
.
.
.
"Di Korea sekarang masih musim dingin kan, Sayang?" Keira bertanya pada suaminya yang sedang duduk bersila di tengah-tengah ranjang sambil membaca beberapa proposal pengajuan kontrak.
Sementara dirinya sendiri sedang mempacking beberapa baju hangat serta baju harian lainnya ke dalam dua buah koper. Satu miliknya sendiri dan satu lagi milik suaminya.
"Harusnya sih gitu, sekarang kan Februari!" jawab Tyo tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Enaknya bawa baju dingin semua atau sama baju biasa juga ya, Yang?" Keira nampak bingung memilah-milah deretan baju-baju di lemari pakaiannya.
"Bawa baju musim dingin aja, toh nanti di sana suhunya juga bisa sampe tujuh derajat!" lagi-lagi Tyo menjawab tanpa menoleh. "Nanti kalo kurang baju tinggal beli, Kei! Gampang!" imbuhnya.
"Trus kita di sana nanti berapa lama?" tanya Keira lagi.
"Aku sih terserah kamu!" sahut Tyo.
"Kok terserah aku??? Nanti kerjaanmu gimana kalau ditinggal lama-lama?"
"Palingan Andrew yang bakalan kesiksa, hahaaa!" Tyo tertawa jahil membayangkan asistennya itu akan keteteran saat ditinggalnya pergi nanti.
"Iisshhh, jahat banget kamu, Yang!" omel Keira. "Oke, DONE!" serunya tak lama setelah itu.
"Hehee, kalo Andrew mah udah biasa aku jahatin. Tanya aja orangnya langsung! Tapi aku pengennya kamu bener-bener bisa have di sana nanti, enggak cuman sekedar buat kondangan ke nikahannya Vynt sama Fady. Makanya alu bilang terserah kamu mau berapa lamanya nanti di Korea." jelas Tyo.
"Aku juga enggak bisa lama-lama walaupun pengennya lama di sana, kan kuliah aku belum liburan, Yang!" balas Keira apa adanya.
Dan Tyo hanya memandang ke arah istrinya yang sibuk memasukkan baju-baju mereka itu dengan ekspresi prihatin.
"Oke, Kelaaarrr!" pekik Keira tiba-tiba sambil menutup koper-koper yang sudah terisi penuh.
"Ngapain packing banyak-banyak sih, Kei? Kalau kurang baju mending beli saja di sana nanti!" Tyo geleng-geleng kepala.
"Itu cuman berlaku khusus buat Argha! Kalau kita enggak perlu. Dia udah aku bawain satu koper sih, tapi prediksiku bakalan tetep kurang, tau sendiri sekarang kalau makan enggak pernah mau disuapin lagi. Sejak bisa pegang sendok, mintanya makan sendiri. Jadi belepotan terus deh." gerutu Keira sambil menepuk keningnya.
Tyo hanya terkekeh mendengar penuturan istrinya tentang putranya itu. Memang sejak masuk usia tujuh bulan, rasa penasaran si Argha kecil seolah tak pernah ada habisnya.
Ingin makan sendiri, ingin pegang botol susunya sendiri, ingin naik turun tangga sendiri, ingin duduk sendiri, ingin pegang ponsel sendiri, bahkan sampai ingin nyemplung ke laut sendiri.
Tyo sampai kewalahan saat giliran dia jagain anaknya seorang diri. Tenaganya benar-benar terkuras habis. Tyo tak habis pikir di buatnya. Bayi sekecil itu bisa-bisanya punya tenaga yang begitu besar untuk melakukan segala hal.
"Aahhh, capek banget nih jadinya!" Keira berdiri di tempatnya sambil memukul-mukul pundaknya yang kaku. Sesekali ia terlihat memutar-mutar badannya untuk peregangan.
__ADS_1
"Mau dipijitin kah?" tanya Tyo sambil menumpuk proposal-proposalnya jadi satu lalu meletakkannya di atas bangku nakas.
Tanpa Keira sadari, sebuah senyum usil tersungging di bibir Tyo mewakili isi pikiran suami Keira itu.
"Boleh sih kalau kamu nggak lagi sibuk!" jawab Keira tanpa menoleh ke arah Tyo yang tak lagi berkutat dengan pekerjaannya dan sudah membereskan tumpukan proposalnya.
"Sini biar aku pijitin!" Lelaki itu pun bangkit dari ranjang lalu berdiri tepat di belakang punggung Keira.
Dengan cepat, tanpa Keira bisa mengelak, Tyo langsung menunduk untuk meraih punggung dan bagian belakang lutut Keira sekaligus untuk membopong tubuh istrinya itu dari samping. Keira yang kaget refleks memekik dengan mulut yang terbuka lebar.
Tyo membawa dan mendudukkan tubuh Keira dengan benar di atas ranjang mereka. Ia sendiri lalu duduk di belakang punggung sang istri. Setelahnya Tyo meraih dan mengumpulkan rambut panjang istrinya ke dalam satu genggaman lalu menyampirkannya ke depan dada keira melalui sisi lehernya.
Ketika tengkuk keira sudah kosong, bukannya pijatan yang mendarat disana melainkan kecupan lembut dari bibir Tyo yang lembab dan hangat. Keira yang kaget, refleks menaikkan kedua bahunya.
"Tyoooo!!! Modus aah, katanya mau mijitin kok malah kamu bikin geli aku, gimana sih???" gerutu Keira.
"Lho ini aku baru mau mijitin, sayang!" Tyo mencoba berdalih. Tapi kedua tangannya tetap gencar memberikan kelitikan pada beberapa titik di tubuh istrinya itu secara bergantian dan tanpa henti.
"Aarrgggghhh, mijit apa coba kaya' gini ini, iiihhhhh?" Keira yang tetap berusaha menghindar mulai kewalahan.
"Mijit ala suamimu!" bisik Tyo sambil meniup-niup telinga Keira untuk memberikan efek geli juga di daerah sana.
Keira mengerang sekaligus menggeliat dalam dekapan suaminya dari belakang. Wajahnya memerah karena menahan geli yang menyergapnya tanpa jeda.
"Ampuunnn, Tyoooo!" rengek Keira.
Kelitikannya tak berhenti. Sebelah tangan Tyo bahkan sudah terselip ke dalam baju Keira. Mencoba menciptakan efek yang lebih geli lebih maksimal terhadap istrinya dengan menggelitikinya langsung di atas kulit Keira.
Keira yang saat itu memakai blus longgar dan celana panjang berpinggang karet memudahkan Tyo menyelipkan sebelah tangannya di dalamnya.
"Bukannya...ilang capeknya...malah sekarang, badanku...kraaamm?" Suara Keira mulai putus-putus karena deru nafasnya yang tersenggal karena mulai kehabisan tenaga.
"Makanya diem!" balas Tyo singkat. Suara Tyo bercampur dengan tawa yang tertahan melihat ekspresi Keira yang campur aduk.
"Orang aku paling anti di kelitikin kok kamu malah nyuruh aku diem aja kamu kelitikin gini, iissshhhh kamu nih rese' deeehhh!!!" teriak Keira geregetan sendiri.
Tapi karena tenaganya yang benar-benar terkuras habis. Keira akhirnya pasrah sudah. Ia tak lagi bisa melawan ataupun berusaha menghindar. Keira sudah menyandarkan kepalanya di dada Tyo sambil memejamkan mata dan mengatur nafasnya kembali.
Tyo menyunggingkan senyum smirk-nya kala menyadari bahwa tubuh Keira tak lagi menegang dan menjadi lebih tenang, pertanda istrinya itu sudah rela di apa-apakan. Dan hal itu sesuai dengan apa yang direncanakan Tyo terhadap istrinya.
Di kecupnya ubun-ubun sang istri dalam-dalam seolah ingin menumpahkan seluruh kasih sayang dan cintanya terhadap wanita yang telah menjadi miliknya itu.
"Sekarang aku jadi ngantuk nih kan, gara-gara kamu sih, Tyo!" gumam Keira lirih.
Tyo semakin lebar menyunggingkan senyumnya mendengar pengakuan Keira. Memang itulah rencananya, membuat Keira sekalian lelah dan kehabisan tenaga agar istrinya itu tidak dapat mondar mandir lagi dan mengabaikan waktu istirahatnya sendiri.
__ADS_1
"Kalau ngantuk ya tidur, Kei!" bisik Tyo sambil membelai atas kepala istrinya itu dengan sayang.
Tyo menyadari sepenuhnya bahwa Keira sudah begitu baik melakukan tugas-tugasnya sebagai istri, apalagi sebagai ibu. Istrinya itu akan bangun pagi-pagi sekali untuk merawat anak mereka dan mengurus keperluan Tyo sebelum ngantor.
Padahal Keira sendiri juga harus berangkat kuliah yang sudah mulai kembali di jalani Keira setelah masa terminalnya habis. Belum lagi belajar untuk quiz harian atau mengerjakan tugas-tugas kuliah yang tak sedikit.
Padahal di sela-sela kesibukannya itu, Keira masih harus menyempatkan dirinya untuk memompa ASI demi asupan gizi dan nutrisi si kecil selama di tinggal Keira kuliah.
Tyo jadi benar-benar bersyukur bisa mempunyai istri sekuat dan sehebat Keira. Dan saat ini, ia hanya ingin membuat Keira beristirahat sejenak. Ia menarik selimut hingga ke atas dada Keira. Lalu mulai memijit-mijit kaki Keira dari atas selimutnya. Dirasakannya nafas sang istri yang perlahan mulai teratur.
Namun baru sebentar Tyo memberikan pijatan pada kaki Keira, sebuah ketukan dan panggilan dari balik pintu kamar langsung menghentikan gerakannya.
"Keeiiii, Argha nyariin kamu niiihh!" panggil Ny.Naina sambil mengetuk pintu.
"Aduuuhhh!!!!" Tyo mendesah pelan setelah mendengar panggilan ibunya.
Tatapannya lekat pada wajah sang istri yang mengerutkan keningnya dengan mata yang masih tertutup, seolah Keira merasa terganggu dengan suara ibunya itu. Perlahan Tyo mengusap-usap kening Keira agar kembali larut dalam tidurnya.
Dan setelahnya, ia lalu bergegas meraih kontainer susu milik Argha lalu membawanya menuju pintu sebelum ibunya kembali mengetuk dan berteriak memanggil nama Keira.
Tyo membuka sedikit pintu kamarnya, dan ketika Ny.Naina akan menyodorkan Argha kecil ke hadapannya. Tyo lebih dulu menyodorkan kontainer susu milik putranya itu ke hadapan Ny.Naina.
"Ibu, Keiranya barusan tidur. Kecapekan kayanya. Tolong jagain Argha sebentar lagi ya! Habis ini aku susulin ke bawah." pinta Tyo pada ibunya sambil berbisik.
Ny.Naina mematung di depan pintu sambil menggendong Argha kecil. Wanita paruh baya itu mencoba mencerna kata-kata anak lelakinya. Ia kemudian membulatkan bibirnya, dan dengan cepat mengubah ekspresinya dengan senyum menggoda ketika sebersit pemikiran melintas di otaknya.
"Ooohh gitu. Ya-ya-ya, Ibu paham! Makanya lain kali kalo minta jatah tuh jangan lebay, kesian kan Keira jadi kecapekan gitu!" goda Ny.Naina sambil meraih kontainer susu itu dari tangan Tyo yang terulur.
Tyo hanya bisa tersenyum kecut mendengar godaan ibunya itu. Ny.Naina pun akhirnya kembali membawa Argha kecil turun ke lantai bawah setelah memberikan ekspresi wajah menyeringai dengan menaik-naikkan alisnya dua kali di hadapan sang putra.
Sepeninggal ibunya dengan membawa serta Argha kecil kembali ke bawah. Tyo menutup kembali pintu kamarnya sambil mendesah pelan. Ia berbalik untuk menoleh pada Keira yang tertidur pulas di atas ranjang. Tyo menepuk dahinya sambil geleng-geleng kepala dengan menunduk.
Sampai kapan pun ia tidak akan bisa mendebat apapun perkataan ibunya itu. Bahkan meski hanya sebatas salah paham konyol seperti barusan.
Tyo kembali menghampiri istrinya di atas ranjang untuk melanjutkan pijatannya pada kaki dan tangan sang istri yang sedang terlelap. Setelah beberapa saat dan dirasa cukup, Tyo lalu beranjak berdiri.
Dikecupnya kembali kening Keira sebelum akhirnya Tyo meninggalkan kamarnya untuk bergantian dengan sang ibu menjaga si Argha kecil, putra tersayangnya.
.
.
.
Dari Author:
__ADS_1
Mohon maaf karena bab ini harus di revisi besar-besar setelah dapet peringatan dr Mangatoon πππππ