Replacement Lover

Replacement Lover
AKU MAU KAMU


__ADS_3

@Kamar Hotel ****


Setelah menenggak habis sekaleng bir dingin itu, Tyo pun tertidur di sofa. Fisiknya mungkin lelah tapi tak selelah pikirannya yang baru saja bertempur dengan nafsunya sendiri. Pertempuran batin terdahsyat yang pernah Tyo alami seumur hidupnya.


"Uuh...uh...hu..huu..."


Hampir menjelang tengah malam, Tyo samar-samar mendengar suara tangis yang tertahan. Tyo mengerjapkan matanya perlahan. Ketika matanya sudah terbuka sempurna, Tyo langsung ingat dirinya sedang berada dimana dan bersama siapa.


Seketika Tyo mendudukkan diri masih di atas sofa. Dilihatnya tubuh Keira yang juga masih terbaring di ranjang. Suara apa itu? Tyo memicingkan matanya demi mengamati tubuh Keira dengan seksama. Masa sih dia? Tyo membatin.


Diburu rasa penasaran, Tyo pun bangkit berdiri lalu berjalan mengendap mendekati tubuh Keira. Semakin dekat, Tyo akhirnya bisa melihat getaran pada tubuh Keira yang terbungkus selimut hingga menutupi seluruh kepalanya. Suara itupun juga terdengar lebih jelas dari arah Keira.


"Huu...hu...uuhh...uh..."


Ada apa dengan gadis ini? mimpi burukkah? Tyo bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba Tyo tersentak oleh sebuah firasat yang baru saja terbersit di pikirannya. Jangan-jangan Keira sedang menangis karena merasakan sakit pada salah satu bagian tubuhnya, Tyo menerka-nerka.


Tangan Tyo perlahan menggapai selimut yang menutupi seluruh tubuh Keira yang bergetar, ditariknya pelan-pelan selimut itu untuk menyibak fakta apa yang sebenarnya sedang dialami gadis itu di dalam sana.


Kepala Keira kembali muncul dari balik selimut, Tyo tercekat melihat Keira sedang meringkuk menahan tangisnya. Dalam satu gerakan tangan, Tyo lalu menyibak selimut Keira seluruhnya.


DEG!!!


Tyo terpaku melihat Keira dengan posisi meringkuk dengan tubuh yang bergetar hebat. Kepala Keira menunduk dalam-dalam. Wajahnya tertutupi kedua lengannya yang saling menyilang. Jari-jarinya menggenggam kuat-kuat seolah enggan melepaskan sesuatu dalam genggamannya. Kedua kakinya ditekuk hingga kedua lutut Keira menutupi dadanya.


Tyo melihat tubuh gemetar gadis itu dengan seksama. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia sudah tidak peduli akan tubuh bagian atas Keira yang setengah polos. Yang Tyo pikirkan hanyalah mengapa gadis itu sampai menangis sepilu ini. Tangis gadis itu tertahan seolah-olah sedang berusaha untuk mencekik lehernya sendiri.


Tyo yang tak tahan melihatnya lalu menarik lengan Keira yang menutupi wajah gadis itu. Sekali tarikan saja Tyo sudah dapat melihat ekspresi ketakutan Keira yang menutup rapat matanya yang berlinangan air mata.


"JANGAN! Tolong jangan sentuh saya! Saya mohon!" Keira menjerit histeris tanpa membuka matanya sedikit pun.


"Hei, tenang Keira. Ini aku, buka matamu dan lihat aku!"


Mendengar suara Tyo, Keira membuka matanya perlahan. Tyo menatap mata Keira lekat. Keira mendongakkan kepalanya untuk menatap balik pada Tyo. Gadis itu sudah ingat kembali siapa pria di hadapannya. Seketika isakannya semakin kencang. Tenggorokan Tyo turut tercekat melihat ekspresi nelangsa Keira.


"Kamu..." Keira mencoba bicara lagi dengan lirih. Seluruh tubuhnya masih bergetar.


Tak mampu lagi menahan nyeri di dadanya melihat Keira yang sangat ketakutan, dalam sekejap Tyo menarik Keira masuk ke dalam pelukannya. Mereka berdua berpelukan sambil berlutut di atas ranjang.

__ADS_1


"Jangan takut, Kei. Aku disini. Menangislah jika ingin menangis, keluarkan suaramu! Jangan takut!" pinta Tyo dengan memeluk Keira erat. Suara Tyo semakin bergetar seiring meluapnya emosi kesedihan Tyo melihat Keira hingga seperti itu.


"Ta-di...a-ku sangat ta-kut!" Keira terbata. "Kupikir...kamu orang lain." tambah Keira di sela tangisnya.


Ya Tuhaannn....Tyo menggigit bibir bawahnya sendiri. Mungkin Keira berpikir bahwa dirinya sedang bermalam dengan seorang pria asing di sebuah kamar hotel.


Tyo merasa bersalah karena keputusannya untuk memesankan Keira kamar telah membuat gadis itu ketakutan sampai seperti ini.


Tyo mengeratkan pelukannya pada gadis itu dan membelai lembut rambut panjang Keira yang tergerai hingga ke punggungnya. Dikecupnya puncak kepala Keira dalam-dalam. Rasa sayang Tyo terhadap gadis itu meluap sudah tak dapat terbendung lagi.


"Aku minta maaf, Keira. Aku yang membawamu kesini. Jadi jangan takut lagi ya, ada aku!" ucap Tyo berusaha menenangkan Keira, padahal hatinya sendiri tidak bisa tenang melihat keadaan Keira.


Mendengar semua ucapan Tyo. Menerima pelukan Tyo. Keira merasa lega sekaligus merasa aman. Keira memutuskan untuk mempercayai pria yang kini memeluknya itu.


Dalam hati Keira bergumam, kenapa pria ini selalu dapat membuatnya senyaman ini.


Dikeluarkannya tangis yang sedari tadi ditahannya hingga seakan mencekik tenggorokannya. Dilepaskannya beban yang menekan dadanya. Keira ingin benar-benar merasa lega.


Keira mengeratkan pelukannya pada tubuh Tyo seiring dilepaskannya pula jerit tangis yang membahana. Menggema ke seluruh kamar hotel yang hanya ada mereka berdua di dalamnya.


Cukup lama mereka berpelukan di atas ranjang. Tyo dengan sabar menunggui Keira melepaskan segala himpitan di dadanya. Memeluk erat tubuh gemetar gadis itu hingga getarannya mereda. Hingga tangis Keira perlahan turut sirna.


"Jangan pergi." pinta Keira memelas. "Aku tidak mau sendirian." Keira menatap Tyo sendu.


Melihat tatapan Keira yang begitu sendu, Tyo merasakan nyeri di dadanya. Tapi Tyo sangsi akan permintaan Keira barusan. Benarkah gadis ini membutuhkannya. Atau jangan-jangan Keira lagi-lagi berhalusinasi tentang Argha. Diusapnya lembut rambut Keira sambil membalas tatapan gadis itu lekat-lekat.


"Panggil aku!" Tyo meminta dengan suara lirih. Tyo takut jika gadis itu salah mengenalinya lagi. Tyo takut Keira lagi-lagi melihatnya sebagai Argha. Tyo khawatir, Keira masih terbayang-bayang sosok Argha pada dirinya.


"Panggil namaku, Keira!" bisik Tyo lagi kali ini tepat di telinga Keira sambil berharap bahwa gadis dalam pelukannya itu sungguh-sungguh akan menyebut namanya.


"Tyo." panggil Keira. "Tyo, jangan tinggalkan aku sendiri." Keira memohon dengan lirih.


Mendengar Keira memanggil namanya dengan jelas bahkan sampai dua kali, hati Tyo seketika bungah. Keira mengenalinya sebagai Tyo, bukan Argha.


Keira tak lagi salah mengenalinya. Keira kini jelas-jelas melihatnya sebagai seorang Tyo. Itu artinya gadis itu menyadari dengan pasti siapa pria yang sedang memeluknya itu.


Tak kuasa menahan perasaannya lagi terhadap gadis itu. Tanpa ragu lagi Tyo mencari bibir Keira lalu menciumnya. Ciuman yang lembut namun dalam, sedalam perasaan pria itu pada Keira.

__ADS_1


Keira terkejut dengan ciuman Tyo yang tiba-tiba itu. Namun Keira juga merasakan ketulusan dan kelembutan dari ciuman Tyo. Tak bisa dipungkiri membuatnya turut menikmatinya. Menikmati ciuman manis pria yang memeluknya itu.


Tapi kenapa Tyo menciumnya? Mungkinkah Tyo memang memiliki perasaan khusus padanya seperti yang pernah dikatakan Beth dulu? pikir Keira.


Lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri? apakah ia juga memiliki perasaan khusus terhadap Tyo? Keira bimbang dalam hatinya. Namun bibir Keira sangat menikmati ciuman Tyo. Begitu lembut, hangat dan manis, pikir Keira.


Keira yang terbuai akhirnya menutup kedua matanya. Tanpa sadar, Keira pun membalas ciuman Tyo itu. Tyo yang merasakan gerakan dari bibir Keira yang membalas ciumannya seolah diberi harapan bahwa Keira pun menyimpan perasaan yang sama terhadapnya.


Merasa mendapatkan lampu hijau dari Keira, Tyo makin melancarkan aksinya mencium bibir gadis itu. Melumatnya dalam-dalam, menikmati setiap inci bibir Keira yang terasa bagai candu di bibirnya sendiri.


Keira pun tak lagi pasif. Dibalasnya ciuman Tyo dengan semakin intens. Keira membuka sedikit bibirnya agar Tyo dapat menciumnya lebih dalam. Hingga perasaan keduanya bertemu dan tertaut mengikuti gejolak hati masing-masing yang membuncah.


Tyo dan Keira pun terbawa suasana. Nafsu sedang menjerat keduanya. Dua orang yang dalam hati kecil mereka sebenarnya saling menyimpan perasaan mendalam untuk satu sama lainnya. Menyimpan kerinduan untuk satu sama lain.


Tyo melepaskan ciumannya untuk memberi jeda. Memberi waktu bernafas bagi keduanya. Mata Keira yang sempat terpejam lantas terbuka ketika ciuman Tyo terlepas dari bibirnya.


Mata mereka saling bertatapan, nafas mereka saling bertautan. Masih dengan nafas yang terengah, Tyo menempelkan kening Keira pada keningnya. Tyo sepenuhnya sudah dikuasai hasratnya. Naluri lelakinya meronta ingin mencumbu gadis dihadapannya itu.


Tyo melepaskan pelukannya dari tubuh Keira. Perlahan pria itu mundur lalu turun dari ranjang. Dengan berdiri dihadapan Keira yang masih berlutut di atas tempat tidur, Tyo menarik kaos panjangnya ke atas kepala untuk melepasnya.


Seketika tubuh maskulin Tyo yang tampak indah di mata Keira itu terpampang jelas dihadapannya. Keira menelan salivanya. Tyo kembali mendekati Keira. Menyentuh pipi kanan gadis itu dengan sebelah tangannya lalu mendekatkan bibirnya pada telinga kiri Keira.


"Aku mau kamu, Kei." bisik Tyo terengah, tak mampu lagi menahan diri. "Aku mau kamu sekarang." ulangnya lagi kali ini dengan menatap lekat ke arah kedua mata Keira.


Kedua tangan Tyo menangkup wajah Keira. Dicarinya jawaban dari kedua bola mata gadis itu. Keira balas menatap mata Tyo sementara kedua tangannya menempel pada bagian depan tubuh Tyo yang polos dan bidang.


Seketika hasrat Keira pun hadir melalui gesekan antara kedua telapak tangannya diatas dada Tyo. Lalu kepalanya pun mengangguk perlahan. Kedua pipi Keira bersemu. Kedua matanya senantiasa berkabut. Seolah siap memasrahkan dirinya pada seorang Tyo Pratama.


"Bolehkah? Sungguh?" Tyo yang tidak dapat mempercayai matanya kala melihat anggukan kepala Keira pun mencoba memastikan sekali lagi.


Dan sekali lagi pula Keira menganggukkan kepala tanda gadis itu menyetujui permintaan Tyo. Keira sendiri tidak mengerti apakah hatinya atau nafsunya yang menjawab. Yang jelas saat ini, malam ini, dirinya pun menginginkan laki-laki itu. Menginginkan Tyo.


To Be Continue....


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2