Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : KECELAKAAN


__ADS_3

.


.


.


@Kantin PT. PERKASA


Tyo dan Rizzi yang keheranan dengan serentetan pertanyaan dari Vynt yang seakan memojokkan Rizzi jadi terbengong-bengong dibuatnya.


📱RIZZI RIYANT


Sorry Vynt, tapi gue beneran enggak tau maksud lo apa? Ada apa sama Beth, gue juga enggak tau? Udah tiga hari ini gue lost contact ama dia.


📱VYNT DAE-HO


Haahhh, seriusan lo???


"Iya Vynt, makanya ni bujang lapuk sekarang sampe niat banget gangguin gue di kantor cuman buat curhat ke gue. Nyesek banget dia dijauhin ama sohib lo satu itu." Tyo turut berbicara untuk mengklarifikasi kondisi Rizzi.


📱VYNT DAE-HO


Gue juga bingung nih!!! Gue baru aja nyampe Indo, baru rebahan bentar di rumah, tau-tau dapet chat dari Keira yang isinya Beth lagi ada masalah, dan kayaknya ada hubungannya sama Rizzi. Nah gue chat Bethnya langsung, enggak dibaca. Gue telepon, enggak diangkat. Gue telepon ke kantor, kata SPVnya dia izin pulang cepet. Bingung gue makanya. Tuh anak kenapa???


Suara cerocosan Vynt dari seberang telepon terdengar bagai penyanyi hip hop yang sedang ngeRap. Tapi justru informasi yang disampaikan Vynt barusan kontan saja menambah gelisah di dada Rizzi.


📱RIZZI RIYANT


Gue juga enggak tau, Vynt. Gue juga bingung nih mau gimana? Nah segala chat ama telepon gue enggak ada yang direspon sama Beth sampe detik ini.


Rizzi semakin putus asa. Di hadapan Tyo, pria berkaca mata itu lalu meletakkan ponselnya dengan lesu ke atas meja lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan.


Tyo yang tak tega melihat sahabat gesreknya jadi kaya orang stres beneran lalu memberikan sebuah opsi kepada Vynt,


"Gini-gini, gini aja, Vynt!!! Lo coba hubungin Beth terus, sapa tau kalo tuh anak sadar elo yang ngontak dia, Beth mau ngejawab! Sementara, jangan ngomong apa-apa dulu tentang Rizzi tapiiii tolong lo korek-korek dari Beth sebenarnya masalah apa yang lagi dia hadepin!" Tyo menyarankan.


📱VYNT DAE-HO


Oh, oke-oke. Gue lakuin saran dari lo. Semoga secepatnya kita semua tahu apa yang terjadi ama Beth sebenarnya. Dan buat elo, Riz. Sorry banget kalo gue tadi terlalu cepet marah-marah ke elo.


📱RIZZI RIYANT


Iya, enggak apa-apa kok, Vynt. Tolong bantu gue cari tahu soal Beth ya!


Rizzi menjawab dengan suara memelas. Membuat Vynt di seberang sana semakin merasa bersalah dibuatnya.


📱VYNT DAE-HO


Oke, bro! Gue akan bantu lo kali ini!


Setelah sambungan telepon yang penuh drama itu berakhir, Rizzi langsung membenamkan wajahnya ke dalam lipatan tangan yang ia letakkan di atas meja.


Tenaganya habis sudah hanya untuk memikirkan seorang Bethsa Putry yang kini membuat situasi menjadi begitu rumit untuknya.


Tyo mengambil nafas panjang melihat pria yang telah dikenalnya puluhan tahun itu kini nampak begitu rapuh. Ia lalu menggeser kursinya hingga tepat disebelah Rizzi untuk memberikan tepukan 'Gue selalu ada buat lo' di pundak sahabatnya itu.


***


Beberapa jam sebelumnya...


Setelah mengakhiri chattingnya dengan Keira, Beth berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Ia membuka lagi daftar nama penumpang yang harus ia bookingkan tiket pesawat pulang pergi ke Singapura sesuai tanggal yang mereka minta.


Namun setelah sepuluh hingga lima belas menit berlalu, Beth akhirnya menyerah. Ia menepuk-nepuk pipinya dengan sedikit keras untuk memulihkan konsentrasi namun pikirannya tetap tidak bisa fokus.


Ya Ampuun, Beettthhh!!! Kok lo kacau banget gini sih! Daritadi salah mulu! Enggak...enggak boleh begini! Mending lo jauh-jauh dari kerjaan sebelum lo bikin kesalahan lagi!


Entah sudah berapa kali ia salah mengetikkan nama penumpang pada sistem reservasi. Takut akan kesalahan lain yang lebih fatal, Beth akhirnya mengcancel semua bookingan yang sudah dibuatnya. Lebih baik ia mengulang lagi dari awal ketimbang ia melewatkan kesalahan yang tak terdeteksi olehnya.

__ADS_1


Mending gue izin pulang sekarang aja kalik ya?! Bilang lagi enggak enak badan ke SPV. Toh otak sama hati gue emang lagi eror, berarti gue enggak sepenuhnya bohong dong! Beth memikirkan sebuah alibi untuknya.


Beth kembali mengambil ponselnya dari dalam laci lalu mengetikkan sebuah chat pada Keira yaang menyatakan bahwa ia tak bisa menunggu hingga sore untuk segera curhat pada sahabatnya itu mengingat kondisi kegalauannya yang udah kronis.


Tanpa menunggu balasan dari Keira, Beth segera mengemasi barangnya dan langsung menuju kubikel tempat supervisornya berada.


"Mbak Haning, aku mau izin pulang cepet boleh ya!" rajuk Beth pada rekan kerja seniornya itu.


Wanita berkerudung yang dipanggil Mbak Haning itu lalu mendongak ke arah Beth yang mengintip ke dalam kubikelnya. Sorot matanya yang teduh tampak memindai ekspresi wajah Beth yang memang terlihat sendu.


"Kenapa, kamu sakit tha, Nduk?" tanya Mbak Haning dengan menatap khawatir pada juniornya itu.


Mendengar kekhawatiran tulus dari seniornya, Beth jadi tidak punya hati untuk membohongi wanita yang selalu memperlakukannya layaknya adik sendiri itu.


"Aku lagi ada masalah pribadi, Mbak. Pikiranku kacau banget. Udah nyoba konsen ngerjain grup Singapura tapi salah-salah terus malahan. Makanya aku mau pulang cepat aja, mau istirahat, sapa tau besok udah baikan!" jelasnya panjang lebar.


Si Supervisor nampak manggut-manggut lalu melepaskan pena dan dokumen yang sedari tadi dipegangnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan punggung yang ia sandarkan dengan nyaman pada bagian belakang kursi kebesarannya.


"Emangnya kapan time limit bookingan grupmu itu?" tanyanya dengan nada serius.


"Sesuai kesepakatan dari pihak Airlines sih tiga hari dari tanggal aku bisa selesaikan seluruh bookingan, Mbak!" jawab Beth jujur.


"Trus, tanggal berangkatnya kapan?" Mbak Haning meraih kalender meja di depannya.


"Tanggal lima bulan depan mbak!"


Si Supervisor divisi tiketing internasional itu nampak menghitung tanggal di kalendernya sebelum akhirnya menoleh kembali ke arah Beth.


"Oke, hari ini aku izinin kamu pulang cepet. Tapi paling lambat lusa, janji kudu kelar ya! Jangan sampe mepet-mepet nyelesein bookingannya, takut ada revisi dari pihak kedutaan, bisa berabe!" titah sang supervisor.


"Iya, Mbak. Aku ngerti!" balas Beth singkat.


"Ya udah, sana pulang! Istirahat yang bener, jangan begadang! Mata pandamu parah banget tuh!" Mbak Haning menunjuk pada wajah Beth yang memang nampak kuyu.


Beth mengangguk cepat sambil menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Mbak Haning yang melihat tingkah Beth hanya tersenyum simpul. Dibukanya laci di bawah meja kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


Beth trenyuh dengan perhatian sang senior. Ia lalu menerima cokelat batangan itu dengan mata yang berbinar-binar. "Makasi bangeettt, Mbak!" ujarnya.


"Sama-sama. Udah sana, ati-ati kamu pulangnya. Enggak usah checklock ya, nanti aku yang kasih keterangan sama paraf di kartu absensimu sebagai tanda kalau kamu udah aku izinin pulang cepet."


"Baik, Mbak!" jawab Beth menurut.


Dimasukkannya cokelat pemberian Mbak Haning tadi ke dalam tas selempangnya. Setelah menganggukkan kepalanya sekali lagi pada sang supervisor, Beth langsung keluar dari ruangannya menuju parkiran motor khusus karyawan di samping kiri gedung DAE-HO Trip.


Di tariknya motor matic miliknya itu dari lahan parkirnya. Tak lama kemudian, Beth segera mengemudikan motornya menuju toko Roti Bunda lebih dulu untuk membelikan Keira Rollcake pandan keju kesukaannya.


Selama perjalanan, Beth terus berharap bahwa pesanan Keira masih ready stock mengingat Rollcake pandan keju di toko itu memang yang paling best seller.


Dan untungnya, harapan Beth terkabul karena dua gulung Rollcake yang dicarinya itu masih tersisa di dalam salah satu etalase kaca di toko Roti Bunda.


"Mbak, rollcake pandan kejunya saya ambil semua ya!" pinta Beth pada staff toko itu.


Setelah membayar di kasir, dengan riang Beth kembali ke motornya sambil menenteng plastik berisi dua box rollcake pesanan Keira. Dan kini, dua box rollcake itu sudah tergantung manis di motor matic yang baru ia beli beberapa bulan setelah resmi bekerja di DAE-HO Trip.


Oke, sekarang lanjut ke rumah Keira! seru Beth dalam hati setelah ia menyalakan mesin motornya.


Namun baru beberapa meter melaju, Beth yang mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang, tiba-tiba dikejutkan oleh seorang anak kecil yang melompat ke tengah jalan sembarangan di sebuah tikungan.


Demi menghindarkan motornya menabrak si anak kecil, Beth sampai harus membelokkan stang motornya secara asal ke arah lain. Tak pelak, motor matic yang dikemudikannya pun tersuruk ke trotoar setelah ban depannya terbentur pembatas jalan yang cukup tinggi.


Beth terjatuh ke samping bersama motornya. Kaki kanannya yang tertimpa bodi motor sedikit terluka. Celana panjangnya sampai sobek di bagian samping kanan betis akibat tergores bata paving di trotoar.


Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu segera menolong Beth berdiri dan menepikan motornya. Sementara orang-orang yang lain juga nampak meminggirkan si anak kecil.


Beth bersyukur saat melihat bahwa anak kecil itu tidak tertabrak. Tapi karena si anak kecil itu meronta-ronta dari gendongan seorang bapak-bapak, akhirnya si bapak menurunkan anak kecil itu yang langsung menangis terduduk di tepi trotoar tak jauh dari posisi Beth duduk untuk menselonjorkan kakinya.


Orang-orang dengan heboh menanyakan siapa orang tua anak tersebut atau di mana orang tuanya. Suasana yang sangat riuh itu membuat si anak jadi semakin ketakutan. Beth yang kasihan akhirnya meraih anak itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Oohh..sayang! Udaahh, enggak apa-apa...kamu udah aman kok anak manis! Tenang ya, tenang...sebentar lagi papa mamamu pasti datang! Anak pintar!"


Di belai-belainya rambut anak lelaki yang mungkin baru berumur lima tahun itu untuk menenangkannya. Perlahan, air mata si anak mulai mengering meski sesenggukannya masih terasa.


Lalu seorang pria dewasa nampak menyibak dengan raut wajah panik pada kerumunan yang mengitari Beth dan si anak lelaki.


"RAVI!!!" panggil pria itu dengan wajah pucat.


"PAPA!!" sahut si anak yang ternyata bernama Ravi itu.


"Ya ampun, Vi! Kamu kemana aja, Nak!" ujar Papa Ravi dengan nada khawatir sambil berlutut pada satu kaki guna mendekati anaknya yang masih melekat pada pelukan Beth.


"Bapak ini gimana sih, anak kecil dibiarin sendirian di jalan. Ini tadi hampir ketabrak kalo mbak ini enggak mbelokin motor sampe nyusruk ke trotoar mungkin anak bapak udah ketabrak tuh!" ujar seorang ibu-ibu dengan nada emosi.


"Iya nih, punya anak kok enggak dijagain bener-bener! Mbak ini sampe luka-luka tuh gara-gara ngehindarin anak bapak yang tau-tau loncat ke tengah jalan!" ujar orang lainnya.


Dan komentar-komentar pedas lainnya pun mulai bersahut-sahutan. Membuat Papa Ravi jadi salah tingkah. Ia lalu berdiri lagi dan mulai membungkuk-bungkuk untuk meminta maaf kepada orang-orang. Dan terlebih lagi kepada Beth yang tanpa sadar belum melepaskan pelukannya pada si anak.


"Saya mohon maaf bapak-bapak, ibu-ibu, saya memang salah! Saya pasti akan tanggung jawab ke Mbak ini! Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini!" ucap Papa Ravi dengan sungguh-sungguh.


Mendengar kesungguhan dari ayah si anak penyebab kecelakaan yang terjadi pada Beth, orang-orang pun seketika membubarkan diri mereka. Mereka merasa masalah itu sudah bisa diatasi antara kedua belah pihak saja tanpa campur tangan mereka lagi.


"Maafin saya, Mbak! Karena keteledoran saya, mbaknya jadi celaka!" ujar Papa Ravi dengan kembali berlutut pada satu kaki untuk meraih sang anak dari pelukan Beth.


Beth tersentak setelah ia menyadari bahwa kedua tangannya masih menempel di tubuh Ravi. "Ohh, iya, Pak! Udah, enggak apa-apa! Ini anaknya masih ketakutan, kasihan!" balas Beth sambil melepaskan pelukannya pada Ravi.


Secara perlahan, tubuh kecil Ravi sudah berpindah ke dalam pelukan Papanya. Beth pun bangkit berdiri secara perlahan dengan berpegangan pada tembok bangunan yang ada di dekatnya.


"Mbaknya ada yang luka? Apa ada yang sakit? Motornya rusak nggak, mbak?" tanya Papa Ravi dengan khawatir. Ia turut bangkit berdiri dengan sang anak dalam gendongannya sesaat setelah Beth sudah bisa berdiri tegak.


Beth meringis lebih dulu, lalu kemudian menggeleng. "Udah, enggak apa-apa kok, Pak! Saya enggak apa-apa!" jawab Beth berbohong.


Pria itu nampak tidak percaya pada Beth setelah melihat raut wajah gadis itu yang sedikit menahan sakit. Matanya lalu memindai tubuh Beth dari atas kepala hingga kaki. Lalu tatapannya berhenti pada celana panjang Beth yang terkoyak di bagian samping betis.


"Itu!" tunjuk pria itu. "Itu kayaknya luka, Mbak!"


Beth menunduk dan dengan cepat menepuk-nepuk celananya, "Oh, enggak kok, Pak! Cuman kegores sedikit!"


Dan seketika Beth teringat janjinya pada Keira, "Saya lega, adiknya sudah aman sekarang. Maaf tapi saya buru-buru. Saya permisi!" pamit Beth lalu berjalan tergesa-gesa ke arah motornya yang sudah terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


Selama berjalan mendekati motornya, Beth sebenarnya merasakan linu di kakinya. Tapi ia abaikan demi segera menaiki motornya. Beth sempat melirik ke bodi motor barunya yang jadi penyok dan tergores di beberapa bagian. Namun ia hanya menghela nafas panjang sebelum mulai menaiki motornya.


Dan tanpa diduga, Papa Ravi mengejarnya dan menahan stang motor Beth sebelum gadis itu menyalakan mesin motor.


"Mbak, mbak, sebentar! Tapi saya belum tanggung jawab ke anda! Gimana saya bisa tanggung jawab kalau mbaknya maen kabur aja!"


"Enggak perlu, Pak! Beneran, saya enggak apa-apa!" Beth bersikeras. "Maaf saya buru-buru!"


Tapi pria itu nampaknya juga tidak mau kalah. "Gini aja, Mbak! Saya boleh minta kartu namanya biar saya bisa hubungi lagi nanti?" kata pria itu.


Beth termenung sesaat, namun akhirnya ia menggeleng. "Maaf saya enggak punya, Pak!" jawabnya cepat.


"Kalau begitu ini!" Pria itu menurunkan sang anak dari gendongan lalu merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari sana. "Ini kartu nama saya! Saya minta tolong sekali, TOLONG hubungi saya!" pintanya dengan sangat.


Beth terdiam namun diraihnya kartu nama itu tanpa melihatnya, sebab pandangannya malah tertuju pada wajah pria itu yang memang nampak sungguh-sungguh.


"Saya tidak enak kalau langsung memberi anda sejumlah uang, saya takut anda tersinggung!" ujarnya memberi alasan. "Tolong hubungi saya, saya tunggu!" pintanya lagi.


Beth tersenyum atas niat baik pria itu untuk tidak menyinggungnya. Ia lalu memasukkan kartu itu secara asal ke dalam tas selempangnya lalu mengangguk dan mulai menyalakan mesin motornya.


Dan kemudian, Beth kembali melajukan motornya menuju rumah Keira. Meninggalkan sepasang ayah dan anak yang masih terbengong melihatnya pergi begitu saja di pinggir trotoar itu.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue....


__ADS_2