usap punggung Keira yang meringkuk dengan posisi menyamping.


"Sakit, Bu....sakiiittt...." rintih Keira lirih dengan masih terus memegang perutnya.


"Tahan ya, Nak. Kamu yang kuat!" ucap Ny.Mustika mencoba untuk menguatkan Keira meski hatinya sendiri ketar-ketir. Namun bibirnya diam-diam merapalkan doa yang tak putus-putus untuk keselamatan putri dan calon cucunya itu.


"Bertahan Keira! Berdo'a, Nak!" ujar Ny.Naina pada calon menantunya. Ibunda Tyo itu nampak tak kalah pucatnya dari raut wajah Ny.Mustika.


Sesampainya di Rumah Sakit terdekat, Tyo bergegas turun dari mobil dan kembali membopong Keira menuju Unit Gawat Darurat. Para perawat dan dokter jaga yang menerima mereka segera menanyakan keluhan serta kronologi kejadian, tak lupa mereka juga mencatat identitas Keira sebagai pasien.


Tyo menceritakan semua yang terjadi terhadap Keira dengan cepat. Dan setelah para perawat mengambil alih penanganan Keira. Tyo dan kedua ibu diminta untuk menunggu di ruang tunggu yang berada di samping luar Unit Gawat Darurat itu.


Ketiganya menunggu dengan gelisah. Ny.Naina dan Ny.Mustika duduk di kursi yang berjajar di ruangan itu sambil berpegangan tangan dengan erat. Ny.Naina tampak sesekali mengelus punggung Ny.Mustika yang duduk tertunduk.


Sementara Tyo, meski tampak tenang duduk di kursi di seberang mereka dengan menopang dagunya. Namun dari raut wajahnya, siapapun pasti akan langsung tahu jika pria itu sedang kalut.


Beberapa perawat keluar masuk ruang Unit Gawat Darurat itu dikarenakan kesibukan mereka. Seorang dokter wanita tampak berjalan cepat memasuki ruangan itu bersama seorang perawat yang tadi sempat terlihat sebagai salah satu perawat yang turut menangani Keira.


Namun baik Tyo maupun kedua ibunya tidak menyadari hal itu dan membiarkan mereka begitu saja. Pikiran ketiganya begitu tenggelam dalam kekhawatiran terhadap Keira serta calon bayinya.


Tiba-tiba, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Ny.Naina. Tampaknya panggilan itu dari suaminya, terbukti saat Ny.Naina mengucapkan kata pertamanya saat menerima panggilan itu.


"Ayah!" jawab Ibunda Tyo dengan menahan tangisnya. "Keira masuk Rumah Sakit!" ia menambahkan.


📱RUSLAN PRATAMA


Keira kenapa, Bu? Apa dia jatuh?


📱NAINA PRATAMA


Nggak tahu Ayah. Tapi Keira nggak jatuh, tiba-tiba aja tadi beres foto-foto dia terkulai di kamar. Perutnya sepertinya sakit.


📱RUSLAN PRATAMA


di Rumah Sakit mana? Ayah kesana sekarang sama Pak Agus.


Begitu mendengar niat Pak Ruslan yang akan menyusul mereka ke Rumah Sakit, Ny.Naina lalu menyebutkan nama Rumah Sakit tempat mereka membawa Keira dan di ruang tunggu mana mereka berada kini.


Setelah beberapa waktu terlewati, seorang perawat keluar dari ruang Unit Gawat Darurat itu untuk memanggil ketiganya.


"Keluarga Ibu Keira Permata!" panggil perawat itu.

__ADS_1


Mendengar nama Keira disebut, ketiganya lalu berdiri bersamaan mendekati suster itu.


"Maaf tidak boleh masuk semua, hanya dua orang keluarga dekat pasien yang diizinkan melihat!" seru perawat itu pada ketiganya.


Ny.Naina lalu menyuruh Tyo dan Ny.Mustika yang masuk untuk melihat keadaan Keira. Sementara dirinya akan tetap di luar sambil menunggu kedatangan Pak Ruslan.


"Tyo kamu saja yang masuk dengan Bu Mustika. Ibu akan tetap di sini sambil menunggu Ayah!" ujarnya.


Tyo mengangguk mengerti, ia lalu merangkul pundak Ny.Mustika dari belakang dan memperkenalkan diri kepada perawat tersebut.


"Saya suami pasien dan beliau ibu kandung pasien!" ujar Tyo setengah berdusta di hadapan perawat.


Setelah mengetahui hal itu, perawat itu langsung mempersilahkan keduanya untuk masuk.


Di dalam ruangan itu, Tyo melihat Keira yang sudah tampak lebih tenang terbaring dengan sadar di salah satu ranjang pasien. Seorang dokter wanita terlihat berdiri di sisi ranjang Keira sedang sibuk mengisi form pasien di tangannya.


Melihat kemunculan Tyo dan Ibunya di ruangan itu, hati Keira seketika lega. Ia pun mengulas sebuah senyum kepada mereka berdua sambil mengulurkan tangannya kepada Ibunya. Ny.Mustika langsung menerima uluran tangan putrinya itu lalu mengusapnya lembut.


Sementara Tyo yang melihat senyuman Keira itu menjadi sedikit lega karena mengira Keira dan calon bayi mereka akan baik-baik saja. Tyo lalu mengusap kepala Keira sambil menanyakan keadaan gadis itu.


"Udah nggak sakit lagi?" tanya Tyo dengan menatap lekat mata Keira.


Keira tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya sambil melebarkan senyumnya. "Maaf ya udah bikin khawatir kamu." ujarnya.


Giliran Tyo yang hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Keira barusan.


Sang dokter yang sudah menyelesaikan tulisannya lalu menoleh ke arah Keira dan keluarganya sambil tersenyum.


"Sudah lebih baik, Bu Keira?" tanya dokter wanita yang memakai name tag dengan nama dr.Melina SpOG itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya.


"Iya dok, terima kasih!" jawab Keira singkat.


"Anak saya kenapa tadi dok?" tanya Ny.Mustika pada dokter itu.


"Bu Keira tadi sempat mengalami kontraksi dini, Bu, Pak!" jawab dokter Melina kepada Tyo dan Ny.Mustika.


"Kontraksi?" Ny.Mustika tampak mengerutkan keningnya.


"Betul. Tapi bukan kontraksi yang biasa terjadi saat mendekati proses persalinan. Kontraksi jenis ini biasanya memang muncul di awal kehamilan ketika kondisi ibu hamil terlalu letih atau stres." jelas dokter Melina lebih lanjut.


"Apakah itu berbahaya, dok?" kali ini Tyo yang bertanya.


"Akan berbahaya jika tidak segera ditangani atau bila terjadi pendarahan. Untungnya Ibu Keira tidak sampai mengalami pendarahan saat dibawa kesini tadi. Hanya terjadi penegangan yang mengakibatkan kram dan nyeri pada perut bawahnya." dokter Melina menjelaskan panjang lebar.


"Kondisi bayinya sendiri bagaimana, dok?" Ny.Mustika bertanya lagi.


"Saya rasa baik-baik saja. Tapi jika anda semua ingin tahu secara pasti, saya sarankan untuk melakukan USG di poli kandungan." saran dokter Melina.


Namun untungnya Keira segera mengangguk mantap ke arah bu dokter, "Iya dok. Saya mau di USG. Saya mau tahu kondisi bayi saya." jawab Keira.


Tyo dan Ny.Mustika pun saling pandang lalu saling melempar senyuman mendengar keputusan Keira.


"Baiklah, kalau begitu kami akan segera pindahkan anda ke poli kandungan. Saya permisi duluan ya, saya tunggu disana!" ujar dokter Melina sambil memberi kode tertentu kepada beberapa perawat yang bertugas di ruang UGD itu.


"Permisi, pasien mau pakai kursi roda atau ranjang dorong untuk pindah ruangan?" tanya seorang perawat ketika dokter Melina sudah berlalu.


Tyo kembali menoleh pada Keira untuk memastikan pilihannya, "Kamu mau pakai yang mana?" tanyanya.


"Kursi roda aja." jawab Keira cepat.


Mendengar jawaban Keira, sang perawat segera mengangguk mengerti dan langsung beranjak pergi mengambilkan kursi roda untuk Keira.


Tyo langsung menggendong tubuh Keira untuk memindahkannya dari ranjang pasien ke atas kursi roda.


"Biar saya yang dorong sendiri." ujar Tyo mencegah perawat pria yang berinisiatif akan mendorong kursi roda Keira.


Perawat pria itu tampak mengangguk, "Mari lewat sini!" ujarnya kepada Tyo.


Ny.Mustika lalu mengikuti Tyo dan Keira di belakang mereka. Saat ketiganya keluar ruang UGD, tampak Pak Ruslan dan Pak Agus sudah datang menemani Ny.Naina yang menunggu di ruang tunggu itu.


Ny.Naina yang masih nampak cemas segera berjongkok di hadapan Keira untuk menanyakan keadaanya.


"Kamu nggak apa-apa, Nak? Masih sakit?" tanya calon mertua Keira itu dengan khawatir.


"Keira udah nggak apa-apa kok, Bu. Sekarang kita mau pindah ke poli kandungan untuk cek kondisi bayinya." Tyo mewakili Keira menjawab kekhawatiran ibunya.


"Oh gitu, syukurlah. Ibu lega kalau kamu udah nggak apa-apa, Nak." ujar Ny.Naina mengelus-elus punggung tangan Keira yang ada dalam genggamannya.


"Maafin Keira ya, Bu. Udah bikin ibu khawatir." ucap Keira merasa tak enak hati karena sudah menyusahkan banyak orang.


"Iya, iya, udah nggak apa-apa. Nggak apa-apa." jawab Ny.Naina sambil mencium puncak kepala Keira dengan sayang.


"Permisi, silahkan di urus administrasinya lebih dulu!" tiba-tiba seorang perawat lain menginterupsi keharuan dalam keluarga itu.


"Biar saya saja yang uruskan!" Pak Agus Choir langsung menawarkan diri.


Perawat itu segera menyerahkan selembar form ke tangan Pak Agus.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak!" ucap Tyo tulus pada Pak Agus.


Dan Pak Agus hanya mengangguk membalas ucapan terima kasih Tyo itu.


"Mari, dokter Melina sudah menunggu!" ujar perawat pria tadi mengingatkan.


Dan akhirnya seluruh keluarga itu bersama-sama menuju ke poli kandungan sesuai arah yang ditunjukkan si perawat. Sementara hanya Pak Agus sendiri yang menuju lobi untuk mengurus administrasi.


Sesampainya di poli kandungan, perawat pria yang mengantar mereka segera mengkonfirmasi kehadiran Keira pada suster yang berjaga di depan ruangan dokter.


"Permisi, Sus. Pasien atas nama Keira Permata sudah hadir!" lapornya pada suster tersebut.


"Silahkan, Nona Keira bisa langsung masuk. Sudah ditunggu Bu dokter di ruangannya." jawab suster tersebut dengan sopan lalu beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu ruangan dokter tersebut. "Permisi, dok! Pasien Keira Permata sudah ada di sini." lapor suster itu kepada sang dokter.


Dokter Melina nampak tersenyum menyambut kedatangan Keira dan keluarganya. Sayangnya hanya Tyo yang diizinkan masuk oleh dokter Melina untuk mendampingi Keira mengikuti jalannya pemeriksaan.


Dengan terpaksa para orang tua lagi-lagi harus menunggu di ruang tunggu poli kandungan selama proses pemeriksaan berlangsung.


Dan seperti pemeriksaan yang sudah pernah Keira lakukan dulu saat USG pertamanya bersama Vynt. Keira langsung berbaring di ranjang pemeriksaan dengan baju di bagian perut yang terbuka.


"Baiklah, kita akan lihat, adek bayinya lagi apa ya di dalam perut mamanya??!!" ujar dokter Melina dengan santai berharap Keira dan Tyo juga bersikap santai atas pemeriksaan yang mereka lakukan saat itu. "Karena sudah sepuluh minggu seharusnya detak jantungnya sudah jelas terdengar ini Bu Keira!" tambahnya lagi.


"Permisi dok, apa saya boleh merekam momen ini untuk ditunjukkan ke keluarga?" tanya Tyo antusias.


Dokter Melina nampak tersenyum lalu mengangguk. "Ini anak pertama ya?" tanyanya kemudian.


"Iya dok!" jawab Keira singkat sambil tersipu malu.


"Anak pertama dan cucu pertama dari kedua keluarga, dok!" Tyo menambahkan. Ia lalu mulai merekam momen pemeriksaan itu lewat kamera ponselnya.


Dokter Melina pun segera meletakkan transducer di atas perut bawah Keira untuk mengetahui letak serta mendengarkan detak jantung si jabang bayi.


Dan ketika Keira mendengar detak jantung bayinya itu, matanya seketika melebar dengan takjub. Mulutnya terperangah sambil tetap menajamkan telinganya untuk terus mendengar suara detakan itu.


Tyo pun langsung tertawa lebar saat melihat tingkah Keira yang takjub akan suara yang didengarnya sambil terus merekam aktivitas itu. Tak bisa dipungkiri jika hatinya turut merasakan bahagia yang kini Keira rasakan kala mendegarkan detak jantung bayi mereka.


"Syukurlah sesuai prediksi saya, bayinya sehat-sehat saja. Berarti tadi dia cuman ngambek saja ya karena mamanya terlalu memforsir diri sampe kecapekan begitu." canda dokter Melina sambil tersenyum pada Keira. "Tolong mulai sekarang lebih hati-hati lagi agar tidak terjadi kontraksi dini hebat seperti tadi." pesan sang dokter.


Begitu selesai melakukan USG, dokter lalu memberikan print out foto USG kepada Keira yang sudah kembali duduk di kursi roda dengan bantuan Tyo.


"Saya sarankan untuk tidak terlalu sering mengelus perut Ibu Keira sebelum memasuki trimester terakhir, karena itu hanya akan memicu kontraksi lainnya." ujar dokter Melina sambil menulis di buku catatannya.


Keira dan Tyo kompak mengangguk lalu saling berpandangan sesaat.


"Nanti kalau sudah masuk bulan ke delapan dan kesembilan, silahkan di elus-elus sepuasnya karena justru pada usia kandungan itu, semakin sering mengusap perut akan semakin baik untuk merangsang pergerakan bayi untuk memasuki jalan lahirnya." tambah sang dokter.


Kali ini Keira dan Tyo tampak manggut-manggut setelah mendengarkan penjelasan bu dokter dengan seksama.


"Ibu Keira, bekerja?" tanya dokter.


"Tidak, dok." jawab Keira cepat.


"Lalu kenapa bisa sampai kelelahan begini?" tanya dokter lagi.


Keira dan Tyo hanya saling pandang. Kedua bingung bagaimana menjelaskannya. Tidak mungkin mereka mengatakan jika Keira kelelahan setelah melakukan foto prewedding.


"Kebetulan hari ini ada acara di rumah, jadi sibuk sekali, dok!" Tyo mencoba memberikan alasan logis tanpa harus membeberkan kejadian sebenarnya.


"Oh begitu. Saya harap lain kali jangan terlalu memaksakan diri ya. Meski kondisi Ibu Keira cukup lemah dan rentan, tapi karena tidak bekerja jadi saya tidak akan membuatkan resep penguat kandungan ya! Cukup banyak istirahat, banyak makan sayur hijau, jangan lupa susu kehamilannya diminum yang rajin, dan kalau punya stok buah kurma di rumah, itu akan sangat bagus untuk dikonsumsi." jelas dokter panjang lebar.


"Baik, dok. Saya akan pastikan istri saya melakukan semua saran dokter tadi." jawab Tyo dengan tegas.


Dokter lalu memberitahu Tyo jika dalam masa ini, dirinya dan Keira untuk sementara tidak boleh melakukan hubungan suami istri dulu, karena masih beresiko tinggi mengakibatkan keguguran.


"Pokoknya sebelum lolos minggu ke dua belas, suami dimohon puasa dulu ya! Setelah masuk bulan ke empat baru boleh dilakukan asal tetap hati-hati. Tidak boleh berlebihan dan gunakan posisi standar saja, jangan yang aneh-aneh dulu!" tegas sang dokter.


Mendengar hal itu jelas saya membuat Tyo tersipu, sementara Keira langsung memerah wajahnya karena malu.


To Be Continue....


.


.


.


.


*Kontraksi Dini


adalah kondisi penegangan perut yang biasa di alami oleh ibu hamil di awal kehamilan atau pada trimester pertama kehamilan.


Ada beberapa jenis kontraksi yang mungkin terjadi selama 40 minggu masa kehamilan. Dan kontraksi dini adalah salah satunya dan biasa terjadi di awal kehamilan.


Ciri-ciri KONTRAKSI DINI ini terjadi karena tubuh masih sedang dalam proses penyesuaian dengan berbagai perubahan akibat adanya kehamilan.


Kontraksi saat hamil muda disebabkan oleh pengaruh hormon progesteron yang dihasilkan plasenta.

__ADS_1


**Untuk kasus Keira di atas; perut bawah yang sepenuhnya kaku dan menonjol di bagian kanan itu aku ambil dari contoh kasus yang aku alami sendiri di awal kehamilan anak kedua-ku 😁✌️


Sapa disini yang pernah ngalamin juga??? 🤔


__ADS_2