
"Kenapa gemetar? Takut?" Tyo menatap tajam pada Keira. Masih mengunci tubuh gadis itu di antara kedua lengan kokohnya.
Saat Tyo mengatakan itu, jujur saja Keira memang takut. Hatinya belum siap untuk bertemu dengan pria yang telah membuatnya hamil itu, sama sekali belum siap.
Tyo sedikit menunduk agar dapat mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Keira. Melihat wajah Tyo yang semakin dekat membuat Keira semakin menundukkan wajahnya sendiri.
Lidahnya teramat kelu, bibirnya terkatup rapat. Keira tak mampu menjawab apa-apa, tak mampu membalas tatapan mata Tyo yang semakin mengintimidasinya.
"Ya Tuhaaannn, bagaimana ini???!!!" pekik Keira dalam hati.
"Nggak mau jawab?" Tyo terpaksa berlutut dengan satu kaki lalu mendongak untuk dapat melihat wajah Keira yang kian menunduk.
Dilihatnya Keira yang ketakutan sambil menautkan jari jemarinya sendiri. Tatapan mata gadis itu sebisa mungkin menghindari tatapan mata Tyo.
Hati Tyo terasa nyeri saat dilihatnya Keira terang-terangan menghindari kontak mata dengannya. Diraihnya tangan kanan Keira lalu diletakkannya telapak tangan Keira itu di pipi kiri Tyo sendiri.
"Lihat aku, Kei!" pinta Tyo sedikit memohon.
Intonasi suaranya melembut seiring hatinya yang mulai luluh melihat ketakutan yang dirasakan gadis yang dicintainya itu di depan matanya.
"Aku minta maaf jika aku membuatmu takut!" kali ini suara Tyo benar-benar memancarkan kesedihan hatinya.
Mendengar suara Tyo yang mengiba, Keira pun memantapkan hati untuk menatap mata pria itu. Saat Tyo melihat mata Keira yang akhirnya mau menatap lurus padanya. Tyo sumringah, lalu refleks mencium telapak tangan Keira yang tadi menempel di pipinya.
Tyo seolah tak peduli bahwa sikap manisnya pada Keira saat itu mengundang perhatian banyak orang yang ada disekitar mereka.
Layaknya adegan romantis dalam drama Korea, sebagian orang yang melihat mereka bahkan mengira mereka sedang syuting sinetron.
Tapi saat mereka sadar bahwa tak ada kamera atau pun sutradara yang menyertai adegan romantis mereka, pikiran orang-orang jadi beralih bahwa Tyo dan Keira sedang latihan drama untuk acara pembukaan toko coklat baru itu.
Rizzi yang sampai ikutan baper sendiri melihat sikap Tyo pada Keira yang jujur, baru pertama kali ini dilihatnya setelah sekian puluh tahun dirinya bersahabat dengan pria itu.
Dalam hati Rizzi sama sekali tak menyangka bahwa sahabatnya itu---seorang Tyo Pratama---akan se-Bucin ini pada seorang gadis.
"Eheemm...eheemmm..." Rizzi pun berusaha mengirimkan kode pada Tyo agar sedikit peka pada tatapan mata banyak orang yang melihat mereka berdua.
Tapi bukannya peka, Tyo malah membalas kode yang dikirim Rizzi dengan tatapan tajam seolah Rizzi telah mengganggu urusannya dengan Keira, mengganggu dunianya dengan Keira.
"Ayo kita pulang, Kei!" ajak Tyo kemudian. Keira yang masih belum siap untuk pulang kembali menegang mendengar ajakan Tyo. Keira pun refleks menarik tangannya yang dipegang Tyo sampai terlepas.
"Keira!!!" pekik Tyo kaget menerima sikap penolakan dari Keira.
"Ada apa ini???" tiba-tiba Mbak Silvi muncul ditengah-tengah mereka dengan berkacak pinggang.
Keira yang mendengar suara Mbak Silvi merasa terselamatkan. Keira spontan berdiri dan langsung menoleh ke arah Mbak Silvi yang berdiri di depan Rizzi, diikuti oleh Tyo yang juga langsung berdiri lalu secepat kilat meraih pergelangan tangan Keira dan menggenggamnya erat. Takut jika gadis yang baru saja ditemukannya kembali itu berusaha untuk kabur lagi.
"Mbak Silvi...." Keira merintih memanggil Mbak Silvi sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Tyo. Ekspresi Keira nampak ketakutan seolah sedang meminta pertolongan.
Tyo langsung paham dengan apa yang sedang coba dilakukan Keira hingga Tyo pun mengambil langkah maju di depan Keira, menghadapi Mbak Silvi dan berusaha menyembunyikan tubuh Keira dibelakangnya.
"Ngg..anu...ini..." Rizzi yang berdiri di belakang Mbak Silvi merasakan hawa perperangan di antara Tyo dan Mbak Silvi hingga berusaha menjelaskan kesalah pahaman yang mungkin terjadi di antara Mbak Silvi dan Tyo.
"Kamu siapa? Lepasin Keira!" perintah Mbak Silvi pada Tyo dan abai pada sosok Rizzi di belakangnya.
"Anda siapa?" Tyo balik menanyai Mbak Silvi dengan suara dan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"Saya Silvi, owner Silvia and Joe Chocolate. Bosnya Keira. Saya yang bertanggung jawab atas Keira di sini. Kamu siapa?" jawab Mbak Silvi tegas. Kelihatan jelas jika wanita matang itu sama sekali tidak takut pada Tyo. Meski dalam hati diakuinya sosok Tyo sangat mengintimidasi.
"Saya Tyo Pratama, Keira ini calon istri saya. Saya tidak akan melepaskannya setelah susah payah saya mencarinya. Anda sebaiknya tidak ikut campur!" ucap Tyo tak kalah tegas.
Mendengar jawaban Tyo, Mbak Silvi merubah ekspresi marahnya menjadi ekspresi terkejut. "Ooh..." pekiknya lirih sambil menutup mulutnya yang membentuk huruf 'O' dengan sebelah tangan.
"Anu..permisi! Bisa saya bantu jelaskan!" Rizzi akhirnya menyeruak masuk diantara perbincangan keduanya. "Maaf tapi Tyo ini..."
Belum sempat Rizzi menjelaskan Mbak Silvi buru-buru mengangkat sebelah tangannya tepat di depan wajah Rizzi tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Rizzi.
"Tidak perlu dijelaskan, saya sudah tahu!" potong Mbak Silvi cepat. "Dan maaf saja tapi saya tidak bisa tidak ikut campur." Mbak Silvi menambahkan.
Rizzi yang ucapannya diinterupsi pun kaget lalu refleks mengatupkan kedua bibirnya. "SIAL!" rutuk Rizzi dalam hati karena baru kali ini dia merasa dikacangin.
"Keira!" panggil Mbak Silvi sambil memiringkan kepala dan tubuhnya untuk menemukan sosok Keira yang tersembunyi di balik tubuh tinggi tegap Tyo. "Kalau kamu kabur lagi dari pria seperti Tyo ini, berarti KAMU BODOH MAKSIMAL!" tegas Mbak Silvi yang membuat semua orang yang mendengarnya seketika melongo tak percaya, tak terkecuali Keira.
Mbak Silvi kemudian berjalan mendekati Keira lalu menyentuh kedua lengan gadis itu. Tyo terpaksa harus melepaskan tangan Keira karenanya.
"Lihat dia, Kei!" perintah Mbak Silvi pada Keira sambil membalik tubuh Keira agar menghadap ke arah Tyo yang berdiri tegak disamping keduanya. "Dia sudah susah payah nyari kamu sampe kesini, dan entah apa yang sudah dilaluinya hingga bisa sampai kesini." Mbak Silvi menatap lekat pada Keira.
Tyo melihat dua wanita di hadapannya itu secara bergantian. Namun Tyo tak lagi bersifat defensif pada Mbak Silvi setelah mendengar ucapan wanita itu yang nyata-nyata berpihak padanya. Semoga setelah ini Keira jadi luluh dan menuruti nasihat Bosnya itu untuk mau pulang bersama Tyo.
"Mbak tadi juga lihat dari dalam toko gimana lembutnya sikap dia sama kamu meskipun Mbak juga bisa lihat kekecewaan dan amarah dari mata Tyo waktu nemuin kamu." jelas Mbak Silvi. "Mbak mungkin belum kenal baik dengan Tyo tapi mbak yakin kalau dia serius sama kamu, Kei." tambah Mbak Silvi lagi.
Mendengar semua penuturan Mbak Silvi, Keira mau tak mau menatap Tyo lekat-lekat. Matanya memindai ekspresi dan gestur pria menawan di hadapannya itu. Dilihatnya wajah Tyo yang memang nampak lelah dengan gurat stres yang tertinggal di kening pria itu.
Keira jadi sadar akan keegoisannya sendiri. Keira jadi malu karena telah membuat Tyo hingga sedemikian stres mencari dirinya.
"Tolong, Kei! Kamu kasih Tyo kesempatan untuk membuktikan perasaannya sama kamu! Mbak yakin, dia juga bisa melindungi kamu jika kedua orang tuanya menolak kamu." Mbak Silvi berusaha meyakinkan Keira.
"Orang tuaku tidak menolak kamu, Keira." beber Tyo.
"Aku sudah mengakui semua kesalahanku pada mereka dan aku kesini nyariin kamu atas restu kedua orang tuaku. Sekarang mereka menunggu aku membawamu pulang." jelas Tyo menatap lekat pada Keira.
Sekali lagi Keira menatap mata Tyo. Dilihatnya raut wajah Tyo yang nampak sungguh-sungguh. Keira pun menjadi yakin, tidak ada kebohongan dalam ucapan ataupun sorot mata Tyo.
Akhirnya hati Keira pun luluh, hatinya menghangat sekaligus nyeri merasakan sesak dari rasa bahagia sekaligus rasa bersalahnya. Air matanya pun jatuh tak terbendung lagi.
Melihat Keira yang mulai menangis, seketika Tyo memeluk Keira dengan erat. Menyembunyikan tangis gadis itu dalam dadanya yang bidang. Berusaha menenangkan Keira dari tangisnya yang semakin kencang karena menerima perlakuan manis Tyo yang tiba-tiba.
Keira jadi teramat menyesal telah mencoba meninggalkan pria ini. Keira menyesal atas ketidak pekaannya atas keseriusan Tyo. Pria yang begitu tulus padanya, pria yang kini Keira yakini tak akan pernah melepaskannya lagi.
Melihat adegan pelukan yang romantis itu, mendadak suasana sekitar menjadi riuh oleh tepuk tangan orang-orang yang sejak tadi menonton adegan menghanyutkan itu. Beberapa ada yang bersiul demi menggoda Tyo dan Keira.
Karena keriuhan itulah, Tyo dan Keira seakan baru keluar dari dunianya sendiri dan tersadar bahwa mereka sedang di muka umum, dan apa yang sejak tadi mereka lalukan seketika terasa begitu memalukan.
Mereka berdua kompak menundukkan kepala saking malunya. Keira bahkan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sialan lo, Riz. Nggak ngasih tahu gue dari tadi kalo banyak yang ngeliatin gini!" omel Tyo pada Rizzi.
Rizzi memutar bola matanya jengah, "Elo tuh yang SIALAN, Njiirrr! Gue udah ngasih kode tadi, elo-nya yang GAK PEKA malah melotot ke gue!" Rizzi balas mengomeli Tyo.
Saat kedua sahabat itu sedang saling memaki, tiba-tiba ponsel Rizzi berdering. Rizzi refleks melihat ke arah ponsel yang sedari tadi digenggamnya.
"Enka nelpon." lapor Rizzi. Sedetik kemudian dia lalu menerima telpon dari Enka.
__ADS_1
📱RIZZI RIYANT
Halo, En? Ada Apa?
📱ENKA CHANJAYA
Pak, kami kehilangan mobil jeep itu.
📱RIZZI RIYANT
Status Reja gimana?
📱ENKA CHANJAYA
Mobil itu juga lolos dari pantauan Reja. Sebaiknya anda segera membawa Nona Keira kembali ke Guest House mengingat posisi kita yang menyebar terlalu jauh, saya takut mereka menemukan kalian sebelum kami dapat menyusul.
📱RIZZI RIYANT
Oke, gue ngerti. Kalian buruan balik.
Rizzi mematikan ponselnya cepat. Dilihatnya wajah Tyo dan Keira secara bergantian.
"Kita musti buru-buru balik ke Guest House, Enka lapor, dia dan Reja sama-sama kehilangan jejak mobilnya Danny. Kita nggak tahu kapan mereka akan muncul." Rizzi langsung melaporkan apa yang didengarnya dari Enka kepada Tyo.
Membuat Tyo sedikit panik meski raut wajahnya tetap datar. Bukan keselamatan dirinya yang Tyo khawatirkan, melainkan keselamatan Keira yang baru saja ia temukan kembali.
"Danny siapa sih?" Keira bertanya dengan bingung.
"Keira, ikut aku. Cepat. Ini darurat." pinta Tyo pada Keira tanoa menjawab pertanyaan Keira sebelumnya.
"Tapi aku masih kerja!" jawab Keira hendak menolak.
"Udah-udah kamu nggak usah ngurusin kerjaan lagi." sela Mbak Silvi sambil mendorong-dorong punggung Keira.
"Tasku, Mbaaakkkk!" teriak Keira yang baru ingat pada tas selempangnya yang ia letakkan di bawah meja stand.
Buru-buru Mbak Silvi mengambil tas Keira itu lalu ia sodorkan pada si empunya. "Niihh, niihh... cepat bawa dia, Tyo!" perintah Mbak Silvi pada Tyo agar tak lagi membuang waktu.
"Terima kasih banyak!" Tyo mengangguk singkat pada Mbak Silvi sebelum menarik tangan Keira untuk berjalan mengikutinya.
"Mbaakk, aku tinggal dulu. Maaf yaa!" teriak Keira sambil lalu karena terseret-seret oleh Tyo.
Mbak Silvi hanya membalas dengan lambaian tangan melepas dua sejoli itu pergi. Di hatinya ia merasa lega karena Keira telah menemukan sekaligus ditemukan oleh pria yang tepat.
"Wong cowok ganteng'e gitu, baik e gitu, kok ditinggal kabur. Keira...Keira..." gumam Mbak Silvi sambil geleng-geleng dan senyum-senyum sendiri.
To Be Continue....
.
.
.
.
__ADS_1
.